Chapter 2. Dosen Yang Serba Bisa

1146 Kata
"Argh! Mobil kita kenapa, Mas Bambang?" teriak Geraldine saat dia terkejut mendengar suara ledakan hingga tubuhnya tersentak ke depan, yang untungnya tertahan oleh sabuk pengaman. SUV hitam yang dia tumpangi oleng sejenak sebelum akhirnya menepi dengan kasar di bahu jalan yang sepi. Bambang, ajudan sekaligus supir kepercayaan Kombes Pol Handoko, segera turun dengan wajah pucat. "Sepertinya ban belakang mobil ini meledak, Non. Kena paku beton kayaknya." Geraldine ikut turun. "Bisa cepat diperbaiki, tidak? Aku ada janji sama teman-teman mau kasih kejutan ulang tahun. Masa putri Kombes Pol Handoko harus nangkring di pinggir jalan begini?" "Sabar ya, Non. Saya ambil dongkrak dulu," jawab Bambang sigap. Namun, saat Bambang mulai mencoba membuka baut roda, dia terengah dan terpaksa berhenti karena baut macet total. Di tengah keputusasaan itu, sebuah sedan hitam melambat dan berhenti tepat di depan mobil yang macet itu. Pintu terbuka, dan Narendra keluar. Tanpa kacamata, tatapannya jauh lebih tajam, menembus ke arah Geraldine dan Bambang. Melihat siapa yang datang, insting Bambang sebagai anggota polisi tingkat rendah pun bekerja. Dia tahu betul siapa pria di depannya ini, AKP Narendra, bintang muda di Ditresnarkoba. Secara otomatis, Bambang berdiri tegak, membusungkan d**a, dan ... sret! Tangannya naik ke pelipis, memberi hormat sempurna. "Sore, Pak!" serunya lantang. Narendra membeku. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Sementara Geraldine yang berdiri di samping mobil refleks menyipitkan mata, menatap tajam ke arah dua pria itu. Narendra dengan cepat mengerjapkan mata, memberi isyarat "batal" lewat kerutan dahi yang sangat tipis kepada Bambang. "Maaf, kenapa Bapak hormat sama saya?" tanyanya dengan nada bingung yang dipaksakan. Bambang tersentak, menyadari kekonyolannya. Dia segera menurunkan tangan dan berpura-pura mengusap keringat di dahi. "Eh ... maaf, Pak. Saya ... saya refleks. Wajah dan postur tubuh Bapak mirip sekali dengan mantan komandan saya dulu di asrama." Geraldine menggeleng-gelengkan kepala sambil bersedekap. "Dasar polisi! Apa-apa refleks hormat. Mas Bambang ini kebanyakan makan micin, ya? Sampai dosen baruku disangka komandan." Narendra menarik napas lega, meski kewaspadaannya tetap di level maksimal. Dia berjalan mendekat ke arah ban yang hancur. "Yang mana yang rusak?" "Ini Pak, bannya meledak. Bautnya macet, saya agak kesulitan," lapor Bambang, masih dengan nada bicara yang terlalu sopan untuk ukuran ‘polisi ajudan’ kepada orang asing. "Sini, biar saya bantu." Narendra melepas kemeja hitamnya, menyisakan kaos dalam berwarna putih yang melekat ketat di tubuh lalu memberikan kemeja itu kepada Geraldine. Kemudian dia berjongkok, mengambil kunci roda, dan mulai bekerja. Gerakannya sangat efisien, sangat terlatih. Dia memasang dongkrak dengan presisi, lalu dengan satu hentakan kuat yang menonjolkan urat-urat di lengan dan bahunya, baut yang macet itu pun bisa terlepas. Geraldine terdiam di tempatnya berdiri. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya memperhatikan bagaimana otot-otot punggung Narendra bergerak di balik kaos tipisnya saat dia mengangkat ban cadangan yang berat itu seolah-olah hanya seringan kapas. Kemudian, Geraldine melirik Bambang yang badannya sebenarnya cukup kekar dan berisi, lalu kembali menatap Narendra. "Bandingin Mas Bambang sama Pak Narendra ... kok malah Pak Narendra yang kelihatan jauh lebih 'polisi' ya?" batin Geraldine. "Cara dia gerak, tatapan waspadanya, bahkan cara dia memegang kunci roda itu ... kok mirip sama cara Papa memegang senjata." "Sudah selesai." Suara berat Narendra memecah lamunan Geraldine. Narendra berdiri, mengelap tangan yang kotor terkena oli dengan sapu tangan. Dia memakai kembali kemejanya tapi tidak dikancingkan, membiarkan kaos putihnya terlihat. "Lain kali, minta supirmu cek tekanan ban sebelum jalan. Bahaya kalau meledak di kecepatan tinggi," ucap Narendra sambil menatap Geraldine datar. "Makasih ya ... Pak Dosen yang serba bisa," sahut Geraldine dengan nada menggoda. "Bapak sering ganti ban, ya? Atau Bapak punya pekerja sampingan jadi montir? Atau ... Bapak adalah seorang intel yang lagi nyamar jadi dosen?" Narendra memberikan senyum tipis, senyum misterius yang selalu berhasil membuat Geraldine penasaran. "Saya hanya orang yang suka menolong orang yang sedang kesusahan. Mari, saya duluan." Saat mobil Narendra menjauh, Geraldine masih berdiri di pinggir jalan, menatap lampu belakang mobil itu sampai hilang di tikungan. "Non, ayo masuk!" ajak Bambang yang sudah membukakan pintu untuk Geraldine. Geraldine tidak langsung masuk, tapi dia menatap Bambang sambil berkata, "Mas Bambang?” "Iya, Non? Ada apa?" Kening Bambang berkerut. "Hormat kamu tadi itu ... nggak kelihatan kayak salah orang. Kamu kayak ketakutan sama dosenku. Pak Narendra intel yang jabatannya sudah tinggi, kan?" Bambang menelan ludah, berusaha mencari alasan paling logis. "Nggak gitu, Non. Serius tadi saya cuma salah orang. Sudah yuk, ayo kita pulang!" *** "Selamat ulang tahun, Sis!" seru Geraldine sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Dentuman bass di klub malam itu terasa menggetarkan d**a, membuat suasana VIP room semakin panas. "Makasih, Geraldine! You're the my best friend forever," sahut Arisa, sang sahabat yang sedang berulang tahun. Di tengah tawa dan obrolan teman-temannya, mata Geraldine tidak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar di lantai bawah, di tengah kerumunan dance floor. Pria itu memakai jaket denim gelap, berdiri tegak tanpa bergoyang sedikit pun. Meski lampu strobe berkedip-kedip, Geraldine tidak mungkin salah lihat. Itu punggung yang sama dengan yang dia lihat tadi sore. "Pak Narendra?" gumamnya, rasa penasaran gadis itupun memuncak. Tanpa pamit pada teman-temannya, Geraldine keluar dari ruang VIP, dia menuruni tangga, dan membelah kerumunan manusia, lalu saat Geraldine sampai di belakang pria itu, Geraldine menepuk bahu pria itu. "Bapak ngapain di sini?" Pria itu berbalik. Benar, itu Narendra. Namun, wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan dosen yang tertangkap basah sedang berpesta. Wajahnya justru sangat tegang. "Geraldine? Astaga, kamu ada di sini?!" Narendra membentak, suaranya terdengar sangat jelas meski beradu dengan musik yang dimainkan DJ. "Harusnya saya yang tanya, kenapa Pa—" Belum sempat Geraldine menyelesaikan kalimatnya, Narendra melihat seorang pria di lantai atas memberi kode dengan senter kecil. Detik itu juga, Narendra menyadari sesuatu yang salah. "Sial!" umpat Narendra. Dan yang terjadi selanjutnya adalah lampu disko yang tadinya berwarna-warni tiba-tiba berubah menjadi lampu putih terang benderang yang menyakitkan mata. Musik berhenti seketika, menyisakan suara dengung yang aneh. "POLISI! JANGAN ADA YANG BERGERAK!" Teriakan itu muncul dari segala penjuru hingga membuat para pegunjung panik, mulai berlarian dan saling injak. Narendra tahu, jika Geraldine tetap di sini, dia akan ikut terseret dalam berita utama besok pagi dengan tajuk : ‘Putri Kombes Pol Handoko Tertangkap di Lokasi Penggerebekan Narkoba.’ "Ikuti saya sekarang!" Narendra tidak meminta, dia memerintah lalu menyambar pergelangan tangan Geraldine dengan genggaman yang sangat kuat — genggaman seorang aparat yang tidak menerima penolakan. Pria itu menarik Geraldine lari menembus kerumunan yang kacau. "Pak! Lepas! Teman-teman saya gimana?!" teriak Geraldine panik, kakinya yang memakai high heels nyaris membuatnya terjatuh. "Diam dan lari saja!" balas Narendra tanpa menoleh. Narendra membawa Geraldine bukan ke pintu depan yang sudah dijaga ketat oleh personel bersenjata lengkap, melainkan ke arah lorong dapur yang gelap. Dia menendang pintu darurat hingga terbuka, lalu menarik Geraldine keluar menuju gang sempit di samping gedung. Kini, udara malam yang dingin menusuk kulit Geraldine yang berpakaian terbuka. Narendra akhirnya melepaskan tangan Geraldine setelah mereka merasa cukup jauh dari keramaian. Geraldine terengah-engah, rambut hitamnya yang tadinya rapi kini berantakan. "Bapak ... Bapak pasti polisi, ya? Bapak intel, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN