Semenjak pengumuman sepihak itu semalam, gosip menyebar ke seluruh penjuru Istana Bunga seperti wabah. Dan mengingat sang penguasa menamainya dengan Selir Miura, serupa dengan marganya, nama Karen terus diperbincangkan banyak pihak. Dia juga mendengar kalau dirinya saat ini menjadi topik utama yang dibahas oleh para dewan kehormatan karena posisi Selir Parviz bisa digeser olehnya.
Maritz Azada tidak pernah mengenalkan siapa selir kesayangannya setelah Selir Parviz. Hanya wanita itu bertahun-tahun berada di garis atas calon permaisuri. Yang memiliki derajat paling tinggi diantara selir lainnya. Memiliki kekuasaan di balik marga yang disandangnya. Dan Karen adalah lawan beratnya. Posisi permaisuri tidak lagi aman. Mereka berdua secara otomatis menjadi musuh satu sama lain.
"Heh, apa peduliku dengan posisi permaisuri?" Karen menggerutu di taman dapur. Ditemani Nisaka dan Hana yang memandang Karen prihatin. Tentu saja mereka tahu apa yang terjadi di Istana Bunga. Kegaduhan itu ada karena semalam. Dan Karen adalah pelakunya.
"Jika benar kau bisa menjadi permaisuri ... bukankah itu bagus?" Nisaka bertanya.
"Aku tidak tertarik," Karen menyilangkan tangannya di depan d**a. Taman dapur Nisaka adalah tempat yang pas untuk mereka bertukar cerita. Saling membagi info satu sama lain karena ini benar-benar ruang pribadi milik Nisaka.
"Sama sekali tidak." Matanya menatap tajam Hana yang hendak menyela ucapan Karen.
"Kalian seharusnya mendukungku. Aku akan menjadi selir pemberontak setelah ini," helaan napas yang kesekian kalinya terdengar. Karen terlihat putus asa. "Aku ingin hidup biasa. Tidak ingin menjadi seorang bangsawan. Jika pun aku menikah dan menjadi seorang permaisuri nantinya, itu harus dengan seseorang yang kucintai. Bukan seperti ini. Bukan begini yang aku mau."
"Bukankah cinta ada karena terbiasa?" Hana tiba-tiba bersuara. Menatap Karen dan Nisaka secara bergantian.
Karen mengangkat alisnya, menatap takjub pada dayang kesayangannya dan Nisaka yang tersenyum geli.
"Hm, aku mencium ada sesuatu yang janggal di sini," mata Karen menyipit menatap ekspresi wajah Hana yang tiba-tiba memerah, merasa malu. "Maafkan aku, Selir, aku tidak bermaksud ..."
"Hana benar," Nisaka menatap Karen lembut. "Anggap saja begitu. Tapi posisimu tidak mudah. Lawanmu Selir Parviz. Itu bisa menjadi batu sandungan yang besar. Dia licik dan punya kekuatan. Kau harus hati-hati mulai dari sekarang. Dia hanya berusaha untuk selalu menang dan menjadi arogan setiap saat."
Karen bersandar pada kursi kayunya. Menatap langit yang mulai mendung perlahan-lahan. Cahaya matahari tidak mampu menembus tebalnya awan hitam yang bergerak menutup indahnya langit biru di atas kepalanya.
"Aku datang kemari bukan karena keinginanku," Karen membuka suaranya. Hana melempar tatapannya pada Nisaka dan gadis itu menyuruh Hana untuk diam. Mendengarkan Karen bicara.
"Adikku, Ayyara, dia diculik oleh Raja Matteo. Dan Azada membawaku," Karen mengusap dahinya. "Aku ditawan. Sebenarnya, aku tawanan dan bukan seperti yang kalian maksud," Karen menatap Nisaka dan wajah gadis itu terkejut. Hana menggeleng tidak percaya dan Nisaka menutup mulutnya yang terbuka. "Aku tidak punya posisi di sini. Tidak ada yang istimewa dariku. Tapi malam itu merubahnya. Tiba-tiba aku memiliki posisi dan lihatlah sekarang. Aku seperti berkuasa padahal tidak."
Suara Karen melemah. "Hanya kalian berdua yang kupunya. Aku juga tidak yakin kalau Jenderal Kelas Satu itu mau membantuku melepas adikku dan aku yang akan pergi dari sini. Jika Azada menemuiku, mungkin dia akan memenggal kepalaku di tempat," Karen mendesah berat. "Maritz Azada ... nama itu tidak asing sebenarnya. Beberapa dayang dan anak bangsawan lainnya sering membicarakan tentangnya. Tentang reputasinya yang membunuh selirnya dengan kejam atau menjadikannya umpan burung pemakan bangkai. Aku tahu segalanya."
"Kau beruntung," ucap Nisaka.
"Dewi keberuntungan hanya sedang berpihak padaku," Karen menatap Nisaka lirih. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. "Aku tidak tahu harus bagaimana untuk tetap bertahan di sini. Tidak ada gunanya mencari teman. Aku tahu benar bagaimana selir satu dan yang lainnya saling membunuh demi mendapat posisiku dan Selir Parviz."
Hana terdiam. Dugaannya bersama Nisaka semalam benar. Ada yang aneh saat Karen tidak henti-hentinya menangis semalam saat pesta itu selesai. Karen hanya bisa menatap aksesoris rambut berbentuk bunga melati milik adiknya di tangan dan menangis. Hana melihatnya. Melihat bagaimana hancurnya Karen dan betapa besarnya rasa sayangnya untuk adiknya. Tetapi Hana diam. Membiarkan rasa ingin tahunya dia pendam rapat-rapat tanpa mempertanyakan jawabannya.
"Selama kau memiliku dan Hana, semua baik-baik saja. Percayalah, kami di sampingmu," Nisaka menepuk bahu Karen. Membuat wajah lelah itu mendongak, menatap keduanya dengan senyum tipis.
"Ah, aku menyayangi kalian." Nisaka tertawa tertahan dengan Hana yang memerah malu saat Karen memeluknya gemas dengan tawa kecil yang meluncur dari bibirnya.
.
.
"Suatu kunjungan tiba-tiba, Kenzo?"
Ezra duduk di singgasananya. Tersanjung dengan kunjungan Kenzo yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ezra merasa senang. Hari-hari gelap yang dia lewati tanpa kehadiran kedua adiknya sedikit terkikis karena kawan lamanya datang untuk berkunjung.
"Bagaimana kabarmu?" Kenzo memandang Ezra yang duduk dengan senyum samar dan wajah letih yang tertangkap di mata Kenzo tidak bisa dihindarkan begitu saja. Ezra terlihat lelah dan putus asa.
"Seperti yang kau lihat," Ezra merentangkan kedua tangannya. "Hanya sedikit kurang baik."
Kenzo tersenyum samar. Merasa tercubit dengan kondisi Ezra yang sedikit kurus dan lelah. Ezra pernah tertekan saat kematian kedua orang tuanya dan kepemimpinan jatuh dibawah tangannya. Tetapi dia bisa melewatinya dengan baik hingga kerajaan menjadi makmur dan bertambah hebat di tangannya.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Ezra tersenyum. "Aku tahu. Kau kemari selalu membawa info bagus untukku. Apa yang terjadi?"
"Ini bukan tentang kerajaanku atau kerajaan di bawah kekuasaanmu yang memberontak. Ini tentang kedua adikmu," Kenzo bersuara lirih. Tatapan Ezra menajam kala nama kedua adiknya diucapkan. Dia menatap Kenzo lekat-lekat, tidak menemukan kebohongan.
"Karen dan Ayyara?"
Kenzo mengangguk.
"Apa yang terjadi? Kau menemukan mereka? Di mana mereka? Apa mereka baik-baik saja?"
Kenzo tersenyum tipis menyadari kecemasan di dalam nada suara Ezra. "Tenanglah. Mereka baik-baik saja. Tidak terkecuali satu pun."
"Maksudmu?"
Kenzo menghela napas. "Karen baik-baik saja. Begitu juga dengan Ayyara. Mereka baik-baik saja. Tidak terkurang apa pun dari tubuh mereka."
"Tidak terluka? Kau melihat mereka? Tidak ada bekas luka di tubuh mereka?"
"Ezra," panggil Kenzo. "Kau sedang melempar lelucon macam apa denganku? Aku tidak menemukan luka apa pun di lengan dan kaki mereka. Kau ingin aku melucuti semua pakaian adikmu untuk melihat apakah mereka terluka atau tidak, begitu?"
"Ah," Ezra mengusap wajahnya. "Maafkan aku."
"Karen ada bersama Maritz Azada," Kenzo memperhatikan wajah Ezra yang kini memucat total. "Dan Ayyara ada bersama Matteo Sai."
Ezra bagai patung saat ini. Tubuhnya kaku dan pria itu hanya duduk bersandar pada kursi kebesarannya.
"Bagaimana bisa?" Suaranya tercekat.
"Aku tidak tahu apa maksudnya ini," Kenzo melirik Saveri yang terdiam. Pria itu tampak sedang menarik kesimpulan dari pembicaraan mereka. "Kau sudah berusaha keras menjauhkan adik kecilmu, Ayyara dari Matteo Sai yang punya obsesi gila untuk memiliki Ayyara. Dan itu semua sia-sia. Ayyara ada di tangannya."
"Jika saja dia berani melukai Ayyara, aku benar-benar akan menghancurkannya," gumam Ezra. Kenzo mendengarnya. Jelas. Sangat jelas.
"Aku tidak punya gambaran apa pun tentang Karen ada di tangan Maritz bertangan dingin itu. Azada sama sekali tidak tertarik memiliki adikmu dan apa rencananya kali ini? Balas dendam padamu? Dengan memakai adikmu sebagai tawanan?" Kenzo menggelengkan kepalanya. "Aku tidak janji bisa membebaskan Ayyara dari tangan besi Matteo Sai. Tetapi Karen ..."
"Aku akan memikirkan ini, Kenzo," Ezra berdiri, menatap peta besar yang ada di dinding ruangannya. "Sedikit keributan di bawah kekuasaan Azada mungkin bisa memecah konsentrasi pria itu. Aku akan menyelamatkan Ayyara lebih dulu, dia masih sangat muda dan obsesi Matteo Sai yang gila membuatku khawatir padanya," Ezra menghela napas. Dia berdiri di depan Kenzo, menepuk bahu pria itu. "Terima kasih untuk info yang sangat berharga ini. Aku bisa mendiskusikan ini pada yang lainnya."
Kenzo ikut berdiri. Pria tampan itu menyunggingkan senyum lebarnya dan menepuk bahu Ezra. "Jangan sungkan untuk berkirim kabar kalau kau membutuhkan bantuanku."
"Tenang saja."