"Saat aku kembali dari perang, aku melihat warga desa membersihkan air sungai itu. Zidan membantu mereka. Dia bertanya apa yang terjadi dan aku melihatnya. Mereka mengatakan segalanya padaku. Kau dan dua temanmu pergi ke sana. Tabib istana tidak tahu tentang ini karena seseorang telah menjadi duri di belakangku. Di istana ini," suara Azada pelan. Membuat Karen terdiam kala tangan Azada menariknya untuk duduk di karpet tebal bersama Azada yang menggenggam tangannya. "Aku harus berterima kasih padamu," ucapnya lembut. Karen melihat ada rasa bersalah yang kentara di wajah lelah Azada. Teramat jelas. "Aku bersumpah melindungi mereka, rakyatku dengan nyawaku sendiri. Tapi pemberontak itu benar-benar diluar kendali. Zidan bisa terluka jika dia menghadapinya sendirian. Aku harus pergi." Karen m

