7

2000 Kata
Satu jam lebih Karen  menghabiskan waktu untuk merias diri dan itu membosankan. Ya, walaupun  dia akui berakhir sangat sempurna, tapi tetap saja, memakan waktu yang  lama. Karen keluar kamar  diikuti Hana yang sudah berganti pakaian dengan pakaian dayang saat  pesta berlangsung. Karen tersenyum saat Hana menunduk menyembunyikan  riasan yang Karen oleskan pada wajah polosnya. Karen terkikik geli,  membuat Hana semakin menyembunyikan wajahnya. "Tidak usah malu begitu," Karen melipat tangannya di depan d**a. "Kau cantik." Dan tersenyum lembut setelahnya. "Anda jauh lebih sempurna malam ini, Putri." Karen terkekeh. "Ya, ya, aku tahu," katanya sembari memutar-mutar tubuhnya dan tertawa. Membuat Hana ikut tertawa. Hana segera menunduk  memberi salam saat mereka berpapasan dengan Selir Parviz di depan  Istana Bunga yang ramai. Karen hendak berjalan menghindarinya tetapi  langkahnya terhenti karena Selir Parviz mencoba menahannya untuk tetap  berdiri di sana. "Siapa yang meriasmu?" "Kurasa dia orang yang sama yang juga meriasmu?" Karen mengangkat alisnya. "Riasan di wajah kita tidak jauh berbeda, bukan?" Selir Parviz mendengus sinis. "Heh, sebegitu besarnya kau ingin sepertiku?" Karen tersenyum manis.  "Ah, tidak juga. Gaya rambutmu sangat tidak cocok denganku. Lihat  sanggulmu ..." mata hijau Karen menulusuri rambut sanggul besar di  rambut merah Selir Parviz. "Kepalamu jadi dua kali lebih besar. Seperti  apa ya ... sarang burung?" Karen tersenyum saat  mendapati wajah itu memerah sempurna. Siap melayangkan umpatan kasar  atau pukulan yang mungkin membuat wajahnya lebam esok pagi. Karen juga  siap melayangkan tinjunya jika wanita itu berani macam-macam dengan melukainya. Dia tidak akan diam saja sekarang. Selir satu itu cukup berani menantangnya dan membuatnya terjebak dalam masalah berulang kali. Dia tidak bisa menerimanya. Karen hanya lelah menjadi pion perempuan picik satu ini. "Aku merasa jauh lebih  baik darimu malam ini," Karen mengangkat bahunya. Memamerkan gaya  rambut panjang bergelombang dengan aksen bunga kecil di helai rambutnya  pada Selir Parviz dengan angkuh. "Tidak apa jika kau ingin mengganti  gaya rambut kunomu sebelum terlambat. Pesta belum dimulai, Selir. Aku tidak keberatan jika kau mengikuti gaya rambutku yang bagus seperti  ini," Karen tertawa. "Kita ada di usia yang sama tetapi mengapa aku  merasa kau dua puluh tahun lebih tua dariku?" Dan kemudian berlari  menjauh sebelum Selir Parviz benar-benar memukulnya dengan sandal  kayunya yang tajam. Yang bisa membuat kepalanya mendapat luka jahitan nanti. . . "Salam, Putri." Karen menoleh.  Mendapati Jenderal Kelas Satu datang dengan senyum di depannya. Membawa  jiwanya yang terbang karena melamun kembali pada raganya dengan tergesa. "Aku tidak ingin pergi  dari sini, Jenderal," Karen menatap air mancur yang tenang dan  ikan-ikan yang berenang saling mengejar satu sama lain di dalam kolam.  "Aku ingin sendiri sekarang. Tolong, biarkan aku sendiri untuk sementara waktu. Aku akan segera kembali." "Pesta sudah dimulai. Anda tidak ingin melihat siapa tamu yang datang?" Karen menatap iris biru Zidan dalam-dalam. "Apa ada kejutan untukku?" Zidan tersenyum misterius. "Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Kau perlu melihatnya sendiri nanti." Karen berdiri kemudian.  Meninggalkan Jenderal Kelas Satu itu sendirian di belakang Istana Bunga  yang sepi. Zidan menghela napasnya, menatap punggung Karen yang mulai  berjalan menjauh dengan dalam lalu pergi. . . Karen duduk di kursi  kosong di mana kursi itu untuk dirinya. Dia menoleh, mendapati Maritz  Azada duduk menopang dagu di singgasananya dengan katana yang terselip  di dalam jubahnya seakan membuat bulu Karen meremang kalau-kalau katana  itu bisa menebas kepala siapa saja dalam kejapan mata. Memikirkannya  saja membuat Karen mual hingga dia duduk, menatap satu-persatu tamu  yang datang dengan bingung. Dan Karen hampir saja  melupakan satu fakta kalau dia akan bertemu Ayyara hari ini. Debaran jantungnya menggila, dadanya berdentum tidak biasa penuh rasa antisipasi  melihat adik tercintanya yang telah lama berpisah, kini kembali berjumpa dalam acara yang tidak terduga. Karen tidak lagi sabar menunggunya. Banyak pertanyaan yang  timbul di dalam kepalanya. Apa Ayyara baik-baik saja? Apa Ayyara terluka? Apa  Ayyara makan dengan benar? Apa mereka menyakitinya? Dan memikirkannya  membuat Karen ingin menangis memeluk sang adik. Karen meremas kedua  tangannya, dia menatap gusar pada pintu masuk dan bergantian dengan Hana  yang bingung menatapnya. Karen mengalihkan pandangannya dan wajahnya  diselimuti kebahagiaan saat dia melihat sosok Ayyara di belakang Raja  Matteo yang mempesona malam ini. Karen berdiri tiba-tiba  saat Ayyara memasuki pekarangan dengan wajah menunduk. Wajah Karen  berubah melihat bagaimana sang adik yang tidak terluka sedikit pun di  tubuhnya. Karen tahu dirinya menjadi pusat perhatian dan dia kembali  duduk, menyembunyikan wajahnya dan berharap tidak menangis. "Ayyara ..." Karen tersenyum lebar  saat dia melihat Ayyara tidak jauh duduk darinya dan Azada yang sedang  berbicara dengan Raja Matteo. Karen mendekati Hana yang langsung  mengerti apa yang Karen perintahkan padanya. Karen menunggu dengan  d**a berdebar, terlebih saat dia melihat Hana mendekati Ayyara dalam diam  dan gadis berambut pirang itu tersentak. Mata mereka bertemu. Ayyara  berdiri di tempatnya saat para tamu undangan mulai berdiri mengambil  makanan mereka. Ayyara menutup mulutnya, mata birunya tampak berkaca-kaca  begitu juga dengan Karen yang berlari memeluknya dengan erat. Tangis itu kemudian pecah. Membuat keduanya tersedu-sedu dalam isakan. Hana tidak mengerti apa  yang terjadi dengan keduanya dan juga hubungan apa yang terjalin di  antara keduanya. Mata cokelatnya menatap Ayyara dan Karen bergantian dan  terkejut saat menyadari sesuatu di dalam kepalanya. Mereka ... Putri Miura bersaudara? Karen menarik tangan  Ayyara untuk menjauh dari sana dan Ayyara menurutinya dengan senyum. Hana  mengikuti mereka setelah berjalan agak jauh agar tidak mengganggu reuni  kecil di antara keduanya. Tidak tahu kalau ada sepasang mata gelap yang  mengawasi mereka dari belakang. . . "Senang bertemu dengan Anda, salam." Hana memberi salam dengan sopan. "Perkenalkan, namaku Hana." Ayyara ikut menunduk,  membalas sapaan Hana dengan sopan. "Aku Ayyara," mata birunya melirik  Karen dengan bahagia. "Apa Karen menceritakanku padamu?" tanyanya pada  Hana dengan ceria. "Tanpa kuceritakan dia  tahu siapa kita berdua," jawab Karen santai. Membuat Ayyara menoleh dan  terkekeh geli. "Ah, begitu ... seluas itukah kita berdua dikenal? Aku tidak menyangka." Karen tertawa diikuti  Ayyara yang tertawa di pelukannya. Mereka ada di belakang Istana Bunga yang  sepi dan hanya ditemani puluhan lampion berwarna redup untuk  penerangan. Ayyara menatap lampion itu dengan senyum. Berkali-kali Ayyara  tertawa dan tersenyum. Rasanya begitu bahagia bertemu dengan saudaranya  setelah sekian lama. "Aku bersyukur kau  baik-baik saja," Karen tersenyum saat Ayyara menyentuh lampion di atas  kolam dan menoleh. "Aku juga bersyukur kau terlihat sangat baik,  Karen," Ayyara duduk di samping Karen. Menatap bintang-bintang di atas  langit. "Dan merindukan saat-saat seperti ini. Saat kita berdua berbagi  kisah dan impian kita seperti dulu." "Membicarakan kenakalanmu di waktu kecil?" Ayyara terkekeh. "Ah, itu juga." Hana ikut tersenyum  melihat keduanya. Dia berjalan mundur dan memilih mengawasi mereka dari  kejauhan. Mata cokelatnya tidak sengaja melihat Nisaka yang ikut  tersenyum dan melambaikan tangannya agar Hana mendekat dan mereka berdua  berada di tempat yang sama saat ini. "Itu Putri Ayyara?" Hana mengangguk menjawab pertanyaan Nisaka. "Kenapa mereka berdua  sangat cantik?" Nisaka tersenyum manis. "Aku senang mereka bisa bertemu  satu sama lain. Yang kulihat Putri Ayyara datang bersama Raja Matteo ...  apa yang terjadi?" Hana menggeleng menjawab pertanyaan Nisaka. "Aku tidak tahu. Ada sesuatu yang aneh di sini." "Aku juga berpikir  sama," Nisaka mengusap dahinya. "Kedatangan Putri Karen ke istana ini  dan juga Putri Ayyara yang tampak bahagia dan lepas bertemu dengan Putri  Karen. Apa mereka dipisahkan paksa?" "Atau mereka diculik?" Hana menutup mulutnya.  Menyadari ucapan Nisaka yang mengarah kemungkinan besar adalah  kebenaran. Nisaka menggeleng dan merasa menyesal mengucapkan kalimat itu  segera menunduk, memukul kepalanya dengan gemas dan mengumpat. "Tidak, lupakan," Nisaka tertawa lirih. "Itu tidak mungkin." "Permisi, di mana aku bisa tahu jalan untuk kembali dari Istana Bunga?" Karen dan Ayyara menoleh  bersamaan ke sumber suara pria di belakang mereka. Ayyara tersentak dan  Karen yang terkejut. Ayyara tertawa dan kemudian melemparkan dirinya ke  dalam pelukan sang pria. "Ayyara?" Karen mengangkat alisnya, tidak mengerti mengapa Ayyara terlihat akrab dengan pria itu? "Ah, Karen," Ayyara menepuk dahinya dan kemudian tertawa bersama pria tampan itu. "Kau tidak mengenalnya?" Karen tampak bingung.  Dia menatap Ayyara dan kemudian si pria tampan itu. "Tidak," Karen menutup  wajahnya. "Maafkan aku ... aku benar-benar menyesal." "Tidak apa," Karen menurunkan kedua tangannya. Mereka saling bertatapan. "Aku, Kenzo." Karen menatap uluran tangan itu, sekilas tampak ragu kemudian dia membalasnya dengan senyum. "Miura Karen." "Aku tahu benar siapa dirimu," jabatan tangan mereka terlepas dan Karen merasakan wajahnya merona. Ayyara terkekeh geli. "Tentu saja setelah kau  menyebutkan namamu Karen merona!" Ayyara tampak puas menggoda sang kakak.  "Karen tahu siapa yang menjadi kandidat kuat calon suaminya. Kalian  memang belum pernah bertemu tapi Karen sudah sering mendengar namamu  dari Ezra dan aku." "Aku pernah bertemu  dengannya," sela Kenzo. Wajahnya yang tampan tampak berpikir. "Masih  terlalu muda saat itu. Ezra mengajakku untuk berlatih panah bersama.  Aku melihat Karen di balkon dan dia tidak melihatku." "Maaf," Karen menjawab kecil. Membuat Kenzo tersenyum. "Tidak apa. Senang melihatmu di sini." Hana dan Nisaka saling melempar pandang mendengar apa yang diucapkan Ayyara tadi cukup mengejutkan mereka. Calon suami? Nisaka menoleh saat  mendengar langkah sepatu. Dia terkejut ketika melihat Jenderal Kelas  Satu mendekat ke taman dan segera gadis itu berlari mendekati Zidan,  menggandeng tangan pria itu dan membawanya berbalik. "Nisaka?" Nisaka tersenyum. "Ada  yang ingin aku bicarakan," jawabnya. Nisaka memuji dirinya sendiri yang  terlihat rileks dan tidak gugup. "Tentang penyerangan Istana Bunga,"  sambungnya. Zidan mengangkat alisnya, dia tersenyum setelah mengusap  pipi ranum gadis itu. "Ayo, kita bicara." . . "Tidak, dengarkan aku."  Karen menarik tangan Kenzo yang siap membawanya pergi dari sana. Ayyara  menatap mereka bergantian dengan wajah cemas. Wajah Kenzo yang  bersahabat dan tampak santai terlihat dingin saat Karen menceritakan  segalanya tentang apa yang terjadi dan bagaimana ide gilanya guna  menyelamatkan Ayyara dari kurungan Raja Matteo. "Aku akan mengembalikan  kalian berdua pada Ezra," Kenzo menatap Karen dengan lembut. "Kalian  tidak tahu bagaimana Ezra mencemaskan kalian barang lima menit saja  kalian tidak ada di istana?" "Aku tahu," Karen  menunduk, tampak bingung. Dia mendongak, mendapati Hana yang menatapnya  sedih. "Dengarkan aku, Kenzo, hanya ini cara satu-satunya yang bisa  kulakukan ..." "Dan membiarkanmu menjadi tawanan Maritz Azada?" Ayyara bergerak menengahi  mereka. Wajahnya terlihat kacau. "Tidak, Karen, ini tidak benar. Kau  melepaskanku tapi kau terkurung di dalam kandang singa? Kau gila? Apa  aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa memikirkanmu?" Ayyara tercekat di dalam  suaranya. Kedua mata birunya berkaca-kaca menahan tangis. "Tidak. Jika  kau mati, aku ikut bersamamu." "Ingat saja mimpimu," Karen menatap Ayyara dengan senyum. "Maritz Azada tidak menyakitiku, dia ..." "Belum," Kenzo menatap Karen. "Belum. Hanya menunggu waktu dan semua akan terlihat jelas." Karen mengerutkan  dahinya. Belum selesai bicara saat Zidan datang dengan tatapan  dinginnya pada Kenzo yang dibalas tatapan datar oleh pria itu. Jenderal  Kelas Satu itu menunduk sopan pada Karen dan Ayyara yang diam. "Perayaan inti akan di  mulai. Ada baiknya kalian berdua tetap di tempat pesta dan tidak pergi  kemana pun," mata biru Zidan melirik Kenzo yang diam. "Begitu juga  dengan Anda, Kaisar dari Selatan." "Ayo," Karen menarik  tangan Ayyara dan pergi meninggalkan Zidan yang mengikuti mereka di  belakang. Kenzo menghela napas panjang, mengusap rambutnya dan pergi. . . Genggaman Karen menguat  saat Raja Matteo mendekati Ayyara. Tatapan marah dan mengintimidasi  sepertinya membuat Ayyara ketakutan hingga tangannya gemetar di genggaman  Karen. "Berhenti menakuti  adikku," Karen berujar dingin saat sepasang mata gelap itu menatapnya.  Raja itu tersenyum kemudian. "Ah, maafkan aku Selir Miura, aku tidak  bermaksud melukai adik tercintamu," tatapan Raja Matteo jatuh pada Ayyara.  "Tidakkah kau jelaskan pada kakakmu apa saja yang sudah kulakukan  untukmu?" "Kau jelas menyakitiku,"  suara Ayyara dingin tapi terselip nada takut di sana. Raja Matteo hanya  tersenyum dan melepas genggaman tangan Karen dari Ayyara dengan paksa.  "Ya, baiklah manis. Aku akan bersikap baik padamu mulai hari ini. Ikut  aku." Ayyara menatap Karen sekilas dan melepas genggaman tangan mereka.  Karen menggeleng dengan wajah sedih saat Ayyara tersenyum dan melambaikan  tangannya. "Aku janji aku akan baik-baik saja, Karen." Begitu bisiknya sebelum sosoknya benar-benar pergi. Karen menoleh saat  melihat Kenzo berjalan menuju tempat para kaisar berkumpul. Mata Kenzo  meliriknya dan setelah itu Kenzo memalingkan wajahnya. Karen kembali  duduk di tempatnya, mendapati ada tatapan lain yang mengikutinya, Karen  menoleh, mendapati Maritz Azada menatapnya tak berkedip dan kemudian  menyeringai. "Malam ini, aku akan  mengenalkan siapa selir yang mendapat posisi tertinggi bersama  marganya," Azada mengetuk jemarinya di atas kayu singgasana dan  tersenyum samar. Membuat seisi pesta dalam keadaan hening dan Karen  mengepalkan tangannya. Selir Parviz tampak bahagia dengan senyumnya,  menatap para selir lainnya seakan-akan mereka sudah kalah. "Kesayanganku," Mereka semua saling berpandangan. Wajah Selir Parviz memucat. "Selir Miura." Tidak. Karen mendongak, menatap Maritz Azada yang menyunggingkan seringai puasnya. Kenzo menoleh pada  Karen. Pandangannya lirih dengan dahi berkerut. Menatap Karen  bergantian dengan Maritz Azada yang melemparkan tatapannya pada Karen.  Kerutan di dahi Kenzo semakin dalam saat tahu arti tatapan itu. Kala  kedua iris segelap malam itu menoleh, menatap padanya. Aura mereka  saling bertolak belakang. Mengapa? Hanya dengan membaca matanya saja sudah terlihat jelas. Mengapa? Mengapa Maritz Azada ingin membunuh Miura Karen? Kenzo harus mencari jawabannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN