Thirty Six

1863 Kata
Di apartemen Vano waktu itu, setelah keributan antara dirinya, Giana dan Barry. Akhirnya Giana berhasil membawa Vano keluar dari area kampus. Mereka sampai di apartemen dan Vano langsung pada ke intinya. Melancarkan nafsu bejatnya pada Giana yang terus saja merintih kesakitan. Semakin Giana tersiksa, justru Vano semakin suka. Cowok dengan kelainan itu merasa Giana juga menikmati setiap detik yang mereka lalui. Sampai larut malam Giana berada di sana. Vano sama sekali tak mengizinkannya pulang sebelum dia yang memutuskan. Vano cukup royal, dia memesan banyak makanan untuk Giana. Pengantar makanan silih berganti datang ke apartemennya. Tak lupa dia memesan beberapa menu ayam untuk Mama Giana. 'Kak, seandainya kamu tidak seperti ini. Kamu pasti adalah cowok paling sempurna untuk aku, seperti yang selama ini aku banggakan.' batin Giana. Dia menyantap makanan resto yang masih hangat karena dipesan dari tempat yang tak jauh dari apartemennya. Airmatanya meleleh, sesuap demi sesuap makanan masuk ke mulutnya. Tapi, tangisnya tak juga berhenti. Vano mandi, suara gemericik air terdengar sampai ke ruang depan tempat dimana Giana duduk seorang diri. Raganya di sini, tapi hatinya terus saja menyebut nama Barry. Giana mengecek ponselnya. Mengirim pesan kepada Barry tapi tak terkirim. 'Oh, aku lupa aku enggak ada kuota.' batinnya. Kemudian, dia mentap fitur wifi dan ponsel Giana terhubung secara otomatis dengan sambungan internet yang dipasang Vano di apartemennya. Akhirnya pesannya untuk Barry terkirim. Video Cherry dan Barry yang belum sempat terkirim tadi siang, kini meluncur ke grup chat kelas mereka. Giana bahkan lupa kalau dia mengirim video itu tadi siang. Grup chat kelas itu mendadak ramai tak seperti biasanya yang hanya dipakai untuk membahas tugas tertentu. Notifikasi terus masuk, Barry yang baru sampai rumah menyempatkan diri duduk di bale depan rumah. Penasaran dengan apa yang dibahas di grup chat itu. Alangkah kagetnya dia ketika di sana ada video dirinya dan Cherry. Semua anggota grup chat ribut mempertanyakan video itu. Banyak yang menghujat Barry, ada juga yang berkata bahwa itu hanya video editan. Beberapa juga berkata bahwa mungkin Barry dan Cherry adalah kerabat dekat. Barry tak sanggup menjawab banyak pertanyaan di sana, meski semua temannya menandai dirinya dalam chat yang mereka kirimkan. Giana yang tersadar telah mengirim video itu. Sontak langsung menghapus kembali videonya. Namun, seisi grup sudah terlanjur menontonnya. Bahkan, ada yang sempat membagikan video itu ke mahasiswa lain yang berasal dari kelas yang berbeda. Giana menutup mulutnya. Dia gemetar. Niatnya tadi siang memang ingin mengirimkan video itu, tapi kemudian dia ragu dan lupa sesaat. "Gimana nih?" Giana ketakutan. "Apa yang gimana, Sayang?" Vano keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. "Oh, enggak apa-apa, Kak." Vano duduk di samping Giana, membelai kepalanya. Giana menggeser sedikit posisi duduknya. Benar-benar enggan kalau dia harus melayani Vano lagi. "Malam ini mau pulang atau nginep?" "Boleh kalau aku pulang?" Tanya Giana agak takut. "Boleh, dong! Nanti aku antar. Sebentar aku pakai baju dulu." Vano kemudian ke kamar dan mengenakan pakaian. Giana di antar pulang oleh Vano. Sementara itu di tempat lain. Barry panik dan tak tahu harus bagaimana. Dia benar-benar marah pada Giana. Dengan segera dia kembali pergi dari rumah, bermaksud mendatangi Giana. Barry memacu motor tuanya. Bergegas agar lebih cepat sampai ke rumah Giana. "Giana, apa sih maunya! Kenapa dia lakukin hal sekotor ini sih! Masih enggak puas dengan semua yang udah aku kasih?" Gerutu Barry. Sekitar dua puluh menit kemudian Barry sampai di depan rumah Giana. Dia mengetuk pintu tapi di rumah itu hanya ada Mama Giana saja. "Oh, Barry!" "Giana ada, Ma?" Barry berusaha tetap santun meksi amarah tengah bergejolak di dalam daddanya. "Wah, belum pulang tuh." "Belum pulang?" "Iya, Barry. Malah Mama kira kalian lagi jalan bareng." Barry terdiam. "Terus Giana kemana ya?" "Kurang tahu, Ma. Barry dan Giana sudah putus." "Putus? Kenapa?" "Ehm, ada yang lain yang lebih Giana sayang." Jawab Barry merendah. "Yang lain? Apa jangan-jangan.." Barry menatap Mama Giana. "Ah, ya sudah. Barry masuk dulu, tunggu di dalam." "Biar di sini aja, Ma." "Gitu? Ya sudah, mau minum apa?" "Enggak usah, Ma. Barry enggak akan lama kok. Kalau Giana enggak juga pulang, Barry nanti kesini lagi lain kali." "Iya deh." Wanita yang mewariskan kecantikannya kepada Giana itu kembali masuk ke dalam. Barry duduk di kursi yang ada di teras. Menatap ke pelataran rumah dimana terparkir motornya. Miris sekali, entah berapa juta uang yang dia dapatkan dari upayanya selama ini. Tapi, dia berakhir di sini sekarang. Bersama motor butut milik sang bapak, juga diteror oleh bnayak pertanyaan dari teman sekelasnya. Entah apa yang akan terjadi besok, bagaimana suasana di kampus. Ah, bahkan Barry tak sanggup Meksi hanya membayangkannya saja. Bagaimana jika orang tuanya tahu? Bagaimana reaksi mereka? "Ya Allah, tiba-tiba saja jadi pengen tobat." Barry meremas rambutnya sendiri. Stress? Jangan ditanya lagi. Pasalnya, orang tuanya sudah menaruh banyak harapan di pundaknya. Bahkan keduanya sudah mengelontorkan dana yang sangat banyak untuk bisa memasukkan Barry di universitas besar itu. Sekarang, ini yang terjadi. Ditambah, Cherry adalah dosen di sana. Sudah pasti video itu akan trending di kalangan warga kampus. Bagaimana Cherry dan Barry harus menghadapi tatapan mereka besok? "Bagaimana caranya nutupin masalah ini dari Babeh dan Emak. Gimana?" Barry berdecak, bingung dan putus asa. 'Pada akhirnya, gue kena getahnya juga. Selama ini gue mainin tante-tante tapi semua aman aja. Giliran gue serius sama salah satu tante dan enggak ada niat main-main, gue malah dapet apes!' batin Barry merasa kesialan di hidupnya sudah dimulai. Lima belas menit berlalu, sebuah mobil datang dengan lampu menyorot silau ke arah Barry. Dia memicingkan matanya untuk melihat siapa yang datang. Tak lama kemudian, Giana dan Vano turun dari mobil. Vano tak bisa melepaskan pandangannya dari motor Barry yang ada di sebelah mobilnya. Sesaat setelahnya dia berpaling dan menatap Barry dengan raut wajah meremehkan. Barry hanya berdiri saja di teras rumah Giana. "Mau apa dia kesini?" Pertanyaan Vano dapat didengar Barry dengan jelas. "Kak, sebaiknya langsung pulang aja ya." "Terus kamu mau apa sama dia? Kamu kan udah janji enggak akan berhubungan sama dia lagi! Aku bisa kok kasih apapun yang kamu mau." ucap Vano. "Kak, nanti kita bicara lagi ya!" "Enggak!" Vano maju ke arah Barry. "Heh, motor butut! Elo mau apa kesini?" Tanyanya dengan nada menantang. "Bukan urusan Lo!" Balas Barry. "Ya jelas urusan gue! Giana ini cewek gue!" "Gue enggak akan ambil, tenang aja!" "Sialan, elo ngekek gue!" Vano berusaha mencengkram kerah baju Barry. "Kak, jangan ribut di sini tolong!" Pinta Giana. Gadis itu berusaha keras menarik Vano agar menjauh dari Barry. "Kak, sebaiknya pulang dulu ya! Besok aku ke tempat kakak lagi, aku janji!" "Bener!" "Iya, Kak." "Kamu jangan macem-macem sama dia! Kamu itu cuma milik aku!" Giana mengangguk. Vano kemudian pergi setelah meludah di depan wajah Barry. Kemudian sebelum masuk ke mobil, dia juga meludahi motor Barry. "Si Anjing!!!" Barry hendak menghampiri Vano, tapi Giana mencegahnya juga. "Bar, ini rumah aku. Ada Mama. Tolong jangan ribut, kasian Mama. Tolong, Barry." Vano terkekeh dan melambai dengan sangat menyebalkan. "Motor butut aja bangga!" Cibirnya. "Bacot banget si anjir!" Barry kesal bukan main. "Udah, Barry. Barry!" Giana menariknya duduk di kursi lagi. Kemudian Giana ikut duduk setelah memastikan Vano dan mobilnya telah pergi. Dia bingung sekali. Menghela nafas dan menatap Barry dengan takut. "Giana, maksud kamu apa sih?" tegur Barry. Giana tahu, Barry sedang membahas video itu. "Barry, jangan bicara di sini. Aku takut Mama dengar." Giana mengajak Barry ke sebuah tempat yang tak jauh dari rumahnya. Tempat sepi dekat area persawahan. Giana kini bersandar di motor, sementara Barry berdiri berhadapan dengannya. "Maaf, Barry. Aku enggak pikir panjang. Tapi, videonya udah aku hapus kok." "Telat, Giana! Telat!" seru Barry yang amat kesal karena betapa bodohnya gadis yang ada di depannya ini. "Aku harus gimana Barry! Aku ini enggak suka kamu berhubungan sama dia! Kamu itu pacar aku!" "Aku pacar kamu? Terus cowok tadi itu siapa?" Tekan Barry jengkel. "Bar, ada hal yang kamu enggak tahu." "Ya memang aku enggak tahu! Aku enggak tahu apa-apa dan aku bodoh. Entah sejak kapan kamu selingkuh sama dia dan membodohi aku!" "Enggak gitu, Barry. Ada hal yang belum sanggup aku ceritain ke kamu. Semuanya enggak seperti yang kamu lihat, Barry." "Giana! Please banget kamu kasihan sama aku. Berapa tahun kamu manfaatin aku, pura-pura jadi pacar aku cuma demi uang. Berapa tahun? Bayangin betapa hancurnya aku, Giana." "Barry, aku nyesel. Tapi, aku udah berubah. Aku sayang sama kamu." "Giana, please." "Aku udah enggak pernah minta apapun dari kamu." "Jelas, karena kamu udah punya dia yang kaya raya!" "Enggak, Barry. Enggak!" "Giana, please. Jelasin ke anak-anak di kampus soal video itu. Please." "Barry.." "Kasihanilah aku, Giana. Aku udah kamu manfaatin kaya gini. Apa kamu masih belum puas?" Barry memelas. "Aku akan jelasin semuanya dan minta maaf ke temen-temen. Aku akan bilang itu editan aku. Asal kamu balik ke aku." "Giana! Kamu udah keterlaluan, Giana." "Aku cuma mau kamu kembali! Aku enggak suka kamu sama Miss Cherry." "Kamu kemana aja? Aku sejak dulu selalu deket sama para Tante. Apa bedanya Tante Cherry dengan Tante yang lain?" "Kamu enggak pernah begini dengan yang lain." "Giana please jangan bikin ulah lagi. Aku maafin semua kesalahan kamu, yang cuma manfaatin aku, kesalahan kamu yang udah selingkuh sama dia. Aku akan merelakan semua. Jadi, please biarin aku. Tinggalin aku. Jangan lagi usik aku. Anggap aja kita enggak pernah kenal!" "Kamu enggak boleh mencintai Miss Cherry!" "Ini bukan kuasa aku, Giana. Sama seperti kamu yang enggak pernah bisa sayang sama aku. Aku juga enggak pernah bisa mengatur kemana aja hati aku. Aku enggak bisa mencegah rasa aku untuk dia." "Barry kamu itu sakit!" "Apa?" "Kamu itu sakit karena kamu biasa bergaul sama tante-tante! Sadar dong Barry! Rasa kamu ke Miss Cherry itu cuma penyakit!" Barry tercengang, Giana benar-benar seperti tak menggunakan otaknya. "Percayalah sama aku. Kamu itu cuma sayang aku. Rasa kamu untuk perempuan itu hanyalah penyakit! Kamu harus kembali sama aku, supaya kamu sembuh." "Jadi kamu udah sadar? Mengakui bahwa selama ini kamu manfaatin aku supaya aku dapat uang dengan cara jalan sama tante-tante? Udah mengakui?" Giana terdiam. "Jadi, intinya apa? Intinya adalah, kalaupun aku benar-benar sakit! Itu semua KARENA KAMU!!!!" "Barry.. hiks hiks.." Dia mulai terisak. "Jangan nangis karena aku enggak akan kasian sama kamu, Giana." "Barry, hiks.." "Sekarang, aku minta kamu jelasin semua ke temen-temen. Jadi, besok aku dan Miss Cherry bisa datang ke kampus tanpa harus mendapatkan banyak pertanyaan dari orang-orang." "Aku mau, asal kamu balik ke aku." "Yang sakit itu siapa sih? Aku atau kamu?" Bentak Barry. "Barry, aku mau kita kayak dulu lagi. Maafin aku." "Bisa-bisanya kamu minta balikan sementara kamu masih berhubungan sama Vano! Sakit ya kamu, Giana!" "Kamu bantu aku biar lepas dari dia." "Apa? Enggak salah denger?" "Aku mohon. Aku enggak mau sama dia, aku cuma mau kamu." "Ya kamu tinggal pergi aja dari dia, Giana! Kenapa harus minta bantuan aku!" "Karena, karena..." Barry mengernyitkan keningnya. Entah apa yang akan Giana katakan sebagai alasan. "Barry aku.." "Udah ya, Giana! Udah stop!" "Barry, ada sesuatu yang belum bisa aku ceritakan ke kamu." 'Udah Giana, please! Kamu dari dulu memang begitu. Terlalu banyak kebohongan dan begitu banyak hal yang tak tak sanggup kamu katakan! Kamu memang sudah terbiasa bohong!" "Barry.." Giana hanya bisa menangis. "Pokoknya, aku enggak mau tau. Kamu harus bersihkan nama baik aku dan Miss Cherry." Giana tak menjawab. "Giana!!!" "Jawaban aku tetap sama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN