Thirty Seven

1088 Kata
"Giana, aku harus apa? Hidup aku hampir sia-sia karena kamu. Kamu udah dapat banyak hal dari aku, jadi sekarang saatnya kamu relakan aku." Giana menggeleng, tersenyum meski wajahnya basah oleh air mata. Dia nampak seperti gadis tak waras yang tak rela kehilangan kekasihnya. "Kamu tahu kan? Dampak video ini akan besar sekali? Menurut kamu, apa yang akan terjadi dengan Miss Cherry? Apa yang akan dilakukan pihak kampus besok? Memberhentikan dia dengan tidak hormat, memberi peringatan? Atau apa?" "Tau, aku tahu banget! Bahkan aku juga tahu kalau aku mungkin di DO dari kampus! Puas kamu, Giana?" Barry mendesis kemudian bergegas pergi dengan sorot mata yang terus fokus ke arah Giana. Sudah tak ada lagi gunanya dia di sini, berdebat sampai pagi pun tak akan merubah kerasnya Giana. Giana tertinggal sendiri di tempat gelap itu. Tertunduk seraya mengepalkan tangannya. * Barry tak pulang ke rumah karena pikirannya kusut. Dia sudah kembali berada di depan gerbang rumah Cherry setengah jam kemudian. Dia menelpon Cherry sambil bersandar di motornya. Menghela nafas berkali-kali untuk mengosongkan beban di kepalanya. "Tante." "Iya, Barry." Jawab Cherry. "Belum tidur?" Tanya Barry dengan suara seperti orang flu, angin malam membuatnya agak menggigil. "Belum, kamu sendiri kenapa belum tidur?" Barry hanya menghela nafas, tak menjawab. "Bar, kok diem aja? Kamu dimana, kok kaya ada suara motor?" "Aku di depan rumah Tante." "Lho?" Cherry yang sedang bersantai membaca majalah di atas tempat tidur, sontak beranjak dan berjalan menuju pintu di kamarnya yang terhubung dengan balkon di bagian depan rumahnya. Cherry melongok ke bawah, Barry mendongak dan melambaikan tangan. Tersenyum, melihat Cherry dengan rambut tergerai seperti itu, membuat hatinya damai dalam sekejap. Benar-benar tipe wanita yang membawa ketenangan meksi hanya dengan menatap wajahnya saja. "Kamu ngapain disitu? Masuk!" Cherry menunjuk ke gerbang yang sudah dalam keadaan tertutup. Barry mengangguk, dia kemudian membuka gerbang dan masuk bersama motornya. Cherry cepat-cepat turun, dalam sekejap dia sudah berada di teras rumah. Sejenak mereka berdua bertatapan di luar rumah, Barry nampak lesu saat berjalan mendekat. Kemudian dia menyandarkan kepalanya ke bahu Cherry saat sudah berhadapan dengan wanita cantik itu. Cherry merengkuh tubuh atletis Barry, berbisik di telinganya. Bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi, apa gerangan yang membuatnya jadi seperti ini. "Ada apa, Sayang?" Suara Cherry sehalus sutera semerdu gemericik air dari pegunungan yang ada manis-manisnya. "Barry bingung, Tante." "Kenapa? Ada apa?" Cherry hendak melepaskan pelukannya, tapi Barry menahannya. "Sebentar lagi, Tante. Biarin Barry begini, sebentar lagi." Lirihnya. Cherry membelai punggung Barry, dia agak menggigil. Suaranya juga parau. Pasti karena berteriak-teriak melawan kerasnya kepala Giana tadi. * Cherry membawa Barry ke dapur yang merangkap dengan ruang makan. Barry duduk di kursi, sementara Cherry baru saja meletakkan segelas teh hangat di atas meja. Cherry sendiri duduk di samping Barry, menunggunya bicara. Entah apa yang mengusiknya hingga dia datang malam-malam begini. "Tante, Giana ternyata merekam kegiatan kita. Dan dia, ngirim video itu ke grup kelas." Barry kemudian meneguk teh buatan Cherry. Cherry menopang dagu, memperhatikan raut wajah Barry yang seperti putus asa. Ternyata, dia adalah tipe cowok yang mudah panik dan gampang diprovokasi. "Kok Tante biasa aja?" Cherry mengerucutkan bibirnya. "Terus, aku harus gimana?" "Ini kan masalah besar, Tante!" "Masalah itu, besar atau kecilnya tergantung kita." "Kok gitu?" "Iya memang begitu." "Ini masalah besar! Aku bahkan tak kepikiran jalan keluar apa yang bisa aku dapat buat beresin ini." Cherry tidak tertular kepanikan Barry. Dia jutsru sibuk memandang wajah tampan Barry. "Jangan bilang kalau Tante udah tahu semua ini?" "Kok kamu bisa bilang gitu?" "Itu ekspresi Tante biasa aja!" Cherry kemudian mengangguk. "Tante udah tahu? Kok bisa setenang ini?" "Sayang, apa ancaman kaya gitu aja bisa bikin kita goyah?" Tanya Cherry balik. "Bukan itu masalahnya, Tante. Barry cuma takut kalau kita kenapa-kenapa. Aku takut kalau Tante kena masalah. Aku takut kalau aku nanti di DO." Cherry tertawa. "Kok Tante malah ketawa?!" Sungut Barry. "Kamu ini ternyata bukan cuma panikan tapi juga bawel ya!" Ledek Cherry sambil terus terkekeh. "Tante, Barry lagi serius!" Barry gusar. "Aku juga serius." Cherry kemudian berdiri dari duduknya, wanita itu sekarang duduk di pangkuan Barry. Cowok yang sedang panik itu mendadak seperti terkena sengatan listrik. Bagaimana tidak, wanita dengan baju tidur seksi itu kini duduk di pangkuannya. Wajahnya berada persis di depan wajahnya. "Denger ya, aku udah punya solusi untuk masalah itu. Aku tahu kalau kamu takut di keluarkan dari kampus. Tapi, video kaya gitu itu enggak bisa bikin kamu di keluarkan atau kena sanksi." "Kenapa begitu? Ini kan kabar mengejutkan, Tante. Seluruh kampus pasti membicarakan kita besok!" "Tenang aja, Tante udah punya solusi." "Apa?" Cherry mendekatkan wajahnya ke telinga Barry, kemudian berbisik hingga membuat Barry merinding bukan main. "Besok kita dateng bareng. Tante akan jadi Tante kamu, beres kan?" "Ha?" Barry mengerutkan keningnya. "Kenapa?" "Semudah itu?" "Iya, semudah itu. Kenapa harus mikirin cara-cara sulit sementara ada cara yang mudah?" "Tante yakin itu akan berhasil?" "Yakin!" "Jujur aja, Barry takut kalau kuliah Barry kenapa-kenapa. Orang tua Barry pasti kecewa banget." "Aku jamin, kamu enggak akan kenapa-kenapa. Kalaupun kamu kenapa-kenapa, Tante akan pindahin kamu ke kampus lain yang lebih keren." Cherry menyentuh sebelah pipi Barry. Membelainya lembut dengan tatapan manis yang membuat Barry ingin sekali mengeksekusi wanita cantik ini. "Udah ya, jangan mikir aneh-aneh lagi, Sayang." Harum wangi tengkuk Cherry semerbak masuk ke cuping hidung Berry. Rasanya, Barry ingin berubah menjadi drakula dan menghisap nektar Cherry hingga dia puas. "Ehm, gitu ya?" Barry mengangguk-angguk. "Iya, begitu." "Terus?" "Terus apa?" "Terus kapan Tante mau bangun dari pangkuan aku?" goda Barry. Cherry mengerling nakal. Membuat Barry tertawa terbahak-bahak dan merasa gemas bukan main. "Tante jangan mulai ya! Nanti kalau Barry nakal, Tante juga yang repot." "Repot kenapa?" "Ih, malah nanya repot kenapa." Mereka berdua tertawa bersama. Barry menoel hidung Cherry dan mengecupnya mesra. "Seandainya Barry bisa halal sama Tante." "Halal?" "Iya, halal. Suatu saat kita kan halal, iya kan?" Wajah Cherry seketika berubah murung. Dia bahkan beranjak dari pangkuan Barry dan nampak menyibukkan diri dengan mengambil gelas dan air mineral. Meneguknya sedikit dan terdiam di depan lemari pendingin. Barry mendekati, memeluknya dari belakang. Cherry memejamkan matanya. 'Cherry, nikmati saja kebahagiaan sesaat bersama Barry ini. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan meski tidak kekal hingga kamu tua.' "Kamu pulang ya, besok datang kesini dan kita berangkat bareng." Ucap Cherry murung. "Pulang? Sekarang?" Cherry mengangguk. Barry kecewa karena hasratnya sudah menggebu, dia pikir Cherry akan menawarinya menginap. Tapi, kekasihnya itu justru memintanya pulang. "Ehm, yaudah. Barry pulang ya, Tante." "He'em." Cherry bahkan tak menoleh saat Barry pamit. Barry sudah keluar dari ruangan itu. Cherry merasakan sesak, dia berpegangan pada tepian meja makan. Tetesan hangat mulai berjatuhan. Sekali lagi, dia menangis dalam kesendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN