Di Culik

1019 Kata
“Arcel lo telat.” suara itu seperti cambuk yang menghantam kesadaran Arcel. Ia berbalik cepat, rahangnya mengeras, matanya membunuh. Di belakangnya berdiri seorang lelaki berjaket hitam, wajahnya setengah tertutup masker, namun sorot mata itu jelas menantang. Arcel menatapnya dingin. “Apa maksud lo?” Pria itu tersenyum miring. “Kalau lo nyari Ara, dia udah nggak di sini.” Detik itu juga napas Arcel berhenti sedetik. Tangannya mengepal. Nada suaranya turun menjadi sangat gelap. “Katakan ulang!” Pria itu mengangkat kedua tangannya pura-pura takut. “Tenang, bos besar. Gue cuma nyampein pesan.” Arcel melangkah maju, langkahnya berat, penuh ancaman. “Ara di mana?” Pria itu mendesis kecil, mundur satu langkah. “Lo harus buru-buru kalau mau dia masih hidup.” Dan kalimat itu cukup membuat darah Arcel mendidih. Arcel mencengkeram kerah pria itu dan menghantamnya ke dinding bar dengan satu gerakan brutal. Gelapnya tatapan Arcel membuat orang normal pasti gemetar. “ARA DI MANA?!” Pria itu mencoba melepaskan diri, tetapi Arcel mengencangkan cengkeraman hingga pria itu mengaduh tertahan. “Ga… gang… samping… kiri bar…!” serunya terjepit. Dalam seperdetik, Arcel melepaskan cengkeraman itu dan berlari menuju pintu keluar. Darahnya mendidih, seluruh tubuhnya seperti mesin perang yang baru diaktifkan. Sementara itu, di gang samping Ara masih berusaha meronta. Tangan kasar di belakang menekap mulutnya, mencegahnya berteriak. Udara dingin menusuk kulitnya, namun ketakutannya lebih dingin dari apa pun. Pisau di tangan salah satu pria itu berkilat. “Gampangin,” ujar salah satunya. “Bos kita cuma mau bukti kalau Ara bukan ancaman lagi.” Ara tidak tahu siapa “bos” yang mereka maksud. Ia hanya tahu hidupnya benar-benar di ujung tanduk. “Satu… dua….” BRUK! Sebuah suara keras terdengar di ujung gang. Seseorang terlempar menabrak tumpukan kotak-kotak kayu. Salah satu pria tadi tergeletak tanpa sempat menahan diri. Ara membelalakkan mata. Seseorang berdiri di ujung gang tinggi, gelap, napasnya tersengal marah. Arcel Arshaka. Tatapan Arcel liar, penuh amarah yang jarang terlihat bahkan oleh lawannya di ruang bisnis. Bajunya sebagian berantakan karena ia berlari tanpa peduli. Ia terlihat seperti badai yang baru turun menghantam bumi. “Ara.” Nama itu meluncur dari mulutnya seperti ancaman maut untuk siapa pun yang memegangnya. “Lepasin dia.” Pria yang menahan Ara tertawa sinis, “Lo kira lo siapa? Pangeran gelap kerajaan? minggir sialan jangan ikut campur kalau tak mau mati!” Arcel tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan sambil menatap dingin orang yang mencoba menculik Ara. Pria yang memegang pisau mengangkat bilahnya. “Satu langkah lagi, gue” BRUGH! Arcel menendang tong sampah besar hingga meluncur keras dan menghantam kaki pria itu. Pisau terlepas. Ara jatuh ke lantai, tetapi ia langsung merayap menjauh. “AARGHHH…..!” pria itu memekik kesakitan. Namun ia belum sempat berdiri ketika Arcel sudah berada di depannya. Arcel mencengkeram wajah pria itu dan menghantamkan kepalanya ke dinding. BUGH! Pria itu langsung pingsan. Ara menahan napas. Ia belum pernah melihat seseorang memukuli orang lain seperti itu. Belum pernah melihat laki-laki menggila hanya karena dirinya. Arcel memutar tubuh, menatap Ara. Wajahnya masih dipenuhi amarah, tetapi matanya, mata itu seperti melahap Ara hidup-hidup. “Ara…” Ara bangkit pelan, mundur satu langkah. “Jangan deket deket gue.” Arcel menghela napas panjang, berusaha menurunkan emosinya. Ia mengangkat kedua tangannya seolah menunjukkan ia tidak akan menyakiti. “Aku nggak akan nyentuh kamu.” Ia menelan ludah, suaranya lebih pelan. “Kecuali kamu izinin.” Ara menatap tajam. “Apa yang barusan terjadi? Mereka nyebut nama bos’.“ Kamu punya musuh?” Arcel memejamkan mata sebentar. “Ara, kamu harus ikut aku.” “Apa?! Ngapain?!” Arcel mendekat, suaranya rendah, intens. “Karena kalau kamu tetap di sini, mereka bakal balik lagi.” “Kenapa gue yang diburu? Mereka bahkan nyebut nama lo brengsek.” “Itu sebabnya kamu nggak boleh sendirian.” Ara menggigit bibir bawahnya, masih takut, tapi juga marah. “Gue nggak percaya sama lo beban gue udah banyak jangan nambah lagi.” Arcel mendekat lagi, hanya satu meter dari Ara sekarang. Tatapannya menelusuri wajah Ara dalam-dalam, bahkan sangat dalam. Dan tiba-tiba ia berujar, “Ara aku butuh kamu untuk tetap hidup.” Jantung Ara berhenti sepersekian detik. “Terserah kamu mau percaya atau nggak.” Arcel menunduk sedikit, menatap mata Ara dari bawah, suaranya rendah dan gelap. “Yang jelas, aku nggak bakal biarin ada yang sentuh kamu.” Ara mundur sedikit. “Arcel, ini gila. Kita bahkan baru ketemu!” Arcel menyeringai tipis. “Tapi aku udah telanjur suka sama kamu.” “Gue bukan barang buat lo paksa seenaknya.” “Bukan.” Arcel mendekat lagi. “Kamu lebih bahaya dari itu.” Ara menggertakkan gigi. “Lo mau apa sebenarnya?” Arcel menatap bibir Ara satu detik terlalu lama. “Aku mau kamu aman.” “Dengan ikut lo? Lo aja sumber masalah!” Arcel mengusap rambut ke belakang, frustrasi. “Kalau aku sumber masalah, aku juga satu-satunya solusi.” Ara hendak membalas, namun suara langkah kaki terdengar dari ujung gang. Ara dan Arcel menoleh bersamaan. Tiga bayangan muncul pria-pria berbeda dari sebelumnya, memakai hoodie gelap, masing-masing memegang benda panjang yang ditutupi kain. Arcel mendesis. “Anji*g,” bisiknya. “Udah mulai.” “Apa?” tanya Ara mengecil. Arcel menatap Ara cepat, matanya serius. “Dengar baik-baik.” Ia mendekat, hampir menempel. “Kalau aku bilang lari, kamu lari.” Ara menelan ludah. “Tapi,” “Aku bakal nyusul kamu, cepet lari Ara sayang!” Tiga pria itu berhenti sepuluh meter dari mereka. Yang di tengah membuka kain penutup benda panjang itu. Ara melihatnya dengan mata membesar. Bukan tongkat. Bukan pisau. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Arcel memegang lengan Ara kencang. “Ara lari sekarang.” Ara menggeleng panik, “Arcel tapi,” Pria itu menarik benda tuas panjangnya. Dan suara klik yang terdengar membuat darah siapapun membeku. Arcel menatap Ara dengan tatapan terakhir sebelum badai. “Aku bilan lari sayang!” tegasnya sekali lagi. Ara terpaksa memutar tubuh dan berlari sekuat tenaga. Dan ketika suara keras itu akhirnya meledak mengoyak udara. Ara belum sempat menoleh. Karena ia tidak tahu, apakah Arcel masih berdiri di belakangnya. Atau sudah tumbang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN