bc

Godaan Terlarang Putri Komandan

book_age18+
11
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
police
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
campus
city
office/work place
childhood crush
war
musclebear
like
intro-logo
Uraian

Narendra adalah aset terbaik Ditresnarkoba, dia cekatan, cerdas, taktis, dan tak pernah gagal dalam penyamaran. Misinya kali ini sebenarnya sangat mudah dan sederhana baginya. Yaitu mencari “kunci” pengendar narkoba di lingkungan kampus dan mengawasi Geraldine, mahasiswi psikologi sekaligus putri tunggal atasannya, Jenderal Handoko, yang terjebak dalam pergaulan berbahaya.Namun, satu malam di sebuah klub malam mengubah segalanya. Penggerebekan yang gagal memaksa Narendra menarik Geraldine lari dan menyembunyikan gadis itu di rumah penyamarannya. Narendra pikir dia bisa mengendalikan situasi, tapi dia salah besar. Geraldine bukan sekadar mahasiswi manja, dia adalah pengamat yang tajam dengan insting detektif yang mematikan.Di bawah atap yang sama, sebuah sandiwara "suami-istri" pun dimulai demi mengelabui tetangga. Dari kecupan di pipi hingga insiden celana melorot yang memalukan.Dan Narendra jadi sadar jika misinya kali ini tidak sesederhana dan semudah yang dia bayangkan. Karena ada bahaya terbesar dalam misinya kali ini, yaitu ... godaan nakal Geraldine yang perlahan meruntuhkan dinding pertahanannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1. Bukan Lagi Perwira Penyidik
Narendra berdiri tegak di depan meja kerja. Tangan lurus di sisi tubuh, rahang mengeras dan sorot mata tajam. Sorot mata milik seorang pria yang terbiasa menatap pelaku kejahatan. Sementara di balik meja, Kombes Pol Handoko menyilangkan jari-jarinya. Wajah pria itu tenang, tapi entah kenapa tatapan matanya membuat tekanan di ruangan itu terasa mencekik bagi Narendra. “Mulai hari ini ...,” ucap Handoko datar. “Kamu bukan lagi perwira penyidik.” Narendra tidak berkedip, expresinya juga tidak berubah. “Siap, Komandan!” Handoko menghela napas pendek. “Kamu akan masuk ke lingkungan kampus. Menyamar menjadi dosen.” Expresi Narendra akhirnya berubah meski hanya sedikit, aslinya terangkat. “Mengajar?” “Psikologi kriminal.” Handoko berdiri, melangkah mendekati Narendra. “Ada pergerakan narkoba di lingkungan akademik. Jalurnya sangat amat rapi. Uangnya terasa bersih. Terlalu bersih untuk ukuran bandar kelas teri.” Narendra menangkap satu kalimat yang tidak diucapkan. Ini bukan kasus kecil. “Kampus mana, Komandan?” Handoko menyebutkan namanya. Kampus swasta ternama. Mahal, bergengsi. Tempat anak-anak elite menimba ilmu. Tapi ternyata bisa juga menyimpan bangkai di balik jas almamater. “Kamu akan masuk sebagai dosen praktisi,” lanjut Handoko. “Riwayat hidup yang direkayasa. Tidak ada yang tahu siapa kamu sebenarnya.” Narendra mengangguk sekali. “Target?” “Belum jelas?” Handoko tersenyum tipis. “Itu sebabnya kamu dikirim. Aku butuh orang yang bisa membaca expresi manusia, merangkum soal motif dan pola di TKP.” Narendra mengepalkan tangan, lalu berkata pelan, “Termasuk anak Anda, Pak?” Kalimat itu menggantung di udara. Handoko menegang, hanya sedetik, tapi cukup bagi Narendra untuk membaca expresi pria paruh baya itu. “Ya, kamu benar. Dan diduga, Geraldine berada di lingkaran setan itu,” ucap Handoko pada akhirnya. "Saya ... saya bisa dibilang gagal menjadi orang tua, Dra. Saya terlalu memanjakan Geraldine dan kurang bisa mengontrol pergaulannya." Narendra paham sekarang, jadi ini bukan hanya misi operasi, melainkan misi perlindungan. “Baik, Pak. Saya berjanji akan mengawasi dia dari jauh dan rutin mengabarkan informasi tentang dia kepada Anda,” ucap Narendra tegas. “Saya tahu.” Handoko mengangguk, menatap mata tajam Narendra sambil tersenyum. “Justru karena itu saya memilihmu.” *** Narendra turun dari mobil sedan hitam yang terlihat "cukup mapan" untuk seorang dosen. Dia tidak lagi memakai seragam cokelat kebanggaannya. Kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku dan kacamata berbingkai tipis menjadi identitas barunya. Di balik saku kemeja, sebuah earpiece kecil terpasang, menghubungkannya langsung dengan tim teknis di Mabes. Langkah kakinya tegas menyusuri koridor kampus. Di ujung lorong, dia melihat papan pengumuman kelas : Psikologi Kriminal – Ruang 402. Begitu pintu terbuka, kebisingan khas mahasiswa menyambutnya. Narendra berjalan menuju meja dosen, meletakkan tas laptop tanpa suara. Matanya menyapu ruangan dengan kecepatan radar seorang penyidik. Hingga matanya berhenti pada satu titik. Di barisan tengah, duduk seorang gadis dengan rambut hitam yang dicepol asal-asalan. Dia sedang tertawa sambil memegang ponsel, dikelilingi oleh sekelompok mahasiswa yang tampak seperti anak-anak dari kalangan keluarga "1 persen" di negeri ini. Itu dia, Geraldine. "Selamat pagi!" Suara Narendra berat dan berwibawa, seketika membungkam tawa di ruangan itu. Geraldine mendongak. Matanya yang bulat bertemu dengan tatapan tajam Narendra. Ada kilatan penasaran di wajah gadis itu, mungkin karena Narendra terlalu muda untuk menjadi dosen, atau mungkin karena aura "bahaya" yang tidak bisa disembunyikan Narendra sepenuhnya. "Saya Narendra. Mulai hari ini, saya yang akan mengampu mata kuliah Psikologi Kriminal," ucapnya sambil menuliskan namanya di papan tulis dengan gerakan efisien. "Ada pertanyaan sebelum kita mulai?" Geraldine mengangkat tangannya. "Pak Dosen! Di silabus tertulis kita akan belajar tentang 'Predatory Behavior'. Menurut Bapak, apa ciri utama seorang predator yang paling sulit dideteksi?" Narendra berjalan mendekati meja Geraldine. Aroma parfum mahal gadis itu menyeruak di indra penciumannya. "Ciri utamanya ...." Dia menunduk sedikit, menatap mata Geraldine dalam-dalam. "Dia adalah orang yang paling tidak kamu curigai. Dia bisa saja orang asing, teman sebangkumu atau bahkan orang yang selalu tersenyum saat melihatmu, alias … orang yang kamu cintai." Senyum tipis Geraldine memudar, digantikan oleh kerutan kecil di dahi. Sementara Narendra tidak langsung menjauh setelah jawaban soal "predator" tadi. Dia membiarkan keheningan itu menggantung di antara mereka selama beberapa detik, membiarkan Geraldine merasakan tekanan dari tatapannya. "Ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Saudari ...?" Narendra sengaja menggantung kalimatnya, menunggu gadis itu menyebutkan namanya. "Geraldine," jawabnya dengan dagunya sedikit terangkat, berusaha merebut kembali kendali atas rasa gugupnya. "Sudah cukup, Pak. Terimakasih." "Baik, Geraldine. Ayo kita mulai membedah soal 'Predatory Behavior' secara rinci." Narendra berbalik menuju papan tulis, langkahnya tenang dan setiap gerakannya menunjukkan kontrol yang luar biasa. Selama satu jam berikutnya, suasana kelas berubah total. Narendra tidak membuka PowerPoint penuh teks yang membosankan. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto barang bukti yang sudah disensor, soal kasus pembunuhan berantai yang sempat viral dua tahun lalu ke layar proyektor. "Teori mengatakan predator memiliki kelainan mental." Suara Narendra menggema, tenang dan dingin. "Tapi kenyataan di lapangan? Mereka adalah orang-orang paling fungsional. Mereka punya pekerjaan tetap, membayar pajak, dan mungkin ... mereka adalah tetangga yang sering memberimu sepiring makanan." Geraldine terpaku. Dia merasa materi ini bukan sekadar kuliah, melainkan sebuah peringatan. Matanya terus mengikuti setiap gerak gerik Narendra. Cara pria itu membedah motif pelaku, cara dia menjelaskan bagaimana narkoba digunakan untuk melumpuhkan korban, semuanya terasa terlalu nyata. "Kenapa Bapak tahu sedetail itu?" celetuk salah satu teman pria Geraldine yang duduk di barisan belakang, anak seorang pengusaha properti yang tampak meremehkan. "Bapak bicara seolah-olah Bapak pernah berada di lokasi kejadian." Narendra menghentikan penjelasannya. Dia menatap mahasiswa itu tanpa ekspresi, lalu tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Itulah tugas seorang praktisi. Kita tidak hanya membaca laporan, kita harus masuk ke dalam kepala mereka." Dia kembali melirik Geraldine. Gadis itu sedang menopang dagu. "Dunia kriminal tidak seindah film aksi," lanjutnya sambil berjalan perlahan di antara deretan meja mahasiswa. "Di sana, tidak ada pahlawan. Yang ada hanyalah siapa yang paling cepat menyadari bahwa mereka sedang diburu." Saat melewati meja Geraldine, tangan Narendra sempat menyentuh bahu gadis itu. Geraldine menahan napas. Dia bisa mencium aroma maskulin yang khas dari sang dosen yang berhasil memikatnya. "Dan seringkali ...." Suara Narendra merendah tepat di samping telinga Geraldine. "Korban yang paling mudah adalah mereka yang merasa terlalu aman karena merasa dilindungi oleh uang dan nama besar orang tuanya." Tubuh Geraldine menegang. Itu sindiran telak, dia ingin membalas, tapi Narendra sudah kembali ke depan kelas, seolah pembicaraan barusan tidak pernah terjadi. Narendra kembali menjelaskan materi dan cara Narendra menjelaskan kasus-kasus kriminal itu bukan seperti akademisi yang membaca teori dari buku, melainkan seperti seseorang yang pernah berdiri terlalu dekat dengan kekerasan itu sendiri. Setiap kalimatnya singkat dan tajam, sama sekali tidak ada basa-basi. "Baik, kelas hari ini saya cukupkan." Narendra menutup laptopnya. "Sebelum kalian bubar, siapa koordinator di kelas ini? Ada kontrak perkuliahan dan silabus yang perlu ditandatangani. Sekalian saya butuh data daftar hadir lengkap." Geraldine mengangkat tangan dengan gerakan lincah. "Saya, Pak!" "Ikuti saya ke ruang dosen!" titah Narendra tanpa menoleh, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah yang lebar. Geraldine mendengus, tapi tetap mengikuti Narendra. Di sepanjang koridor, dia memperhatikan punggung tegap Narendra dan dia refleks membatin, "Dosen ini ... auranya aneh. Terlalu kaku untuk seorang pengajar. Mirip banget sama aura Papaku." Narendra berjalan membuka pintu ruangan yang sedikit licin karena baru saja dipel oleh petugas kebersihan. Sementara Geraldine, yang sibuk memainkan ponselnya sambil berjalan, jelas tidak tahu jika lantai itu licin. "KYAAA!" Teriak Geraldine saat kakinya terpeleset. Tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan, terlempar ke belakang. Secara refleks, dia memejamkan mata rapat-rapat, tangannya menggapai udara kosong. Dalam sepersekian detik, Geraldine sudah pasrah, membayangkan bagian belakang kepalanya akan menghantam lantai marmer yang keras. Namun, hantaman itu tidak pernah datang. Dengan refleks seorang prajurit, Narendra berbalik dan menjatuhkan lututnya ke lantai demi menahan jatuhnya Geraldine. Lengan kirinya melingkar kuat di pinggang gadis itu, sementara telapak tangan kanannya menyelinap tepat di bawah kepala Geraldine sebelum menyentuh lantai. Keduanya berakhir di lantai. Geraldine berbaring di atas lengan Narendra, sementara wajah Narendra hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Hening. Suara detak jantung yang berpacu cepat entah milik siapa memenuhi kesunyian. Narendra bisa merasakan helai rambut Geraldine di sela jarinya. Aroma manis gadis itu kembali menyerang indranya, jauh lebih kuat sekarang. Geraldine perlahan membuka mata, dia terpaku melihat sorot mata Narendra yang tajam tapi kini tampak sedikit panik. Ya, itu karena Narendra tersadar soal misi penyamarannya yang hampir goyah karena insting pelindungnya yang terlalu kuat. "Kamu ...." Suara Narendra terdengar parau, "kamu tidak apa-apa?" Geraldine tidak menjawab, dia hanya menatap bibir Narendra, lalu kembali ke matanya. Posisi mereka terlalu intim untuk dua orang yang baru bertemu beberapa puluh menit yang lalu. Setelah beberapa detik yang terasa lama, Narendra berdehem, dia menarik tangannya dengan lembut dari bawah kepala Geraldine, lalu berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu bangun. "Hati-hati. Lantainya licin," ucap Narendra, suaranya kembali dingin dan profesional, seolah-olah baru saja tidak terjadi apa-apa. Geraldine menerima uluran tangan itu. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan Narendra yang kasar dan kuat, dia merasakan sengatan listrik yang aneh. "Terima kasih ... Pak.” Dan di dalam hati, Geraldine berkata, “Fix, Pak Narendra bukan dosen biasa. Aku sangat yakin, dia adalah seorang intel yang ditugaskan mengawasi kampus ini.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook