Mobil Vano masuk ke area gedung apartemen. Cherry berhenti di depan pintu masuk. Ragu, apakah akan ikut masuk atau sebaiknya pergi saja.
Tapi, akhirnya dia lebih memilih pergi. Membuntuti mereka sampai masuk ke area gedung tentulah sangat mencurigakan.
"Apa aku harus ikut campur urusan mahasiswi aku? Ada apa sebenarnya? Giana sepertinya menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Kenapa dia seperti ketakutan?" Cherry akhirnya kembali menjalankan mesin mobilnya.
Giana dan Vano masuk ke Apartemen. Kamar dingin Vano sudah menunggu Giana yang akan menghadapi derita untuk yang kesekian kalinya.
*
"Tante, Barry enggak bisa bawa motor ini pulang." Malam itu Barry datang ke rumah Cherry.
Dia berniat menukar kembali motor sport itu dengan motor bututnya yang terparkir di depan rumah Cherry.
"Lho, kenapa Barry?"
"Emak Barry curiga. Yah, wajar sih kalau enak curiga. Aku kan enggak kerja, jadi mana mungkin tiba-tiba bawa motor mahal ke rumah."
"Apa enggak bisa bilang kalau motor itu dari aku?" Tanya Cherry mencoba mencari solusi.
Namun bagi Barry, solusi itu amat konyol. Barry belum siap memperkenalkan Cherry kepada Ibu ataupun Bapaknya.
Barry diam saja.
"Kamu malu ya? Punya pacar lebih tua?" Tanya Cherry agak sedih.
"Eh, bukan begitu Tante. Barry cuma enggak mau Babeh dan Emak khawatir. Mereka ingin Barry fokus kuliah."
"Tapi mereka tahu kalau kamu pernah pacaran sama Giana?"
"Ehm? Ya, tahu. Tapi, waktu itu kan Barry masih SMA."
Cherry menggaruk dagunya. Masih SMA boleh pacaran, tapi saat kuliah justru dilarang pacaran. Alasan macam apa itu.
Tapi, ada hal lain yang mengganjal. Soal uang yang Barry dapat, kemana perginya semua itu? Cherry mengira semuanya diberikan pada orang tuanya. Tapi, ternyata tidak begitu. Bahkan untuk membawa pulang motor saja Barry tak berani, apalagi memberikan uang yang jumlahnya cukup banyak.
"Tante, kok diem aja?" Barry jadi tak enak.
"Oh, enggak apa-apa. Kalau begitu, setiap mau pulang Barry tuker motor dulu aja kesini. Gimana? Jadi ke kampus nanti bisa pakai motor barunya."
"Ehm, bisa juga sih. Enggak apa-apa Tante?"
"Ya enggak apa-apa, pak satpam setiap hari santai kok. Selalu ada di rumah."
"Iya deh, makasih ya Tante."
"Iya, Sayang!" Cherry tersenyum.
Barry nyengir kuda dan memeluk Cherry. Sebenarnya dia ingin sekali mengenalkan Cherry ke Ibu dan Bapaknya.
Tapi, usia mereka yang terpaut beberapa tahun membuat Barry agak cemas. Dia takut akan tanggapan Bapak dan Ibunya. Terlebih, Cherry ini wanita dewasa yang kaya raya. Pasti, pandangan orang akan buruk tentangnya.
Dilema berat kini yang Barry rasa. Dia jadi kasihan terhadap Cherry. Wanita ini sangat tulus, tapi Barry belum bisa membalas semua kebaikannya.
'Maafin Barry, Tante.' hatinya sedih.
*
Seminggu berlalu, Barry selalu berangkat pagi dan menukar motor bututnya dengan si merah setiap kali akan pergi ke kampus.
Hari ini juga akan seperti itu. Cowok cool itu meletakkan map berisi berkas tugas yang telah di print. Sementara dirinya sibuk memakai sepatu di kursi ruang depan.
"Apaan tuh, Bar."
"Biasa, Mak. Tugas dari dosen."
"Oh, penting dong?"
"Ya iya, Mak. Harus dikumpulin jam sembilan! Pas sampe mau langsung di kumpulin."
"Kalau telat, gimana?"
"Ya, enggak dapet nilai."
"Kalau enggak dapet nilai gimana?"
"Ya kagak lulus-lulus!" Barry tengah menggoda Ibunya yang tak tahu apa-apa soal dunia perkuliahan.
"Hah! Repot dong kalau enggak lulus cuma gara-gara ginian!"
"Ya iya."
"Bae-bae nanti ketinggalan."
"Kagak, Mak! Tenang aja!"
Emaknya kemudian pergi ke belakang, lima menit kemudian suara motor Barry terdengar meninggalkan rumah. Emaknya keluar membawa seember cucian, menoleh ke meja.
"Ya Allah Ya Rabb! Kan, kata gue juga apa! Ketinggalan tuh kan!" Ibu Barry menyeka tangannya yang basah, meraih map di atas meja dan membawanya keluar.
"Nah kan, dia udah jauh! Aduh! Babeh! Beh!!" Teriaknya keras.
"Babeh!!" Ulangnya panik.
"Apaan sih? Buset dah, pagi-pagi udah kesurupan reog!"
"Beh, buruan pinjem motor si Juki!"
Juki adalah saudara sepupu Barry yang rumahnya tak jauh dari rumah Barry.
"Mau apa?"
"Ini, anterin tugas Barry!"
"Ya elah! Biarin aja sih nanti juga dia balik lagi!" tukas Bapak Barry enteng.
"Nanti telat ngumpulin! Iya kalau dia inget terus buru-buru balik lagi, kalau udah sampe kampus baru inget gimana? Mana kagak boleh telat!"
"Emang kalau telat ngapa sih?"
"Nanti Barry kagak lulus, Beh!"
"Hah? Yang bener, Luh?"
"Iya, buruan sana!"
Babehnya panik mencari helm dan bergegas pergi membawa map Barry ke rumah Juki.
Motor Juki terparkir di depan. Mesinnya sedang dipanaskan. Bapak Barry menyambar benda bermesin itu dan pergi menderu.
"Buset dah! Encang, mau dibawa kemana itu motor Juki!!!???" Serunya dari depan rumah.
"Pinjem bentaran!" Balas Bapak Juki.
Pria paruh baya itu memacu gas motor Juki. Melintasi jalan perkampungan dan keluar ke jalan raya yang ramai. Di depan ada lampu merah yang cukup lama menahan banyak kendaraan.
Barry yang sempat mengisi angin karena ban motornya agak kempes masih belum terlalu jauh dan dapat terkejar.
Dari jauh, bapak Barry melihat jaket yang dia kenali sebagai jaket milik puteranya.
"Noh dia noh!" Bapak Barry berusaha mengejar anaknya dengan kecepatan sedang.
Kendaraan sangat ramai jadi tak mudah untuk mencapai jarak dekat dari Barry. Bahkan klakson motor Juki tak berfungsi jadi sulit untuk Bapak Barry berseru memberi tanda untuk Barry.
Sampai di persimpangan arah ke kampus, alih-alih belok kanan Barry justru lurus saja ke depan. Bapaknya bingung dan terus mengekor di belakang Barry sambil terus berusaha mengejarnya.
"Kok dia lurus? Mau kemana dulu itu?"
Bapak Barry semakin bingung saat Barry mulai masuk ke area kompleks perumahan elite. Bapaknya kemudian menaruh curiga, tapi dia masih berusaha tenang karena mungkin saja Barry kesini untuk menjemput teman kuliahnya. Siapa tahu kan?"
Motor Barry akhirnya berhenti di depan rumah Cherry. Satpam membuka gerbang, motor butut Barry masuk dengan mulus.
Setelah Barry masuk, babehnya menarik tuas rem dan berhenti di depan rumah Cherry.
Barry bertemu Cherry yang akan berangkat ke kampus namun tak bisa pergi bersama dengan Barry. Karena menjaga hubungan mereka agar tak diketahui warga kampus.
Di depan rumah, mereka berdua sempat cipika-cipiki. Bapaknya Barry tercengang. Keduanya nampak sangat akrab. Kemudian Cherry kembali masuk, sedangkan Barry mulai berusaha mengeluarkan motor sport merah kado ulang tahunnya dari Cherry.
Bapak Barry putar balik dan meninggalkan tempat itu sebelum Barry melihatnya. Pikirannya melayang entah kemana. Dia tak bisa langsung menghakimi Barry di tempat. Karena dia tak tahu apa yang sedang terjadi. Dia tak mau gegabah dan salah paham pada akhirnya.
Dia kembali ke rumah dan meletakkan map nya di atas meja.
"Lah, enggak ketemu?"
Bapak Barry menggeleng.
"Kenapa enggak sekalian anterin ke kampusnya???" Omel sang istri.
Bapak Barry menghela nafas. Entah mau bicara apa dia bingung.
"Lah ditanya malah diem aja!" Tambahnya kesal.
Tak lama kemudian Shaka datang dan berkata akan mengambil tugas Barry yang tertinggal. Ibu Barry lega sekali dan menyerahkan map itu kepada Shaka.
"Makasih ye, Sak!"
"Sama-sama, Mak! Shaka jalan ya, Mak!" Shaka menyalami Ibu Barry.
Hari itu, bapak Barry tampak diam. Tak cerewet seperti biasanya. Dia jadi seperti perenung handal yang hanya diam sepanjang hari.
Istrinya hanya memperhatikan dari kejauhan saat Bapak Barry berdiam diri di bale kesayangannya.
*
Di kampus, Barry tertawa-tawa karena bahagia karena belakangan banyak mahasiswa lain yang sok kenal kepadanya. Dia jadi semakin populer hanya karena motor pemberian Cherry. Padahal, mahasiswa lain terlihat lebih keren dengan mobil-mobil mereka.
Dia sama sekali tak tahu bahwa Bapaknya tadi pagi memergokinya menukar motor di rumah Cherry.
"Barry, nanti anterin aku cari buku ya!" Giana mendatangi Barry dan tengah bercakap-cakap dengan Rico dan Shaka.
"Cari buku?" tanya Barry.
"Iya, mau ya anterin aku?"
"Kamu kan biasanya kalau nyari apa-apa sama cowok itu!" Sindir Barry.
"Nah loh, cowok mana nih? Giana, Lo selingkuh??" Shaka merangkul bahu Barry.
"Diem, Lo!" Sentak Giana.
"Lah, gue kan tanya! Elo nih, kalau beneran selingkuh parah banget sih. Kita semua tahu, Barry kaya apa sayangnya ke Elo!"
"Berisik ih!" Giana sebal sekali kenapa Shaka dan Rico selalu saja ikut campur.
"Barry, mau kan?" rengek Giana.
"Ehm."
"Mau kan??"
"Liat nanti deh ya! Soalnya aku ada janji juga."
"Janji? Sama cewek pelakor itu??"
"Hah? Nah loh! Ini sebenarnya siapa yang selingkuh sih!?" Sekarang Rico yang bersuara.
Barry mengedikkan bahunya.
"Bar!?" Shaka menatap Barry.
"Enggak ada yang selingkuh!" Tegas Barry.
"Jadi kamu enggak mau anterin aku?" Ulang Giana.
"Maaf ya, habis gimana aku udah ada janji." Tolak Barry.
Giana mendengus kesal dan meninggalkan meja Barry.
"Eh, Bar! Elo ada cewek baru? Kok kita enggak tahu?" Tanya Rico.
"Tau ah! Udah bahas pelajaran aja!"
"Lah, malah bahas pelajaran! Jawab dulu pertanyaan si Rico!"
"Udah nanti juga lama-lama elu pada tahu!"
"Yah, kagak asik Lo, Bar!"
"Udah dih! Rese banget sih, Lo!"
"Jadi intinya elo beneran putus sama Giana? Waduh harus pesta nih kita!"
"Syyuttt!" Rico meninju lengan Shaka karena Giana terlihat menatap mereka dengan kesal.
"Apa sih, Co! Sakit anjir!"
"Giana tuh!" Rico memberi isyarat dengan matanya.
"Biarin aja!" Sahut Shaka.
Barry hanya diam dan membolak-balik lembaran buku catatannya. Sungguh, dia hanya ingin fokus kuliah saja sekarang.
Dia sudah cukup pusing dengan Giana. Tak mau menambah pikirannya karena ulah dan percakapan Shaka dan Rico yang random.
Giana menatap Barry dengan mata memicing. Dia tak ingin banyak pertimbangan lagi. Sekarang juga dia akan mengirimkan video Cherry dan Barry ke grup kelas mereka.
Dia membuka percakapan grup. Mengirim video. Tapi pesan video itu statusnya hanya mengirim dan tak juga selesai di kirim.
"Argh, gue enggak ada kuota!" Keluh Giana.
Koneksi internet kampus juga sering kali eror dan sulit tersambung jika di kelas. Mungkin karena terlalu banyak perangkat yang tersambung.
Seorang gadis berjilbab masuk ke kelas.
"Giana! Ada yang nyari!" Serunya dari pintu masuk.
"Gue?" Tanya Giana yang baru saja kembali memasukan ponselnya ke tasnya.
"Iya, elo! Dicariin sama.." dia belum selesai bicara saat seorang cowok masuk ke dalam kelas.
"Sayang!" Suara itu sontak membuat Giana terkejut.
Geng Barry juga menoleh ke arah suara. Dia adalah Vano. Giana terbelalak, segera berdiri dan menghampiri Vano kemudian menariknya ke luar. Tapi Vano enggan.
"Sayang, kamu kemana aja? Kok ponsel kamu enggak aktif?" tanyanya lembut dengan senyum.
Giana memaksa Vano untuk keluar, dia menarik Vano dan berjalan menjauhi kelas. Barry dan Gengnya hanya tercengang melihat Giana dan Vano.
"Itu dia? Cowok yang Elo maksud, Bar?" Tanya Shaka.
Barry mengangguk pelan dan pura-pura kembali fokus pada bukunya.
"Kayaknya orang tajir ya?" Lanjut Rico.
"Kayaknya gitu. Emang bener-bener ya Giana. Sukanya morotin cowok terus."
"Beruntung Lo Bar, karena udah putus sama dia!"
"Udah ah, biarin aja! Udah duduk, bentar lagi dosen dateng!"
Sepuluh menit berlalu, beberapa orang ribut di luar. Satu diantaranya masuk dan berseru mencari Barry.
"Bar! Barry mana?"
"Kenapa? Gue di sini?" Barry mengacungkan tangan.
"Bar! Cewek Lo!"
Barry menunggu dia selesai bicara.
"Cewek Lo di siksa sama cowok!"
"Di siksa?" Barry bingung.
"Cepet, Bar!"
Barry bangkit hingga bukunya terjatuh.
"Apa sih maksudnya?" Dia berjalan cepat.
"Udah buru ikut gue!"
Mereka berlari, disusul Shaka dan Rico yang juga bingung.
Di belakang gedung fakultas, Giana dan Vano seperti sedang memperdebatkan sesuatu. Tadi Vano terlihat mencengkram rambut Giana, sehingga beberapa mahasiswa yang melihatnya panik namun tak bisa begitu saja melerai mereka karena tak ingin terseret ke dalam masalah Giana.
Barry terengah-engah datang ke tempat kejadian. Vano dan Giana masih ada di sana. Nampak Vano hendak menampar Giana, Barry mengahalau tamparan Vano.
Cowok yang tingginya sama dengan Barry itu menyeringai, menatap Barry dengan penuh emosi. Vano sedang tak stabil karena sejak kemarin dia menginginkan Giana namun gadis itu tak memenuhinya. Hari ini, seperti sesuatu meledak di dadda Vani karena Giana kembali menolaknya.
"Jangan ikut campur!" Ujar Vano.
"Jangan kasar sama cewek!" tukas Barry.
Vano mempelajari wajah Barry kemudian tertawa nyaring.
"Elo ya? Yang selama ini ditipu sama Giana?" Vano terkekeh bernada menyepelekan Barry.
Shaka dan Rico yang ada di sekitar mereka saling pandang.
"Ditipu?" Tanya Shaka.
Rico mengedikkan bahu.
"Sebaiknya elo pergi deh!" Usir Barry.
Vano kini menghadap Barry, menyeringai lagi.
"Akhirnya, gue bisa ketemu langsung sama cowok yang selama ini dimainin sama cewek gue."
"Ngomong apa sih, Bacot banget!" Barry meraih kerah Vano.
Vano tertawa.
"Iya kan? Udah berapa puluh juta duit yang elo kasih ke Giana? Hahahaha! Gue kalau jadi elo pasti merana banget! Kayak enggak ada harga dirinya! Bucin ke cewek yang sama sekali enggak suka ke elo dan cuma manfaatin elo doang!"
"Bisa diem enggak?" Barry mencengkram kerah Vano lebih keras lagi.
"Wkwkwk! Jadi gimana? Elo masih suka ngejar para.." Vano hendak mengatakan soal para Tante yang dikencani Barry.
Tapi, belum sempat Vano menyelesaikan kalimatnya. Giana menarik lengan Vano.
"Kak, sudah! Ayo kita ke apartemen kakak."
Mata Vano mengerling senang, dia mendorong Barry dan mengikuti Giana.
Keduanya pergi meninggalkan Barry, Shaka, Rico dan beberapa mahasiswa yang sejak tadi menonton kejadian seru itu.
Barry memperhatikan langkah keduanya. Masih bingung, apa yang baru saja terjadi di sini.
"Bar!" Rico dan Shaka mendekati mereka.
Sebentar lagi, seluruh kampus akan segera mengetahui bahwa Barry dikhianati oleh Giana.
Barry tak bisa berbuat apa-apa. Langkahnya gontai saat kembali ke kelas.
"Tapi gue heran. Kok Giana bisa-bisanya ninggalin Barry cuma demi cowok kasar kaya gitu." Decak Shaka heran.
"Iya anjir, Giana mau ditampar!" Timpal Rico.
Barry diam saja, berjalan dalam diam. Tak mau banyak berkomentar meski dirinya sejujurnya agak cemas melihat Giana diperlakukan seperti itu oleh cowok barunya.
"Ngeri ya! Masih pacaran udah KDRT!" Shaka masih membahas Giana dan Vano.
"Bener! Gimana kalau dah kewong!" Rico yang laki-laki saja bergidik karena melihat kekerasan Vano kepada Rico.