Thirty Nine

1127 Kata
"Wah, ternyata Miss Cherry itu Tante elo, Bar! Bisa-bisanya Lo enggak pernah cerita!" Shaka yang notabene teman dekat Barry sejak lama itu cukup kaget karena Barry punya kerabat orang tajir dan berpendidikan. "Ya ngapain juga gue bikin pengumuman!" tukas Barry. "Udah deh, Sak! Barry lagi sensi. Bahas yang lain aja!" Bisik Rico yang sejak tadi sibuk merapikan rambutnya. Shaka menggaruk kepalanya. "Tapi, Giana emang beneran selingkuh sama tuh cowok berarti ya?" Shaka bertanya hal lain yang juga sensitif. "Sak!" tegur Rico. "Ha?" "Elu begok apa emang sengaja?" "Sorry deh, sorry ya Bar! Gue cuma penasaran aja." "Udah deh, makan aja tuh ketoprak! Ribut aja deh Lo pada!" Shaka menyikut Rico, mereka berdua kemudian fokus makan. Barry menyalakan rokok dan sibuk dengan pikirannya. * "Gimana? Enggak ada masalah kan di kampus?" Cherry baru saja melepaskan pelukannya. Barry masih mengusap-usap lengan Cherry sambil bersandar di sofa. Dia mengangguk setelah menghela nafas. Masalah ini terlihat sudah beres, tapi entah kenapa benaknya masih gundah. Hatinya tak tenang sama sekali. Dia merasa bisa mendapat masalah lain kapan saja. Sedangkan dia selalu tak berdaya. Terlalu mengerikan jika suatu hari, masalah baru datang dan dia harus kesulitan menghadapi itu. Dia juga takut kalau orang tuanya tahu, tentang kondisi yang tengah dia jalani sekarang ini. "Kok murung? Ada apa?" Cherry duduk berhimpitan dengan Barry, padahal sofa di ruang depan itu cukup luas. "Enggak apa-apa, Tante." "Enggak mau jujur ya?" "Bukan gitu, emang enggak ada apa-apa. Lagipula, masalah video itu kan udah diberesin sama Tante." "Bukan diberesin sih. Sebenarnya video itu bukan masalah. Cuma, karena kamu keliatan khawatir banget. Ya, yaudah kita cari solusinya." Barry mengangguk. "Iya, Barry memang worry banget." "Ya udah, kan udah selesai kan masalahnya?" Barry mengangguk lagi. Tersenyum. Cherry menyandarkan kepalanya di bahu Barry. Keduanya saling diam. Perasaan nyaman yang biasanya ada, kini entah pergi kemana. Kedamaian saat bersama, kini sedang tak ada di antara keduanya. Bahkan untuk mengobrol santai saja, Barry tak tahu harus membahas apa. Dia terlanjur mencintai Cherry tapi dia gelisah karena situasi ini. Dia tak nyaman dengan keadaannya tapi dia tak sanggup kalau harus berpisah dari Cherry. Baginya ini semua normal, hubungannya dengan Cherry adalah sesuatu yang wajar. Tapi, untuk orang lain bisa saja ini seperti tak terlalu lazim. Terlebih bagi orang tuannya. Berkencan dengan wanita yang lebih tua darinya. Mereka pasti tak bisa begitu saja menerima. "Barry, aku harap kamu cukup nikmati aja kebersamaan kita. Jangan berpikir soal masa depan atau berpikir ada apa setelah ini. Jangan juga membayangkan apa yang akan kita lakukan di masa nanti. Cukup nikmati saja hari ini, agar tak ada beban." Lirih Cherry yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Barry. Barry memerhatikan setiap jengkal kata yang keluar dari bibir Cherry. Benar, Cherry benar. Anak muda memang seharusnya have fun, tanpa harus diliputi rasa cemas tentang ini dan itu. Untuk apa mengkhawatirkan masa depan. Dikhawatirkan atau tidak, masa itu akan datang sendiri dengan hal dan keadaan yang memang sudah seharusnya, sebuah ketetapan dari Sang Maha. * Giana sudah berada di batas akhir kesanggupannya melewati semuanya. Diamnya selama ini membuat Vano menjadi-jadi. Gerakannya semakin liar membuat Giana semakin menderita. Bahkan, di tubuhnya kini banyak luka memar karena ulah kasat Vano saat menggaulinya. Malam ini, di apartemen milik cowok tajir yang tampan mempesona itu. Lagi-lagi Giana mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari sosok yang selalu mengaku sebagai kekasih Giana itu. Giana terisak tapi Vano menjadi semakin bersemangat. Ketidakwarasannya semakin menguat. Dia bahkan mungkin tak sadar kalau dirinya sakit dan memiliki penyimpangan. Giana mengerang karena merasakan sakit yang amat sangat di area bawah perutnya. Dia kemudian mendorong Vano yang berada di atasnya. Melepaskan diri dengan sekuat tenaga. "Giana!" Vano tak terima diperlakukan seperti itu saat sedang melancarkan aksinya. "Kak, udah cukup!" Isak Giana dengan bibir bergetar. "Belum!" Vano mulai menyentuh Giana lagi. "Kak!!" Teriak Giana seraya menampar Vano. Vano tercengang, bola matanya hampir keluar. Dia menatap tajam ke arah Giana dengan rahang menggertak keras. "Apa-apaan kamu!" Dia berang. "Kak, sudah cukup. Aku udah enggak sanggup." "Apa? Kamu enggak sanggup apa? Kamu kan cuma harus diam! Huh!" "Kak, please. Aku mohon!" "Giana! Kamu harus selalu turuti aku atau." "Atau apa? Kakak mau ancam aku lagi? Kak, aku udah enggak sanggup lagi." "Kamu udah enggak sayang sama aku?" "Aku sayang sama kakak, tapi bukan kakak yang seperti ini." Isak Giana. "Lalu seperti apa? Mau yang seperti Barry! Barry lagi, Barry lagi!! Mauu aku lenyapkan dia supaya kamu bisa lupa sama cowok miskin itu! Hah?!" Bentak Vano. "Bukan karena dia, Kak." "Terus, kenapa?" "Karena kakak.." "Apa?" "Aku mau putus sama kakak." "Apa? Hahaha! Enggak!" Vano mencengkram dan membekap wajah Giana, kedua pipinya terasa sangat sakit. "Kak, sakit." Rintihan Giana tak dihiraukan Vano. "Kamu mau Mama kamu tau, soal kita?" "Silahkan saja kakak ancam aku. Karena setelah kakak lakuin semua itu, aku akan mati di sini, di tempat ini. Jadi, kakak bisa menghabiskan sisa hidup kakak di penjara. Apalagi kalau di tubuh mayat itu, ada banyak luka dan memar karena perbuatan kakak." "Hahahaha, berani-beraninya ya kamu ancam aku!" Mata Vano mengerling. "Aku serius, Kak." Giana beranjak dari tempat tidur saat Vano lengah. Giana menghampiri meja dimana terdapat pisau bekas memotong buah tadi sore. Dia mengarahkan benda tajam itu ke nadinya. Menggoresnya perlahan hingga mulai terlihat aliran darah segar. Vano mendelik dan maju mendekati Giana. Dia menampar Giana hingga tubuh gadis itu tersentak ke belakang dan jatuh terduduk di sofa. Pisau buah tadi terlempar ke lantai. Vano menampar Giana lagi, gadis itu meraung-raung. "Aku akan mati di sini!" "Jangan macam-macam kamu, Giana!" Vano ketakutan, dia tak mau berurusan dengan pihak polisi karena dia adalah seorang pemakai aktif yang punya bandar besar, yang selalu mengirimi dia paket narkoba setiap minggunya. Kalau sampai Giana berbuat onar dan polisi memeriksa Vano. Maka persoalan itu akan semakin kusut. Hidupnya bisa berkahir di situ. Tidak, Vano tak ingin itu terjadi. "Silahkan beritahu Mama aku. Silahkan! Aku enggak peduli! Hidup aku udah hancur! Aku lebih baik mati di sini!" Erangnya. Giana mencoba meraih pisau yang ada dilantai, tapi Vano cepat-cepat menendang benda berkilau itu hingga masuk ke kolong sofa. Giana terengah-engah, dia takut sekali. Pergelangan tangannya terasa sangat sakit meski goresan tadi tak terlalu dalam. Darah terus menetes pelan dan berceceran dan sofa dan lantai. Vano meremas rambut di kepalanya, bingung. Dia benar-benar tak ingin berurusan dengan polisi. "Giana, kamu ini udah gila ya!" Sentaknya. Giana meringkuk di atas sofa. Vano berdecak dan mulai mencari kain untuk menutupi tangan Giana. Vano membawa Giana ke rumah sakit, lukanya dibalut oleh dokter. Vano menjawab bahwa Giana adalah adiknya yang baru putus cinta dan mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Giana tak berkata apapun, dia hanya ingin tahu apakah rencananya mengancam Vano berhasil atau tidak. Selesai dengan penanganan luka di pergelangan tangan Giana. Vano sendiri yang mengantar Giana pulang. Perban jelas terlihat di sana. Vano sudah mengarang sebuah cerita konyol untuk Mama Giana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN