Malam itu di mansion Arcel sunyi, namun tegang seperti sedang menunggu badai pecah. Ara duduk di sisi tempat tidur besar yang terlalu mewah untuk disentuh, kedua lututnya tertekuk, matanya terus mengawasi pintu kamar yang terkunci.
“Aku harus keluar dari tempat gila ini.” gumamnya.
Ia menatap jendela besar. Tingginya dua lantai dari tanah. Bahaya. Tapi lebih baik daripada diam di sini bersama laki-laki yang mengklaim dirinya seperti barang pribadi.
Saat Ara berdiri dan membuka jendela perlahan, pintu kamar berbunyi. Klik.
Ara membeku. Pintu terbuka, menampilkan sosok Arcel bersandar pada kusen dengan tangan terlipat.
“Rencana bagus,” ucap Arcel datar. “Kalau kamu punya sayap.”
Ara memutar badan. “Arcel! Keluar! Aku mau sendiri.”
Arcel mendekat pelan. “Kamu mau kabur lewat jendela?”
“Aku gak mau tinggal di sini!”
“Sayang,” Arcel menahan pinggir jendela dan menutupnya pelan. “Kaki kamu patah kalau lompat dari sini.”
“Aku lebih pilih patah daripada dikurung,” balas Ara tajam.
Arcel menarik napas panjang, melangkah mendekati Ara sampai perempuan itu harus mundur. “Dari tadi kamu bilang dikurung. Kamu lupa kalau di luar ada orang yang mau bunuh kamu?”
“Aku gak percaya! Semua itu cuma alasan kamu buat tahan aku!”
Arcel menatapnya lama tanpa berkedip. “Tadi pagi aku dapat laporan. Mereka sebut namamu. Lengkap. Ara Anastasya Atmaja.” Ia mendekat lagi. “Kalau aku bohong kamu udah mati barusan.”
Ara menelan ludah. “Tapi aku tetap mau pulang.”
“Tidak malam ini.” Arcel menyentuh dagunya. “Dan kayaknya tidak besok juga.”
Ara menepis tangannya. “Arcel, aku bukan milik kamu.”
Arcel tersenyum pelan. “Tapi aku ingin kamu jadi milik aku.”
“Aku gak mau!”
“Aku tahu.”
Ara mengembuskan napas panjang, frustrasi. “Kamu gila.”
“Tapi kamu tetap aman sama orang gila kayak aku,” jawab Arcel santai.
Ara memukul d**a Arcel. “Jangan seenaknya! Aku mau pulang!”
“Tadi aja kamu bilang sendiri kamu gak mau dijual sama orangtua kamu.”
Ara tercekat. “Itu… itu beda…”
“Tidak. Itu alasan kamu tetap di sini.”
Ara memalingkan wajah. “Aku tetap mau pergi.”
Arcel meraih pergelangan tangannya. “Kalau kamu kabur, aku bawa kamu balik. Dengan cara apa pun.”
“Aku gak takut sama kamu lagi.”
“Kamu harusnya takut,” bisik Arcel.
Ara terdiam. Arcel menatapnya lembut tapi menekan.
“Ara. Dengarkan aku. Bukan aku saja yang berbahaya. Dunia aku juga.”
Ia bergerak ke arah pintu. “Tapi kalau kamu mau tetap coba kabur aku gak larang.”
Ara mengerutkan kening. “Apa?”
Arcel membuka pintu kamar dan melangkah ke luar. “Silakan coba kabur, Ara. Aku cuma mau lihat sampai mana kamu bisa pergi.”
SISI LAIN DI RUMAH KELUARGA ATMAJA
Di ruang tamu sederhana keluarga Ara, ketegangan menumpuk seperti asap tebal.
Mama Anes menatap suaminya yang mondar-mandir gelisah.
“Mas gimana ini apa bener kita jual Ara? Anak kita sendiri ke mafia itu?” Suaranya pecah.
Papa Dandi mengusap wajah. “Biarkan saja, Nes. Sepertinya lelaki itu memang bisa jaga Ara.”
“Mas! Dia mafia! Mafia, Mas!”
“Tapi lelaki itu lebih bisa lindungi Ara daripada pria tua bangkotan itu!”
“Mas aku takut,”
“Bukan cuma kamu yang takut, tapi mau gimana lagi kita harus korbanin Ara. Kalau enggak kita yang bakal mati.”
Suasana makin panas saat pintu depan dibanting terbuka. Aldo masuk dengan wajah masam. “Ara kemana?”
Papa Dandi langsung menatap sinis. “Aldo kamu dari mana hah? Jangan buat onar terus! Kamu tuh ya anak gak tau diri!”
Aldo mendengus. “Emang gini ya kalau anak tiri? Selalu gak bener di mata kalian berdua.”
Mama Anes memegang dadanya. “Jangan gitu, dengarkan dulu kamu, Al. Kamu udah besar kamu cari kerja ya. Kantor Papa lagi gak baik-baik aja.”
Aldo mendelik. “Itu urusan kalian. Bukan urusan aku.”
“ALDO!” teriak Papa Dandi.
Aldo tidak menoleh. Ia pergi begitu saja, membanting pintu kamar.
Mama Anes jatuh terduduk. “Ya Tuhan keluarga kita,”
Papa Dandi memeluk kepala. “Aku pusing, Nes semua kacau.”
KEMBALI KE MANSION ARCEL
Akhirnya Arcel memutuskan kembali masuk kamar. Ara masih di sana, berdiri tak bergerak.
“Kenapa kamu gak kabur?” tanya Arcel.
Ara menatapnya tajam. “Karena pintu dijaga bodyguard!”
Arcel mengangkat alis. “Aku bilang coba, bukan gampang.”
Ara menghela napas cepat. “Kamu beneran mau tahan aku di sini?”
“Bukan tahan,” Arcel melangkah mendekatinya. “Menjaga.”
“Aku gak perlu dijaga!”
“Kamu perlu.”
Arcel berhenti tepat di depan wajah Ara. “Dan aku tetap ingin kamu ada di sini.”
“Aku bukan milik kamu, Arcel!”
Arcel menyentuh dagunya. “Tapi aku sudah bayar hutang keluargamu.”
Ara tersentak. “Jadi aku hutang sama kamu?”
“Tidak.” Arcel menggeleng pelan. “Tapi aku yang nolong kamu.”
“Aku gak minta.”
“Kalau aku belum turun tangan, kamu sudah dinikahkan dengan lelaki tua itu.”
Ara menggigit bibir. “Arcel jangan bahas itu.”
Arcel menatapnya, sedikit melunak. “Ara. Kamu dipaksa. Kamu disudutkan. Kamu gak punya tempat lari.”
“Tapi bukan berarti aku mau ditahan kamu.”
Arcel menundukkan wajah, suara rendah dan dingin. “Tetap saja kamu aman di sini.”
Ara memutar mata. “Kamu cuma mau kontrol aku.”
“Aku mau kamu hidup.” Ara terdiam membisu.
Arcel melanjutkan. “Dan kalau kamu tetap pilih kabur aku akan cari kamu.”
Ara menatapnya. “Untuk apa?”
Arcel tersenyum setengah. “Untuk bawa kamu pulang.”
“Ini bukan rumahku!”
Arcel mendekat. “Tapi ini tempat yang paling aman.”
Ara menahan napas saat Arcel mendekat begitu dekat.
“Dan kamu Ara,” suara Arcel turun menjadi lirih.
“Entah kamu sadar atau tidak kamu selalu lari ke arahku.”
Ara membalas dengan suara serak. “Itu cuma kebetulan.”
“Tidak.” Arcel menggeleng. “Itu naluri kamu.”
“Arcel, aku benci kamu.”
“Benci dulu.” Arcel menyentuh pipinya pelan. “Nanti juga bakal langsung cinta. Aku ramal gak sampai satu bulan kamu indah cinta sama aku. Gak percaya, hm? kita lihat aja baby girl.”
Ara menepis tangannya keras. “Jangan sentuh aku!”
Arcel mengejar wajahnya, menunduk cukup dekat untuk membuat jantung Ara salah ritme.
“Kamu semakin cantik kalau marah.” Ara menahan napas.
Arcel tersenyum tipis. “Sudah tidur.”
“Aku gak mau tidur di sini.”
“Kamu capek.”
“Aku mau pulang.”
“Kita bahas lagi besok.”
“BESOK AKU KABUR!”
Arcel tertawa pelan. “Oke. Kaburlah. Aku tunggu kamu gagal.” lanjutnya sambil tersenyum miring.
Ara mengerang frustasi. “Kenapa sih kamu gini banget?!”
Arcel menyentuh pintu kamar, hendak menutupnya. Sebelum tertutup sepenuhnya, ia berkata pelan. “Aku gini karena kamu penting.”
Pintu tertutup dan terkunci. Ara langsung menatap pintu dengan napas yang naik turun. “Aku akan kabur besok!” gumamnya.
Di luar pintu, Arcel bersandar. Ia tersenyum tipis. “Kita lihat, sayang sampai mana nyali kamu. Tak tau aja keluar dari sini bakal jadi santapan singa di depan mansion ini.” ujarnya sambil tersenyum miring.