"Lho, lho ada apa ini? Giana kamu kenapa, Nak?" Mama Giana menyambut Vano dan Giana yang terlihat berjalan bersama setelah turun dari mobil.
Vano berusaha terlihat seperti hero, memapah Giana yang berjalan tertatih karena merasa lemas.
"Giana kenapa?" Ulang Mamanya panik melihat perban di lengan kiri putrinya.
"Tan, ceritanya panjang. Tolong bawa masuk dulu Giana." ucap Vano.
"Kamu, yang waktu itu kesini kan?"
"Iya, Tante. Saya Vano."
Mama Giana memandang Vano dengan curiga. Tapi dia kemudian membawa Giana ke kamar setelah mempersilahkan Vano masuk.
Giana dibaringkan di kamarnya, sang Mama menyelimutinya dan membelai kening sang buah hati.
Sungguh, Giana sudah pasrah apapun yang akan dikatakan Vano kepada Mamanya. Dia hanya ingin lepas dari belenggu Vano. Apapun yang terjadi, biarlah akan menjadi derita yang berikutnya. Tak apa, asal penderitaan yang satu ini berakhir. Dia sudah tak sanggup lagi untuk mengikuti semua titah Vano.
Mama Giana kembali mendatangi Vano yang nampak duduk santai seperti tak punya masalah apapun.
"Giana bilang apa, Tante?" Tanyanya sopan, bahasa dan gerak-geriknya jauh dari kata biadab. Ya, begitulah Vano yang sama sekali tak terlihat seperti psikopat ulung.
"Tante belum bertanya apa-apa, biarkan dia istirahat dulu." jawab Mama Giana dengan setumpuk keresahan yang berjejalan di benaknya.
Sesuatu pasti telah terjadi, entah apa yang Giana lakukan sehingga mendapatkan luka di bagian itu. Rasa ngeri menjalar di tengkuk Mama Giana. Terpikir olehnya bahwa sang putri mungkin saja melakukan percobaan bunuh diri, tapi secepat mungkin dia halau pikiran buruk itu.
'Memangnya apa yang membuat Giana mencoba bunuh diri segala? Pasti itu hanya luka akibat terjatuh di suatu tempat.' pikir Mama Giana.
"Ehm, boleh Vano saja yang menjelaskan semuanya?" tanya Vano menawarkan diri menjadi perantara.
Giana yang berbaring di tempat tidur dengan pintu kamar tak tertutup itu bisa mendengar percakapan Vano dan mamanya dari dalam sana. Dia benar-benar merasakan lemas di sekujur tubuhnya.
"Memangnya ada apa, Vano?"
"Begini Tante. Ehm, sebelumnya Vano minta pada Tante agar jangan terlalu terkejut. Vano cuma cemas kalau-kalau nanti Tante malah sakit."
"Sebenarnya ada apa sih?" Suara Mama Giana meninggi karena Vano seperti bertele-tele.
"Vano harus ceritakan sejak awal agar Tante dapat memahami keseluruhan isi cerita Vano."
Mama Giana merasa jantungnya berdegup dengan tak beraturan karena cemas dan bingung.
'Apa yang akan dia ceritakan? Sepertinya serius sekali.' batinnya.
"Tante, pasti Tante kenal kan dengan cowok bernama Barry?"
"Tentu saja Tante kenal, dia itu pacar Giana."
"Benar, Tante. Barry memang kekasih Giana, sesuai yang Tante ketahui."
"Jadi ada apa sebenarnya?"
"Tante, apa tidak pernah heran? Kenapa Barry selalu memberikan Giana ini dan itu?"
"Kenapa harus heran? Biasanya orang pacaran kan memang begitu! Tante juga waktu muda begitu!"
"Begitu ya! Tapi, sayangnya Barry begitu karena ada maunya, Tante."
"Ada maunya? Kamu ini bicara apa sih? Coba jangan berputar-putar!"
"Tante! Saya menemukan Giana di hotel dengan kondisi tak sadarkan diri."
"Apa???"
Vano mengangguk.
"Maksudnya apa? Kenapa dia ada di hotel? Dan kenapa dia pingsan?"
"Nah, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Barry, Tante."
"Tante enggak paham, Barry itu anak baik-baik. Dia mana mungkin berbuat hal jahat. Apalagi pada Giana."
"Tante, awalnya Vano juga pikir begitu. Bahkan Giana juga pasti berpikir begitu. Tapi, tetap saja jati diri Barry yang sebenarnya adalah sebuah rahasia. Iya kan?"
Mama Giana terdiam, mencoba memahami apa yang diceritakan oleh Vano.
"Tante, Vano itu mencintai Giana. Jadi Vano selalu peduli padanya. Beberapa jam yang lalu dia menelpon Vano dan menangis."
"Vano sempat bertanya dia dimana, jadi Vano datangi Giana yang ternyata berada di sebuah hotel."
"Tante enggak bisa percaya ini."
"Dan Tante, setelah Vano sampai di sana. Mengetuk pintu kamar dimana Giana berada di dalamnya. Tapi tak ada jawaban. Jadi Vano meminta petugas hotel untuk membukakan pintu. Dan, yah seperti itulah yang terjadi."
"Apa?"
"Rupanya, setelah menghubungi Vano. Giana mencoba menyayat pergelangan tangannya. Dia coba bunuh diri Tante."
Mama Giana menggeleng tak percaya.
"Vano berani sumpah, Giana menyayat pergelangan tangannya sendiri. Bahkan pisau buah yang dia pakai, masih ada di sana."
"Ya Allah." Mama Giana terisak.
"Vano juga kaget sekali Tante. Panik, jadi Vano langsung bawa Giana ke rumah sakit pakai mobil Vano. Beruntung Vano tepat waktu jadi Giana masih bisa ditolong."
Giana menangis di dalam kamar, rupanya Vano tengah mengarang sebuah cerita konyol. Dia tak ingin disalahkan akan kasus percobaan bunuh diri yang terjadi pada dirinya. Tapi, dia masih menunggu inti dari percakapan itu. Masih pasrah kalau Vano membongkar segalanya.
"Enggak mungkin." Mama Giana terisak menutupi wajahnya dengan tangan.
"Begitulah yang terjadi, Tante."
"Tapi kenapa? Untuk apa dia mencoba bunuh diri? Semuanya baik-baik saja!"
"Tidak semua hal Tante tahu, tak semua hal dia ceritakan pada Tante." Bisik Vano.
"Apa maksudnya?"
"Tante, Vano bicara seperti ini karena sayang pada Giana. Vano tahu Giana pasti tak mau Vano jujur ke Tante. Tapi, Vano rasa, semua ini harus diungkapkan."
Mama Giana merinding, hal apa lagi yang lebih mencengangkan daripada kasus bunuh diri putrinya?
"Tante, Barry berbuat sesuatu pada Giana. Hingga Giana terpuruk seperti ini. Barry, menodai Giana."
"Apa??? Kamu ini bicara apa??" Pekik Mama Giana.
"Vano sungguh-sungguh Tante! Percayalah Tante!" lirih Vano dengan nada serius.
"Barry dan Giana sudah sejak SMA berpacaran! Mereka selalu berhubungan secara sehat dan tak ada hal-hal seperti itu."
"Itulah kenapa Vano bilang, kalau tidak semua hal Giana bisa jujur pada Tante. Selama ini dia menutupi segalanya karena yakin Barry pada akhirnya akan menikahinya. Tapi, di brengsekk itu ternyata kini main gila dengan salah satu dosen, dan meninggalkan Giana begitu saja."
Mama Giana terperanjat, tungkai kakinya melemah. Kepalanya berdenyut-denyut. Dia bersandar di sofa tempatnya duduk.
"Tante, Tante baik-baik aja?" Tanya Vano sok peduli.
Di dalam kamar, Giana menangis tanpa suara. Tenggorokannya tercekat. Dia meremas sprei yang melapisi tempat tidur. Suasana hatinya kacau, bingung dan sangat kaget karena kisah yang diutarakan Vano adalah karangannya belaka.
"Kak Vano, tega sekali." Lirihnya.
Tapi, fakta konyol ini. Sedikit menguntungkan Giana karena bisa jadi dia akan kembali mendapatkan Barry.
Meksipun begitu, tetap saja hatinya patah karena Mamanya kini tahu bahwa sang putri sudah tak lagi suci. Entah ledakan sebesar apa yang terasa di dalam dadda wanita paruh baya itu.
Giana mendengar isakan tangis Mamanya. Hatinya ikut tersayat, perihnya jauh lebih dahsyat daripada luka di pergelangan tangannya. Mamanya pasti terluka sangat dalam,dia pasti lebih menderita dari Giana.
Vano masih belum puas rupanya, dia terus saja berkicau di depan Mama Giana.
"Barry, meninggalkan Giana dan tak mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan terhadap Giana. Itu semua karena dosen mereka, Tante. Barry sudah tergila-gila padanya sehingga Giana menjadi korban mereka. Vano sendiri sedih sekali, Tante. Vano itu sayang sekali pada Giana, tapi keadaan sudah memburuk seperti ini. Jadi, entah bagaimana selanjutnya." Cicit Vano.
"Enggak! Kamu pasti salah, Vano!"
"Tante, Vano tahu segalanya! Giana itu sangat dekat dengan Vano dan selalu bercerita soal apapun. Hanya saja dia enggan meninggalkan Barry karena merasa lebih mencintai Barry dibandingkan Vano."
Mama Giana merasakan daddanya amat sesak.
"Giana tak mungkin menceritakan hal seperti itu kepada Mamanya. Bagaimana mungkin dia memberi tahu Mamanya bahwa dia sering tidur bersama kekasihnya, si Barry yang terlihat baik di depan Tante." Vano menaikan ujung bibirnya saat Mama Giana menunduk.
Psikopat gila itu merasa puas dan menang. Status dia akan aman dan jauh dari kejaran polisi kalau seperti ini kisah yang terjadi.
Vano yakin, Giana juga tak akan meralat semua cerita ini karena gadis itu ingin lepas dari Vano. Dengan begini, Giana akan lepas dari Vano tanpa menjerat Vano masuk ke dalam masalah ini.
"Tante, Vano minta maaf sebelumnya. Tapi, memang itu yang sebenarnya terjadi."
Mama Giana terdiam. Seperti mendadak kehilangan kewarasannya.
"Kalau begitu, Vano pamit dulu ya Tante. Sudah hampir pagi." Vano perlahan keluar dari rumah Giana.
Berusaha tetap tenang tapi hatinya bersorak senang. Dia mengemudi mobil sambil bersiul-siul, kembali ke apartemennya dengan perasaan puas dan tenang. Tidak akan ada masalah apapun yang akan menyeretnya masuk.
Air mata Giana terus meleleh, dia tak tahu apakah dia bisa berhenti menangis ataukah tidak. Keadaannya benar-benar kacau balau. Tak ada ada cara untuk memperbaiki segalanya.
Adzan subuh menggema dari masjid yang berada tak jauh dari rumah Giana. Samar-samar terdengar suara isakan tangis Mama Giana di ruang depan, seakan bersahut-sahutan dengan lantunan merdu adzan pagi itu.
Giana pasrah, dia tak tahu harus bagaimana. Apakah dia harus berdalih bahwa semua cerita Vano itu bohong dan berusaha mencari alasan tentang mengapa dia berusaha bunuh diri. Ataukah membiarkan kisah yang dikarang Vano ini terus bergulir.
Sepuluh menit kemudian, tangis sang Mama tak terdengar lagi. Digantikan oleh suara gemericik air dari kamar mandi. Tak lama kemudian, kembali terdengar suara tangis itu.
Tubuh Giana basah bersimbah peluh, wajahnya sembab dan airmata terus meluncur hangat.
Matahari mulai terbit, sebuah motor terdengar mendekat dan memasuki halaman rumah Giana. Sang Bapak yang baru saja bekerja shift malam di sebuah pabrik baru saja pulang. Dia memang selalu pulang di waktu seperti sekarang. Antara pukul enam atau tujuh pagi dia sudah sampai di rumah.
Dicarinya sang istri yang masih terduduk di atas sajadah. Bapak Giana masuk dan menyapanya.
Tangis Mama Giana pecah kembali. Diceritakannya segala yang dia dengar dari Vano. Sang suami merosot lemah ke lantai dan memegangi keningnya.
Giana hanya berdiam diri, meski haus menderanya sejak dini hari tadi. Dia hanya bisa menangis meratapi segalanya.
"Pak, ternyata yang kita khawatirkan itu benar-benar terjadi. Mama pikir, Barry itu sosok seperti Bapak yang benar-benar menjaga Mama hingga hari pernikahan kita tiba. Tapi, ternyata dia sejahat itu, Pak."
Bapak Giana tak berkata apa-apa.
"Seandainya Mama tahu, Barry punya niat jahat. Untuk apa Mama membiarkan Barry membelikan Giana barang ini dan itu. Semua benda itu tak berharga! Tak bisa dibandingkan dengan kesucian putri kita, Pak." Mama Giana meraung-raung.
Mama Giana tak sanggup lagi menahan emosinya. Dia terus menceracau di depan sang suami yang baru saja kembali dari pabrik, lelah semalaman tak tidur.
Bapaknya membisu, beranjak ke kamar Giana untuk mengecek putrinya. Membelai kening Giana yang berkeringat. Menghela nafas dan tak berkata apapun. Lidahnya terlalu kelu untuk sekedar mengumpat karena marah sekali pada Barry.
Mamanya menyusul masuk ke kamar Giana. Masih sesenggukan karena tangisnya yang panjang.
"Ganti baju Giana, Bapak mau order taksi online!" ujarnya di hadapan sang istri.
"Kita mau kemana, Pak?" Tanya Mama Giana.
Pria itu tak menjawabnya, dia beralih ke ruangan lain untuk memesan taksi online.
Mama Giana membantu Giana berganti pakaian, menuruti saja titah suaminya meski tak tahu akan pergi kemana mereka pagi ini. Apakah rumah sakit? Atau kemana? Tak ada tempat yang terpikirkan olehnya.
Tindakan Giana juga serupa dengan Mamanya. Hanya diam dan menuruti saja. Dia masih beruntung karena Orang tuanya tak melakukan apapun padanya. Tak ada teriakan atau bahkan pukulan karena emosi. Tidak ada.
Taksi yang mereka tunggu akhirnya datang. Bapak Giana duduk di depan, samping pengemudi. Sedangkan Giana dan Mamanya di jok belakang.
"Ke alamat ini ya, Pak?" Tanya sang pengemudi taksi berbasis online itu.
"Ya!" Bapak Giana menjawab singkat.
Mobil melaju ke alamat tujuan. Dua orang wanita di jok belakang belum tahu akan kemana mereka. Dan, Giana baru sadar saat mereka sudah memasuki area kampung dimana rumah Barry berada.
Giana menatap Mamanya, wanita dengan beberapa uban di rambutnya itu balas memandang Giana, bingung karena dia tak tahu dimana mereka sekarang.
Tapi, Giana terus menatapnya. Sang Mama jadi tersadar bahwa mungkin mereka kini sedang menuju rumah Barry, seorang pemuda yang mereka kenal sebagai kekasih dari Giana.
Hati Giana gelisah. Hal apa yang telah menunggu di depan sana. Sang Bapak terlihat penuh amarah. Seakan siap melahap siapa saja yang membuat putrinya jadi seperti ini.
Mama Giana meraih jemari sang anak. menggenggam tangan Giana erat, seolah mencoba menyalurkan kekuatan yang dia sendiri bahkan tak punya. Dia hanya pura-pura tegar di depan Giana. Dengan begitu, segalanya bisa sedikit lebih kondusif.
Airmata Giana tak mau berhenti meleleh. Di dalam hatinya, dia terus menyebut nama Barry. Benar, ada sedikit keberuntungan baginya. Barry mungkin akan menikahinya atau setidaknya mereka akan bertunangan. Bermacam praduga berkeliaran dengan buas di dalam kepala Giana.
Rasa malunya membubung tinggi, jangan ditanya lagi. Tapi, dia harus melewati semua ini. Semoga saja Vano benar-benar membiarkan dirinya pergi. Itu saja inginnya, untuk sementara ini. Tak banyak yang Giana mau. Dia hanya ingin deritanya karena Vano, berakhir.