Satu jam lebih Karen menghabiskan waktu untuk merias diri dan itu membosankan. Ya, walaupun dia akui berakhir sangat sempurna, tapi tetap saja, memakan waktu yang lama.
Karen keluar kamar diikuti Hana yang sudah berganti pakaian dengan pakaian dayang saat pesta berlangsung. Karen tersenyum saat Hana menunduk menyembunyikan riasan yang Karen oleskan pada wajah polosnya. Karen terkikik geli, membuat Hana semakin menyembunyikan wajahnya.
"Tidak usah malu begitu," Karen melipat tangannya di depan d**a. "Kau cantik." Dan tersenyum lembut setelahnya.
"Anda jauh lebih sempurna malam ini, Putri."
Karen terkekeh. "Ya, ya, aku tahu," katanya sembari memutar-mutar tubuhnya dan tertawa. Membuat Hana ikut tertawa.
Hana segera menunduk memberi salam saat mereka berpapasan dengan Selir Parviz di depan Istana Bunga yang ramai. Karen hendak berjalan menghindarinya tetapi langkahnya terhenti karena Selir Parviz mencoba menahannya untuk tetap berdiri di sana.
"Siapa yang meriasmu?"
"Kurasa dia orang yang sama yang juga meriasmu?" Karen mengangkat alisnya. "Riasan di wajah kita tidak jauh berbeda, bukan?"
Selir Parviz mendengus sinis. "Heh, sebegitu besarnya kau ingin sepertiku?"
Karen tersenyum manis. "Ah, tidak juga. Gaya rambutmu sangat tidak cocok denganku. Lihat sanggulmu ..." mata hijau Karen menulusuri rambut sanggul besar di rambut merah Selir Parviz. "Kepalamu jadi dua kali lebih besar. Seperti apa ya ... sarang burung?"
Karen tersenyum saat mendapati wajah itu memerah sempurna. Siap melayangkan umpatan kasar atau pukulan yang mungkin membuat wajahnya lebam esok pagi. Karen juga siap melayangkan tinjunya jika wanita itu berani macam-macam dengan melukainya. Dia tidak akan diam saja sekarang. Selir satu itu cukup berani menantangnya dan membuatnya terjebak dalam masalah berulang kali. Dia tidak bisa menerimanya. Karen hanya lelah menjadi pion perempuan picik satu ini.
"Aku merasa jauh lebih baik darimu malam ini," Karen mengangkat bahunya. Memamerkan gaya rambut panjang bergelombang dengan aksen bunga kecil di helai rambutnya pada Selir Parviz dengan angkuh. "Tidak apa jika kau ingin mengganti gaya rambut kunomu sebelum terlambat. Pesta belum dimulai, Selir. Aku tidak keberatan jika kau mengikuti gaya rambutku yang bagus seperti ini," Karen tertawa. "Kita ada di usia yang sama tetapi mengapa aku merasa kau dua puluh tahun lebih tua dariku?" Dan kemudian berlari menjauh sebelum Selir Parviz benar-benar memukulnya dengan sandal kayunya yang tajam. Yang bisa membuat kepalanya mendapat luka jahitan nanti.
.
.
"Salam, Putri."
Karen menoleh. Mendapati Jenderal Kelas Satu datang dengan senyum di depannya. Membawa jiwanya yang terbang karena melamun kembali pada raganya dengan tergesa.
"Aku tidak ingin pergi dari sini, Jenderal," Karen menatap air mancur yang tenang dan ikan-ikan yang berenang saling mengejar satu sama lain di dalam kolam. "Aku ingin sendiri sekarang. Tolong, biarkan aku sendiri untuk sementara waktu. Aku akan segera kembali."
"Pesta sudah dimulai. Anda tidak ingin melihat siapa tamu yang datang?"
Karen menatap iris biru Zidan dalam-dalam. "Apa ada kejutan untukku?"
Zidan tersenyum misterius. "Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Kau perlu melihatnya sendiri nanti."
Karen berdiri kemudian. Meninggalkan Jenderal Kelas Satu itu sendirian di belakang Istana Bunga yang sepi. Zidan menghela napasnya, menatap punggung Karen yang mulai berjalan menjauh dengan dalam lalu pergi.
.
.
Karen duduk di kursi kosong di mana kursi itu untuk dirinya. Dia menoleh, mendapati Maritz Azada duduk menopang dagu di singgasananya dengan katana yang terselip di dalam jubahnya seakan membuat bulu Karen meremang kalau-kalau katana itu bisa menebas kepala siapa saja dalam kejapan mata. Memikirkannya saja membuat Karen mual hingga dia duduk, menatap satu-persatu tamu yang datang dengan bingung.
