bc

DOKTER DINGIN ITU MANTANKU

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
age gap
fated
second chance
heir/heiress
lighthearted
campus
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Apa jadi niat hati datang kerumah sakit untuk berobat eh ketemu orang yang selama ini ingin di hindari. Inilah kisah cinta Laura dengan abang sahabatnya yuk simak ceritanya jangan sampai ketinggalan 😄😄😄🥰

chap-preview
Pratinjau gratis
Jatuh sakit
Hujan amat deras, Laura berlari cepat memasuki rumah sakit. Namun langkah terhenti. Melihat pemandangan yang menyanyat hati. Sosok dicari kini membalas pelukan dari wanita lain. Tak lain wanita dari masa lalu. STASSSS Petir menyambar sangat kuat. Bagaikan hati Laura yang tercabik cabik. Laira berbalik memilih menjauh dari sana. Tak sanggup rasa ia melihat sang kekasih kini menghianti cintanya. Sepanjang jalan. Laura hujan hujannya dengan tatapan kosong. Suara suara terus tergiang giang di telinganya. "Lihat nanti. Kau akan Lihat cucuku akan membuangmu." "Kau tak pantas dengan cucuku. Gadis miskin!" "Cucuku hanya penasaran dengan gadis polos dan lugu sepertimu." Laura menutup telinganya dan menjerit dengan pilu. Kini orang satu satunya yang ia percaya dari siapapun menghiantinya. Laura mengepal kedua tangannya ia sudah mengambil keputusan untuk menjauh dari hidup Ikhsan sang kekasih. sebelum itu ia sudah menulis surat, yang akan di tinggalkan nya di depan pintu apartemen ikhsan. 4 tahun kemudian..... Uap panas mengepul di udara hingga sehingga suhu terasa panas. Para karyawan pabrik dengan cekatan mengerjai tugas masing masing. "Kok pusing y? perasaan tadi baik baik aja deh." gumam seorang gadis dengan wajah pucatnya. Ia merasakan pusing teramat pusing, kepalanya berputar putar. Ia pegang kepalanya, sampai akhirnya ia jatuh pingsan dan tergeletak tak berdaya. "Kyaaaaaa!" jerit teman sebelanya. "Tolong....! tolong! ada yang pingsan ini!" teriaknya memanggil bantuan. "Laura kenapa Emba? kok bisa pingsan gini?" temannya langsung datang dan sangat khawatir dengan keadaan temannya. " Emba juga gak tahu Sin. Mending bawa ke puskesmas gih takut kenapa kenapa, biar pegawai pria yang bawa. Bantu angkat dan bawa ke puskesmas yo." ucap temannya yang di panggil Emba Sinta. "Aku ikut." Gadis yang dipanggil laura tadi langsung di bawa ke puskesmas terdekat. Sedangkan yang lain pada kembali bekerja agar mandor mereka tidak menegur. Kembali ke Laura, yap gadis tadi bernama Laura Sari. Ia yatim piatu hanya tinggal bersama sang nenek. Kedua orang tua sudah meninggal sejak ia masuk 1 SMA. Sejak saat itu ia tinggal bersama sang nenek, sampai pendidikan selesai. Namun sangat di sayangkan ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena keterbatasan ekonomi, masih syukur ia bisa lulus SMA walau dengan perjuangan sekolah sambil kerja patuh waktu. Sang nenek sudah tua sudah tidak mampu untuk bekerja jadilah Laura sebagai tulang punggung. Ia hanya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai buruh pabrik rot, cukup memenuhi kebutuhan sehari hari. Kembali lagi ke Laura, saat ini ia terbaring di keranjang pasien. Dengan aroma obat obatan bukan itu saja banyak orang pada antri untuk pemeriksaan gratis, dari pemerintah. Dipuskesmas ada dokter tetap pada akhirnya setelah lama puskesmas tidak ada dokter. "Sus, tolong teman saya sus." pinta dengan nada memohon. "Tolong tunggu dokter sebentar ya Emb." Suster tadi segera memanggil dokter. "Astaga nada Laura lo kok bisa pingsan si? kalau tadi gue tahu elo sakit mending gue cegat lo kerja." ucap temannya dengan setia menunggu Laura di sampingnya. Dokter pun datang dan memasuki ruangan."Ini Dokter pasien yang datang tadi." Suster mengarahkan sang dokter. Dokter tadi yang hendak mendekati Laura terhenti sejenak, melihat seseorang yang amat ia kenali. Rasa tak asing dan rindu mulai menyerang secara bersamaan. Teman Laura berkerut melihat sang dokter bukannya mengobati, malah terdiam. "Dok ini teman saya lagi pingsan di obati dong bukan diam!" sentak sang Dokter menyadari bahwa ia tadi melamun. "Maaf tadi saya pikir kenal dengan pasien rupanya bukan. Saya akan obati pasien, Sus tolong alat pemeriksaan." Suster pun membantu sang dokter. "Pasien hanya kelelahan secara berlebihan dan hidrasi lumayan parah. Saya akan resep kan obat nya dan untuk sementara pasien di infus dulu. Agar ada caranya yang masuk." Teman Laura memangaguk paham. Suster segera pasang infus, tapi dokter tadi egan beranjak pergi dari ruangan. Padahal ia ada banyak pasien menantikan nya. Suster tadi terheran bukanya beranjak malah diam memantung. "Dok.." panggil sekali tidak dengar. "Dok!" dua kali. "Dokte!..." sudah tiga kali membuat sang Suster geram. "DOKTER ADA PASIEN YANG LAIN.!" sentak sang Suster membuat Dokter terperanjat. Begitu juga dengan teman Laura tak kalah kaget. Ia langsung menoleh ke samping dan benar saja, ia tadi gak salah duga dokter ini sedari tadi terus memperhatikan Laura temannya. "Ah ya saya kesana segera." Mau gak mau sang dokter lekas pergi menyusul Suster yang tadi kesal memanggil dirinya. "Aneh tuh dokter tadi ia terus memperhatikan Laura. Masa sih dia kenal dengan Laura?" "Tapi gak mungkin nanti aja deh gue tanyain Laura kalau udah sadar." Malam hampir tiba bunyi detingan jam terus berbunyi. Laura membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk di mata. "Uuuuhhh." Buru buru temannya Laura menghampiri Laura. "Pelan pelan Lau." Teman Laura membantu Laura untuk duduk dengan nyaman." Syukur lah dirimu udah sadar lo bikin gue khawatir tahu." Laura melihat sekitar ia menduga dirinya pasti di puskesmas. "Berapa lama gue pisan Yas?" Tanya Laura memegang kepalanya berdeyut nyeri. "Hanpir 6 jam sih." jawab Laura. "Gue mau pulang Yas, pasti nenek lagi nungguin gue. kenapa belum pulang pulang." Laura hendak bangkit namun di cegat oleh Yasmin teman Laura. Mereka berteman sudah sejak SMA sampai mereka kerja bareng di pabrik yang sama. "Ya entar dulu. Gue pangili Suster untuk cabut infus lo. Dan sekalian nebus resep dari dokter." Laura mengaguk lemah. Yasmin terlebih dahulu menebus obat Laura. "Pak tolong obat ini yang di kertas." Yasmin memberikan selembar kertas yang di kasih dokter tadi siang. "Oh sebentar ya Emba." "Ini Emba obatnya " Yasmin mencari uang di dompet nya." Berapa Pak?" "Udah dibayar Emba jadi ambil saja." Ucapan pak apotek sukses membuat Yasmin terpelongoh dan tangannya yang hendak ingin ambil uang terhenti. "Loh saya belum bayar loh Pak? kok udah di bayar. Sama siapa Pak?" tanya Yasmin dengan heran dan kebingungan. "Adalah pokoknya Emba anggap saja rezeki Emba saya tinggal dulu ya Emba, ada pelanggan." Dengan wajah bingung Yasmin tetap mengambil obatnya dan berjalan memanggil Suster. Walau di dalam hatinya masih bertanya tanya. "Saya cabut infus dulu ya Emba. Ingat Emba kalau udah pulang istirahat yang cukup." Nasehat Suster sambil melepas infus Laura. "Terima kasih Sus." Ucap Laura dengan senyum manisnya walau masih pucat, tapi tidak sepucat tadi siang. "Eh Lau gue ada cerita loh. Kalau lo dengar pasti lo gak percaya." ujar Yasmin membantu Laura bersiap siap. "Cerita apa?" Laura sudah duduk. Yasmin pun menceritakan tentang Dokter tadi siang sampai dia ambil obat di apotek. "Menurut lo ini kebetulan aja atau......" Yasmin megatung ucapannya. "Atau apa?" "Lo jujur deh Lau lo ada pacar kan? terus pacar lo yang dokter tadi. kalau benar aduh sweeet banget deh atau ... jangan...jangan tuh dokter nasir banget sama lo." Yasmin naik turun turun alisnya dengan nada mengoda. "Ngawur lo mending bantu gue jalan terus... itu mungkin hanya kebetulan aja." "Ya mana tahu kan. kan gak ada yang tahu." Mereka pun mulai meninggalkan puskesmas. Namun mereka tak menyadari ada sepasang mata yang melihat ke arah mereka. Dengan tatapan rindu dan membinar. "Kamu tetap sama dengan yang dulu pipao," gumamnya terus menatap keduanya, atau lebih tepatnya ke arah Laura. Laura dan Yasmin akhirnya sampai di rumah neneknya Laura. Nenek Laura yang melihat cucunya udah pulang tergopoh gopoh, menghampiri Laura.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook