Angin malam menerpa wajah Ara ketika ia berlari sekuat tenaga melewati lorong sempit di belakang hotel.
Nafasnya memburu, tubuhnya masih gemetar setelah apa yang terjadi barusan suara tembakan, teriakan laki-laki yang mengejar, dan tangan Arcel yang menariknya masuk ke dalam mobil seolah waktu akan berhenti mengejar mereka. Tapi ternyata, bahaya belum selesai.
“Masuk!” Arcel menarik pintu samping mobil hitam itu, suaranya rendah namun tegas.
“Apa sih! Aku bisa sendiri.”
DOR!
Sebuah peluru menghantam panel logam di belakang mereka. Ara spontan memekik. Jantungnya serasa mencuat ke tenggorokan.
Arcel mendorongnya masuk dan tubuhnya menutupi Ara, menunduk sambil menarik pintu. “Nanti kamu marah lagi terserah, tapi sekarang diam!”
Mobil melaju kencang. Ara memeluk dirinya sendiri, udara dingin AC tak mampu menenangkan tubuhnya yang masih gemetar.
“Apa-apaan itu barusan?! Kenapa ada tembakan?! Siapa mereka?!” Ara memukul dashboard mobil.
Arcel tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya fokus pada jalan seolah ia sedang membunuh udara dengan tatapannya.
“Jawab, Arcel!”
Arcel menoleh sebentar, pupilnya mengecil. “Mereka musuhku.”
“Aku tahu itu! Tapi kenapa mereka ngejar aku?!”
Tatapan Arcel melunak sedikit. “Karena kamu bersama aku.”
Ara meremas rok hitamnya kuat-kuat. “Gila ini gila banget. Gue cuma mau pulang dari bar, Arcel! Gak ada urusan sama hidup lo yang kacau itu!”
Arcel menghela napas panjang. “Kamu aman sekarang.”
“Aman dari mana?! Barusan hampir mati!”
Mobil berbelok memasuki jalan pribadi yang sangat panjang, diapit pepohonan tinggi yang gelap. Ara menelan ludah. Jalannya seperti tak berujung. Dan mansion besar dengan cahaya lampu keemasan mulai tampak di ujung.
“Hah,” Ara terkekeh tidak percaya. “Arcel, jangan bilang lo bawa gue ke tempat lo.”
Arcel tidak menjawab. Itu jawaban paling menakutkan.
“Stop berhenti di situ gue mau pulang.”
“Kamu gak akan pulang malam ini,” jawab Arcel santai.
Ara mencengkeram handle pintu. “Gue serius. Kalau lo.”
“Kunci otomatis,” Arcel memencet tombol. “Jangan coba-coba.”
Ara ingin menjerit. “Lo gila?!”
“Untuk kamu, iya.”
Begitu mobil berhenti, pintu dibukakan penjaga. Mansion itu terlalu besar, terlalu mewah, terlalu penuh aura bahaya. Pintu masuk tinggi, halaman luas, dan aroma mawar segar menyambut mereka.
Arcel turun lebih dulu lalu membuka pintu Ara.
“Ayo.”
Ara menatapnya tajam. “Gue gak ikut.”
Arcel menarik tangannya pelan, bukan kasar, tapi tetap tak memberi kesempatan. “Ara.”
“Lepasin gue.”
“Ayo turun sayang!”
“Lepasin!” Ara meronta, tapi genggaman Arcel justru menguat.
“Sayang mau kemana? Kamu gak akan bisa pergi kalau udah di mansionku ini,” ucap Arcel sambil menatap lurus ke matanya.
Kata sayang itu membuat tubuh Ara merinding bukan karena manis, tapi karena kesan berbahaya yang mengintai.
“Lo gila Arcel, lepasin gue!” Ara berteriak. “Gue mau pulang!”
Arcel mengangkat alis. “Aku kamu sayang. Jangan lo gue, aku gak enak dengernya.” Tegurnya seolah mereka sedang ribut masalah cemburu, bukan masalah nyawa.
“Gue gak peduli! Lepasin gue sekarang juga!”
Arcel tersenyum tipis. “Kamu boleh marah nanti, tapi sekarang masuk.”
Ia menggendong Ara tiba-tiba, membuat perempuan itu menjerit kecil dan memukul bahu Arcel berkali-kali. “Turunin! Arcel! Sialan!”
“Berisik,” gumam Arcel sambil membawa Ara masuk ke dalam mansion.
Aroma lavender menyelimuti interior mansion. Lantai marmer putih, lampu kristal yang memantulkan cahaya halus, dan lorong-lorong panjang dengan lukisan mahal menambah tekanan di d**a Ara.
“Kenapa lo bawa gue ke sini? Lo mau apa sebenarnya?!” Ara menatapnya penuh amarah dan ketakutan.
Arcel berhenti di depan sebuah kamar besar. “Karena di luar gak aman.”
“Dan di sini aman? Di tempat lo? Tempat Mafia?” Ara mendengus.
Arcel membuka pintu kamar. “Untuk kamu, iya.”
Ara memundurkan diri. “Gue gak mau di kamar ini.”
“Kamarmu,” jawab Arcel singkat.
Ara ingin memukul wajah laki itu tapi ia tahu itu tak ada gunanya. Arcel menatapnya lama, terlalu lama, hingga napas Ara ikut tersendat.
“Kamu diam karena takut atau karena kamu tau aku gak akan nyakitin kamu?”
Ara menelan ludah. “Gue takut karena lo bukan orang biasa.”
“Betul.” Arcel menutup pintu pelan. “Dan itu alasan kenapa kamu gak akan aku biarkan pergi.”
Ara mundur dua langkah. “Lo gak punya hak.”
“Aku punya hak untuk melindungi kamu,” potong Arcel. “Karena sejak malam itu aku gak bisa berhenti mikirin kamu.” Ara terdiam.
Malam itu. Ciuman panas yang tidak seharusnya terjadi. Ara bahkan masih mengutuk dirinya sendiri kenapa ia membiarkan Arcel menariknya di lorong club malam dua minggu lalu.
“Aku bukan milik kamu!” Ara berbisik marah.
Arcel mendekat selangkah. “Bukan tapi kamu akan jadi.”
Ara menahan napas. “Lo pikir gue mau?!”
“Ya.”
Ara ingin menamparnya, tapi Arcel menangkap pergelangan tangannya duluan. Genggamannya hangat, tapi kuat. Terlalu kuat.
“Lepasin aku, Arcel…”
“Ara.” Suaranya lembut. “Kamu aman di sini.”
“Kalo aman kenapa pintunya dikunci?”
Arcel tersenyum kecil. “Biar kamu gak kabur.”
Ara terpekik dan langsung lari berusaha membuka pintu. Gagangnya tak bergerak. “Gila lo! Lo gila!”
Arcel menghela napas panjang lalu mendekat. “Ara aku cuma mau kamu istirahat.”
“Gue mau pulang!”
“Kamu udah di rumah.”
“INI BUKAN RUMAH GUE!”
Arcel mendekat, tubuhnya nyaris menyentuh tubuh Ara yang menempel pada pintu. Napasnya hangat di leher Ara, membuat perempuan itu memejam saking gugup dan takutnya.
“Aku gak akan nyakitin kamu,” bisik Arcel. “Tapi aku juga gak akan biarin kamu pergi.”
Ara membuka mata, menatapnya tajam, penuh sumpah serapah yang tertahan. “Kenapa? Kenapa lo ngotot banget sama gue?”
Arcel menatapnya seperti sesuatu yang sangat ia inginkan. “Karena kamu satu-satunya hal yang gak bisa aku beli tapi ingin aku miliki.” Jantung Ara memukul keras.
“Aku gak main-main. Kamu di sini sampai semuanya aman.”
“Dan kalau gue tetap mau pergi?” Arcel menyentuh pipinya pelan. “Maka aku akan tetap tarik kamu balik ke sini.”
Ara menepis tangan itu, panik. “Gue benci lo.”
Arcel tersenyum seolah itu pujian. “Benci dulu gak papa. Nanti bakal terbiasa sayang.”
Ara mundur. Arcel ikut maju. Hingga sudut kamar menjadi satu-satunya tempat Ara bisa berpegangan. “Arcel jangan dekat-dekat.”
“Kamu takut aku cium kamu lagi?”
Ara menahan napas. Arcel mencondongkan tubuhnya. “Sebelum kamu kabur, ada satu hal yang harus kamu tau.”
Ara menatapnya dengan d**a bergemuruh.
“Aku gak cuma diserang musuh malam ini,” suara Arcel merendah, tegang. “Tapi salah satu dari mereka bilang sesuatu tentang kamu.”
Ara membeku. “Tentang aku?”
Arcel mengangguk pelan. Matanya berubah gelap. “Mereka bilang kamu, sebenarnya.”
Arcel berhenti. Terdengar dentuman keras dari luar mansion.
DUAR!!!
SRETT!!!
Arcel langsung menarik Ara ke belakang tubuhnya. “Kamu gak sendirian malam ini,” bisiknya.