Eps. 6 = MENGAMBIL KEPUTUSAN

1212 Kata
"Sudah Mas. Jangan terbawa emosi. Biarkan Mira masuk dan istirahat dulu" saranku Aku lekas menyuruh Mira masuk ke kamar nya dan mandi lalu beristirahat. Aku pikir biarlah ia beristirahat menenangkan pikiran nya sambil menunggu kedatangan Mas Ady dan Mbak Tety datang menjemput nya disini. "Sekarang kamu ke kamar, lalu mandi dan istirahat. Kalau lapar nanti ambil makanan di dapur" ucapku "Baik Tan. Mira ke kamar dulu" pamit nya sambil tertunduk lesu dan mata yang masih sembab Aku tak mau banyak omong dalam menasihati nya lagi. Toh selama hampir 3 tahun disini aku sudah cukup banyak menasihati nya. Tapi kalau ia tak mau mendengar, itupun urusannya. Setidaknya aku sudah melakukan yang baik untuknya. Jadi biarlah kali ini Mas Eric yang mengajarinya, aku tak mau ikut menghakiminya. Aku masih tak habis pikir semua perbuatan Mira hari ini. Hancur sudah masa depannya. Syukur-syukur kalau ia tak hamil. Lah kalau hamil? Rugi sendiri kan. Aduhhh ribet. Mas Eric masih menatap Mira dengan penuh amarah. Aku pun hanya bisa menenangkannya dan mengajak Mas Eric ke kamar untuk menenangkan pikiran. Setibanya di kamar, aku lekas mengambil handuk dan menuju kamar mandi guna membersihkan tubuh yang lelah ini. Ku biarkan Mas Eric duduk di sofa kamar sendirian. Sepertinya ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran nya. Begitu pula aku. Gegas aku langsung menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi untuk segera mandi. (Pov Mas Eric) Pikiranku kalut. Rasanya sesak sekali d**a ini. Otak ku rasanya seperti memberontak karena tak sanggup untuk memikirkan semua ini. Belum lagi lelah di badan ku. Lengkap sudah semua. Apa yang akan aku katakan pada Mas Ady tentang semua ini? Bagaimana aku menjelaskan semua ini? Mengapa aku bisa lalai menjaga Mira sampai semua ini bisa terjadi? Saking sibuknya aku bekerja sampai aku lupa kewajiban ku mendidik Mira. Aku juga sering memaklumi apapun yang istriku bicarakan tentang Mira. Saking aku memanjakan nya. Tapi lihat saja, apa balasan nya sekarang. Benar kata istriku, semuanya sudah terjadi. Menyesal pun tak ada gunanya lagi. Aku berniat segera menelepon Mas Ady dan Mbak Tety. Untuk menyuruh mereka datang kesini supaya menyelesaikan semua permasalahan ini. Lekas aku mengambil HP ku diatas meja dan langsung menelepon nomor Mas Ady. "Hallo siang, Ric" terdengar suara Mbak Tetty diseberang telepon "Ia. Siang Mbak. Mas Ady ada ngak, Mbak? " tanyaku "Ada kok dibelakang. Bentar Mbak panggilin yah" sahut Mbak Tetty Terdengar suara Mbak Tetty memanggil Mas Ady. Tak lama kemudian.... "Hallo, Ric. Gimana kabar mu dan Yanti?" tanya Mas Ady padaku "Baik Mas. Kabar kami semua baik-baik saja, Mas. Gimana kabar Mas sama Mbak disana? "tanyaku balik pada Mas Ady "Puji Tuhan. Kabar kami juga baik. Lalu gimana Mira? "tanya Mas Ady Mendengar suara Mas Ady yang begitu bersemangat bertanya tentang Mira, membuat ku tak sanggup untuk membicarakan semua ini. Lidahku membeku untuk berbicara. "Hallo Ric. Kamu dengar Mas kan? " suara Mas Ady membuyarkan lamunan ku "I-ia Mas. Ka-bar Mira juga baik Mas "ucapku terbata-bata "Syukur lah. Trus tumben-tumben nya kamu telepon? Yanti mana? "tanya Mas Ady "Yanti sedang di kamar mandi, Mas. Mungkin lagi mandi. Aku telepon karena mau membicarakan sesuatu Mas, ini tentang Mira "jawabku "Ya udah ayo cerita. Mumpung mas lagi sama Mbak kamu. Soalnya katanya ia rindu sama anak gadisnya, udah setahun kan ngak ketemu karena kesibukan pekerjaan disini" ucap Mas Ady Bisa ku pastikan. Betapa berharap nya Mas Ady dan Mbak Tetty agar aku menyampaikan sesuatu tentang Mira. Yang pastinya mereka berharap sesuatu yang baik-baik saja tentang Mira. Ya Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana caraku menjelaskan semua ini? "Ta-tadi aku dan Yanti menggerebek Mi-ra sedang bersama om-om di Hotel, Ma-mas "ucapku terbata-bata "Apaaa?????? Apa maksud kamu, Ric? "pekik Mas Ady dengan suara yang cukup keras "Benar, Mas. Aku