Dan Karen hampir saja melupakan satu fakta kalau dia akan bertemu Ayyara hari ini. Debaran jantungnya menggila, dadanya berdentum tidak biasa penuh rasa antisipasi melihat adik tercintanya yang telah lama berpisah, kini kembali berjumpa dalam acara yang tidak terduga. Karen tidak lagi sabar menunggunya.
Banyak pertanyaan yang timbul di dalam kepalanya. Apa Ayyara baik-baik saja? Apa Ayyara terluka? Apa Ayyara makan dengan benar? Apa mereka menyakitinya? Dan memikirkannya membuat Karen ingin menangis memeluk sang adik.
Karen meremas kedua tangannya, dia menatap gusar pada pintu masuk dan bergantian dengan Hana yang bingung menatapnya. Karen mengalihkan pandangannya dan wajahnya diselimuti kebahagiaan saat dia melihat sosok Ayyara di belakang Raja Matteo yang mempesona malam ini.
Karen berdiri tiba-tiba saat Ayyara memasuki pekarangan dengan wajah menunduk. Wajah Karen berubah melihat bagaimana sang adik yang tidak terluka sedikit pun di tubuhnya. Karen tahu dirinya menjadi pusat perhatian dan dia kembali duduk, menyembunyikan wajahnya dan berharap tidak menangis.
"Ayyara ..."
Karen tersenyum lebar saat dia melihat Ayyara tidak jauh duduk darinya dan Azada yang sedang berbicara dengan Raja Matteo. Karen mendekati Hana yang langsung mengerti apa yang Karen perintahkan padanya. Karen menunggu dengan d**a berdebar, terlebih saat dia melihat Hana mendekati Ayyara dalam diam dan gadis berambut pirang itu tersentak.
Mata mereka bertemu. Ayyara berdiri di tempatnya saat para tamu undangan mulai berdiri mengambil makanan mereka. Ayyara menutup mulutnya, mata birunya tampak berkaca-kaca begitu juga dengan Karen yang berlari memeluknya dengan erat. Tangis itu kemudian pecah. Membuat keduanya tersedu-sedu dalam isakan.
Hana tidak mengerti apa yang terjadi dengan keduanya dan juga hubungan apa yang terjalin di antara keduanya. Mata cokelatnya menatap Ayyara dan Karen bergantian dan terkejut saat menyadari sesuatu di dalam kepalanya.
Mereka ... Putri Miura bersaudara?
Karen menarik tangan Ayyara untuk menjauh dari sana dan Ayyara menurutinya dengan senyum. Hana mengikuti mereka setelah berjalan agak jauh agar tidak mengganggu reuni kecil di antara keduanya. Tidak tahu kalau ada sepasang mata gelap yang mengawasi mereka dari belakang.
.
.
"Senang bertemu dengan Anda, salam." Hana memberi salam dengan sopan. "Perkenalkan, namaku Hana."
Ayyara ikut menunduk, membalas sapaan Hana dengan sopan. "Aku Ayyara," mata birunya melirik Karen dengan bahagia. "Apa Karen menceritakanku padamu?" tanyanya pada Hana dengan ceria.
"Tanpa kuceritakan dia tahu siapa kita berdua," jawab Karen santai. Membuat Ayyara menoleh dan terkekeh geli. "Ah, begitu ... seluas itukah kita berdua dikenal? Aku tidak menyangka."
Karen tertawa diikuti Ayyara yang tertawa di pelukannya. Mereka ada di belakang Istana Bunga yang sepi dan hanya ditemani puluhan lampion berwarna redup untuk penerangan. Ayyara menatap lampion itu dengan senyum. Berkali-kali Ayyara tertawa dan tersenyum. Rasanya begitu bahagia bertemu dengan saudaranya setelah sekian lama.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja," Karen tersenyum saat Ayyara menyentuh lampion di atas kolam dan menoleh. "Aku juga bersyukur kau terlihat sangat baik, Karen," Ayyara duduk di samping Karen. Menatap bintang-bintang di atas langit. "Dan merindukan saat-saat seperti ini. Saat kita berdua berbagi kisah dan impian kita seperti dulu."
"Membicarakan kenakalanmu di waktu kecil?"
Ayyara terkekeh. "Ah, itu juga."
Hana ikut tersenyum melihat keduanya. Dia berjalan mundur dan memilih mengawasi mereka dari kejauhan. Mata cokelatnya tidak sengaja melihat Nisaka yang ikut tersenyum dan melambaikan tangannya agar Hana mendekat dan mereka berdua berada di tempat yang sama saat ini.
"Itu Putri Ayyara?" Hana mengangguk menjawab pertanyaan Nisaka.
"Kenapa mereka berdua sangat cantik?" Nisaka tersenyum manis. "Aku senang mereka bisa bertemu satu sama lain. Yang kulihat Putri Ayyara datang bersama Raja Matteo ... apa yang terjadi?"
Hana menggeleng menjawab pertanyaan Nisaka. "Aku tidak tahu. Ada sesuatu yang aneh di sini."
"Aku juga berpikir sama," Nisaka mengusap dahinya. "Kedatangan Putri Karen ke istana ini dan juga Putri Ayyara yang tampak bahagia dan lepas bertemu dengan Putri Karen. Apa mereka dipisahkan paksa?"
"Atau mereka diculik?"
Hana menutup mulutnya. Menyadari ucapan Nisaka yang mengarah kemungkinan besar adalah kebenaran. Nisaka menggeleng dan merasa menyesal mengucapkan kalimat itu segera menunduk, memukul kepalanya dengan gemas dan mengumpat.
"Tidak, lupakan," Nisaka tertawa lirih. "Itu tidak mungkin."
"Permisi, di mana aku bisa tahu jalan untuk kembali dari Istana Bunga?"
Karen dan Ayyara menoleh bersamaan ke sumber suara pria di belakang mereka. Ayyara tersentak dan Karen yang terkejut. Ayyara tertawa dan kemudian melemparkan dirinya ke dalam pelukan sang pria.
"Ayyara?" Karen mengangkat alisnya, tidak mengerti mengapa Ayyara terlihat akrab dengan pria itu?
"Ah, Karen," Ayyara menepuk dahinya dan kemudian tertawa bersama pria tampan itu. "Kau tidak mengenalnya?"
Karen tampak bingung. Dia menatap Ayyara dan kemudian si pria tampan itu. "Tidak," Karen menutup wajahnya. "Maafkan aku ... aku benar-benar menyesal."
"Tidak apa,"
Karen menurunkan kedua tangannya. Mereka saling bertatapan. "Aku, Kenzo."
Karen menatap uluran tangan itu, sekilas tampak ragu kemudian dia membalasnya dengan senyum. "Miura Karen."
"Aku tahu benar siapa dirimu," jabatan tangan mereka terlepas dan Karen merasakan wajahnya merona. Ayyara terkekeh geli.
"Tentu saja setelah kau menyebutkan namamu Karen merona!" Ayyara tampak puas menggoda sang kakak. "Karen tahu siapa yang menjadi kandidat kuat calon suaminya. Kalian memang belum pernah bertemu tapi Karen sudah sering mendengar namamu dari Ezra dan aku."
"Aku pernah bertemu dengannya," sela Kenzo. Wajahnya yang tampan tampak berpikir. "Masih terlalu muda saat itu. Ezra mengajakku untuk berlatih panah bersama. Aku melihat Karen di balkon dan dia tidak melihatku."
"Maaf," Karen menjawab kecil. Membuat Kenzo tersenyum. "Tidak apa. Senang melihatmu di sini."
Hana dan Nisaka saling melempar pandang mendengar apa yang diucapkan Ayyara tadi cukup mengejutkan mereka. Calon suami?
Nisaka menoleh saat mendengar langkah sepatu. Dia terkejut ketika melihat Jenderal Kelas Satu mendekat ke taman dan segera gadis itu berlari mendekati Zidan, menggandeng tangan pria itu dan membawanya berbalik. "Nisaka?"
Nisaka tersenyum. "Ada yang ingin aku bicarakan," jawabnya. Nisaka memuji dirinya sendiri yang terlihat rileks dan tidak gugup. "Tentang penyerangan Istana Bunga," sambungnya. Zidan mengangkat alisnya, dia tersenyum setelah mengusap pipi ranum gadis itu. "Ayo, kita bicara."
.
.
"Tidak, dengarkan aku." Karen menarik tangan Kenzo yang siap membawanya pergi dari sana. Ayyara menatap mereka bergantian dengan wajah cemas. Wajah Kenzo yang bersahabat dan tampak santai terlihat dingin saat Karen menceritakan segalanya tentang apa yang terjadi dan bagaimana ide gilanya guna menyelamatkan Ayyara dari kurungan Raja Matteo.
"Aku akan mengembalikan kalian berdua pada Ezra," Kenzo menatap Karen dengan lembut. "Kalian tidak tahu bagaimana Ezra mencemaskan kalian barang lima menit saja kalian tidak ada di istana?"
"Aku tahu," Karen menunduk, tampak bingung. Dia mendongak, mendapati Hana yang menatapnya sedih. "Dengarkan aku, Kenzo, hanya ini cara satu-satunya yang bisa kulakukan ..."
"Dan membiarkanmu menjadi tawanan Maritz Azada?"
Ayyara bergerak menengahi mereka. Wajahnya terlihat kacau. "Tidak, Karen, ini tidak benar. Kau melepaskanku tapi kau terkurung di dalam kandang singa? Kau gila? Apa aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkanmu?" Ayyara tercekat di dalam suaranya. Kedua mata birunya berkaca-kaca menahan tangis. "Tidak. Jika kau mati, aku ikut bersamamu."
"Ingat saja mimpimu," Karen menatap Ayyara dengan senyum. "Maritz Azada tidak menyakitiku, dia ..."
"Belum," Kenzo menatap Karen. "Belum. Hanya menunggu waktu dan semua akan terlihat jelas."
Karen mengerutkan dahinya. Belum selesai bicara saat Zidan datang dengan tatapan dinginnya pada Kenzo yang dibalas tatapan datar oleh pria itu. Jenderal Kelas Satu itu menunduk sopan pada Karen dan Ayyara yang diam.
"Perayaan inti akan di mulai. Ada baiknya kalian berdua tetap di tempat pesta dan tidak pergi kemana pun," mata biru Zidan melirik Kenzo yang diam. "Begitu juga dengan Anda, Kaisar dari Selatan."
"Ayo," Karen menarik tangan Ayyara dan pergi meninggalkan Zidan yang mengikuti mereka di belakang. Kenzo menghela napas panjang, mengusap rambutnya dan pergi.
.
.
Genggaman Karen menguat saat Raja Matteo mendekati Ayyara. Tatapan marah dan mengintimidasi sepertinya membuat Ayyara ketakutan hingga tangannya gemetar di genggaman Karen.
"Berhenti menakuti adikku," Karen berujar dingin saat sepasang mata gelap itu menatapnya. Raja itu tersenyum kemudian. "Ah, maafkan aku Selir Miura, aku tidak bermaksud melukai adik tercintamu," tatapan Raja Matteo jatuh pada Ayyara. "Tidakkah kau jelaskan pada kakakmu apa saja yang sudah kulakukan untukmu?"
"Kau jelas menyakitiku," suara Ayyara dingin tapi terselip nada takut di sana. Raja Matteo hanya tersenyum dan melepas genggaman tangan Karen dari Ayyara dengan paksa. "Ya, baiklah manis. Aku akan bersikap baik padamu mulai hari ini. Ikut aku." Ayyara menatap Karen sekilas dan melepas genggaman tangan mereka. Karen menggeleng dengan wajah sedih saat Ayyara tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Aku janji aku akan baik-baik saja, Karen."
Begitu bisiknya sebelum sosoknya benar-benar pergi.
Karen menoleh saat melihat Kenzo berjalan menuju tempat para kaisar berkumpul. Mata Kenzo meliriknya dan setelah itu Kenzo memalingkan wajahnya. Karen kembali duduk di tempatnya, mendapati ada tatapan lain yang mengikutinya, Karen menoleh, mendapati Maritz Azada menatapnya tak berkedip dan kemudian menyeringai.
"Malam ini, aku akan mengenalkan siapa selir yang mendapat posisi tertinggi bersama marganya," Azada mengetuk jemarinya di atas kayu singgasana dan tersenyum samar. Membuat seisi pesta dalam keadaan hening dan Karen mengepalkan tangannya. Selir Parviz tampak bahagia dengan senyumnya, menatap para selir lainnya seakan-akan mereka sudah kalah.
"Kesayanganku,"
Mereka semua saling berpandangan. Wajah Selir Parviz memucat.
"Selir Miura."
Tidak.
Karen mendongak, menatap Maritz Azada yang menyunggingkan seringai puasnya.
Kenzo menoleh pada Karen. Pandangannya lirih dengan dahi berkerut. Menatap Karen bergantian dengan Maritz Azada yang melemparkan tatapannya pada Karen. Kerutan di dahi Kenzo semakin dalam saat tahu arti tatapan itu. Kala kedua iris segelap malam itu menoleh, menatap padanya. Aura mereka saling bertolak belakang.
Mengapa? Hanya dengan membaca matanya saja sudah terlihat jelas. Mengapa?
Mengapa Maritz Azada ingin membunuh Miura Karen?
Kenzo harus mencari jawabannya.