"Enggak! Emak kagak rela kalau Barry dibawa polisi!" Ibu Barry bersikeras.
Suasana jadi semakin kacau, Giana sejak tadi hanya diam. Barry tidak menyerah begitu saja, dia bahkan berani jika kasus ini dibawa ke ranah hukum.
Dia tahu bahwa dia tidak tak salah. Baiklah dia mungkin punya kesalahan, yaitu gemar meraup rupiah dari para wanita dewasa. Tapi itu tak ada hubungannya dengan kasus Giana yang mencoba bunuh diri.
Barry yakin bahwa Vano ada kaitannya dengan semua ini. Ataukah, Giana hanya sedang bersandiwara? Dia gagal menikam Barry dengan video itu, kini dia mencari cara lain untuk mendapatkan Barry kembali.
Tapi, dilihat dari sisi manapun. Giana terlihat sangat natural. Wajahnya bahkan pucat pasi dengan peluh membasahinya.
"Giana, kamu tetep enggak mau bicara??" Barry geram sekali.
Gadis dengan rambut berantakan itu akhirnya menaikan dagunya. Menatap kosong ke depan. Airmatanya menetes dengan dramatis.
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Menunggu Giana bicara. Gadis itu masih menatap kosong seperti orang yang baru saja kehilangan kesadarannya.
"Barry, kamu jahat." lirihnya dengan suara hampir berbisik.
Barry dan ibunya saling tukar pandang.
"Kenapa kamu lebih memilih tante-tante itu dibandingkan aku?" Giana terisak kemudian kembali membenamkan wajahnya ke pelukan sang Mama.
Barry tercengang, benar-benar tak habis pikir. Bapak dan Ibu Barry sekali lagi terkejut, lagi-lagi kalimat seperti ini yang mereka dengar. Barry ada main dengan tante-tante? Apakah itu adalah dosennya? Apakah keduanya merupakan orang yang sama.
"Giana, kamu jangan menceracau enggak jelas! Yang mau kita dengar adalah soal siapa yang udah bikin kamu kaya gini!" Desak Barry sebagai pembelaan diri.
"Barry aku hancur karena kamu pergi!" Giana bicara sambil terus menyembunyikan wajahnya.
"Bar, elo bener pacaran sama tante-tante?" Ibunya cemas sekali kalau-kalau Barry mengatakan iya.
"Mak, jangan dengerin Giana. Dia itu cuma enggak rela Barry mutusin dia!"
"Heh! Jangan mengada-ada ya, Barry!" Bapak Giana kembali tersulut emosinya.
"Pak, sabar dulu sabar!"
"Dari tadi saya udah sabar! Tapi si anak siallan ini bukannya ngaku malah berkelit terus! Apa susahnya sih ngaku!"
"Kenapa Barry harus mengakui hal yang enggak Barry lakuin!"
"Berani-beraninya ya kamu bilang begitu! Jadi, maksudnya Giana bohong?! Buat apa Giana bohong? Hah? Emang salah gue ngobrol baik-baik sama elo, anak settan modelan kaya kamu ini memang cuma pantas di hajar!!!" Bapak Giana tiba-tiba bergerak cepat dan meninju Barry lagi.
Barry benar-benar ambruk ke bawah karena hantaman yang terlalu keras itu.
"Ya Allah Barry!" Ibu Barry memekik dan meraih tubuh putranya.
Beberapa orang tetangga dekat mendengar ribut-ribut itu dan menyambangi rumah Barry. Mereka berusaha mengeluarkan Bapak Giana yang wajah dan daddanya membara karena amarah yang memuncak.
Darahnya seperti mendidih, bahkan dia siap menghabisi nyawa Barry hari ini juga.
"Pak, kita enggak tahu ini ada masalah apa! Tapi, sebaiknya bapak dan Ibu pulang dulu ya! Jangan begini, Pak!" Seorang tetangga berbadan tinggi besar menarik Bapak Giana hingga ke teras rumah Barry.
"Barry, lu enggak apa-apa?" Ibunya meringis ikut merasakan sakit yang dirasakan sang anak.
Giana dan Mamanya kemudian keluar rumah, suasana jadi semakin kacau. Tak ada jalan keluar yang didapat, semuanya hanya membuat segalanya makin keruh saja. Mama Giana memesan taksi online melalui ponsel pintarnya.
"Barry, kami pulang! Tapi, kami tunggu itikad baik kamu dan keluarga. Untuk bertanggung jawab atas semua ini! Kami tunggu di rumah. Atau kalau tidak, kami terpaksa melaporkan ini ke polisi." Tekan Mama Giana sebelum akhirnya pergi setelah berhasil memaksa suaminya agar mau pulang dari rumah Barry.
Mereka akhirnya bertolak meninggalkan rumah bergaya Betawi tempo dulu itu. Menyisakan Barry yang terduduk di sofa, Ibunya yang sibuk mengompres memar di wajah Barry dengan air hangat. Serta Bapak Barry yang duduk di bale berbincang dengan para bapak yang tadi membantunya meredam amukan bapak Giana.
"Bar, coba jujur sama emak." Wajah ibunya kusut dengah cepol rambut yang sebagian terurai karena keributan tadi.
"Mak, barry berani sumpah! Barry kagak pernah ngapa-ngapain Giana, Mak!'
"Terus tadi Giana kenapa? Dia kayaknya emang menderita banget! Emak jadi bingung yang mana yang bener."
"Mak, masa emak lebih percaya sama mereka dibandingkan anak emak sendiri!" ucap Barry sambil menahan pedih di wajahnya.
"Bukan gitu, Bar! Emak cuma bingung! Emak kaget, enggak ngerti kenapa jadi begini."
"Jangankan emak! Barry aja enggak ngerti! Makanya Barry kaget kenapa tiba-tiba Giana bawa orang tuanya dateng ke rumah kita."
"Tapi, emang bener elu kagak pernah ngapa-ngapain sama Giana?"
"Ya Allah, Mak! Kagak! Berani sumpah apa aja Barry mau!"
"Terus Giana kenapa ya?" Ibunya menghela nafas.
"Itu yang harus Barry cari tahu, Mak. Pasti orang lain yang lakuin itu ke Giana."
"Tapi siapa, Barry? Orang tua Giana cuma tahu kalau anaknya pacaran sama elu!"
"Mak, emak sama babeh tenang aja! Barry bakal beresin masalah ini!"
"Jadi, kapan kita datengin rumah Giana?"
"Buat apa, Mak! Itu sama aja dengan mengakui tuduhan mereka ke Barry! Sedangkan Barry enggak merasa berbuat apa-apa. Jangan kesana, Mak!"
"Tapi gimana kalau kamu ditangkep polisi? Emak kagak rela, Bar!" Isakan tangis sang Ibu membuat Barry menyesali segalanya.
Menyesali cinta buta dan tuli yang dia miliki untuk Giana. Menyesali kebodohan jangka panjangnya.
Giana yang tak tahu diri itu kini justru membelitnya ke dalam masalah besar. Barry yakin, jika memang kesucian Giana hilang. Itu pasti ulah Vano. Jadi, dia mencari kambing hitam karena tak bisa menuntut Vano, entah karena alasan apa. Di sisi lain, gadis itu selalu berkata ingin kembali bersama Barry, jadi dia memakai kesempatan emas ini untuk mewujudkan hal itu.
Barry meyakini apa yang dia pikirkan adalah fakta yang sebenarnya. Pribadi Giana benar-benar tak secantik wajahnya. Barry akan menyesali cintanya jutaan kali, dan akan mengutuk Giana sebanyak itu pula.
'Aku bener-bener menyesal udah buang waktu aku untuk kamu, Giana. Kamu ternyata enggak lebih dari cewek picik dan jahat! Kalaupun ia kamu dinodai oleh Vano, itu artinya kamu sedang mendapat hukuman sepadan dengan semua perbuatan kamu selama ini padakku.' Barry berbaring di atas tempat tidur.
Sudah tak ada mood untuk pergi ke kampus. Semangatnya sudah tercerai berai karena keributan tadi. Dia tak ingin kemana-mana dan tak ingin bertemu siapa-siapa. Tapi, jika ada seseorang yang sangat ingin dia temui sekarang. Orang itu adalah Cherry.
"Ya ampun, kusut banget pikiran aku. Tapi aku enggak boleh cerita ini ke Tante Cherry. Nanti dia yang bersusah-susah cari solusi. Aku enggak mau. Aku laki-laki, jadi aku harus selesaikan masalah ini sendiri.
"Tapi, aku harus bertanya ke dia. Alamat apartemen Vano. Ck, harus gimana ya? Kalau dia tanya alasan aku, harus jawab apa? Sedangkan aku sudah sering meyakinkan dia bahwa aku udah enggak ada hubungan apapun dengan Giana. Udah enggak peduli lagi sama cewek itu." gumamnya seorang diri.