Thirty Eight

1051 Kata
Cherry sengaja memakai jasa supir hari ini. Dia dan Barry akan turun di area kampus yang banyak dilewati mahasiswa yang baru saja datang. Setelah memasuki gerbang, mobil itu berhenti. Tak lama, keluarlah Barry dan Cherry dan sisi belakang. Semua orang yang ada di sana memperhatikan mereka. Kabar soal mereka serta videonya menyebar dengan sangat cepat. Hampir seisi kampus tahu itu. Jadi, saat mendapati Cherry dan Barry datang bersamaan. Mereka tertarik untuk mencari tahu ada apaan sebenarnya. Seorang dosen kebetulan berjalan mendekat. Cherry menyapanya dan berkata bahwa hari ini dia datang dengan Barry, sepupunya. Sontak semua orang yang mendengarnya bergumam. Ada yang percaya begitu saja, ada juga yang mengatakan bahwa mereka hanya sedang mencari alasan fiktif saja. "Oalah, jadi rumor kemarin itu ternyata enggak bener?" Tanya Dosen tersebut. "Yah, beginilah yang sebenarnya." Jawab Cherry. "Tan, Barry masuk kelas dulu ya!" "Oh iya, Barry. Belajar yang tekun ya!" Cherry memposisikan diri sebagai Tante sungguhan. "Miss Cherry enggak pernah cerita kalau punya sepupu di kampus ini." Dua orang mahasiswi mendekatinya kemudian mereka berbincang sambil berjalan kaki bersama. "Saya cuma enggak mau nanti dianggap pilih kasih." ujar Cherry santai. "Iya juga ya?" Keduanya saling mengiyakan alasan Cherry itu. "Ya sudah, bantu sampaikan ke teman sekelas kalian ya! Miss mau ke ruang dosen dulu." Grup chat kelas seketika ramai. Mereka semua membahas tentang fakta bahwa Barry adalah sepupu dosen mereka. Jadi, Giana hanya menyebarkan hoax semata. Barry yang masih di luar kelas, berhenti melangkah sejenak untuk mengecek obrolan dalam grup. Sesaat kemudian dia tersenyum. Ternyata cara Cherry cukup berhasil. Dia kini dapat dengan santai memasuki kelas tanpa diberondong oleh banyak pertanyaan. Barry masuk ke kelas, Shaka dan Rico menyapanya. Seperti biasa merangkul pundak Barry. "Dah nyarap, Bro?" Tanya Shaka. "Belum sempet." "Ayo deh kantin dulu!" Ajak Rico. "Boleh, gue yang traktir hari ini!" "Nahhh gitu dong! Haha! Mantap ayo cabut!" Giana masuk ke kelas, tampangnya berantakan seperti korban pelecehan. Matanya sayu dengan kantung mata menggelayut. Baru saja beberapa langkah masuk, dirinya sudah mendapat cibiran dan hujatan dari warga kelas itu. "Woy, Giana! Suka banget nyebar hoax!" Tegur seorang gadis dengan pakaian modis. Giana menatapnya, bingung. "Hoax? Apa maksudnya?" Tanya Giana tak paham. Dia belum sempat membuka obrolan grup pagi ini. Dia baru saja diantar Vano setelah pagi-pagi sekali dijemput karena dipaksa melayani Vano di apartemennya. "Pura-pura bloon!" Tukas yang lain. Barry tak membela Giana meski gadis itu terpojok. Dia bukan tega, tapi Giana sesekali memang harus kena batunya agar jera dan tak lagi membuat masalah. "Kalian lagi bahas apa sih?" Giana berdiri di depan kelas. "Kasian banget, gara-gara selingkuh kan elo diputusin Barry. Tapi malah nyari masalah, fitnah orang seenaknya." "Ngomong apa sih? Pagi-pagi udah enggak jelas banget!" Giana menyibakkan rambutnya dan berjalan ke tempat duduknya. "Elo tuh gaje! Bisa-bisanya fitnah mantan cowoknya sendiri! Kaya cewek enggak laku aja Lo!" Hujatan terhadap Giana masih belum berhenti. Giana melirik Barry. Cowok itu nampak tak peduli. Dia memasukkan tangan ke dalam saku, dan berlalu pergi begitu saja bersama Shaka dan Rico. Giana buru-buru mengecek ponselnya. Dia kemudian terbelalak saat membaca obrolan di sana. "Apa-apaan ini!! Barry sama Miss Cherry itu jelas-jelas pacaran!" Teriak