Acara makan malam antar para selir semakin hening saat Karen masuk ke dalam ruangan dengan Hana yang menunduk di belakangnya. Karen mendapati salah satu kursi yang berbeda di tempatkan di ujung meja. Berseberangan dengan Selir Parviz yang tampak tidak terpengaruh dengan kehadirannya dan tetap menyantap makan malamnya.
"Duduklah, Selir Miura, makananmu mendingin," sapanya sinis. Karen mengangguk dengan sopan dan pergi menuju kursinya. Ditatapnya sepotong daging panggang dan kentang rebus yang lumer dengan saus. Karen duduk setelah Hana mempersiapkan kain bersih untuknya. Karen tersenyum, dia menatap air mineral di dalam gelas dan matanya menyipit saat menemukan sesuatu yang aneh.
Karen mengambil gelas itu, menciumnya dan beberapa kali hidungnya berkerut mencium bau aneh. Walau air itu bening, sebening Kristal tapi Karen merasa curiga.
Hana ikut menatap air itu, matanya menyipit waspada saat Karen ingin meminumnya tetapi wanita itu menahan tangannya tetap di udara. Karen melirik Selir Parviz yang tampak tenang dan menyantap makan malamnya dalam diam.
"Kemari," Karen menunjuk salah satu pegawai dapur untuk mendekat. Gadis berambut hitam itu mendekat dengan kepala tertunduk. Karen memberikan gelas itu padanya, gadis itu menatapnya penuh lirih, ada tatapan takut dan rasa bersalah serta menyesal yang bercampur jadi satu di matanya. Karen menggeram dalam hati.
"Minum ini." Perintahnya.
"Baik, Selir."
Baru seteguk gadis itu meminumnya, Karen mendorong gelas itu jatuh ke atas lantai. Menimbulkan bunyi pecahan yang nyaring hingga suasana di ruang makan yang senyap tiba-tiba berubah gaduh dengan bisikan dan jeritan tertahan dari para selir saat melihat tubuh gadis itu ambruk di atas lantai dengan mulut mengeluarkan busa putih.
"Racun," gumam Karen. "Cara klasik yang bodoh," geramnya.
Segera dua prajurit berlari untuk membawa gadis malang itu ke tabib Istana Bunga sebelum terlambat. Karen melirik Nisaka yang bergetar karena tanggung jawab makan malam ada di tangannya. Jelas saja ada permainan di sini. Jika mereka tidak bisa menjatuhkan Karen, maka mereka menggunakan cara lain untuk menjatuhkannya.
"Aku tidak tahu kalau cara kuno itu masih tetap ada sampai sekarang," Karen menatap makan malamnya tanpa minat. "Aku beri kesempatan pada kalian untuk mengakui perbuatan tercela ini. Aku bisa memakluminya, mungkin?" Karen menatap Selir Parviz yang mengusap bibirnya dengan kain bersih. "Begitu juga dengan dirimu, Selir Parviz."
Selir Parviz tertawa pelan. Dia menatap Karen. "Aku? Haha. Kau bercanda? Aku tidak akan melakukannya."
"Terkadang ada beberapa hal yang membuat rasa dengki pada diri manusia menggelapkan nurani mereka dan melakukan beberapa tindakan bodoh yang tidak masuk akal guna menjatuhkan sesama manusia lainnya," Karen menumpu dagunya dengan kesepuluh jemarinya yang bertautan. "Kau termasuk yang mana?"
"Jangan bercanda!" bentak Selir Parviz.
"Aku bertanya dalam nada yang sopan," Karen mendengus. "Teramat sopan, Selir, mengapa kau terlihat tersinggung?"
"Tanyalah pada sahabatmu!" Tunjuk Selir Parviz pada Nisaka yang terkejut. "Dia yang bertugas untuk memasak makan malam hari ini. Lihat! Wajah tidak berdosanya menutupi kesalahannya. Kau seharusnya bertanya padanya dan bukan menuduhku."
Karen melirik Hana yang terdiam. Tiba-tiba Karen berdiri mendekati Nisaka sebelum Jenderal Kelas Satu datang masuk ke dalam ruangan dalam diam. Membuat Karen menghentikan langkahnya saat Jenderal itu membawa Nisaka pergi bersamanya.
"Apa yang kaulakukan?" Karen menghadang Jenderal itu pergi melalui pintu. Zidan menggeleng sebagai jawaban. Membuat Karen geram menatap kedua iris biru laut milik sang Jenderal.
"Raja memintanya menghadap."
Mata Karen melebar ketika mengetahui kalau pemberitaan tentang dirinya menyebar cepat sampai ke Istana Kerajaan. Karen menatap Selir Parviz yang memasang wajah puas dan kembali pada Zidan yang menunduk memberi salam dan pergi melewatinya.
"Aku tidak akan diam saja," Karen mengangkat gaunnya dan berlari mengejar Zidan yang lebih dulu pergi bersama dua anak buahnya yang memegangi tangan Nisaka di sisi kanan dan kirinya. Karen berlari melalui jalan lain bersama Hana yang setia bersamanya. Karen mendesah saat dia menemukan empat prajurit berpedang berjaga di depan pintu singgasana tempat Maritz Azada saat ini.
"Buka pintunya."
"Maaf, Selir. Ini perintah," mereka menghadang Karen dengan pedangnya. Karen menatap topeng prajurit itu tak gentar. Dia hampir saja mendobrak pintu itu jika Hana tidak memegang tangannya, mencegahnya.
"Nisaka bisa saja mati terpenggal karena ulah Selir Parviz, Hana!" bentak Karen tinggi. "Dan kau memintaku untuk diam saat Nisaka sekarat di dalam sana?" Karen menatap Hana dingin. 'Lepas."
Hana melepas pegangan tangannya dengan wajah berkaca-kaca. Sekali lagi dia menatap kedua prajurit itu dan mereka menggeleng. Karen tetap mendobrak pintu itu keras-keras. Menendangnya dengan kuat sampai pintu itu terbuka salah satunya dan dia berlari masuk. Mendapati Nisaka berlutut dan Zidan berada di sisinya. Semua pasang mata mengarah padanya. Hanya ada empat dewan yang duduk memandang jijik pada Nisaka, Jenderal Kelas Satu dan tentu saja, sang penguasa.
Azada menatapnya. Datar tak terbaca. "Kau ingin melakukan pembelaan?"
"Tentu saja," Karen maju dengan senyum sinis. "Dia tidak melakukan kesalahan."
"Dia meracunimu."
"Aku lebih tahu tentang kejadian yang terjadi," geramnya. Karen maju di depan Nisaka yang terisak pelan tanpa suara. Tubuh gadis itu bergetar dan Zidan tidak bisa lakukan apa pun untuk menolongnya.
Azada diam. Dia kembali duduk di kursinya. Menatap Karen dengan pandangan menilai sebelum sebuah senyum terkembang di bibirnya.
"Dia tidak meracuniku. Aku tahu Nisaka bertanggung jawab untuk memasak makan malam para selir di Istana Bunga. Dan aku berani bertaruh dengan nyawaku sendiri, dia tidak bersalah," Karen menatap Azada. "Maaf, Yang Mulia. Tetapi aku benar. Nisaka tidak bersalah."
"Benar-benar selir pemberontak!" ucap salah satu anggota dewan berjanggut putih yang menunjuk Karen dengan tongkatnya. "Kau pikir kau siapa? Kau selalu membuat seisi istana heboh dengan kelakuanmu. Menentang aturan kerajaan dan sekarang mempertanyakan kewibaan Raja Maritz?" bentaknya.
Karen menatap anggota dewan itu dengan mata menyipit. Dia segera menunduk meminta maaf dan tersenyum samar. "Maafkan aku, anggota dewan yang terhormat. Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan kewibaan Raja Maritz. Hanya saja meluruskan beberapa kesalahpahaman yang bisa membuat penyesalan kemudian."
Karen kembali menatap pada Azada. Dia menunduk. "Maafkan aku, Yang Mulia. Aku berkata apa adanya. Nisaka tidak bersalah."
Nisaka mengusap air matanya. Merasa tersentuh dengan pengorbanan Karen yang besar. Karen adalah putri pemberani dan Nisaka merasa semakin bersalah karena selalu menyeret wanita itu ke dalam masalahnya.
"Lepaskan dia, Zidan."
Zidan mengangguk. Dia membawa Nisaka dengan hati-hati ke luar ruangan dengan memeluk bahunya. Nisaka menatap punggung Karen yang berdiri tanpa takut. Menunduk sekali lagi sebelum Zidan membawanya pergi.
"Jangan harap posisi permaisuri bisa jatuh ke padamu!" salah satu anggota dewan berteriak padanya.
Karen diam, tidak menjawab.
"Bisa saja. Tidak ada yang tidak mungkin," Azada berdiri dari kursinya. Mengetuk-ngetuk katananya di atas lantai dan tersenyum samar. "Posisi permaisuri bisa didapatkan siapa saja. Dan Selir Miura bisa mendapatkannya."
Karen mengangkat kepalanya. Menatap Azada dengan alis terangkat. Bingung. Tapi dia tetap diam. Menahan pertanyaan yang hampir keluar dari kerongkongannya untuk tetap tersimpan di dalam hatinya.
Para anggota dewan berbisik membicarakannya. Mereka melemparkan tatapan jijik, benci, marah padanya. Karen merasa terintimidasi di bawah tatapan para anggota dewan.
"Rapat selesai. Kalian bisa pergi." Perintah Azada tidak terbantahkan. Mereka pergi setelah menatap Karen dengan pandangan benci sekali lagi sebelum pergi ke luar ruangan. Karen menghela napas, mengusap wajahnya yang hampir menangis.
"Jangan menangis."
Karen memejamkan matanya rapat-rapat. "Aku benci dirimu."
Azada tersenyum miring mendengarnya. Dia membuka kedua tangannya, membawa Karen ke dalam pelukannya. Membiarkan dirinya mencium aroma buah yang menyegarkan dari rambut dan tubuhnya.
"Aku tidak menghukum sahabatmu karena dirimu," bisiknya. Karen melepas pelukannya. Menatap Azada tajam. "Bukan karena diriku, Yang Mulia. Itu karena dirinya tidak bersalah," Karen bersikeras mengoreksi ucapan Azada dan pria itu tertawa pelan.
"Dan jika dia benar-benar bersalah, kau bertanggung jawab atas kesalahannya?"
Karen menatap Azada tanpa kata. Mata teduhnya terus menatap wajah pahatan dewa itu tanpa berkedip. Karen kemudian menunduk, dia mengangguk kecil. "Ya."
"Aku berharap kesalahan itu tidak pernah terjadi pada dua sahabatmu."
Karen belum sempat bertanya apa maksudnya saat Azada kembali memeluknya. Menundukkan kepalanya saat bibir dingin itu mencari-cari bibirnya dan memagutnya dalam diam.
.
.
"Nisaka?" Karen berlari bersama Hana saat dia menemukan Nisaka ada di kandang kuda. Nisaka tersenyum saat Karen menghampirinya. Memeluknya sebentar menanyakan kondisinya dan menatap kuda berwarna cokelat pekat yang diberi makan Nisaka.
"Ini milikku," Karen menatap kuda itu. Tersenyum kecil. Tangannya mengusap wajah kuda itu dengan lembut saat Nisaka ikut mengusapnya dan menaruh rumput segar di tempat makan kayu.
"Nisaka selalu kembali ke rumah dengan kudanya, Selir," Hana menjelaskan. "Ini kuda milik keluarganya."
"Benarkah?" tanya Karen antusias.
"Sebenarnya ada dua," Nisaka menunjuk kuda berwarna putih yang sedang makan. "Ini laki-laki dan itu kuda wanita. Aku sering memakai keduanya," Nisaka menatap Karen. "Kau bisa menunggang kuda?"
Karen mengerutkan dahinya. "Saat aku remaja aku sering menunggang kuda untuk belajar memanah," Karen tertawa pelan. "Tapi selalu meleset dan aku sering jatuh dari kudaku. Adikku, Ayyara, dia bisa menunggang kuda. Yah, tidak terlalu hebat tapi dia bisa melakukannya sedikit dariku."
Hana tertawa bersama Nisaka. Karen pergi ke kuda putih itu. Mengusapnya dan membantu membawa rumput ke tempat makannya. Hana ikut membantunya mengurus kuda lain yang ada di sana.
"Kita bisa menunggang kuda ke pasar kalau kalian mau," Nisaka tiba-tiba bersuara sedikit keras. Membuat Karen dan Hana menoleh bersamaan. Karen mengangguk antusias dan Hana memucat.
"Tidak, Nisaka, itu ide gila, berhenti. Jangan lakukan apa pun," Hana menatap Nisaka tajam. Membuat gadis bermata perak itu tertawa geli. "Ayolah. Sesekali bukan masalah. Matahari masih tinggi, kita bisa kembali sebelum terbenam."
"Kau benar!" Karen mengangguk antusias. Senyumnya melebar. "Aku akan pergi dengan kuda cantik ini. Hana bisa pergi bersama Nisaka. Jika bersamaku ... kau akan terluka. Biar saja jika aku jatuh, aku terluka sendiri," dan terkikik geli memikirkan kemampuan berkudanya yang payah.
Hana masih menggeleng ragu. Karen memaksanya dan menarik Hana sampai di kuda Nisaka. Karen berlari ke dalam, mengambil tudung cadangan milik Nisaka dan kembali bergabung bersama mereka. Setelah Hana memakai tudung penyamaran dan Karen ikut memakainya, mereka naik kuda bersamaan. Karen pergi lebih dulu, menunggang kudanya pergi melewati batas istana yang ketat.