"Giana ribut ya sama cowok itu?" Cherry menggerakkan kakinya di dalam air kolam.
Seperti biasa, lokasi itu menjadi tempat paling aman bagi Cherry dan Barry untuk mengobrol.
Barry bersila di tepi kolam, tetap saja celananya agak basah meski kakinya tak masuk ke dalam air.
Dia mengangguk kecil.
"Terus terang, dia sempat menemui aku."
Barry menatap Cherry dengan raut tanda tanya di wajahnya.
"Emh, dia sepertinya masih sayang sama kamu, Barry. Dia belum rela kalau kamu ada hubungan sama aku."
"Tante, apapun yang dia katakan jangan Tante dengar. Dia itu.."
"Apa?"
"Dia hanya terlihat baik di luar tapi sebenarnya dia. Ah, entah bahkan Barry bingung harus bagaimana."
"Apa.. uang yang Tante kasih dulu itu, kamu kasih ke Giana?"
Cherry kaget sekali mendengar pertanyaan itu dari Cherry. Dia yakin pasti Giana yang memberitahunya. Tapi, saat itu sebenarnya Giana tak tahu kalau uang itu di dapatkan dari Cherry.
"Giana cerita apa aja, Tan?" Barry ngeri kalau gadis itu menjelek-jelekkan dirinya yang memang jelek. Dia akui dia b***t. Tapi dia tak mau Cherry tahu.
"Enggak cerita apa-apa, karena waktu itu dia dapat telepon dan pergi gitu aja."
"Ehm." Barry sedikit lega.
"Tante hanya menebak. Karena bingung, kenapa Barry bohong waktu itu."
Barry menunduk.
"Ini bukan soal uangnya. Tapi, Tante hanya kecewa karena Barry ternyata tidak memakai uang itu untuk biaya kuliah."
Barry menunduk lebih dalam.
"Maafin Barry."
Cherry meraih tubuh Barry dan mendekapnya. Membelai bagian belakang punggungnya. Dia yakin Barry adalah pria muda yang baik. Dia pasti punya alasan mengapa melakukan itu semua.
"Tidak perlu dijawab kalau memang belum siap."
"Maafin aku." Barry malu sekali, harga dirinya benar-benar jatuh sekarang.
Rasanya dia sudah tak sanggup lagi menunjukkan wajahnya di depan Cherry. Tapi, dia tak punya cara kembali ke belakang. Dia sudah terlanjur jatuh hati pada Cherry. Tak ada jalan untuk kembali.
"Oiya, aku sempat ikuti Giana sama cowoknya itu. Dan mereka ke apartemen."
"Apartemen?"
Cherry mengangguk, dia harus membahas hal lain agar Barry kembali mengangkat dagunya. Tak terus menunduk karena merasa malu.
"Kenapa Tante kepikiran ikutin mereka?"
"Soalnya, Giana keliatan ketakutan waktu cowok itu dateng. Jadi, aku penasaran. Dan, setelah diikuti ternyata dia ke apartemen itu."
"Biarin aja deh, Tante. Lagipula, Giana kan memang sangat mencintai cowok itu. Ehm, namanya Vano Tante. Dia sepertinya anak orang kaya. Wajar aja kalau Giana lebih memilih dia."
"Oh, jadi sekarang ada yang lagi cemburu nih?" sindir Cherry.
"Dih! Enggak sama sekali!"
"Masa?"
"Iya, ih!"
"Enggak percaya!"
"Enggak percaya ya udah!"
"Bohong ya?"
"Ish, enggak!"
Cherry terkekeh.
"Ehm, sebenarnya aku memang sempat patah hati. Tapi, itu udah lewat. Karena sekarang hati aku udah menyatu kembali. Dan, tertulis nama indah di sana." Barry menoleh dan merapikan rambut Cherry yang menutupi keningnya.
"Cherry." Dia tersenyum.
Cherry terdiam.
"Nama indah itu yang tertulis di hati aku sekarang." tambahnya romantis.
Bagi orang lain, perkataan gombal itu terdengar seperti keluar dari mulut buaya. Tapi, bagi Cherry itu seperti bisikan cinta dari kumbang yang datang hendak menghisap madu dan berlama-lama hinggap di kelopaknya.
"Aku akan memantaskan diri. Agar nanti bisa sebanding dengan derajat Tante."
Cherry menyentuh pipi Barry.
"Aku enggak butuh apa-apa, cukup kamu duduk di sisi aku. Itu udah jadi sebuah kebahagiaan."
"Yakin?"
"Ehm?"
"Yakin cuma mau aku duduk di sisi Tante aja? Aku diem aja gitu?"
"Eh?"
"Kalau diem aja enggak asik. Kan minimal aku.." Barry gak melanjutkan kalimatnya, dia sudah sibuk menyesap manisnya cinta di dalam itu.
Berduaan, di tepi kolam sunyi dengan suasana redup. Angin malam tak mengusik peraduan mereka yang berpayungkan langit malam beralaskan lantai basah yang dingin.
Di saat seperti itu. Beban dan masalah mereka seolah lenyap untuk sejenak.
Sesekali mereka cekikikan dan menoleh ke arah pintu, mana tahu ada sesiapa mengintip mereka. Si Mbak atau satpam. Tapi, sepertinya mereka cukup bisa memahami keadaan.
"Semakin hari, aku makin mabuk. Tante bener-bener bikin aku hampir gila." Barry memang tak pernah mereguk manisnya hubungan dengan seorang wanita.
Baru kali ini dia mendapatkan sentuhan hangat yang ternyata membuatnya ketagihan. Bersama Giana, dia hanya tahu rasanya bangga karena bisa membelikan Giana apa saja. Hanya ada perasaan bahagia saat melihat Giana tersenyum dan menekiki senang.
Sedangkan bersama Cherry. Dia mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang utuh. Sentuhan yang tak pernah Barry rasakan, juga dia terima dari Cherry.
Bagaimana Barry tidak mabuk kepayang? Pesona Cherry saja mampu membuat seluruh mahasiswa tergila-gila. Barry kini merasa bangga karena dirinya yang memenangkan hati Cherry. Dari sekian banyak pria di dunia ini.
Cherry mulai tahu banyak tentang masa lalu Barry. Tapi, baginya itu tak masalah.
Barry terbiasa berganti-ganti wanita dengan tujuan mendapatkan materi. Jadi, dia adalah tipe cowok yang pasti mudah berpaling.
Saat dia pergi nanti. Semakin cepat Barry move on, justru semakin bagus. Cherry mendapat satu hal yang akan membuatnya mungkin tentram saat sakitnya semakin parah nanti.
"Barry."
"Ehm?" Rambut Barry berantakan tapi dia semakin terlihat ganteng.
"Apapun yang terjadi, kamu harus janji kalau kamu akan bahagia."
"Maksudnya?"
"Kamu sekarang bahagia enggak?"
"Banget!" Barry menyentuh dagu Cherry.
"Kamu harus selalu merasa bahagia seperti hari ini. Apapun yang terjadi. Oke?"
Barry tak paham apa maksudnya tapi dia mengangguk saja.
"Ya sudah, kamu pulang sana!"
"Ih, Tante! Hobby banget usir aku! Enggak bisa ya, sekali aja ajak aku nginep?"
Cherry menggeleng.
"Huh!"
Cherry tertawa.
"Emang mau apa sih nginep?" ledek Cherry.
"Tau ah! Udah aku mau pulang!"
"Ciye ngambek!"
"Enggak!" Barry berdiri.
Cherry memeluknya dari belakang.
'Aduh, ada yang nempel tuh!' batinnya.
"Aku sayang kamu, Barry. Aku enggak tahu kenapa tapi aku sayang kamu." Cherry menyesap harum wangi tubuh Barry.
Barry membelai tangan Cherry yang melingkar di perutnya. Kemudian satu tangan lagi menggapai ke belakang menyentuh kepala Cherry dan mengelusnya pelan.
"Barry takut kalau kita pada akhirnya sulit untuk bersama. Tapi, Barry enggak mau pikirin itu sekarang. Yang jelas, Barry juga bahagia dan sangat-sangat menyukai Tante."
Cherry membenamkan wajahnya di punggung macho Berry. Nyaman dan hangat. Bolehkah sampai pagi begini saja? Apa bisa?
Barry kembali pulang dengan membawa motor bututnya. Sampai hari ini, sang bapak belum bicara apapun soal kebiasaan Barry menukar motor di rumah Cherry.
Tidak bicara bukan berarti dia mengabaikan tindak-tanduk puteranya. Dia hanya akan memperhatikan Barry sebelum akhirnya benar-benar menegurnya karena berdusta.