ngak bohong. Aku dan Yanti mendapati Mira sedang melakukan hubungan dewasa bersama lelaki tersebut" jelasku lagi "Ya Tuhan.... "terdengar suara Mbak Tetty "Mas masih ngak ngerti apa yang kamu bicarakan. Jangan ngomong sembarangan, Ric. Mana ada Mira berani melakukan semua itu? "jawab Mas Ady Maka mengalirlah cerita tentang semua kejadian yang kami alami hari ini. Sesekali terdengar suara Mbak Tetty yang seperti terkejut. Akhirnya setelah mendengar jelas semua yang aku bicarakan. Besok Mas Ady dan Mbak Tetty akan datang ke sini untuk menanyakan kebenarannya pada Mira sekaligus menyelesaikan semua permasalahan ini. Selesai bertelepon, terlihat Yanti keluar dari kamar mandi dengan rambut ia yang masih basah. Aku langsung memberi tahunya bahwa aku sudah menghubungi Mas Ady dan Mbak Tetty dan menjelaskan semua nya, dan tak lupa aku memberi tahu bahwa mereka akan kesini esok hari. Ia lalu menyuruh ku untuk segera membersihkan diri. Aku lekas mengambil handuk dan menuju kamar mandi. ***** Keesokan harinya kami bersiap dan menunggu kedatangan Mas Ady dan Mbak Tetty yang akan tiba siang nanti. Yanti sibuk dengan memasak dan menyiapkan beberapa hidangan makanan, aku pun sibuk membantu nya untuk membereskan rumah. Sementara Mira dari semalam mengurung dirinya dari semalam di kamar nya dan sama sekali tak keluar untuk makan malam maupun sarapan tadi pagi. Sejak semalam aku sudah menelepon wali kelas Mira dan meminta ijin dengan alasan ia sedang sakit. Begitu pula aku juga tak pergi ke kantor hari ini hanya untuk menyelesaikan masalah ini. Tepat pukul 02.00 saat aku dan istriku duduk di ruang tamu, terdengar suara Bus berhenti didepan rumah kami. Perjalanan dari Kupang menuju Atambua bisa memakan waktu 8 jam jika menggunakan Bus. Jika menggunakan Pesawat mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 35 menit saja. Aku dan Yanti lekas beranjak menuju teras untuk menjemput kedatangan kedua orang kakak ku. Terlihat raut wajah keduanya begitu tak bersahabat. Dan juga mata mereka memerah dan sembab seperti baru habis menangis dan tidak tidur semalaman. "Mas, Mbak. Ayo masuk. Pasti capek kan? "ucapku sambil menggandeng tangan Mas Ady sementara Yanti pun juga lekas menggandeng lengan Mbak Tetty Kami bergegas masuk ke dalam dan langsung mengajak untuk makan siang bersama. Tak lupa aku menyuruh Yanti memanggil Mira di kamarnya. Mira terlihat sedikit terkejut melihat kehadiran kedua orang tuanya. Mira lekas berjalan ke arah Mas Ady dan Mbak Tetty dan langsung menyalami mereka. Tak ada satu kata pun yang Mas Ady dan Mbak Tetty keluarkan. Kami pun makan dalam keheningan. Setelah selesai makan kami menuju ke ruang keluarga. Aku dan Mira duduk bersampingan , berharapan dengan Mas Ady, Mbak Tetty dan Mira. Kami pun membicarakan ulang masalah kemarin di hadapan Mira dan hanya ditanggapi dengan tangisannya. Jalan terakhir yang kami ambil adalah Mira akan tetap sekolah disini tapi ia akan tinggal asrama khusus perempuan didekat sekolahan nya. _____ Setelah sekian lama, kami dikejutkan dengan kedatangan Mas Ady dan Mbak Tetty. Dan lebih mengherankan lagi, mereka membawa seorang anak kecil perempuan yang kemungkinan besar umurnya baru sekitar 1 tahun. Dan yang lebih membuat kami terkejut adalah ternyata ini anak Mira. Sejak kapan ia menikah? Memang semenjak masalah beberapa tahun silam, hubungan antara kami dan Mas Ady merenggang. Entah alasannya apa, kami pun tak tahu. Setelah kami berbicara ternyata alasan mereka kesini adalah menawarkan agar kami mengadopsi anak perempuan ini. Dengan senang hati kami menerima anak ini tetapi dengan kesepakatan dia tidak boleh tau jika kami bukan orang tua angkatnya. Anak ini kami beri nama Dessy Ernawati. Anak perempuan yang begitu cantik dan manis, wajahnya 40% mirip dengan Mira. Kami juga mengangkat 1 orang lagi anak perempuan. Anak itu kami beri nama Elsa Abigail, anak dari saudara Yanti di kampung. *Flashback Off*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN