Fourty One

2251 Kata
Pukul setengah delapan pagi, Ibu Barry tengah menyiapkan sarapan pagi saat pintu depan diketuk. Kemudian terdengar suara suaminya berseru dan seolah tengah menyambut tamu. Wanita itu segera ke depan dan agak terkejut karena mendapat rombongan kecil tamu pagi-pagi begini. Dia mengenali satu orang diantaranya. Giana, kekasih dari Barry putra semata wayangnya. Kemudian, dua orang lainnya. Itu pasti orang tua Giana. Tapi, pertanyaannya adalah.. Apa gerangan yang membuat mereka mengunjungi kediaman Barry pagi-pagi begini, tanpa mengabari terlebih dahulu. Ibu Barry turut menyambut tamu mereka. "Eh, Neng Giana! Sehat, cantik!" Sapanya seraya memuji Giana. Gadis yang dia tanyai kabar itu hanya tersenyum tipis. Orang tua Giana mencoba bersikap baik dan tak membuat huru-hara di rumah Barry. Dua belah keluarga itu sudah saling bersalam sapa. Kemudian sang tamu dipersilahkan duduk. Bapak Barry melirik istrinya, mereka berdua tak tahu apa-apa. Bingung? Sudah pasti. Tapi, untuk saat ini tugas mereka adalah memperlakukan tamu mereka dengan baik. Itu sebuah keharusan. "Barry ada?" Tanya Bapak Giana yang enggan memulai dengan basa-basi yang tak perlu. "Barry? Oh, ada! Tadi baru aja mandi, mau ke kampus!" Bapak Berry menoleh ke pada istrinya. "Mak, coba panggil Barry!" "Iya! Ditinggal dulu ya Neng Giana, Emak mau bikin minum!" "Biar, Bu! Jangan repot-repot!" Nada Bicara Mama Giana tak terlalu ramah. Ibu Barry hanya tersenyum dan berlalu ke dalam. Sementara Bapak Barry gelisah di tempat duduknya. "Bar! Bar!" Sejak tadi Barry mengenakan headphone di kepalanya, mendengarkan musik rock yang amat kencang. Pantas saja dia bahkan tak tahu ada serombongan kecil tamu menyambangi rumahnya. Ibunya masuk, memukul punggung Barry. "Apaan, Mak?" Tanyanya dengan suara keras. "Ada Giana!" Jawab emaknya. "Hah? Apaan!!???" Seru Barry. "Ada Giana sama orang tuanya!" "Hah? Emak sama Babeh udah tua? Ya emang emak sama babeh udah tua! Hahahaha!" Barry kembali sibuk bergeleng-geleng joget mengikuti alunan musik. "Barry!" Emaknya sekarang membuka headphone Barry dan melemparkannya ke atas tempat tidur. "Apaan sih, Mak! Gangguin aja!" gerutunya. "Sstt! Eh, Barry! Elu undang Giana sama orang tuanya ke sini? Ngapa enggak bilang emak sih! Kan seenggaknya emak bisa masak dulu! Masak apa kek!" "Ngomong apaan sih, Mak? Lagi ngelindur ya? Sana tidur lagi deh ah! Barry lagi mau siap-siap ke kampus!" "Itu Giana di depan! Sama orang tua dia!" "Ha? Maksudnya?" "Giana! Giana!" Ibu Barry menggeplak kepala Barry berkali-kali. "Giana? Giana kesini? Ngapain dia kesini?" "Yah, malah nanya! Udah sana keluar! Bapaknya nyaring elu!" "Hah? Mau apa, Mak?" Barry kaget. "Ya mana emak tau! Emak kira elu undang dia." "Lah, Barry enggak pernah undang dia! Ngapain ngundang dia ke rumah!" "Udah pake baju yang bener! Terus keluar! Emak mau bikin air!" "Iya deh, ganti baju dulu!" Barry bingung, tapi dia akan tetap menemui Giana yang konon katanya datang bersama orang tuanya. Barry yang tak merasa punya salah, bersikap santai saja. Tak ada perasaan tak enak dan aneh lainnya. Barry kemudian datang ke ruang depan. Bapak Giana yang sejak tadi diam, tiba-tiba saja beranjak dan meninju Barry. Cowok itu terhuyung ke belakang dan menubruk ibunya yang datang membawa nampan berisi tiga gelas teh panas. Sang ibu memekik keras karena nampan itu terjatuh hingga gelas dan isinya tercecer di lantai, kakinya bahkan terkena panasnya air teh itu. Tapi, bukan pecahan gelas yang dia pungut. Melainkan tubuh Barry yang terjatuh ke lantai disamping serpihan gelas. "Ya Allah, Barry!" Emaknya berteriak panik. Bapak Barry juga berusaha membantu istrinya, menolong anak mereka yang tersungkur di bawah. Bapak Giana nanar, dia bahkan meraih sebilah pecahan gelas yang runcing dan tajam. Kemudian maju hendak menyerang Barry, tapi Giana dan Mamanya bergerak cepat memeluk tubuh pria itu dan menariknya ke belakang. "Pak, jangan!" Isak Mama Giana. Giana terisak-isak, berusaha menarik sang bapak. Wajahnya bahkan terkena siku bapaknya yang keras. "Lepas! Biar saya kasih pelajaran buat anak muda brengsekk macam dia!!" Teriak Bapak Giana yang rupanya tak sanggup lagi bersikap baik sesaat setelah melihat batang hidung Barry. "Ada apa ini, Pak! Tolong bicara baik-baik!" Tegur Bapak Barry tak terima putranya diperlakukan seperti itu. "Bicara baik-baik! Anak seperti dia tak bisa diajak bicara baik-baik!" Bapak Giana hendak menyerang Barry lagi. Ibu Barry meraung-raung ketakutan sambil mendekap anaknya yang tubuhnya jauh lebih besar darinya. Barry menunduk, merasakan nyeri di hidungnya. Dia sendiri sangat kaget dan bingung. "Pak, sabar dulu! Kita bicara baik-baik. Sebenarnya ada apa?" Bapak Giana berusaha menenangkannya pria dengan pecahan gelas di tangannya itu. "Pak, duduk dulu pak!" Pinta Mama Giana. "Biar dia rasakan dulu apa yang dirasakan anak saya!" Sentak Bapaknya Giana. "Sebenarnya ada apa? Barry enggak paham." "Sini kamu anak brengseek!" Barry hendak maju tapi Ibunya menahan sekuat tenaga tubuh Barry agar tetap bersamanya. "Ya Allah, Pak. Jangan begini!" Isak Mama Giana. "Barry serius, Barry enggak paham apa masalahnya!" Teriak Barry yang tak terima tiba-tiba dipukul oleh bapak dari mantan kekasihnya. Putusnya mereka memang tak bisa diterima Giana. Tapi, dalam hal ini Barry merasa bahwa dirinya adalah korbannya. Dia sudah menyia-nyiakan segalanya untuk Giana yang tak pernah menaruh hati padanya. Dan apa? Pagi ini Giana membawa orang tuanya dan melakukan tindak kekerasan pada Barry? Cowok dengan kaos putih itu terengah-engah karena berteriak di depan semua orang. Bapak Giana merangsek maju saat semua orang lengah. Dia berhasil menggores lengan dekat siku Barry dengan pecahan gelas di tanganya. Darah perlahan keluar dari sana. Ibu Barry memekik ketakutan sambil terus berseru menyebut namaNya, Zat yang Maha Kuasa. "Ya Allah, Astaghfirullah! Allahuakbar, Barry! Ya Allah!" Isak Ibunya. "Bapak ini keterlaluan!" Bapak Barry mulai bersikap agak keras sekarang. "Pak, bahkan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengangan perbuatan dia ke putri kami!" "Apa sih maksudnya??" Barry hendak menantang bapak Giana, dia benar-benar tak terima diperlakukan seperti ini. Bapak Giana tertawa getir, kemudian menyingkap bagian lengan cardigan yang dikenakan Giana. Semua orang di ruangan itu dapat melihat perban di pergelangan tangan Giana. Barry tercengang. 'Apa-apaan itu! Giana mau bunuh diri?' pikir Barry. "Sekarang kamu mau bilang apa? Mau beralasan apa?" "Ini pasti salah paham! Giana sebenarnya ada apa?" Barry mencecar Giana dengan tanyanya. "Bisa-bisanya kamu anak sialan! Bertanya ada apa, setelah meninggalkan Giana di hotel dan membuat dia seperti ini! Apa yang akan kamu perbuat kalau sampai kamu kehilangan Giana? Apa? Hah???" Bentak Bapak Giana seraya mengumpat. "Hotel?" Ibu Barry terkejut. Barry sama kagetnya, dia tak tahu apa-apa soal hotel. Masuk ke hotel saja dia belum pernah. Lebih sering lewat di depan hotel saat pulang pergi ke kampus. Bahkan cara check in saja Barry tak tahu. Pokoknya hidupnya sangat jauh dari kata hotel dan segala tentang kata itu. Giana menunduk, kini kisah palsu itu mulai terurai di depan Barry yang tahu dengan jelas bagaimana kisah aslinya. Meksi tak sampai ke akar dari masalah Giana. Setidaknya Barry tahu bahwa semua yang dibawa oleh keluarga Giana itu hanyalah omong kosong semata. "Barry, kamu ngapain di hotel!?" Bentak Bapak Barry. "Lah, kok tanya Barry, Beh! Mana Barry tau! Barry kan semalem tidur di rumah!" Ibu dan Bapaknya tahu bahwa Barry tidur di rumah, tapi dia pulang sangat larut. Jadi, keduanya curiga tapi masih berusaha menutupi segalanya sampai fakta yang sebenarnya benar-benar terkuak. Sedangkan Barry punya alibi sendiri, tapi dia tak bisa mengatakan itu. Kalau dia berkata jujur maka orang tuanya akan tahu jika dirinya semalam bersama dosen yang menjadi kekasihnya. Keadaan jadi carut marut. "Apa yang akan kamu lakukan untuk bertanggung jawab?" Sentak Bapaknya Giana. "Tanggung jawab apa sih, Om? Barry enggak berbuat apa-apa!' Bapak Giana kembali merangsek ke depan hendak menyerang kembali Barry yang sudah berdiri menghimpit ke dinding ruang depan. "Mau kurobek mulut kamu, hah??? Anak brengseek!! Kamu sudah menodai Giana dan menghancurkan masa depannya!! Anak settan!" Umpat Bapak Giana dengan otot leher menegang. Ibu Bapak Barry tertegun. Kaget, bingung dan ketakutan. Barry juga kaget, kenapa ada cerita seperti itu? Memangnya kapan dia menyentuh Giana? Mencium pipinya saja terhitung jarang. "Giana! Ini ada apa sih? Giana! Kamu kenapa diem aja! Ini fitnah Giana!" Barry nanar. Giana hanya menunduk, dia duduk dan sang Mama memeluknya erat. "Barry, Mama enggak nyangka kamu sejahat itu pada anak Mama. Barry, Mama sudah menganggap kamu sebagai anak Mama juga. Mama pikir kamu baik, tapi ternyata kamu biadab, Barry." "Barry yakin ini ada kesalahpahaman!" "Jangan berkilah, Barry!" bentak Bapak Giana. "Beh, kok babeh diem aja sih? Belain Barry dong! Mak! Kok pada diem aja!" Barry kesal sekali. "Sebentar, coba kita semua duduk dan bicara baik-baik." Bapak Barry meminta semua orang untuk duduk tenang. "Pak duduk, Pak!" Mama Giana memohon pada suaminya. Bapak Giana masih berdiri dengan dadda naik turun. "Pak, duduk dulu. Demi Giana. Kita harus bicara baik-baik demi Giana." Isak Mama Giana. "Bapak mau bunuh aja anak setan ini!" "Pak, kalau bapak bunuh Barry. Bagaimana nasib Giana?" Isak Mama Giana. Giana menangis dalam pelukan sang ibu. Bapak Barry menuntun Bapak Giana agar mau duduk. Rupanya keduanya sudah pernah bertemu dan membahas sesuatu. Di hari saat Bapak Barry bertanya soal hubungan Barry dan Giana waktu itu. Bapak Giana sudah merasakan ada keanehan dari sikap Giana belakangan ini. Jadi keduanya bertemu dan sedikit berbincang mengenai anak-anak mereka yang diketahui tengah menjalani sebuah hubungan. "Duduk dulu, Pak! Semuanya tuh pasti ada solusinye. Kekerasan kagak bakal nyelesain apa-apa." Bapak Barry berusaha menengahi, dia tak serta merta membela putranya sebelum tahu duduk persoalan yang sebenarnya seperti apa. Akhirnya mereka bisa duduk bersama, Barry agak dijauhkan dari jangkauan Bapak Giana yang mungkin dapat kembali tersulut emosi secara tiba-tiba. "Nah, Barry. Babeh sekarang tanya, apa iya elu lakuin hal-hal yang disebutin sama Bapaknya Giana tadi?" "Enggak, Beh! Berani sumpah Barry kagak pernah yang namanya nodain Giana." "Masih mau lari dari tanggung jawab?? Hah!" Bapak Giana kembali meradang karena mendengar Barry tak mengakui semuanya. "Pak, sabar dulu sabar!" Ibu Barry bak perisai untuk putranya. Sungguh dia tak rela siapapun menyakiti sang anak. Kalau dia yang memukul Barry dengan sendok sayur, tidak apa-apa. Tapi, jika ada orang lain yang memukul putranya meski dengan selembar lidi, sungguh dia tak rela. Apalagi seperti sekarang, tidak jelas duduk persoalannya. "Gini aja! Biar semuanya jadi jelas, mending Neng Giana yang coba bicara." Usul Ibu Barry. Giana gemetar. Dia meremas pakaian sang Mama yang memeluknya sejak tadi. "Ayo, Giana. Bicara." Barry berusaha menormalkan nada bicaranya. "Ayo, Sayang Giana bilang ya ke kita semua di sini. Sebenarnya apa yang terjadi." Giana hanya diam, tubuhnya semakin menggigil. Dia tak punya apa-apa untuk dikatakan. Karena sejak awal, Vano yang sudah memfitnah Barry. Tapi, Giana tak mau meralat ucapan dan cerita yang diutarakan oleh cowok tak waras itu. "Giana! Sebaiknya kamu ngomong deh! Jangan aneh-aneh, Giana please!" Giana memeluk mamanya erat. "Giana?!!!" Sentak Barry. "Jangan bentak-bentak Giana! Kamu enggak tahu rasanya jadi korban seperti dia!" Balas Mama Giana berang. 'Korban? Ya ampun, ini ada apa sih? Yang korban kan gue!' Barry kesal setengah mati tapi dia harus menjaga sikapnya. "Sekarang begini ya Bu, Giana ada bukti apa enggak, kalau Barry yang udah lakuin itu semua ke dia?" Tanya Bapak Barry hati-hati. Tapi, bapak Giana gak terima diperlakukan seperti itu. "Maksud ente apa, Pak? Jadi maksudnya anak saya ini mengada-ada!!!! Iya?" "Bukan begitu. Kita di sini kagak ada titik terang, kan Giana aja enggak mau ngomong." "Eh, sekarang gini ya! Kalau kita ada di posisi dia. Kalut, hancur kaya gini. Apa ada keinginan buat ngomong? Ada? Pikir dong!" "Ya Allah, Pak. Bukan begitu. Jadi sebaiknya kita harus bagaimana? Iya kita tahu mereka pacaran, tapi kan kita enggak tahu yang lakuin itu ke Giana kan siapa." "Beh, Barry sama Giana udah putus!" Celetuk Barry. "Tuh, katanya udah putus!" Sela Ibu Barry. "Ternyata benar kan?" Ucap Mama Giana sinis. "Benar apa?" Ibu Barry justru heran, kenapa malah dia membenarkan. "Giana mencoba bunuh diri, karena Barry ninggalin Giana saat udah hancurin dan bikin Giana jadi seperti ini!" Mama Giana meraung-raung lagi. "Iya, Bar?" Ibunya mengkonfirmasi kabar itu di depan orangnya langsung. "Ya Allah, kagak, Mak!" Giana terisak, suasana jadi kembali kacau. "Barry, tega ya kamu! Mama kira kamu baik, tapi kamu justru merusak anak Mama! Kamu bahkan tega ninggalin dan buang anak Mama cuma demi dosen tak tahu diri itu!!!!" Mama Giana menceracau. "Hah? Apaan?" Ibu Barry mendelik kaget. Bapak Barry menghela nafas. Kabar mengejutkan apalagi ini? "Do-dosen? Dosen bukannya guru di kampus elu, Bar?!!" Barry terdiam. Sama sekali tak menyangka bahwa mereka mulai membahas soal Cherry. "Iya! Dia pacaran sama gurunya sendiri! Dosen itu yang bikin Barry ninggalin Giana meski Barry udah janji mau nikahin Giana." 'Ya ampun, kenapa jadi gini sih!' wajah Barry pucat pasi. "Bar, kok elu diem aja!" Ibu Barry bingung karena Barry tak terlihat akan menyangkal semua itu. "Bahkan, Barry juga sering dikasih.." "Ma!" Giana memotong kalimat Mamanya dengan memegang erat tangan Mamanya. Mama Giana kemudian diam. Bapak Barry dapat menebak kemana arah pembicaraan Mama Giana. Seorang dosen wanita, yang mungkin memberikan motor sport merah itu pada anaknya. Segalanya jadi terkuak sedikit demi sedikit. "Bar! Ngomong dong!" Paksa Ibunya. "Giana, kayaknya kita perlu ngobrol berdua." Barry stress sekali. Giana diam saja. "Ngobrol aja di sini! Sekarang apa tanggung jawab kamu? Kamu mau berbuat apa sekarang?" Tekan Bapak Barry. "Ini jadinya, bapak ini kesini mau minta tanggung jawab Barry?" tanya Ibu Barry dengan nada berani. "Silahkan saja tentukan sendiri, atau kami juga ada cara lain kalau Barry terus mengelak." "Cara lain?" Tanya Ibu Barry berusaha menerka cara apa itu. "Cara lain, polisi????" Tanyanya ngeri. Bapak Giana hanya diam, melipat tangannya di depan dadda. "Enggak! Jangan bawa-bawa polisi!" Ibu Barry ketakutan setengah mati. "Apa sih, Mak! Biarin aja mereka laporin Barry, orang Barry aja enggak salah apa-apa!" "Enggak, Barry! Enggak!' "Biarin, Mak!" "Bar, emak enggak mau elu berurusan sama polisi? Emak malu!" "Buat apa malu, Mak? Barry enggak salah!! Biar polisi aja yang usut ini. Kalau emang Barry yang bikin Giana kaya gini, pasti polisi akan dapat buktinya!" Keadaan berbalik, Giana yang terpojok sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN