Kini Pria yang baru beberapa menit yang lalu ia marahi, tengah duduk menatapnya datar. Sudah hampir dua puluh menit ia berada di ruangan ini, namun CEO itu sama sekali tak berbicara.
“Kenapa hanya diam dan tak berteriak seperti tadi? Apa suaramu hilang di bawa angin?” tanyanya sarkatis, setelah lama terdiam.
“Maaf, Pak.” Nada tidak berani menatap sang empu yang berbicara.
Lelaki itu berdiri dan berjalan pelan mengarah ke arah kaca yang menampakkan hamparan gedung tinggi. Dia tidak menatap Nada, melainkan membelakanginya. “Kata maaf tidak bisa menaikkan harga diriku lagi. Amarah konyolmu tadi, membuat harga diriku jatuh sejatuh-jatuhnya.”
“Apa yang bisa saya perbuat untuk menebus kesalahan saya tadi, selain kata maaf, Pak?”
Tanpa di sadari, Pria itu tersenyum lebar. Sebuah senyuman kemenangan mendengar Nada seperti memohon padanya. “Pengunduran diri?”
Deg!
Nada tersentak kaget apa yang ia dengar barusan.
"Ya, gue mau aja angkat kaki dari Kantor lo dan lebih milih kerja di Kantor Daniel, tapi lebih baik jangan! Bisa di jadiin Babu beneran gue sama dia kalo gitu caranya." Celoteh Nada dalam batinnya.
“Pak, apa gak ada cara lain ya, selain pengunduran diri?” Nada memasang wajah semelas mungkin, walaupun ia tahu David tidak akan melihatnya.
“Tidak ada. Cepat kau angkat kaki dari sini. Pakaian yang kau kenakan semakin membuat muak!”
Emosi Nada yang telah lama redam, ingin keluar lagi saat mendengar celetukan dari David. Takut jika nantinya membunuh Pria di hadapannya, tanpa pikir panjang lagi Nada menyetujui untuk mengundurkan diri.
“Oke, saya mengundurkan diri! Bye, Nightmare CEO!”
Kedua bola mata David melotot bersamaan mendengar ucapan Nada yang terakhir. Ketika ia hendak berbalik, suara seseorang wanita mengintruksi.
“Ah, sebuah kejutan yang istimewa! Putri Arandito, kenapa kau bisa sampai di sini? Tersesat, huh?”
David dan Nada, sama-sama memasang wajah terkejut sekarang. Namun rasa terkejut dari ekspresi wajah mereka berdua, berbeda makna. Nada yang terkejut akan kedatangan orang yang teramat ia benci dalam hidupnya setelah sosok Ayah. Dan David yang terkejut mengetahui fakta bahwa, Nada adalah Putri tunggal Arandito. Yang artinya, dia Sepupu musuh pebuyutannya—Daniel Smith.
“Kamu... KAMU PEMBUNUH MAMA SAYA, KENAPA ADA DI SINI, HAH?!”
“Pembunuh Mama? Apa maksudnya semua ini?” David menatap bingung dua Wanita di hadapannya bergantian.
Wanita yang di sebut sebagai pembunuh Mama oleh Nada, menaikkan satu alisnya. Kedua tangannya bersedekap d**a. “Ini kantor Pacar gue, lah!”
Tatapan Nada beralih cepat menatap David.
“Seharusnya gue nanya ke elo, ngapain di mari?! Mau godai pacar gue, lo?” sambungnya, semakin memanaskan hati Nada.
“Gak ke balik yah, Setan?! Kamu yang suka godai cowok orang! Dasar w************n, gak ada harga diri! Semoga laknat Allah segera menimpa, kamu!!!”
Udara mulai terasa enggan untuk Nada hirup. Napasnya tercekat di tengah-tengah tenggorokan. Penyakit keturunan yang sejak kecil ia derita, kambuh kembali.
“Jangan salahin gue, tapi salahin Bokap, Nyokap, lo! Pertama, salahin Bokap lo yang matanya jelalatan! Kedua, ini juga salah Nyokap lo yang nggak bisa jaga diri kayak gue! Kualitas kecantikan Nyokap lo itu rendah, makanya lakinya kabur!”
Emosi Nada semakin naik hingga ke ubun-ubun ketika mendengar nama Almarhumah Mamanya dijelekkan. Nada sungguh tak terima!