Giana kesal. Barry yang bisa mendengar suara Giana, tak kembali masuk dan kembali melanjutkan langkahnya untuk sarapan pagi. "Aish!!!" Giana memegang kuat ponselnya. Dia benar-benar kesal, mengapa seisi kampus ini begitu bodoh. Mau saja ditipu oleh gimik Cherry dan Barry. "Eh, Giana! Mendingan elo move on dari Barry. Cari yang lain!" "Iya bener! Gue tahu, Barry itu ganteng pake banget! Tapi, kalau dia udah enggak mau sama elo yaudah. Elo jangan malah fitnah dia kaya gitu!" "Lo enggak tahu apa-apa! Jadi enggak usah banyak bacot!" Balas Giana. "Heh, enggak tahu diri!" Tantang cewek itu. "Diem deh, Lo! Dibegoin sama dosen gatel mau aja!" "Eh, Giana! Kan elo yang salah, selingkuh dari Berry. Jadi yaudah terima aja kalau dia udah enggak mau lagi sama elo! Biar gue nanti yang deketin Barry." Seorang gadis terkekeh meledek Giana. "Barry itu masih cowok gue! Jadi enggak usah deh mimpi mau dapetin dia! Elo aja enggak selevel sama gue!" Giana tak mau kalah. "Elo sehat enggak sih? Masih suka sama Barry tapi malah fitnah dia dan Miss Cherry kaya gini!" Giana terdiam, matanya memicing penuh rasa benci. "Eh, jangan-jangan elo sengaja nebar hoax gini buat ngancam Barry!? Supaya dia mau sama elo lagi? Wkwkwk murahan banget ya lo, Giana!" Giana berdiri dan mendekati gadis itu. "Elo kalau enggak tahu apa-apa, mending diem!" Giana menusuk bagian dadda gadis itu dengan telunjuknya. Gadis itu tak mau kalah, dia mendorong Giana ke belakang. "Eh, jangan sentuh gue! Najis gue geli sama cewek kaya elo!" Gadis berambut lurus bernama Sandra itu nampak kesal. "San, Sandra! Udah jangan ladenin Giana!" Gadis lain berusaha mencegah Sandra yang seperti hendak ribut dengan Giana. "Biarin aja! Gue anti banget ngalah sama cewek murahan kaya dia! Elo buka jasa kan?" Ujar Sandra. Giana terkejut dan tiba-tiba menampar Sandra. "Eh, jaga mulut lo!" Teriak Giana. Sandra maju dan balas menampar Giana dengan lebih keras. "Eh, Giana! Enggak usah sok suci deh! Gue sering liat elo bolak-balik masuk apartemen! Lo kira gue begok! Hah!!" Sandra mulai membuka hal yang dia ketahui. "Enggak usah ngada-ngada deh, Lo!" Giana sebenarnya ketakutan, entah bagaimana Sandra tahu kalau dia sering masuk apartemen Vano. "Ngada-ngada? Oh, mau gue sebarin video elo ke grup kelas?" "Video?" Giana merendahkan suaranya, mendadak dia ngeri. Sandra tertawa terbahak-bahak. "Gila, jadi beneran elo buka jasa gituan? Anjir!" Ternyata Sandra tengah mengarang cerita dan parahnya itu sesuai dengan apa yang terjadi pada Giana. "Wkwkwk kenapa? Kok muka elo pucat? Jadi bener elo sering bolak-balik masuk apartemen?" Sandra tergelak. Teman-teman lain mereka hanya menonton saja keributan itu. Giana tercengang, dia merasa terjebak sekarang. Ternyata Sandra tak tahu apa-apa dan hanya mengarang cerita. Tapi, sayangnya itu semua benar adanya. "Basi banget candaan elo!" Giana merasa harus cepat kabur dari hadapan gadis teman sekelasnya itu. "Hoy, mau kemana? Wkwkwk. Jadi berapa tarif Lo? Mau gue promosiin enggak?" Sandra tergelak melihat Giana terburu-buru pergi meninggalkan kelas. Seisi kelas berdecak, entah benar atau tidak perkataan Sandra. Yang jelas, Giana jadi ketakutan sekali. Dia gemetar. "Jangan sampai seisi kampus tahu, kalau aku memang sering bolak-balik ke apartemen kak Vano. Jangan sampai Mama aku tahu." Giana berbisik sendiri sembari berjalan ke toilet. "Kenapa semuanya jadi kaya gini. Harusnya pagi ini, Miss Cherry yang dapat hujatan. Tapi, kenapa malah aku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN