Fourty Three

1142 Kata
Akhir pekan, Barry mengirim pesan untuk Cherry. Dia berkata bahwa sebentar lagi akan datang ke rumah Cherry. Pagi itu pukul delapan pagi, kebetulan Cherry baru bangun karena semalam merasakan nyeri dan tak bisa tidur. Si cantik berambut panjang itu kemudian bergegas mandi dan mengenakan pakaian minim yang membuat tubuhnya tampak jauh lebih indah. Wajah pucatnya dipoles sedemikian rupa agar terlihat fresh di depan Barry. Barry sampai kapanpun tak boleh tahu kalau dirinya sakit. Setengah jam kemudian, sebuah suara motor dengan knalpot butut memasuki pelataran rumah Cherry. Barry melepas helm dan turun. Cherry menyambutnya di teras, wajahnya terkena semburat jingga matahari pagi. Matanya menyipit karena silau. Barry menghampiri Cherry dan memeluknya sejenak. Pak satpam pura-pura tak melihat dan fokus pada secangkir kopi yang tadi dia buat sendiri di dapur. Ada tiga buah kue dadar gulung yang dia bawa dari rumah,dibelikan istrinya di ibu penjual nasi uduk dekat rumah. Kembali ke Barry, wajahnya yang memar membuat Cherry bertanya, apa ada sesuatu terjadi. "Lho, Barry kamu kenapa? Muka kamu kenapa?" "Ah, enggak apa-apa, Tante." "Enggak apa-apa gimana? Ini luka pasti bukan karena jatuh. Iya kan?" "Biasa, Tante. Namanya juga cowok!" "Ish, kamu ini! Ayo masuk! Udah ke dokter?" Cherry meraih lengan Barry. "Ini aku lagi di rumah dokter aku." "Mulai deh!" Cherry memutar bola matanya. "Wkwkwk, makin cantik lho kalau kaya gitu! Nanti aku makin tergila-gila gimana?" "Biarin, sengaja!" Cherry menjulurkan lidahnya. "Ish, gemes banget! Jangan mancing-mancing!" "Biarin!" "Jangan nyesel ya kalau udah aku apa-apain!" "Mau diapain emang aku?" "Diapain aja!" Barry mengecup pipi Cherry. Saat itu si mbak datang ke ruang depan dengan membawa alat penyedot debu. Cherry dan Barry mendadak salah tingkah. Barry berdeham dan pura-pura mengeluarkan ponselnya. Biasanya si mbak ke pasar pagi hari begini. Kenapa dia malah ada di rumah? "Eh, ada Den Barry. Mbak bersih-bersihnya nanti aja deh!" "Eh, enggak apa-apa Mbak!" "Iya, Mbak! Kita bisa pindah ke lantai atas kok! Yuk Barry!" Cherry berdiri lebih dulu. Barry mengikutinya seperti si culun yang tengah dimabuk cinta. Di lantai atas, Cherry mengoleskan salep untuk luka Barry. Menghela nafas karena penasaran apa yang membuat Barry seperti ini. "Barry enggak apa-apa kok."Cowok itu tersenyum seraya menyentuh tangan Cherry yang masih sibuk dengan wajahnya. Cherry mengangguk. "Oh iya, Tante. Waktu itu Tante bilang sempet ke apartemen Vano ya?" Cherry mengangguk. "Itu di daerah mana, Tan?" "Kenapa? Kok tiba-tiba nanyain apartemen dia? Mau nyamperin Giana ke sana ya?" "Ish, enggak Tante." "Terus kenapa?" Cherry memasukkan kembali salep oles tadi ke kotak obat. "Ehm." "Kan!! Punya rahasia ya?" "Enggak ada, Tante. Beneran!" "Terus kenapa tiba-tiba nanyain apartemen dia?" "Cuma tiba-tiba keinget aja." "Ehm, dia tinggal apartemen diamond." "Yang deket Mall itu?" "Iya deket Mall." "Oh, di sana." Barry mengangguk-anggukan kepala. Cherry tak bertanya lagi. Hari ini dia sudah tampil cantik, tak mau menyia-nyiakan kecantikannya hanya untuk duduk bersama membahas alamat orang yang tak penting. "Mau nonton film di rumah?" Cherry mengalihkan pembicaraan, dia sungguh ingin melakukan banyak hal hari ini. Bersama kekasih hatinya yang sebenarnya nampak seperti belum mandi dan tampannya agak kusut. Barry memang tak sempat mandi. Dia pusing dengan hidupnya. Benar-benar takut Giana membuat segalanya runyam. "Atau mau nonton bioskop?" tanya Cherry menawarkan hal lain karena sepertinya Barry tak tertarik dengan pilihan pertama. "Barry?" Barry sejak tadi sibuk sendiri dengan pikirannya. Tak mendengar ucapan Cherry. "Tan, Barry pergi dulu ya!" Barry yang baru saja membuka jaketnya, kemudian meraihnya kembali dari atas sofa dan pergi dengan terburu-buru. Cherry tercengang seorang diri. Barry sudah menuruni tangga dan menghilang dari pandangannya. Wanita itu penasaran dan akhirnya membuntuti Barry dengan mobilnya. Barry sudah berada di area parkir apartemen Vano. Sempat bingung harus kemana, pada akhirnya dia memutuskan akan bertanya tentang Vano di resepsionis yang ada di lobby. "Mbak, boleh tanya sesuatu?" "Iya, kenapa Mas?" "Cowok yang namanya Vano tinggal di unit berapa ya?" "Vano? Nama panjangnya siapa?" "Wah, siapa ya? Coba cek saja Mbak." "Mas ini ada tujuan apa ya?" "Ehm? Saya mau antar paket!" "Paket! Biasanya kan alamat penerima sudah ada di paketnya!" "Oh, ini bagian alamatnya kena air. Jadi cuma ada namanya saja!" "Boleh saya lihat paketnya!?" "Wah, ada di parkiran! Saya belum bawa karena berat! Jadi mau pastikan dulu dia tinggal di unit berapa!" Barry berdalih. Mbak resepsionis memperhatikan Barry dari atas hingga ke ujung kaki. Rambut berantakan, wajah tampan namun kusut. Jaket lusuh milik bapaknya yang asal dia kenakan untuk menghalau angin di jalan. Cherry yang baru keluar dari elevator menepi ke dekat dinding. Tak ingin Barry melihatnya ada di sini. Dilihatnya Barry sedang bercakap-cakap dengan resepsionis. Tak lama kemudian sang resepsionis mengangkat gagang telepon dan bicara dengan seseorang. "Gimana mbak? Vano tinggal di unit berapa?" Mbak resepsionis itu hanya tersenyum tipis. "Lho kok malah senyum-senyum gitu? Iya saya tahu saya ganteng! Tapi masalahnya bukan itu sekarang! Saya lagi cari cowok yang namanya Vano!" "Iya, saya panggilkan orang yang antar mas ke tempat bapak Vano ya! Ditunggu sebentar!" Barry berdiri dengan gelisah, jemarinya tak bisa diam. Terus mengetuk-ngetuk meja resepsionis itu dengan nada tak beraturan. Tak lama kemudian datang seorang security menghampiri Barry. "Mari, Pak! Saya antar!" "Njir! Elite banget apartemen ini! Nyari orang aja sampe dianterin!" Pak security itu menarik Barry dan membawanya ke pintu keluar lobby. "Lho! Lho! Mau dibawa kemana saya, Pak!" "Maaf, Mas! Jangan bikin keributan di sini ya!" "Lah, saya dari tadi enggak ribut!" "Maaf ya, Mas! Jangan ganggu keamanan orang di apartemen ini." "Lho, saya ini temennya Vano! Saya ma cari dia! Mau nagih hutang!" "Iya, Mas iya! Mas pulang dulu aja ya! Saya doain semoga dia cepet bayar hutangnya ya!" "Lah! Kok malah didoain! Saya mau cari Vano!" Barry merangsek kembali masuk. "Mas! Masnya kalau enggak kondusif gini nanti saya bawa ke kantor lho!" Security tadi mulai tegas karena baginya Barry sangat mencurigakan. "Dih! Emang saya ngapain? Saya bukan penjahat!" "Iya, kalau gitu silahkan keluar selagi saya masih bicara baik-baik." "Huft!" Barry mau tak mau harus pulang dengan tangan hampa. Cherry menyaksikan semuanya dsri dalam lobby. Dia meraih ponselnya dan mengubungi Barry. "Iya, Tante?" Barry berada di luar gedung, tepat di sisi jalan yang ramai dengan lalu lintas kendaraan. "Barry, kamu dimana?" "Ehm? Aku? Di rumah Tante!" "Oh, kirain kamu kemana. Habis tadi keliatan buru-buru banget!" "Tadi Barry lupa kalau disuruh Emak beli sesuatu." "Ehm, gitu ya!" "Iya, Tante!" Panggilan berakhir. Cherry menaruh curiga. Kenapa Barry tiba-tiba peduli dengan Vano. Entah apa yang akan dia lakukan. * "Giana, Mama akan memastikan Barry mau tanggung jawab atas perbuatannya ke kamu." Mama Giana tak bisa berhenti mendekap putrinya yang sedang dirundung kepedihan dan trauma. Giana mendadak jarang bicara. Dia hanya diam membisu dan sering tiba-tiba terisak. Dia membutuhkan terapi dari psikolog untuk mengurangi traumanya. Tapi, baik orang tuanya dan dirinya, sama sekali tak pernah terpikirkan soal itu. Setiap malam, suara desahan Vano terdengar begitu jelas di telinganya. Dia menahan rasa nyeri di bagian bawah perutnya. Kepalanya seakan berputar-putar. Keringat mengalir deras di tubuhnya. Giana meremas bantal gulingnya, membenamkan wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN