Part 1

2278 Kata
“Kayaknya kita emang di Takdirkan berjodoh.” Bola mata Aisy berputar malas beriringan dengan hembusan napas kasar. Pandangannya beralih menatap Nada yang sedari tadi terus menahan tawa. “Nada, tolong bilang ke Sepupu lo, kalo kita sedang membahas pembangunan Food Court gue, bukan ajang nge-gombal!” Sekilas Nada tertawa, lalu kepalanya menoleh menatap Daniel. “Daniel, yang serius dong, ah! Entar kalo lo gak serius, Aisy ngambek terus pulang, loh.” “Oh, iya-iya, maaf.” Daniel menegakkan punggungnya menjadi tegap. “So, hijabers, kamu mau buka bisnis Food Court nih, ceritanya?” Aisy mendengus. “Tolong panggil nama saya yang benar. Nama saya itu Aisy, bukan Hijabers!” “Nama saya, Daniel. Daniel Smith, Pria idaman seluruh wanita di Jagad Raya.” sela Daniel cepat. “Anggap aja hijabers adalah panggilan sayang aku buat, kamu. Kamu juga seorang hijabers, jadi gak ada alasan untuk protes.” Bola mata Aisy berputar malas. Merasa suasana semakin tegang, Nada mencoba membalikkan keadaan. “Untuk mempersingkat waktu, gimana kalo kita langsung mulai aja pembahasan bisnis yang akan Aisy jalani?” Usulan Nada pun disetujui. Mereka mulai membahas proyek pembangunan bisnis Food Court Aisy kedepannya.  “Bagaimana? Siap bekerja sama dengan saya?” tanya Aisy sumringai.  Tampak Daniel berpikir sebentar. Sedetik kemudian ia tersenyum. Tubuhnya ia lebih condongkan ke depan. “Bukan hanya siap, tapi mau.” Jawabnya samar-samar terdengar seksi.  Aisy menjauhkan tubuhnya ke belakang, karena tubuh Daniel yang semakin maju ke depan. Raut wajah wanita itu terlihat ketakutan, melihat tubuh Daniel perlahan mendekat terus.  Detik kemudian...  Byur!  Es jeruk yang berada di atas meja, Aisy siram tepat di wajah Daniel. Semua orang yang berada di cafe itu, kini menatap mereka.  “Astaghfirullah!” Nada membekap mulutnya lantaran terkejut. Di sisi lain, ia ingin tertawa melihat wajah Daniel yang basah.  “Apa masih kurang, Mas? Mau nambah lagi?” tanya Aisy dengan tatapan yang menajam. Daniel masih tersenyum lebar. Ia mengambil tisu yang ada di atas meja, lantas dia membersihkan wajahnya yang basah.  “Boleh. Soalnya, airnya dingin. Kayak, kamu...” Jawaban yang Daniel berikan, membuat Aisy geleng-geleng kepala tak habis pikir. Aisy menoleh cepat ke arah Nada.  “Persetan dengan masalah bisnis! Gue mau pulang, Nad! Sepupu lo udah gak waras! Assalamu'alaikum.” “Eh, wa'alaikumsallam,”  Awalnya Nada ingin mengejar Aisy, tetapi ia mengurungkan niat. Sedetik kemudian, Nada menoleh ke arah Daniel. Tatapannya menatap tajam Daniel yang sibuk membersihkan wajah.  “Liat, tuh, Aisy jadinya marah! Elo sih, pakek ngegombal segala! Gue udah peringati ke elo, tapi nggak di denger!” celotehan Nada itu, di balas tatapan acuh oleh Daniel. Bukan perasaan bersalah.  “Salah sendiri, kenapa dia bisa cantik banget.”  Nada menekukkan wajahnya. Daniel yang merasa jika Nada telah marah padanya, berusaha membujuk. “Lo jangan marah. Nanti malem gue minta maaf deh, ke dia. Tanpa lo suruh malah, karena dia itu udah jadi target gue.” Dan Nada sontak terkejut mendengar ucapan akhir Daniel. °°° Kejadian di Masjid ketika bertemu dengan Alif kemarin, masih ia pikirkan hingga sekarang. Aisyah duduk termenung di pekarangan belakang panti. Suasana malam yang sunyi, menjadi temannya kali ini. Lama kelamaan, Aisyah semakin tenggelam dalam ingatan masa lalu. Masa lalu di mana, ia berani mengorbankan seseorang yang amat ia cintai.  “Astaghfirullah, Nabila, Kamu mengidap penyakit kanker otak stadium empat?!” Aisyah menatap syock Nabila yang duduk dihadapannya.  “Iya, Mbak” Nabila menunduk menahan tangis.  “Ya Allah, Nabila... Kenapa kamu baru bilang sekarang? Terus, apa kata Dokter?” Aisyah menatap serius Nabila yang menunduk.  Perlahan Nabila mengangkat wajahnya. Ia menghapus air mata di pipinya. “Kata Dokter, aku harus operasi segera, Mbak.” “Kedua orang tua kamu udah tau? Nabila mengangguk pelan. “Udah, Mbak. Kata Mama. aku harus operasi di Inggris. Kalau aku ke sana, aku pasti nggak bisa pulang lagi ke Indonesia.” Aisyah menatap wajah Nabila yang lesu. “Nabila.” ragu-ragu Aisyah memanggil nama Wanita itu. “Apa?” “Alif udah tau penyakit yang kamu derita?” Perlahan Nabila menggeleng lemah. “Belum, Mbak. Aku takut Mas Alif khawatir. Lagi pula, sebentar lagi Mbak sama mas Alif mau nikah.” Aisyah mengetahui betul ucapan Nabila tadi, tengah menyindirnya secara halus. “Nabila... Kamu beneran suka sama Alif” Nabila mengangguk semangat. “Bukan hanya suka, Mbak. Tapi bener-bener Cinta!” ucapan Nabila, berjeda tiga detik. “Tapi bentar lagi kan, Mbak mau nikah sama Mas Alif." Tiba-tiba wajah Nabila berubah lesu. Aisyah yang melihat perubahan wajah Nabila, merasa ikut sedih. Aisyah tidak ingin menyakiti hati Nabila yang telah rapuh. Cukup raganya saja yang terluka akibat penyakit yang ia derita. Jangan pula hatinya. Maka dari itu, tanpa pikir panjang Aisyah memutuskan suatu hal yang tersulit seumur hidupnya.  “Nabila, kamu bakalan nikah sama Alif. Aku janji.” Nabila terbelalak. Menatap Aisyah tak percaya. “Beneran, Mbak?!” Aisyah mengangguk meyakinkan, membuat Nabila sontak memeluknya.  “MasyaAllah, Makasih, Mbak!” “Sama-sama. Semoga kamu bahagia, ya. Sebentar lagi Alif akan terus berada di samping kamu, tanpa niat beranjak pergi. Dia akan terus menemani kamu untuk tetap hidup. Dia sumber kehidupan, kamu.” °°° “Bu Aisyah!” kedatangan Khadijah—salah satu pengasuh panti, mengejutkan Aisyah.  “Astaghfirullah, Khadijah, kamu ngagetin saya!” Khadijah terkekeh hambar. “Maafin saya, Bu. Ibu Aisyah kenapa bengong? Ini malem, Bu. Tiati, entar kesambet, loh.” “Gak akan kesambet. Saya sambil dzikir, kok, dalem hati.” “Oh, ya, Bu, saya mau tanya. Ibu jadi, nyari guru ngaji untuk anak panti?” Aisyah menganggukan kepalanya berkali-kali mengiyakan pertanyaan Khadijah tadi. “Jadi kok, jadi. Udah ketemu guru ngajinya?” “Belom, Bu. Saya cuma mau nanya, kali aja nggak jadi. Kalo jadi, saya akan secepatnya nyari guru ngaji yang terbaik.” Aisyah tersenyum menanggapi. “Makasih Khadijah, atas bantuannya.” “Gak masalah kok, Bu.” Lantas setelahnya, mereka sama-sama terdiam. Aisyah membuka obrolan.  “Khadijah, saya mau tanya sesuatu?” “Iya, Bu. Mau tanya apa?” “Cinta terbaik itu yang gimana menurut, kamu?” Lontaran pertanyaan dari Aisyah, membuat Khadijah terdiam untuk berpikir. Tiba-tiba senyuman terukir manis di bibirnya.  “Cinta yang dalam diam memperjuangkan dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan.” Khadijah tersenyum menatap Aisyah yang wajahnya seperti memikirkan suatu hal sulit. Suara Khadijah lantas menyahuti lagi.  “Adam dan Hawa pernah terpisahkan sangat lama oleh jarak, tapi mereka di pertemukan lagi atas izin Allah. Dari kisah mereka, Ibu bisa mengambil kesimpulan kalo Jodoh itu gak akan ke mana dari ujung dunia sekalipun ia berada.” Setelah berucap demikian, Khadijah berlalu pergi mengucapkan salam. Sementara Aisyah? Masih terdiam. Pikirannya masih bergelut dengan pertemuannya dan Alif. Aisyah juga memikirkan perkataan Khadijah barusan. Seakan wanita itu mengetahui apa yang tengah ia pikirkan.  Aisyah menghembuskan napas. “Ya Allah, biarkanlah cinta ini hinggap di setiap hembusan angin yang menggetarkan dedaunan. Atau pada kelopak-kelopak bunga yang siap bermekaran. Hingga ia layu dan siap ditelan Zaman.” °°° Nada benar-benar konsisten akan ucapannya kemarin. Pada hari ini, Nada masuk kerja dengan menggunakan hijab syar'i. Penampilan Nada yang sangat berbeda kali ini, sangat membuat Naya—teman sekantornya terkejut.  “Nad, lo yakin mau pakai hijab seterusnya?” Nada mengangguk mantap. “Yups! Dan lo, kapan mau nyusul gue?” Naya menggaruk kepalanya yang tak gatal mendapati lontaran pertanyaan Nada. “Gue belom dapet hidayah. Tunggu gue bener-bener siap. Gue juga mau hijabin hati gue dulu, baru hijabin diri.” “Nay, kalo elo belom berasa dapet hidayah, maka elo sendiri yang harus jemput hidayah itu. Gimana mau dapet hidayah, sementara elo mau hijabin hati? Ya, hati lo tertutup dong, untuk nerima hidayah yang Allah beri. Mau nunggu sampe siap untuk berhijab, sampai kapan diri ini akan siap?” Tidak jawaban berarti yang Naya bisa timpali. Ia kalah berdebat dengan Nada, jika dalam urusan Agama. Malas berdebat lebih panjang, Naya pun menganggukan kepala sebagai jawaban. “Oke, insyaAllah gue akan coba.” “Sebagai salah satu sahabat lo, gue akan bantu lo berhijab.” Seulas senyuman tulus, terukir di bibir Nada.  Drt... Drt...  Senyuman itu tak berlangsung lama, sebab suara dering telepon terdengar nyaring. Nada melirik ponselnya di sebelah. Melihat ekspresi Nada yang berubah datar, Naya tau betul siapa si penelepon. “Sesuai apa kata lo tadi. Sebagai sahabat, gue juga akan membantu lo berdamai dengan Takdir.” “Untuk masalah ini, lo gak perlu ikut campur apa pun, Nay.” Suara Nada terdengar dingin.  “Gue berhak, karena kita ini sahabat! Persahabatan itu seperti tangan dan mata. Ketika tangan terluka, mata menangis. Ketika mata menangis, tangan menghapusnya.” Brak!  “Ini masalah keluarga, lo gak berhak tau!”  Naya terpelonjak kaget, ketika tiba-tiba saja Nada memukul meja. Napas wanita yang kini telah berhijab itu, naik turun. Tidak ada pembicaraan lagi, karena Nada langsung berlalu pergi.  “Dia itu Papa lo, Nad. Lelaki yang menjadi cinta pertama, lo. Lelaki yang nggak akan menyakiti lo, setelah Rasulullah. Lo beruntung karena masih mempunyai sosok Ayah. Sementara gue? Kedua orang tua gue gak ada lagi. Gue harap, lo gak akan nyesel nantinya.” ucap Naya lirih, memandang ke arah pintu keluar yang Nada lalui. °°° Nada memilih keluar ruangan untuk mencari udara segar, dari pada melanjutkan perdebatannya dengan Naya. Mengingat ia sekarang sudah berhijab, sudah sepantasnya ia juga menjaga emosi. Di saat Nada sampai di lobby, Nada di kejutkan oleh suatu hal. Seorang office boy yang sudah renta, tampak dimarahi oleh sosok Pria berpakaian serba formal. Bergegas Nada menuju ke tempat kejadian.  “Eum, Mas, Pak, Om, Abang, ini kenapa yah, pada ribut-ribut? Lagi PMS berjamaah atau latihan sinetron film adzab?” Kedatangan Nada yang langsung berceloteh tak jelas, membuat Pria yang memarahi OB tadi, menatapnya tajam. Tatapannya menyelidik Nada dari atas hingga ke bawah.  “Siapa Wanita terorist ini?” Deg!  Jiwa Nada terasa dihujani oleh bara api, ketika mendengar ucapan Pria tampan di hadapannya ini. “Eh, Pak! Atas dasar apa Bapak seenaknya saja manggil saya terorist?!” Kemarahan Nada yang menggebu-gebu, menimbulkan senyuman di bibir Pria tampan itu. Tubuhnya ia condongkan lebih depan ke arah Nada.  “Apa kau memang tidak tahu, apa pura-pura tak tahu? Agamamu itu sesat, Nona. Islam itu, Agama perkumpulan terorist.” “Denger yah, Pak! ISLAM BUKAN TERORIST DAN TERORIST BUKAN ISLAM!” Napas Nada naik turun, menatap tajam pria dihadapannya. Nada mengatur deru napasnya yang menderu. “Jika Islam memang terorist, apa buktinya, hah?!” “Islam memang terorist. Apa kau masih saja mengelak, hm? Lihatlah di berbagai media bahkan berita. Banyak orang muslim yang tertangkap akibat menaruh bom di sembarang tempat. Jelas-jelas Agama mu itu sesat.” Balas Pria itu dengan suara yang memberat, terkesan meremehkan. “Kalau Islam memang terorist, maka sudah banyak manusia yang meninggal. Tidak ada lagi manusia kecuali bagi pemeluk agama Islam! Saat ini, Islam adalah agama penganut paling besar di seluruh dunia. Otomatis orang yang tidak menganut Islam akan banyak yang meninggal. Tapi lihat sekarang? Toh, masih banyak manusia yang bukan Muslim berlalu-lalang. Dan jika Islam memang agama sesat, dari dulu agama Islam sudah punah! Hancur! Tapi, lihat! Islam masih berdiri kokoh. Malahan banyak sekali manusia yang berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam!” Mulut lelaki ini bungkam tak bisa menyahuti perkataan Nada. Dia sibuk menatap wajah lucu Nada ketika sedang kesal, dari pada perkataan Wanita itu.  “Negara ini... Indonesia memiliki keanekaragaman agama. Anda juga bisa melihat bahwa Indonesia terkenal dengan masyarakat yang mayoritasnya beragama Islam. Jikalau memang Islam itu terorist seperti yang Anda bilang tadi, maka agama lain tidak akan leluasa beribadah di sana. Sudah banyak kasus pembunuhan di Indonesia jika Islam terorist karena agama lain tidak memeluk agama Islam!” sambung Nada semakin meninggikan ucapannya.  Teriakan Nada yang semakin lama semakin kencang, membuat semua orang berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian. Bahkan Naya juga terlihat hadir di sana. Bergegas Wanita itu menghampiri Nada.  “Astaghfirullah, Nada, jangan emosi. Lo nggak tau dia ini---“ “Emang dia ini siapa, hah?!” Naya langsung terdiam. “Gimana gak emosi, nih orang ngata-ngatain Islam itu terorist! Ini belom seberapa yah, Nay. Gue bisa tambah emosi, bahkan mencakar-cakar wajah gantengnya ini bila perlu!” Nada kembali menatap tajam Pria itu. “Denger sekali lagi. Jika Islam memang terorist, maka Anda akan mati detik ini juga karena Wanita di hadapan Anda ini adalah seorang MUSLIM!!!" Setelahnya, Nada langsung berlalu pergi begitu saja yang di ikuti Naya dari belakang.  “Nad, lo gila, ya?” “Bukan gila, tapi gak waras!” jawab Nada asal-asalan.  Naya berdecak. “Gila bener lo, Nad! Karier lo beneran hancur kali ini!” “Bodo amat! Rezeki Allah yang atur. Manusia hanya sebagai perentara. Kalo pun gue di pecat sama Arwana, gue bisa jadi sekretaris Daniel langsung, tanpa seleksi. Gitu aja kok, repot!” Tiba-tiba langkah kaki Nada berhenti seketika. Ia menatap Naya lama sebelum membuka suara. “Emang lo kenapa kayak panik banget, sih?” Naya menepuk jidatnya pelan. Dia menatap Nada dengan mata yang melotot kesal. “KARENA COWOK YANG LO MARAHIN TADI ITU CEO PUSAT KANTOR INI! DIA ITU DAVID JUN HELVIN, NADA!” Seketika bola mata Nada tak kalah lebar dari Naya. “Mampus dah, gue!” Kedatangan Arwana—Direktur cabang perusahaan ini, mengejutkan dua orang wanita itu. Belum lagi mengucapkan satu patah kata, tapi wajah Arwana sudah memerah seperti menahan amarah.  “Riznada Intan! Kamu di panggil ke ruang CEO David Jun Helvin sekarang juga!” teriakan menggelegar itu, berhasil mengejutkan Nada dan Naya secara bersamaan.  “Eh, oke, Pak!” perintah itu di turuti Nada.  Di saat Nada berpapasan dengan Arwana, Arwana terdengar bergumam samar. Meskipun samar, Nada masih bisa mendengar jelas apa yang ia ucapkan. “Anda telah terlalu lancang, Miss Arandito.” °°° Dukung terus JOFISA, yaaa. Semoga kalian suka dengan karya pertama saya yang pernah publish di w*****d ini. Hehehe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN