Eps. 7 = BENTAKAN MAMA

1019 Kata
Dulu Mama dan Papa begitu menyayangi kami semua tanpa membedakan salah satu diantara kami bertiga. Apalagi papa, ia begitu memanjakan aku dan kak Elsa. Tiap saat salah satu diantara kami berulang tahun, pasti akan selalu ada kegiatan meniup lilin. Dan Mama selalu memasak makanan kesukaan kami sewaktu kecil yakni Nasi Kuning. Sesederhana itu, namun terasa sangat indah bagi kami. Tetapi semakin kesini, Mama terlihat lebih condong kepada kak Elsa. Entah dalam segi kasih sayang, pemberian hadiah, makanan maupun lainnya. Apalagi dalam beberapa bulan belakangan ini. Aku pun memaklumi nya. Mungkin karena kak Elsa sering sakit sehingga Mama memperlakukan nya secara khusus dan spesial menurutku. Tetapi tidak dengan Papa. Papa masih dengan Papa yang dulu. Ia masih begitu menyayangi dan mencintai kami semua. Tanpa membedakan salah satu diantara kami semua. Tiap hari sabtu sepulang sekolah, Papa selalu mengajak aku dan kak Elsa untuk ikut menemani Papa di Polsek tempat Papa bertugas. Kadang Mama pun ikut serta, jika ada rapat disana maupun acara sesama ibu-ibu Bhayangkari. Dan kami akan pulang minggu sore karena senin nya kami harus masuk sekolah. Kampung tempat Papa bertugas sangat indah. Begitu asri dan damai disana. Disana kami sering menanam tomat, cabai, terung dan lain sejenisnya.Ada juga kangkung, sayur putih dan beberapa jenis sayuran lainnya. Itulah yang membuat kami sangat betah jika pergi kesana. **** Suatu ketika karena sudah mendekati masa-masa kelulusan SMP, saking sibuknya aku belajar sampai-sampai aku melupakan pekerjaan rumah. Aku dimarahi Mama dan dikatai dengan kata-k********r oleh Mama. Sakit, ya itu yang ku rasakan. Malah sangat sakit ketika mama mengatakan aku sok rajin agar dipuji Papa dan orang sekitarnya ku. "Dessy.... Dessy.... Dimana kau? " Aku mendengar teriakan Mama yang begitu nyaring memekakkan telinga. Aku langsung beranjak dari meja belajar ku dan hendak keluar dari kamar. Saat pintu terbuka, ternyata Mama sudah ada didepan pintu kamar ku. "Ia Ma. Maaf Ma, tadi aku lagi belajar"jawab ku Bukan jawaban dari Mama yang aku dapatkan, melainkan Mama langsung menarik tanganku dan membawa ku ke dapur. "Urus mu hanya belajar saja. Biar apa? Biar dipuji sama orang-orang gitu? Kamu ngak liat apa tuh piring kotor udah numpuk? "jawab Mama dengan yang tinggi hingga membuat ku tersentak kaget Ya Tuhan. Apa salahku Ma ? Aku pun tak pernah diijinkan untuk mengikuti Les bersama teman-temanku. Aku juga tak pernah keluar sembarangan. Tapi kenapa hanya karena hari ini aku telat mengerjakan pekerjaan rumah, Mama langsung marah-marah seperti ini? Padahal ini baru pukul 3 sore lewat 10 menit. Dimana Mama yang dulu aku kenal? Yang begitu menyayangi kami semua dengan porsi yang sama? Mama yang tak pernah berkata kasar. Dimana Ma? Aku merindukan Mama yang dulu.... Luruh sudah air mataku saat mendengar kata-kata Mama. Hancur sudah hatiku saat mendengar Mama mengata-ngatai diriku. Sehabis mencaci maki diriku, mama langsung beranjak. Entah ke kamar nya, atau ke manapun aku sudah tak mau peduli. Aku lekas mengambil piring-piring kotor yang berserakan di dapur lalu mencucinya. Tak lupa sambil mencuci, aku juga sambil menanak nasi di magic com. Selesai aku mencuci piring, aku langsung menyapu rumah. Aku menyelesaikan sendiri semua pekerjaan rumah hari ini. Padahal biasanya aku dan kak Elsa selalu bekerja sama menyelesaikan pekerjaan ini. Tetapi karena hari ini kak Elsa sedang pergi mengikuti latihan menari di sekolahan nya, maka aku yang harus menyelesaikan semua ini. Tak masalah bagiku. Selesai menyapu aku lanjut menyiapkan makan malam. Aku memasak sambal goreng ikan teri, sup bayam dan juga perkedel tahu. Tak lupa sambal tomat kesukaan Papa. Setiap kali saat makan, jika ada sambal tomat buatan ku, maka Papa akan tambah 2 hingga 3 kali. 1 jam lebih aku berkutat sendirian didapur. Masakan pun telah siap ku hidangkan di atas meja makan dan menutup menggunakan tutupan saji. Aku lekas menuju ke kamar untuk mandi sebelum belajar lagi. Saat melewati ruang tv, ketika aku melanjutkan langkah ku menuju kamar. Mama memanggil ku dan aku segera berbalik dan berjalan ke arah Mama. "Kamu udah masak? "tanya Mama "Udah Ma. Tadi aku masak sambal goreng ikan teri, sup bayam, perkedel tahu sama buatin papa sambal tomat "jawabku menjelaskan pada Mama "Kalau udah ada sambal goreng ya udah, ngak usah pake tambah perkedel-perkedel segala macam. Dasar boros"ucap Mama sinis sambil melihat kearahku Aku hanya bisa diam. Karena membantah ucapan Mama sama saja dengan mencari masalah baru. "Kamu dengar ngak? Diomongin malah diam. Kamu ngak punya mulut apa? "bentak Mama lagi "I-iya Ma. Ma-maafin a-ku" jawabku terbata-bata "Ya udah mandi sana, habis itu kesini urut kaki mama, soalnya pegel banget dari tadi" pinta Mama "Tapi Ma. Aku masih punya PR dan harus diselesaikan malam ini juga, soalnya besok jam mata pelajaran pertama udah harus di kumpulin" pungkas ku "Dibilangin malah ngelawan ya. Apa susahnya sih habis ngurut baru kamu ngerjain tugas kamu? "jawab Mama sambil melototkan matanya kearah ku Aku yang ketakutan lekas mengangguk perintah Mama. Toh melawan pun tak ada gunanya. Jika Mama udah bilang A, maka ngak ada satu orang pun yang bisa merubahnya. Sekalipun Papa orangnya. Aku berbalik dan menuju ke arah kamar ku. Kututup pintu kamar dan air mata yang sudah ku tahan dari tadi akhirnya lolos juga. Entah apa salahku, yang membuat Mama seakan-akan selalu tak suka denganku. Sudah sekitar 6 bulan terakhir ini Mama rajin memarahi ku, memaki ku bahkan tak jarang berlaku kasar padaku. Atau apa benar yang dikatakan tetangga sekitarku beberapa bulan lalu? Bahwa aku bukan anak kandung Papa dan Mama. "Eh Dessy. Kok betahnya tinggal sama orang tua angkat? "kata tante Sofia tetangga seberang jalan "Kamu udah tau belum, kata mamaku kamu itu bukan anak kandung Tante Yanti sama Om Eric ya? "ucap salah satu teman bermain ku Masih ada banyak lagi kata-kata yang aku dengar selama ini tentang siapa aku sebenarnya. Tapi aku tak mau ambil pusing, karena yang aku pikirkan adalah "Jika benar apa yang dikatai orang-orang, untuk apa aku peduli pada orang yang tega membuang ku pada orang lain? " Ya kan? Toh selama bertahun-tahun lamanya aku hidup, hanya Papa dan Mama yang mengasuh aku. Walaupun akhir-akhir ini Mama sedikit berubah, itu semua tak akan menjadi tolak ukur bagiku. Papa tetaplah Papaku. Dan Mama tetaplah Mamaku. Tak ada yang bisa mengganggu gugat. Walau rasanya sesekali rasanya aku ingin menyerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN