"Tujuh puluh lima persen banget nih?!" ujar Ica, nyaris terdengar seperti jeritan. Nadia langsung akting menggaruk lubang telinganya.
Aku hanya memandangi dicount voucher yang tergeletak di meja dengan tatap nanar.
Nadia menyeret kertas voucher itu ke arahnya. "Lo emang apes banget ya Jod, pas lagi musim hujan door prize payung aja lo nggak pernah dapet. Sekarang lagi jomblo mengenaskan begini malah dapet voucher kayak begini." aku nyengir kecut menanggapi nyinyiran Nadia.
Aku sendiri takjub ketika menemukan selembar discount voucher di sela-sela bungkusan wedding souvenir yang aku dapat dari pernikahan temanku Bella dua hari lalu.
"Ambil aja Nad, buat lo. Kan lo satu-satunya yang mingle dari kita bertiga." kataku, udah nggak berambisi menyimpan voucher itu lama-lama.
Ica merebut lembar kertas voucher dari tangan Nadia. "Sayang banget, mending dijual aja tau." kata Ica nggak mau rugi, padahal voucher itu aku yang dapat. By the way, aku udah telfon ke Happily Ever After Wedding Organizer menanyakan ke valid an voucher ini, and I found out kalau voucher ini khusus dibuat hanya untuk lima orang. Katanya, voucher ini bagian dari souvenir yang dibayar mempelai pengantin untuk lima tamu undangan mereka yang beruntung.
"Iya jual aja di Tokosedia atau di Shopyuu." usul Nadia, baru ini mereka berdua satu suara.
"Lo nggak mau Nad? Lumayan banget lho." kataku yang heran kenapa Nadia nggak mau mengambil voucher semenarik ini.
"Tempting sih, tapi orang macam apa yang tiba-tiba memutuskan buat menikah hanya karena dapet voucher discount?" aku langsung tersedak Ice Tea yang sedang aku minum.
Tawa Ica pecah seketika. "Gue yakin pasti tadinya lo mau buru-buru cari pacar buat diajak kawin kan?"
She got me. Ica bisa membaca reaksiku begitu tepatnya. Awalnya aku ingin sekali memakai voucher dicount itu untuk diri sendiri.
"Nggak salah juga kan?" ujarku membela diri.
Nadia beringsut, bibirnya manyun dan alisnya bertaut. "Jod, nikah itu perkara serius. For the rest of your life. Lo akan beranak pinak, dan anak itu hidup, nafas. Lo baru bisa menikah ketika lo at least udah tahu tanggung jawab apa aja yang bakal lo pikul ketika lo berumah tangga." kata Nadia yang aku pikir udah selesai ceramah. "Dan lo pengen kawin cuma karena lo dapet diskon vendor? Gue tinju lo." lanjut Nadia sambil melayangkan tangan kiri yang terkepal ke wajahku.
"I mean, nggak cuma karena itu juga. Gue emang bener-bener pengen berumah tangga." jelasku kemudian.
Ica mengaduk es lecinya yang tinggal sedikit. "Iya, sama. Truk aja gandengan masa kita nggak."
Aku mendelik. "Ih, nggak mau di compare sama truk. Gue kan luxury SUV."
Nadia langsung menjitak kepalaku. "Tapi jangan sampai juga Avanza merasa Range Rover."
Aku dan Ica langsung mengatupkan bibir rapat-rapat. Nggak pernah menang deh lawan Nadia.
"Terus jual aja nih?" tanyaku lagi, sekedar memastikan kesimpulan terakhir untuk memutuskan nasib si voucher.
"Eh, keep dulu aja Jod. Kita buat game siapa yang dalam waktu dua bulan ketemu jodoh duluan, boleh ngambil voucher ini." kata Ica dengan wajah sok idenya.
Nadia langsung melotot. "Heh! Jangan bercanda ya kalian!" teriak Nadia sambil menggebrak meja, spontan kita bertiga langsung diliatin orang yang sama-sama sedang makan di Food court Grand Indonesia.
Aku dan Ica langsung menutup muka dengan tangan, pura-pura nggak mengenal Nadia.
"Deal." bisikku ke telinga Ica.