Eps. 9 = JAJANAN DARI PAPA

1016 Kata
Selesai makan, Mama langsung mencuci tangan nya di wastafel dan masuk ke dalam. Sementara aku dan kak Elsa masih sibuk berkutat di dapur mengemasi piring-piring bekas kami makan malam barusan. Aku sibuk mengangkat satu per satu piring-piring yang kotor di atas meja makan, dan kak Elsa langsung membersihkan meja makan menggunakan kain lap meja yang biasanya digunakan untuk membersihkan meja makan. Kami selalu diajarkan menjaga kebersihan sedari kami kecil. Ya, Mama akan sangat cerewet jika melihat barang-barang kotor berserakan dimana-mana. Teringat setiap kali jika diantara kami semua, Papa, kak Elsa, kak Juan maupun aku. Jika diantara kami ada yang tak sengaja memecahkan piring atau gelas kaca, maka Mama akan dengan sangat cerewet memarahi kami. Tapi jika Mama yang memecahkan piring atau gelas kaca, maka tak akan ada yang memarahi Mama. Yah selucu ituu, hahaha. Terkadang Papa sering bercanda dengan Mama. "Ma, lebih baik kita ubah Kartu Keluarga kita saja, gimana? "tanya Papa waktu itu saat kami sedang duduk bersama di ruang TV "Ubah gimana maksud Papa? "tanya Mama balik dengan wajah keheranan "Maksud Papa kita ubah Kartu Keluarga, biar Mama yang jadi Kepala Keluarga sementara Papa jadi Ibu Rumah Tangganya aja" ucap Papa dilanjutkan dengan tawa khas nya "Sembarangan aja kalau ngomong "cebik Mama sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Papa Kami semua langsung tertawa karena melihat tingkah Mama saat mendengar masukan Papa. Ya, itu semua terjadi sebelum beberapa bulan yang lalu. Saat kami masih sering-seringnya bercanda dan tertawa bersama. ***** Selesai membereskan ruang makan. Aku dan kak Elsa lekas menuju kamar kami masing-masing. Saat kami melewati ruang tengah, terdengar bunyi motor Papa yang artinya Papa telah pulang. Aku dan kak Elsa lekas berbalik arah menuju keluar untuk menyambut Papa. Kami akan berampas agar tiba lebih dulu. Ya saat Papa pulang, aku dan kak Elsa selalu seperti kucing dan tikus yang sedang berampas makanan. Tiap kali Papa pulang, ia selalu membawakan kami mulai dari bakso, martabak telur, salome, terang bulan maupun gorengan. Itu adalah jatah pasti yang Papa bawa untuk kami saat ia pulang dari bepergian. Itulah sebabnya aku dan kak Elsa akan lari seperti dikejar setan hanya untuk menyambut kedatangan Papa. Sederhana namun indah, pikir ku. "Papa pulang. Horeee!! Papa pulang, pasti bawa sesuatu" aku dan kak Elsa bersorak melompat kegirangan seperti anak kecil saat melihat Papa tiba dan memakir motor nya. Tak lupa menanyakan apa yang Papa bawa untuk kami. Tanpa menggunakan alas kaki lagi, aku dan kak Elsa berlarian ke arah Papa untuk mengambil kresek di gantungan motor Papa. Papa hanya tersenyum melihat kami sambil menenteng tas kerjanya dan berlalu duluan untuk masuk ke dalam. Aku dan kak Elsa lekas mengikuti Papa dari belakang sambil memegang 2 kantong plastik hitam Papa bawakan untuk kami. "Ma, Mama. Papa pulang nih" kak Elsa setengah berteriak memanggil Mama yang sedang berada di kamar nya Papa langsung duduk dan membuka sepatu serta seragam kantor yang Papa gunakan. Aku langsung beralih ke dapur untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Papa. Asyik membuatkan teh untuk Papa, tiba-tiba kak Elsa muncul setengah berlari menuju rak piring guna mengambil 2 buah piring. Mungkin untuk menyajikan cemilan yang Papa bawa tadi, pikir ku. "Papa bawain apa aja kak" tanyaku sambil mengaduk teh milik Papa "Bawain terang bulan pandan kesukaan kamu sama batagor kesukaan kakak" ucap kak Elsa sambil tersenyum Dengan semangat empat lima aku dan kak Elsa bersama melangkah ke ruang tengah sambil membawa teh untuk Papa dan piring untuk menyajikan cemilan yang Papa bawa. Ku letakkan gelas teh beserta tatakan nya di hadapan Papa dan langsung berjalan menuju kak Elsa yang sedang menyajikan terang bulan pandan di piring. Aku lekas membuka plastik yang satu nya lagi untuk membantu kak Elsa menyajikannya. "Dessy buatin Mama teh dong, jangan kemanisan ya" pinta Mama padaku Alih-alih ingin membantu kak Elsa, Mama malah menyuruh ku membuatkan teh untuk nya. Tumben-tumbennya Mama mau minum teh malam-malam begini, tidak biasanya pikirku. Aku lekas menaruh kembali kantung plastik yang telah ku pegang, dan berbalik ke dapur untuk membuatkan teh untuk Mama. 5 menit aku kembali ke ruang tengah dengan membawa teh yang tidak terlalu manis sesuai yang Mama minta. Aku langsung meletakkannya di hadapan Mama. Lekas aku ke arah kak Elsa untuk ikut menikmati terang bulan kesukaan ku. Sementara kak Elsa terlihat begitu menikmati jajanan batagor yang jarang Papa bawa pulang. Yah karena setahu kami ini batagor terenak yang pernah kami makan, tapi sayang tempat nya hanya buka pada hari Minggu saat magrib tiba. Dan jika terlambat maka tidak akan kebagian, ditambah membelinya pun harus dengan antrian yang panjang. Beruntung hari ini Papa bisa membelinya. Setelah Papa dan Mama menikmati teh mereka yang telah ku buatkan , mereka berdua langsung masuk ke kamar mereka. Sementara aku dan kak Elsa masih sibuk menyantap jajanan yang ada di hadapan kami berdua. Terkadang kak Elsa mencicipi terang bulanku dan gantian aku juga mencicipi betagor kesukaan nya. Puas kami bersantap makanan kesukaan kami, lekas kami membawa sampah plastik dan piring kotor bekas menaruh terang bulan dan batagor yang telah kami makan sampai tak ada sisanya untuk dicuci. Setelah itu, aku dan kak Elsa langsung menuju kamar kami untuk beristirahat. Karena saking kekenyangan, mata ini sampai tak bisa diajak berkompromi lagi. Aku masuk ke kamar ku dan langsung mengunci pintu dari dalam. Rasanya ingin langsung tidur tapi ku batalkan karena mengingat PR ku yang belum selesai ku kerjakan tadi karena sudah dipanggil kak Elsa untuk makan. Mengerjakan PR dalam keadaan perut yang begitu kenyang bukan membuat otak ku semakin terbuka malah jadi tambah mumet karena kantuk yang melanda. Ku paksakan mata ku untuk segera menyelesaikan PR matematika ini, karena jika tak selesai dan dikumpulkan esok hari, maka akan disemprot habis-habisan oleh Pak Marcel, salah satu guru killer di sekolah ku. 15 menit aku sibuk menyelesaikan PR ku dengan otak yang mumet dan mata yang meminta agar segera dipejamkan , akhirnya selesai juga 3 nomor tersisa yang belum aku selesaikan tadi sebelum makan. Plonggg semuanya... Tak perlu takut akan diomelin Pak Marcel esok. Lekas ku masukan buku-buku tugas ini ke dalam tas sekolah ku agar tak lupa esok hari. Aku gegas ke kamar mandi untuk sikat gigi lalu segera beristirahat agar tak bangun terlambat nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN