Tak mau membuat Mama lama menunggu, aku menyudahi kesedihan ku. Biarlah Mama berbuat demikian, itu hak-Nya. Yang harus aku lakukan kedepannya adalah aku harus pandai-pandainya mengambil hati Mama. Entah bagaimana pun caranya. Ya, seiring berjalannya waktu. Tak ada salahnya aku mencoba mencairkan hati Mama yang keras saat ini.
Aku mulai menyemangati diriku sendiri untuk menjalani hari-hariku ke depan. Aku lekas menuju kamar mandi untuk segera melaksanakan ritual mandi ku.
Tak membutuhkan waktu yang lama. 20 menit saja cukup bagiku untuk sekedar membersihkan diri. Aku lekas berganti pakaian dan bergegas keluar.
Krek....
Saat pintu kamar ku terbuka, kulihat ternyata Mama masih asyik menonton acara kesukaan nya di TV.
"Lama sekali kamu mandi? Emang bisa berubah jadi Princess ya?" ucap Mama spontan saat melihat aku keluar dari kamar
Ya ampun Ma. Cuman perkara mandi pun dipermasalahkan. Padahal aku hanya berada di kamar kurang dari 30 menit saja. Tetapi kata-kata Mama seakan-akan aku berjam-jam lamanya.
"I-ia Ma, maaf. Tadi aku masih sekalian beresin buku-buku yang tadi sore belum sempat diberesin di meja belajar" ucapku sengaja mencari alasan.
Karena tak mungkin kan aku memberitahu jika tadi aku masih menangis tadi di kamar. Nanti yang ada diperdebatkan oleh Mama lagi.
"Ya udah buruan ambil minyak urut sana. Makin tambah pegel ini kaki Mama gara-gara nungguin kamu mandi" ucap Mama dengan tatapan bak Serigala yang ingin mendapat mangsa
Aku lekas berjalan menuju kamar Mama untuk mengambil minyak urut. Setelah mendapatkan nya, lekas aku keluar dan menuju ke arah tempat dimana Mama duduk.
Ku buka tutupan botol minyak yang ada di genggaman ku dan ku balurkan ke sekitar area kaki milik Mama. Lekas ku gosok dan ku urut pelan kaki Mama yang telah ku balurkan minyak urut.
Sambil mengurut kaki Mama, aku pun ikutan menonton acara di TV. Tiba-tiba terdengar bunyi sepeda motor berhenti didepan rumah. Itu pasti kak Elsa diantar teman nya, pikir ku. Mama langsung menarik kaki Mama yang sedang ku urut dan bergegas menuju ke depan.
"Kamu udah pulang sayang? Sama siapa tadi? Gimana latihannya? Lancar kan? "ku dengar suara Mama menyambut kak Elsa dengan semringah
Lah aku? Boro-boro disambut kala aku pulang, sama sekali tak pernah Mama lakukan lagi padaku. Terkadang ada rasa cemburu dalam hatiku, karena perbedaan kasih sayang yang Mama berikan pada kak Elsa berbeda dengan ku. Tapi ya sudahlah, apa mau dikata kan? Aku tak punya hak sama sekali untuk berkomentar.
"Tadi aku dianterin sama Fanya, Ma. Udah ku tolak biar aku naik taksi, yaelah tuh anak malah maksa, hehehe" jawab kak Elsa
"Ya udah kamu pasti capek. Buruan mandi trus kita makan ya" pinta Mama
"Papa udah pulang belum? Trus adek mana, Ma? "tanya kak Elsa
"Papa kayaknya malam ini lembur deh, jadi kita makan duluan aja, ngak usah tungguin Papa. Kalo Dessy kayaknya masih diruang TV soalnya baru habis ngurutin Mama barusan" pungkas Mama
"Oh ya udah, Ma. Ayo kita masuk" ajak kak Elsa
Mama dan kak Elsa masuk dan melewati ku yang sedang duduk di sofa ruang TV. Dengan mesra Mama menggandeng lengan kak Elsa dan berjalan berdampingan.
Ya Tuhan. Semakin besar rasa iri hati dan cemburu yang bergelojak dalam d**a. Netra ku mengembun. Ngak boleh. Tidak ada alasan logis yang membuat aku harus cemburu pada kak Elsa. Kenapa semakin hari aku semakin cengeng saja rasanya.
"Eh dek. Nonton apa? Kamu udah makan? "tanya kak Elsa saat tiba disamping sofa yang ku duduki saat ini
"Ngak kok kak. Ini cuman nonton acara yang tadi Mama buka kok. Kakak mandi gih, abis itu kita makan bareng Mama" ucapku
"Ya udah. Tunggu ya kakak mandi dulu, habis itu kita makan "jawab kak Elsa sambil mencubit gemas pipi ku
Sambil menunggu kak Elsa mandi, lebih baik aku menunggu dikamar ku. Mama sedari tadi sudah masuk ke kamarnya saat kak Elsa menghampiri dan berbicara dengan ku.
Sembari menunggu, aku lekas menyiapkan buku-buku yang hendak ku bawa ke sekolah esok hari. Aku juga menyempatkan diri untuk mengerjakan PR-ku yang sempat tertunda tadi sore.
Ketika hendak selesai, terdengar ketukan pintu kamar ku dari luar.
Tok... Tok... Tok...
"Dek, kamu ngapain? Ayo kita makan"
Terdengar suara kak Elsa memanggil ku. Aku langsung bergegas membuka pintu kamar ku.
"Eh kakak. Mama mana? Udah di panggilin belum? "ucapku saat kak Elsa yang telah usai mandi dan mengenakan piyama tidurnya bercorak Doraemon
Ya. Semua barang-barang kak Elsa rata-rata bergambarkan Doraemon, sampai-sampai kamar nya pun dipenuhi dengan boneka Doraemon. Berbeda dengan ku yang lebih menyukai Panda.
"Belum, hehehe. Orang kakak baru habis mandi trus langsung manggil kamu kok. Ya udah ayo, kita sama-sama ke kamar Mama "ajak kak Elsa sambil menarik tangan ku
Saat tiba didepan kamar Mama, kak Elsa langsung mengetuk pintu kamar Mama.
"Ma... Mama... Makan yuk" sembari mengetuk pintu kak Elsa memanggil Mama dari luar
"Ia nak. Duluan aja, bentar lagi Mama nyusul" jawab Mama setengah berteriak dari dalam kamar nya
Kak Elsa langsung mengajak ku untuk pergi ke ruang makan. Kak Elsa membantu ku menyiapkan piring serta gelas berisikan air di meja makan. Tak lama kemudian, Mama pun datang. Mama langsung duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Papa. Sementara aku dan kak Elsa duduk di seberang dan menghadap langsung ke arah Mama.
"Wahh kamu yang masak ya, Dek? Pasti enak deh. Maafin ya hari ini kakak ngak bantuin kamu "ucap kak Elsa membuka obrolan
"Ah ngak apa-apa kok kak. Kakak kan sibuk hari ini, kecuali kalau kakak di rumah trus ngak bantuin aku. Nah itu baru aku marah, hehehe" balasku sambil tertawa kecil
"Ngak mungkin lah kalau aku dirumah trus ngak bantuin adek ku yang cantik ini" ucap kak Elsa tersenyum ke arahku
"Mama mau makan apa? Biar aku ambilin buat Mama "tanyaku pada Mama di seberang meja makan
"Ngak usah. Mama bisa ambil sendiri. Ngak usah repot-repot "ucap Mama sambil mengibaskan tangannya sebagai tanda menolak maksud ku
Aku pun lekas mengangguk dan langsung duduk kembali di kursi ku. Mama lalu membagi porsi makanan Mama pada piring yang telah kami siapkan di hadapannya. Diikuti kak Elsa dan aku yang terakhir.
Itulah yang diajarkan sedari kami kecil. Persilakan yang lebih tua membagi terlebih dahulu, dan jika saat makan Papa atau Mama sedang berada diluar. Maka diharuskan membagi semua lauk pauk menjadi 2 bagian, yang 1 disimpan untuk Papa dan Mama, dan yang 1 untuk dimakan terlebih dahulu. Agar, istilahnya Papa dan Mama tidak makan makanan sisa dari kami.
Sepanjang makan kami diam dengan pemikiran kami masing-masing. Sesekali aku dan kak Elsa mengobrol, dan sesekali Mama dan kak Elsa yang mengobrol. Lah aku? Jangan ditanya mana ada Mama mau untuk sekedar mengobrol dengan ku, melihat ke arahku saja harus dengan tatapannya yang sinis.
Beda sekali dengan dulu. Saat makan ataupun duduk bersama diruang keluarga, pasti akan selalu dipenuhi dengan canda dan tawa.
Aku rindu akan suasana keluarga ini yang dulu. Kembalikanlah keharmonisan keluarga ini seperti dulu lagi, Ya Tuhan... Hanya itu saja pinta ku...