TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC!

747 Kata
Orang-orang menikah mungkin karena beban hidup memang seharusnya dipikul berdua - Joddy *** Wah gila sih dunia sekarang, orang punya hutang personal pun bisa solved dengan bantuan sosial media. Tinggal bikin thread di twitter. Viralin. Cleared. Technology sometimes amazes and scares me at the same time. Aku jadi terinspirasi buat nyoba. 'Twitter please do your magic. Aku punya target menikah tahun ini tapi nggak punya pasangan. Kalau ada laki-laki pisces atau scorpio atau cancer, baik hati, taat beribadah, family oriented please let me know.' Aku menghapus tulisan yang aku ketik di twitter sebelum aku post.  Sungguh murahan. Ide liar otakku mengerikan. "Mba." panggil seseorang yang sedang duduk di sebelahku. Aku menoleh, terganggu karena dipanggil Mba. Kayaknya efek masa transisi dari early 20s ke late 20s jadi membuatku sensitif. Memang penampilanku penampilan Mbak-Mbak?? Dengan tampang judes aku melihat ke arah cowok yang memanggilku. "Boleh titip minuman saya nggak Mba? Saya mau ke toilet sebentar?" Ih enak aja! Udah manggil Mba, nitip-nitip lagi. Tapi sebelum aku sempat protes cowok yang kayaknya masih bocah ini udah melesat pergi. Aku langsung meluapkan kejengkelanku ke group WA yang cuma berisi tiga tiga orang. Salah dari awal aku memilih duduk di meja bar dekat pintu keluar, padahal niatnya karena aku tahu datang sendiri makanya aku nggak mau duduk di kursi yang untuk empat orang. Jadinya begini share table dengan stranger. Tapi yasudahlah, hitung-hitung beramal sholeh.  Aku membenarkan letak iPad supaya lebih nyaman untuk aku melanjutkan design tote bag terbaruku. Pekerjaan sampingan yang lumayan membantu perekonomian seorang Joddy Maheera. Belum ada semenit, aku mendadak ingin buang air kecil. Kayaknya karena AC yang dingin ditambah di luar lagi hujan deras. Tapi siapa yang jagain barang-barangku? Kopiku? dan kopi bocah itu? Aku melongok ke meja barista, ada empat orang barista yang ada disitu dan semuanya sibuk. Ada dua baris antrian di dua kasir dengan jumlah total ada sembilan pembeli yang mengantri. Jadi nggak bisa nitip ke mereka, seramai itu kedai kopi malam ini. Kalau aku tinggal nanti di tempatin orang, di kira nggak ada yang duduk di sini. Aku menoleh ke samping kanan, ada satu orang perempuan yang sedang sibuk dengan laptopnya. Aku panik, rasanya udah di ujung sampai merinding. Sopan nggak ya nitipin kopiku dan kopi stranger, ke stranger lain? Astaga. Disaat genting begini, aku jadi pengen banget punya pasangan.  Sedih kemana-mana sendiri, apalagi kalau seumuranku pasti teman-teman nggak selalu available. Kebanyakan udah berkeluarga. Mungkin ini salah satu alasan orang memutuskan buat menikah, karena beban hidup terlalu berat dipikul sendiri. Akhirnya aku memutuskan menunggu si bocah muncul. Biar gantian dia jagain kopiku. Aku sudah mulai gelisah, sampai si bocah akhirnya datang juga. "Lama banget." cerocosku langsung. Si bocah nampak kaget. "Maaf Mbak, tadi antri." si bocah merasa bersalah. Aku langsung memasukan iPad ke tas ku. "Gantian ya titip minuman. Saya mau ke toilet." "Tapi Mbak." Aku yang hendak melesat, berhenti mendengar kata tapi. Ih bocah. Gantian kek. Si bocah salah tingkah. "Aku mau pergi Mbak." Apa? "Duh nggak bisa. Jagain dulu sebentar." Enak aja mau pergi. "Tapi saya udah ditungguin Abang." Si bocah menggigit bibirnya seraya menunjuk ke arah pintu. Ih aneh banget. Kalau mau pergi ngapain pesan minum pakai gelas? Dan cake pula? Bohong nih pasti. "Ya ampun sebentar aja." Aku tetap kekeh. Si bocah udah mengangkat gelas minumnya. Aku reflek menaruh gelasnya lagi ke meja. "Tadi antrian toilet perempuan panjang banget Kak, takutnya lama. Udah ditunggu Abang." katanya sambil mengambil lagi gelas dan red velvetnya. Aku menarik gelasnya lagi dan menaruh kembali ke meja tapi ternyata aku yang sudah panik dan merinding menahan pipis malah menumpahkan minuman si bocah. Kami berdua membeku seketika. Sampai sesosok laki-laki tinggi tegap dengan wangi yang luar biasa enak datang menghampiri kami. "Kok lama dek? Ada apa?"  Aku reflek melihat ke sumber suara, tanpa sadar sudah melongo. "Ini Abang, si Mbak ini minta dijagain minumannya." Bolak-balik aku melihat wajah si bocah lalu si laki-laki yang sekarang berdiri di tengah-tengah kami. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. "Abi?" kataku ragu-ragu. Laki-laki ini nampak bingung, alisnya bertaut. Aku mendadak sumringah, sampai lupa kalau aku kebelet pipis.  "Yang di lift. Yang gaunnya hampir kejepit pintu." Aku mencoba membuatnya memanggil ingatannya dengan memberi Hints. Bola matanya membesar. "Ah, Jo-?" Aku mengangguk antusias. "Iya-iya, Joddy. Apa kabar?" aku mengulurkan tangan, tapi kemudian sadar tanganku ternyata ketumpahan minuman. "Abang, minumannya tumpah." si bocah tiba-tiba mengadu. Abi lalu melihat ke arah gelas yang tanpa sengaja aku tumpahkan. Aku menelan ludah. WHY?! WHY???????? TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN