Dibeli Satu Milyar

1127 Kata
Suara dentuman dari luar mansion membuat Ara tersentak. Jantungnya hampir berhenti. Arcel berdiri tepat di depannya, tubuh laki laki itu menjadi tameng hidup yang tak tergoyahkan. “Jangan bergerak,” bisik Arcel pelan, namun nadanya berubah menjadi baja. Ara menggenggam bagian belakang baju Arcel tanpa sadar. Tangannya gemetar. “Arcel itu apa?!” “Musuhku,” jawab Arcel singkat. “Dan sekarang musuh itu juga datang untukmu.” Sebelum Ara sempat bertanya lebih jauh, dua bodyguard berlari masuk. “Tuan! Ada dua orang di gerbang utama. Mereka mengaku orangtua Ara.” Dunia Ara seolah berhenti. “Apa?” Ara memekik. “Mama? Papa?! Mereka di sini?” Arcel menoleh, tatapannya menajam. “Kamu yakin mereka datang untuk kamu atau mereka datang karena alasan lain?” Ara memalingkan wajah. Tenggorokannya tercekat. “Aku… aku gak tahu. Kenapa mereka bisa tau kalau aku di sini?” Arcel menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk kepada bodyguard. “Bawa mereka masuk ke ruang pertemuan.” “Jangan!” Ara berdiri cepat. “Arcel, jangan bawa mereka ke sini! Biar aku keluar!” “Aku tidak bilang kamu boleh keluar.” Arcel menatapnya tajam. “Kamu tetap di kamar.” Ara menatapnya seolah terbakar. “Arcel, itu orangtuaku!” “Dan musuhku juga tahu itu orangtuamu.” Arcel menunduk sedikit, menatap mata Ara tanpa berkedip. “Kamu pikir aku akan membiarkan mereka membawa kamu keluar saat aku tahu ada ancaman di luar yang menyebut namamu?” Ara meremas roknya, bingung, takut, dan marah dalam satu waktu. “Lepasin aku! Aku mau ketemu mereka!” Ara mencoba mendorong d**a Arcel, namun tangan laki itu menangkap pergelangan tangannya dengan mudah. “Ara.” Hanya satu kata, tapi cukup membuat tubuh Ara berhenti bergerak. “Aku akan bawa kamu ke sana. Tapi kamu tetap di belakang aku. Satu langkah pun kamu menjauh, aku gendong kamu kembali ke kamar. Mengerti?” Ara menggigit bibir. Jengkel tapi ia tahu Arcel tidak main-main. “Oke.” Arcel melepas tangannya pelan, namun tetap meninggalkan sentuhan kepemilikan yang terasa jelas di kulit Ara. Ruang Pertemuan Pintu besar dari kayu mahal terbuka. Ara melihat kedua orangtuanya berdiri canggung di tengah ruangan, tampak kaget dengan kemewahan mansion Arcel. “Mama…” suara Ara pecah. Mamanya langsung meneteskan air mata. “Ara! Kamu di mana saja?! Mama hampir gila nyariin kamu!” Papanya menunjuk Ara dengan telunjuk gemetar. “Kamu ikut kami sekarang juga! Kamu bikin masalah banyak! Orang-orang itu nyari kamu sampai depan rumah!” Ara menunduk. “Aku… aku gak bisa pulang.” “APA?!” Kedua orangtuanya berseru bersamaan. Papanya maju, tapi Arcel menghalanginya sebelum tangan pria itu menyentuh Ara. “Cukup dekatnya.” Papa Ara memelototkan mata. “Kamu siapa?!” Arcel tersenyum tipis. “Yang menyelamatkan nyawa putri anda tadi.” Mama Ara tampak gemetar melihat tatapan dingin Arcel. Aura bahaya Arcel terlalu kuat untuk ditutupi. “Pah… Mah…” Ara menarik napas panjang. “Aku gak bisa pulang karena kalian mau jodohin aku sama pria tua itu!” Mama Ara menunduk. Papanya mengepalkan tangan. “Ara, kami gak punya pilihan. Hutang kita banyak dan cuma kamu yang bisa lunasin semua ini.” “Mah, itu bukan alasan jual aku!” Ara menahan air mata amarah. “Pria itu umurnya dua kali lipat dari Papa!” Papa Ara memekik frustasi. “Kami diancam! Kalau kita gak setuju, rumah kita disita! Kamu mau kita hidup di jalan?!” Ara menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku… aku bukan baran aku bukan solusi penebus hutang!” Ruangan hening. Arcel menatap keluarga itu lama. Sangat lama. Lalu ia berbicara tanpa ekspresi. “Berapa hutang kalian?” Papa Ara menatapnya waspada. “Apa urusanmu?” Arcel memasukkan satu tangan ke saku celana. “Urusanku adalah Ara tidak akan menikah dengan pria tua mana pun. Dan kalian tidak akan menyentuh dia tanpa izin dariku.” Mama Ara gemetar. “Tapi hutangnya…” “Berapa?” ulang Arcel. Papa Ara akhirnya bergumam lirih. “S….sekitar satu M…milyar…” Tanpa ragu, Arcel mengeluarkan ponsel. “Transfer satu milyar ke keluarga ini sekarang.” Para bodyguard langsung bergerak. Dalam waktu kurang dari dua menit, bunyi “transfer berhasil” terdengar. Mata Papa Ara melebar. “Tuan ini terlalu banyak.” Arcel menatapnya dingin tanpa sisa empati. “Itu bukan sedekah. Itu pembayaran.” Ara mengerutkan kening. “Pembayaran apa?” Arcel berjalan mendekatinya, menunduk, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Ara. “Kamu.” Ara tersentak. “Arcel!” Ia berdiri tegak, lalu menoleh ke orangtuanya. “Satu milyar dan Ara tidak akan kalian bawa pergi dari mansion ini.” Suaranya dalam, berbahaya. “Mulai hari ini, Ara bersamaku.” Papa Ara memucat. “Apa maksudmu? Ara bukan barang!” “Benar,” kata Arcel tenang. “Makanya aku bayar bukan untuk membeli dia tapi untuk menghapus beban yang membuat kalian memaksanya menikah dengan pria lain.” Arcel memutar kepala sedikit, tatapannya menusuk. “Sekarang, tidak ada alasan bagi kalian mengambil Ara dari sini.” Mamanya memeluk tasnya erat. “Tapi Ara anak kami.” Arcel mengangguk pelan. “Dan aku yang menjaganya. Lebih baik daripada pria mana pun yang kalian pilihkan.” Ara menatap Arcel tajam. “Aku gak pernah bilang mau tinggal sama kamu!” Arcel mendekat, suaranya rendah seperti ancaman yang dibungkus kelembutan. “Kamu gak mau pulang, kan? Kamu bilang sendiri tadi.” Ara terdiam. Ia memang bilang begitu. Karena ia takut dijual oleh orangtuanya. Arcel menatap kedua orangtua Ara. “Saya hormat pada kalian sebagai orangtuana, tapi Ara tetap tinggal di sini.” Papa Ara melangkah maju. “Dan kalau kami menolak?” Arcel tersenyum tipis. “Tuan, Anda sudah menerima uang saya.” Papa Ara tercekat. Nafasnya tersengal. “Dan saya tidak meminta kembali.” Mama Ara mulai menangis. Arcel memegang bahu Ara, menariknya sedikit ke belakang tubuhnya. Seolah menegaskan kepemilikannya pada seluruh ruangan. “Ara milikku,” katanya tegas. “Dan kalian sudah tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.” Mamanya berbisik pelan sambil menangis. “Ara tetap hati-hati dan maafin kami nak.” Ara memejam, hatinya terasa remuk. “Mama…” Papanya menatapnya dengan sendu yang lelah. “Kalau kamu bahagia Papa gak akan paksa kamu pulang nak. Yang penting hutang kita lunas dan Papa gak di kejar kejar mereka lagi.” entah sejak kapan semuanya jadi serumit ini. Arcel mencondongkan tubuh, berbisik di telinga Ara. “Sekarang kamu hanya punya satu rumah, Ara.” Ara menggertakkan rahang. “Rumah? Ini penjara Ar!” Arcel tersenyum. “Kalau penjara ini membuatmu aman aku tidak keberatan sayang.” Ara ingin membentaknya, tetapi Arcel sudah terlebih dulu menutup ucapan terakhirnya. “Aku bilang sejak awal kamu gak akan bisa lepas dari aku Ara sayang.” Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Ara sadar. Arcel tidak hanya menyelamatkannya. Arcel sedang mencoba memilikinya lewat masalah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN