*****
Waktu menunjukkan pukul 09.15, aku berniat akan keluar terlebih dahulu agar tidak ketahuan saat aku mengikuti Mira. Dan aku harus mencari alasan logis untuk meminta izin pada Mas Eric.
Saat ini Mira tengah berada di kamar nya dan sepertinya ia sedang bersiap-siap karena tadi saat makan ia telah meminta izin dan Mas Eric memberikan izin pada nya.
"Pa, Mama keluar sebentar ya. Rencananya Mama nau belanja keperluan dapur, dan kebutuhan bulanan lainnya, soalnya tadi Mama lihat bahan-bahan masak yang di kulkas udah mau habis. Sekalian Mama mau me time di Salon langganan Mama sebentar ya Pa" izin ku pada Mas Eric
"Mama mau pergi sendiri apa Papa antar? Toh hari ini kan Papa free jadi dirumah aja" tanya Mas Eric pada ku
"Ah Papa jaga rumah aja, biar Mama berangkat nya pake taksi aja. Mira kan juga mau keluar, nanti malah ngak ada yang jagain rumah lagi" jawabku menolak tawaran Mas Eric
"Okelah kalau Mama mau kayak gitu" jawab Mas Eric singkat
"Papa mau titip apa? "tanyaku
"Ngak ada kok Ma. Uang Mama masih cukup kah? "kata Mas Eric
"Masih ada kok Pa, kalau cuman buat belanja bulanan masih cukup kok. Cuman kalau buat ngesalon Mama minta lagi yah" jawabku merajuk sambil cengingiran kuda
Mas Eric langsung merogoh dompet disaku belakang celananya, lalu mengeluarkan kartu ATM yang ada di dompet nya.
"Papa ngak pegang uang cash, jadi Mama bawah aja kartu ATM papa ya. Sandi nya tanggal pernikahan kita, Ingat kan? "ucap Mas Eric sambil menyodor kartu ATM nya
"Ingat lah Pa, emang Mama udah tua-tua amat apa sampai tanggal pernikahan aja Mama ngak bisa inget. Btw, makasih ya Pa" ucapku sambil menerima kartu ATM yang disodorkan Mas Eric
Aku bergegas masuk kamar untuk berganti pakaian sebab waktu bangun tadi aku sudah mandi. Selepas berganti pakaian, aku mengambil tas dan dompetku yang akan aku bawah. Sembari turun ke bawah aku memesan taksi lewat aplikasi hijau yang sering ku gunakan. Aku sempat menoleh ke arah kamar Mira, ternyata ia belum juga keluar yang artinya ia juga masih tengah bersiap-siap.
"Pa, Mama jalan dulu yah. Mama mau nunggu taksi di depan" pamitku pada Mas Eric sambil menyalami punggung tangan Mas Eric
"Ia Ma, hati-hati ya" ucap Mas Eric mencium kening ku
Itulah Mas Eric, akan selalu terlihat romantis dimana pun kami berada, walaupun umur kami yang sudah menginjak kepala empat. Itulah kunci dari kebahagiaan dalam rumah tangga menurutku, saling menyayangi, menghormati, berbagi kasih sayang dan jangan pernah miss komunikasi.
Tak lama kemudian, taksi yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Aku langsung naik dan meminta supir untuk parkir sebentar di supermarket didepan gang sana.
Saat lewat didepan gang aku melihat ada mobil mewah yang parkir di sebelah jalan.
"Kalau itu mobil yang akan menjemput Mira, pasti sebentar lagi Mira bakalan datang karena udah ditungguin. Tapi siapa didalam mobil itu, kok aku ngak pernah liat ya" batinku bertanya-tanya karena dari semua keluarga Mas Eric, aku tak pernah melihat ada yang menggunakan mobil tersebut.
15 kemudian, aku melihat Mira telah keluar dan hendak melanggar ke arah mobil mewah yang ku lihat tadi. Dan benar saja, ia langsung masuk dan duduk disebelah kemudi, tak lama kemudian mobil itupun bergegas untuk jalan. Aku langsung menginstruksi kan pada supir taksi agar membuntuti mobil tersebut.
"Pak, tolong ikutin mobil itu yah. Nanti saya kasih tips deh" pinta ku pada sang supir
"Baik buk" ucapnya sambil tancap gas
Sepanjang perjalanan mengikuti mobil yang Mira tumpangi, pikiran ku hanya dipenuhi dengan berbagai macam tanda tanya.
Apalagi aku menyadari bahwa mobil itu melewati jalan menuju Hotel Gr*nd Mut*ar* , dimana Hotel tersebut sering digebrek pihak berwajib karena kedapatan beberapa pasangan didalam adalah pasangan yang belum menikah dan adapula anak - anak dibawah umur. Hotel tersebut bisa dibilang mewah tetapi murah, mungkin itulah alasan kebanyakan pasangan diluar nikah memilih Hotel tersebut sebagai tempat persinggahan untuk sekedar menyalurkan nafs* sesaat mereka.
Dan benar saja, mobil yang ditumpangi Mira berhenti didepan Hotel tersebut. Aku menyuruh supir taksi memarkir agak jauh agar tidak dicurigai.
Aku melihat Mira keluar diikuti dengan orang dibagian kemudi, mereka berjalan dengan begitu mesra layaknya sepasang pasangan. Aku tak sempat melihat wajah pria tersebut karena ia membelakangi dan juga kami parkir agak berjauhan agar tidak kedapatan mengikuti mereka.
Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk segera turun dan berniat untuk masuk ke dalam. Tak lupa sebelum turun aku membayar ongkos serta memberikan tips seperti yang ku janjikan pada supir tadi.
"Berapa semuanya Pak" tanyaku pada sang supir
"45.000 Buk" jawab supir padaku
Aku lekas mengambil satu lembar uang seratusan dan menyodorkan ke supir taksi.
"Ambil saja kembalian nya Pak, sebagai tipsnya" ucapku tersenyum
"Tapi ini kebanyakan, Buk" ucap supir taksi sambil menyodorkan beberapa lembar uang untuk ia kembalikan padaku
"Ngak apa-apa Pak, anggap saja ini rejeki Bapak" ucapku sambil menolak halus tangan sang supir
"Allhamdulilah, makasih banyak ya Buk. Semoga kebaikan Ibu dibalas Yang Maha Kuasa ya, Buk. Sekali lagi terima kasih, Buk " ucap sang supir dengan mata berkaca-kaca
"Amin Pak. Makasih doanya ya. Kalau begitu saya masuk dulu kedalam ya, Pak" pamit ku pada sang supir taksi
Aku bergegas masuk ke dalam Hotel dan menuju ke arah resepsionis untuk bertanya. Ku rasakan gemuruh pada dadaku sangat kuat, tetapi aku tetap melangkahkan kakiku agar semua pertanyaan didalam benak ku menemukan jawaban nya.
"Pagi Mbak. Saya mau tanya tamu dengan nama Mira Yuniarty ada di kamar nomor berapa yah? " tanya ku pada sang resepsionis berdinding namakan Calista
"Maaf Buk, kami tidak bisa sembarangan memberikan informasi data tamu-tamu di Hotel kami" ucap sang resepsionis
"Saya Tante dari anak yang bernama Mira, dia tinggal bersama saya. Kalau ada apa-apa sama keponakan saya, Hotel ini akan saya laporkan pada pihak berwajib karena keponakan saya itu masih anak dibawah umur" tegas ku sedikit mengancam dan memelototi sang resepsionis
"Ba-baik Bu, se-sebentar sa-ya cek dulu Bu" jawab sang resepsionis terbata-bata
Tak ada salahnya aku untuk sedikit mengancam, toh semua juga untuk kebaikan. Huffftth!!
"Tamu atas nama Buk Mira Yuniarty dengan Bapak Bryan Georgiano ada di lantai 2 kamar nomor 221 ya, Buk. Ibu bisa naik dari lift menuju lantai 2 dan belok ke kiri" jelas sang resepsionis
"Bryan Georgiano? Siapa lelaki ini? Setahuku tidak ada saudara Mas Eric yang bernama seperti ini" batinku semakin bertanya-tanya
"Oke terima kasih atas informasinya" jawabku sambil melangkah menuju lift