“Zihan, sudahlah! Hentikan semua ini! Jangan membuat keributan.” sahut David yang langsung dihadiahi pelototan tajam dari Zihan.
“Kenapa?! Oh, kamu mau bela, dia!” Zihan menunjuk tepat ke arah Nada yang memegang dadanya yang terasa sesak.
David tidak bisa berkata apa pun lagi. Dia tidak bisa berdebat dengan seorang Wanita. David setelahnya diam, dan hanya menatap lurus ke arah Nada.
“Dengar ini baik-baik, Pelakor!” Nada menatap tajam Zihan dengan napas yang naik turun. “Kamu itu emang gak sadar diri dan mahkota kamu sebagai seorang wanita sudah sangat jatuh! Kualitas kecantikan Mama saya emang rendah, tapi setidaknya kualitas akhlak beliau jauh lebih tinggi dari pada, kamu!!!”
Zihan malah tersenyum manis, menanggapi kemarahan Nada yang membara. “Terserah apa kata lo, b***h! Lo mau bunuh gue sekalipun, Mama lo tetap gak akan balik lagi! Yang mati tetaplah mati! Dan mungkin, lo bakalan nyusul kematian Mama lo di Neraka."
Ucapan Zihan tadi, semakin menambah rasa sesak dalam d**a Nada. Sebenarnya ia ingin membalas lagi ucapan Zihan itu, namun bibirnya sulit berucap. Jantungnya berdebar tak karuan. Napas Nada pun, mulai menimbulkan suara yang melengking.
Dua detik berikutnya...
Bruk!
Tubuh Nada jatuh ke lantai, dan kedua mata wanita itu tertutup rapat.
°°°
Sandryna datang ke Rumah Sakit Effendi untuk menemui dokter Juna, dengan niat memberitahu pasal perjodohannya. Alasan Sandryna menemui dokter Juna, juga sebagai pertemuan terakhir.
“Code blue! Code blue! Pasien dengan syok kardiogenik!”
Bersamaan dengan bankar pasien yang menuju ruang UGD, kedua bola mata Sandryna terbelalak. Bergegas Sandryna menyusul bankar itu.
“Naya, Nada kenapa?!” tanya Sandryna panik.
“Penyakitnya kambuh lagi, San!”
“Astaghfirullah, kok bisa?!” Sandryna melihat seorang dokter yang datang. Segera dia menghampiri dokter itu. “Dok, ini Sahabat saya! Tolong selamatkan dia, dok!”
“Iya, Mbak, tapi Mbaknya tolong menjauh sebentar. Saya akan memeriksanya.” Jawab dokter itu yang diangguki Naya dan Sandryna bersamaan.
Sandryna dan Naya menunggu di luar UGD. Mereka duduk bersebelahan, dengan pikiran yang kacau. Waktu terus berlalu, dokter yang memeriksa Nada tadi menghampiri mereka.
“Bagaimana keadaan Sahabat saya, Dok?” tanya Sandryna langsung, begitu dokter itu sampai.
“Seperti biasa setiap kali ke Rumah Sakit ini, penyakit lamanya pasti kambuh. Inhaler Nada juga telah habis, saat saya mengeceknya. Nanti akan saya siapkan yang baru. Mungkin Nada lupa memberinya.”
Ucapan Dokter itu berjeda. Ia menatap Sandryna dan Naya bergantian. Sedangkan Sandryna menatapnya penuh tanda tanya. “Kok nih, dokter tau Nada? Pacarnya Nada atau gimana?” batin Sandryna heran.
“Kalian berdua ini, Sahabatnya Nada?”
Batin Sandryna terputus, di saat suara Dokter itu terdengar lagi. Sandryna mengangguk mengiyakan.
“Jangan bilang sama Daniel, kalau Nada dilarikan ke rumah sakit. Dia ada di Jerman untuk meeting hari ini. Nada berpesan seperti itu tadi. Dia tidak ingin, Daniel cemas. Dan kalian berdua, sudah di perbolehkan masuk. Nada sudah siuman.”
“Tunggu, Dok, maaf menyela.”
Terlihat dokter itu menunggu apa yang akan Sandryna bicarakan.
“Dokter kenal, sama Nada dan Sepupunya?”
Pertanyaan Sandryna, diangguki Dokter itu berkali-kali. “Ya, Nada adalah pasien pribadi kami di sini. Dari kecil, dia sering bolak balik Rumah Sakit karena penyakit keturunan yang ia derita. Karena itu juga, saya dekat dengan Sepupunya, Daniel.”
Sandryna mengangguk sembari ber-O ria, mendengar penjelasan dari Dokter itu. Sekilas Sandryna sempat membaca name tag di Jas Kedokteran yang ia kenakan.
“Faisal Muhammad Effendi? Effendi? Pemilik Rumah Sakit ini, kah?” tanya Sandryna di batinnya.
Akhirnya, Sandryna lebih memilih menjenguk Nada untuk melihat keadaan Sahabatnya itu, dari pada menghampiri Dokter Juna. Baginya, hal itu bisa dilakukan lain waktu.
°°°
Keempat Sahabat Nada, semuanya telah berkumpul di ruangan Nada di rawat. Demi menjenguk Nada, mereka rela meninggalkan pekerjaan di Kantor.
“Daniel udah tau, Nad?” tanya Lala yang di balas gelengan kepala dari Nada.
“Dia gak perlu tau. Kalo dia tau, gue takut dia cemas. Gue gak mau dia cemas, La.”
“Iya, Dokter tadi juga udah ngomong.” sahut Sandryna. “Siapa itu namanya? Faisal. Dia katanya kenal sama lo dan Daniel.”
Nada mengangguk sebagai jawaban.
“Eh, Lala, kok, lo tau Daniel?” tanya Aisy yang dari tadi sebenarnya memang bingung.
Lala mengangguk. “Emang gue kenal dia, karena dia dulu temen satu kelas gue di SMA kelas sembilan. Sama kayak Reza, lah.” ketika mengucapkan nama Reza, tenggorokannya terasa tercekat.
Aisy lantas mengangguk. Ia menyimpulkan, jika Nada juga mengetahui pasal Lala yang berteman dengan Daniel. Dilihat dari ekspresi Nada yang tampak biasa saja.
“Ngomong-ngomong, kenapa penyakit lo bisa kambuh lagi, Nad? Pasti ada penyebabnya, kan?” sahut Aisyah, memecahkan suasana hening.
Nada tidak menjawab. Ia malah memandang Aisyah, dan semua orang bergantian. Melihat tingkah Nada yang seperti itu, Naya pun bertindak untuk menjelaskan. “Mama tiri Nada datang ke kantornya.”
“Hah, kok, bisa?” Aisy memandang Nada terkejut. Semua Sahabatnya sudah mengetahui betul, perkara masalah kelam keluarga Nada dulu.
“CEO pusat Nada datang, dan pacarnya dia itu ternyata Mama tirinya Nada.”
“Dia bukan Mama gue!” suara Nada menyela tegas.
“Terus yah, gitu, deh. Terjadi adu mulut antara Nada dan Zihan. Gue juga gak terlalu tau.”
Kini semua tatapan lima orang wanita itu, mengarah lurus ke arah Nada yang menduduk. Mereka memandang Nada sendu. “Aisy, jangan kasih tau Daniel ya, pasal kedatangan CEO pusat Kantor gue.”
Alis Aisy berkerut bingung. “Lah emang kenapa?
Nada terdiam, tampak memikirkan ucapan dia selanjutnya. Tidak mungkin dia harus mengatakan sejujurnya sebab pertengkaran David dan Daniel, hanya karena masalah sepele.
“Nada...”
Nada tersentak dari lamunan, karena suara Aisy yang memanggil namanya. “Maaf, gue gak bisa kasih tau.”
Aisy menghela napas panjang. Dia coba memaklumi apa yang Nada putuskan.
“Waktu yang akan memberi tau semuanya, Sy.” batin Nada.
Suasana hening sejenak, sampai Sandryna berucap. “Guys, ada sesuatu yang mau gue omongin sama kalian. Mumpung lagi kumpul semua.” tampak semua orang tengah menunggu apa yang akan Sandryna ucapkan selanjutnya.
“Gue di jodohin.” sambung Sandryna, berhasil membuat semua orang terkejut.
“What? Seriously?” tanya Lala heboh.
“Impossibble!” Aisy juga ikut menyahuti.
“Di jodohin? Dengan siapa?”
Bahu Sandryna keduanya terangkat tak tahu, menjawab pertanyaan yang di lontarkan Aisyah. “Aneh kan, Mama gue? Main jodohin aja padahal gue sendiri gak tau tampang, dan nama orang itu pun gue gak tau.”
“Jangan protes, San! Itu salah satu Qadarallah! Allah telah menuliskan dan menetapkan ketentuan takdir setiap makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”
Sahutan Nada barusan, nyatanya memberikan pencerahan pada Sandryna tiba-tiba. Wanita menimbulkan seulas senyuman. “Iya, kayaknya Lelaki yang di jodohin dengan gue, mungkin sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Mungkin inilah jawaban atas do'a-do'a gue selama ini.”
“Yang terpenting, dia Sholeh dan bisa membimbing lo ke Jannah Allah bersama. “ sambung Aisy menimpali.
“Berarti... Tinggal nunggu undangannya aja, nih! Ajegile, makan rendang!” ucap Naya yang dibalas tawa geli dari mereka semua.
°°°
Alis Aisy berkerut bingung, menatap nomor tidak di kenal yang menelepon dirinya di malam hari. Aisy bingung antara harus menjawab atau tidak. Tapi disisi lain, Aisy takut ini telepon dari seseorang yang penting.
“Coba angkat aja, deh. Semoga bukan orang aneh. Bismillah...”
Aisy pun memutuskan untuk mengangkat telepon tidak di kenal itu. Pertama kali yang Aisy lakukan ketika sambungan tersambung yaitu, mengucap salam.
“Assalamu'alaikum?”
“Halo, hijabers Aisy yang cantik pakek bangeettt!!"
Kuping Aisy terasa berdengung hebat. Dia sangat mengetahui betul siapa nomor tak di kenal yang meneleponnya sekarang, tanpa dia bertanya. “Maaf, ya, Pak Daniel. Saya mau tanya.”
“Iya, tanya aja. Mumpung gratis, loh...”
Bola mata Aisy berputar malas. Selalu saja ia melakukan ini, saat berhadapan dengan Daniel. “Anda seorang Muslim, kan?”
Dari seberang telepon, alis Daniel berkerut bingung akibat pertanyaan yang Aisy lontarkan. “Tentu dong, aku seorang Muslim!”
“Kalau Anda seorang Muslim, harusnya Anda menjawab salam dari saya tadi!”
Daniel terkekeh garing di seberang telepon. “Oh, ya, lupa. Sorry. Aku ulangi lagi, ya. Wa'alaikumsallam, calon istri...”
Untuk yang kedua kalinya, bola mata Aisy berputar malas. “Lain kali kalo orang beri salam, Anda harus menjawabnya. Memberi salam itu sunnah, sementara menjawabnya itu wajib! Anda harus ingat ini, biar gak berbuat kesalahan lagi! Misalnya Anda gak ngejawab salam, dosa loh, Daniel!”
Celotehan panjang lebar Aisy, hanya Daniel balas dengan anggukan kepala sambil bergumam. Supaya cepat selesai, dalam batinnya. “Jadi, kenapa Anda nelfon saya malem-malem begini?” tanya Aisy langsung pada intinya.
Daniel berdecak di seberang sana. “Bisa gak, jangan makek bahasa formal. Panggil aja aku kamu, gitu. Biar kita makin deket.”
“Terserah, kamu! Cepetan kamu mau ngomong apa, aku gak bisa lama-lama.” Intonasi suara Aisy tiba-tiba meninggi. Terdengar ia menggumam pelan. “Lama-lama ngomong di telepon bisa kena ikhtilat.”
“Aku mau minta maaf untuk masalah yang kemarin. Kamu jangan marah lagi. Maaf lagi, karena aku baru minta maaf sekarang, soalnya kemarin sibuk banget meeting di Jerman.”
Aisy sedikit terkejut, mengetahui tujuan Daniel meneleponnya malam-malam hanya untuk minta maaf. Namun di sisi lain, ada rasa senang di diri Aisy. Lelaki yang ia anggap buruk ini, setidaknya mau meminta maaf terlebih dahulu.
“Eum, Aisy... Kita tetep jadi Rekan Bisnis, kan?”
“Ya, kita tetep jadi Rekan Bisnis, dan aku udah maafin, kamu.” walaupun sedikit sulit untuk menjawab, Aisy tetap memberi jawaban.
“Alhamdulillah banget yah, sesuatu... Terus, kapan kita meeting lagi? Aku masih ada di Jerman. Lusa kira-kira balik ke Jakarta.”
“Nanti aja aku kabari. Aku gak suka janji-janjian.”
“Sama, dong! Aku juga gak suka kasih janji, apa lagi palsu. Aku sukanya kasih bukti!” lantas setelahnya, Daniel terkekeh garing.
Karena tidak ingin terlalu lama terjebak dalam komunikasi jarak jauh yang dapat menimbulkan Zina ini, Aisy memutuskan segera mengakhiri panggilan. “Daniel, ini udah malam. Aku tutup ya, telefonnya?”
“Iya, jangan lupa ngabarin kalo mau meeting. Jangan dadakan, oke.”
“Iya, Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsallam.”
Dari belahan bumi yang berbeda, seorang Pria tampak tersenyum lebar setelah bercengkerama lewat telepon dengan Wanita pujaannya. Dia menatap langit-langit kamarnya. “Kok, hati gue kayak aneh, ya?” gumamnya bermonolog sendiri. “Gue yang nge-gombali dia terus, tapi kok... Lama-lama gue sendiri yang baperan jadinya?”
Daniel menghembuskan napas. “Apa mungkin, gue bisa mendapatkan hati seorang hijabers?”
“Bisa aja!”
“Anjir!”
Daniel dibuat terkejut, lantaran kedatangan seorang wanita cantik yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya. Mata wanita itu berkedip-kedip bingung, melihat Daniel yang mengelus-elus dadanya. “Lo kenapa, Bang? Kayak abis ngeliat Setan, gitu?” tanyanya.
“Elo Setannya, Jumi!”
“Anjiran... Adek kandung sendiri di bilang Setan! Emang Abang laknat bener lo, dah, Daniel! Misalnya gue Setan, berarti lo Dajjal!” balasnya lagi dengan intonasi suara yang lebih tinggi.
“Bacot! Ngapain lo di kamar gue, hah?” tanya Daniel sewot, terkesan dari cara bicaranya, ia tak ingin basa-basi.
“Gak usah pakek hah segala! Napas lo bau bangkek!” balas Devina tak kalah sewot. “Gue cuma mau mantau lo aja. Siapa tau, lo lagi kayang.”
“Laknat lo, Devina! Kayang? Lo kira gue kerasukan!”
Kedua bahu Devina terangkat acuh. “Mungkin, secara... Lo tadi aja ngelamun sambil senyum-senyum gaje. Yang lebih gilanya lagi, lo berharap dapati hati seorang hijabers!” dan Devina malah tertawa mengejek.
“Lah? Apa salahnya sih, berharap?”
“Ya... Boleh-boleh aja berharap, tapi kira-kira!” Devina mengambil jeda tiga detik. “Setau gue nih, ya... Kebanyakan cewek berhijab itu, Agamanya beuhhhh... Patut di acungi jempol, lah! Kalo Agamanya udah bagus, mereka pasti akan milih pendamping yang Agamanya bagus juga. Lah, elo? Al-Fatihah aja gak hapal, gimana mau ngedapetin hati seorang hijabers?!”
Celotehan panjang lebar dari Devina tadi, jujur saja sedikit menyentak hati Daniel yang terdalam. Daniel menatap Devina—Adik Kandungnya dengan tatapan lurus.
“Eh, dugong! Ngapain lo liat gue gitu amat?! Baru sadar lo, kalo gue ini ternyata cantik badai?”
Kepala Daniel menggeleng beberapa kali, masih dengan tatapan awal.
“Nggak! Bukan itu, Dev.”
“Lah, terus?”
“Gue baru sadar, kalo otak lo lurus kayak sekarang, ternyata lo bijak juga.”
“k*****t! Berarti dulu-dulu, otak gue bengkok, gitu?” Daniel menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
“Lebih tepatnya bukan bengkok sih, tapi kebelit.” sambungnya, menambahkan.
“Stupid very, Setan! Gue ngambek sama, lo! Bye!” Devina berlalu pergi.
Tetapi secepat kilat suara Daniel menyahut dari belakang. “Lo jadi ikut balik ke Jakarta kan, Dev?!”
“Yaiyalah, masa gak pula!” jawabnya berteriak, dari arah luar Kamar.
°°°