Bab 1 - Terpukau

1171 Kata
10 "Assalamualaikum," ucap Arya. "Waalaikumsalam. Ehm ... maaf, Dahayu-nya ada?" Imran mengerutkan dahi, karena tidak mengenali suara yang menjawab teleponnya, tetapi dia bisa menebak bila itu adalah Arya, sebab tadi Imran sempat bertukar pesan dengan Dahayu yang menceritakan bila ada Arya di ruang kerjanya. "Lagi ke toilet," jawab Arya. "Oh, ya, perkenalkan. Aku, Arya Himawan, sahabatnya Dahayu," ungkapnya. "Salam kenal, Mas. Saya, Imran Maulana Nataprawira." "Aku banyak mendengar kisahmu dari Ayu." "Sama, Mas. Ayu juga sering cerita tentang Mas dan anak-anak. Dan akhirnya kita bisa ngobrol juga." "Kata Ayu, kamu mau ke sini nanti?" "Iya, untuk mendengarkan keputusannya tentang hubungan kami. Apa dia ada cerita soal itu?" "Ya, tapi aku nggak mau ikut campur. Itu urusan pribadi Ayu." Arya terdiam sejenak, kemudian bertutur, "Aku dan Ayu sangat dekat. Jadi, kuharap kedekatan kami nggak jadi masalah buatmu." "Tentu saja nggak, Mas. Kalian sudah bersahabat sejak dulu. Mana mungkin aku menganggap Mas sebagai pengganggu." "Nah! Orangnya sudah datang. Silakan ngobrol." Dahayu mengangkat alis kala Arya memberikan ponsel sambil menggerak-gerakkan mulut, membentuk kata Imran tanpa mengeluarkan suara. Dahayu mengambil benda itu dan mendekatkannya ke telinga kiri, sembari mengulurkan tangan kanan untuk meraih tas baguette putihnya. Arya menutup laptop dan memasukkan benda itu ke tas kerja. Dia membawa tas keluar dengan diikuti Dahayu dan Intan. Ketiganya melangkah ke pintu. Dahayu sempat melambaikan tangan untuk berpamitan pada manajer toko dan karyawan, lalu mengekori langkah Arya yang terlebih dahulu tiba di mobil. Beberapa saat berselang, mobil MPV putih yang dikemudikan Arya melaju menembus malam yang kian pekat. Pria tersebut berulang kali melirik bila Dahayu terkekeh. Entah kenapa, ada perasaan aneh menyaksikan kedekatan Dahayu dengan pria lain. Arya menghalau rasa itu dan meyakini bila hal tersebut disebabkan dirinya belum mengenal sosok Imran. Akan berbeda halnya bila yang menelepon itu adalah Zayan ataupun Elang, karena Arya sudah mengenali mereka. Sementara di kursi belakang, Intan bertanya-tanya dalam hati tentang siapa yang tengah mengobrol dengan Dahayu. Ssebab perempuan tersebut tampak lepas tertawa dan seolah-olah sedang berbahagia. "Imran nanti ngajak ketemuan, Mas," ungkap Dahayu setelah memutuskan sambungan telepon. "Boleh, tentuin aja tempatnya. Dan kalau bisa, malam. Siang aku banyak kerjaan, nantinya nggak bebas ngobrol," jawab Arya. "Dia juga pengen ketemu anak-anak." "Ehm, nanti aja. Kalau ada anak-anak, kalian nanti nggak bisa kencan. Karena tiga-tiganya bakal nempelin kamu terus." "Kencan apaan? Orang cuma ngobrol biasa." "Hmm, biasa, ya?" "Mas!" "Ya?" "Jangan ngegodain aku!" "Nggak, kok. Kamu aja yang salting ditelepon gebetan." Sedetik kemudian Arya meringis kala cubitan Dahayu mendarat di lengan kirinya. "Sakit, Yu," keluhnya sembari mengusap-usap bekas cubitan. "Biarin!" "Aku bercanda, doang." Dahayu mendelik, sebelum mengalihkan pandangan ke luar kaca. Perempuan tersebut melipat tangan di depan d**a, merasa kesal karena dikerjai Arya. Sementara sang sopir cengengesan, merasa senang menggoda sahabat yang sepertinya tengah berbunga-bunga. Kenyataan itu kembali memunculkan rasa tidak nyaman dalam hati Arya. Hingga mereka tiba di depan rumah, pria berambut tebal tersebut masih bingung dengan perubahan suasana hatinya. Malam kian larut. Dahayu sudah beristirahat bersama Alfian dan Intan di kamar tengah lantai dua. Sementara Aldi dan Aldo tidur di kamar Aminah di lantai satu. Arya yang kesulitan untuk tidur, akhirnya bangkit dan jalan ke luar kamar. Pria berkaus putih, menuruni tangga dan berhenti di ruang tengah. Arya memandangi dapur dan membayangkan bila saat itu ada sosok istrinya yang akan menyiapkan makanan sambil bersenandung. Tatapan Arya mengabut karena rasa rindunya kembali mencuat. Pria berparas manis mengangkat tangan kanan untuk menekan-nekan sudut mata agar tangisan tidak keluar. Setelah merasa tenang, Arya meneruskan langkah menuju dapur untuk membuat mi instan. Pada saat yang bersamaan, Dahayu keluar dari kamar dan memasuki toilet yang berada di antara kedua kamar anak. Kala dia keluar, aroma khas menguar dari lantai satu dan memancing Dahayu melongok dari balik dinding pembatas. Tiba-tiba dia ingin menikmati sajian hangat tersebut dan bergegas turun. Arya mengaduk-aduk mi sembari berbalik. Baru saja dia hendak mengayunkan tungkai ke ruang tengah, kehadiran Dahayu yang tidak disangka-sangka membuat pria tersebut terkejut. "Mi-nya masih ada, Mas?" tanya Dahayu. "Ehm, iya," sahut Arya sembari menatap Dahayu dengan intens. "Nyium wanginya, aku jadi pengen." Dahayu melangkah maju, tetapi melihat Arya tidak bergerak membuatnya bingung. "Kenapa, Mas? Apa ada yang aneh?" tanyanya. Arya tidak menjawab, melainkan langsung menunjuk kepala. Dahayu turut melakukan hal serupa, kemudian membeliakkan mata, karena ternyata dirinya lupa mengenakan jilbab. Dahayu hendak berbalik, tetapi ditahan Arya yang kembali memanggilnya. "Aku ambilkan jilbabnya Erni, ada di laci itu," tutur Arya sembari menunjuk ke laci bersusun di sudut kanan ruang tengah. Dahayu mendengkus pelan sambil mengomeli diri sendiri yang pelupa. Dia memerhatikan saat Arya menarik laci teratas dan meraih jilbab hitam instan berukuran sedang, kemudian memberikannya pada Dahayu yang segera mengenakannya. Selama beberapa saat suasana hening. Keduanya saling menatap, sebelum Dahayu memutus pandangan dan membalikkan badan. Dia menyibukkan diri untuk membuat kudapan berkuah yang menjadi penyebab dirinya malu, dipergoki Arya tanpa menggunakan jilbab. Arya berpindah ke sofa hitam di tengah-tengah ruangan. Pria tersebut meraih remote dan menyalakan televisi dengan volume kecil. Arya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Bayangan Dahayu tanpa jilbab tadi kembali melintas dan membuatnya terpukau. Kendatipun mereka sudah bersahabat sejak remaja, tetapi Arya memang belum pernah melihat Dahayu tanpa jilbab sebelumnya. Kenyataan bila perempuan tersebut terlihat cantik membuat Arya tanpa sadar melirik Dahayu. Pria berkumis tipis terkesiap sesaat, karena posisi tubuh Dahayu yang membelakanginya membuat Arya kembali teringat sosok Erni. *** Keesokan harinya. "Kamu yakin mau tinggal di sini?" tanya Arya sembari memandangi Dahayu saksama. "Iya. Aku nggak mungkin terus-terusan tinggal di rumah Mas," jawab Dahayu sambil merapikan jilbab birunya. "Aku nggak apa-apa, kok, kalau kamu tinggal di rumah. Justru aku malah senang, anak-anak pun sama." "Enggak enak kalau dilihat orang lain, Mas. Dulu, ada Erni, aku bisa tenang nginap berhari-hari. Sekarang Nyonya rumahnya nggak ada, aku nggak enak hati. Apalagi kalau nanti calon istri Mas tahu, bisa cemburu." "Belum ada calonnya. Aku belum mau nyari." "Iya, tapi nanti Mas harus nikah lagi. Anak-anak butuh Mama yang stand by." "Nantilah, sekarang belum siap. Aku masih cinta sama Erni. Nggak adil buat calon istri kalau aku masih terbayang Erni." Dahayu manggut-manggut. "Aku paham, Mas. Tapi kalau bisa, jangan sampai lewat dari setahun. Kasihan anak-anak, terutama Alfian. Dia betul-betul butuh Mama." "Ehm, kalau aku justru takut calon istri nggak tulus nyayangin anak-anak." Arya terdiam sejenak, kemudian bertutur, "Apalagi kalau kami nantinya punya anak-anak sendiri. Bisa aja dia jadi nggak perhatian sama anak-anakku, terutama Dedek." Dahayu tertegun. Dia tidak mengingat bagian itu karena melupakan bila perempuan lain bisa mengandung, sedangkan dia tidak. Perempuan berhidung bangir tersebut mengalihkan pandangan ke luar, sebelum membuka pintu dan turun. Arya melakukan hal serupa. Kemudian dia berpindah ke belakang mobil untuk membuka pintu bagasi dan mengambil koper hitam milik Dahayu. Seusai menutup pintu mobil dan mengunci kendaraan, Arya menyeret koper menyusul Dahayu, yang telah terlebih dahulu memasuki lobi utama hotel milik mantan mertuanya, di mana Dahayu masih memiliki saham di perusahaan Hatim. Seorang manajer hotel yang bertugas, segera menghampiri dan menyalami Dahayu serta Arya. Mereka sempat berbincang sesaat sebelum sang manajer memerintahkan seorang pegawai untuk mengantarkan pasangan tersebut ke kamar terbaik, yang biasanya ditempati keluarga Hatim dan kerabat bila kebetulan tengah berkunjung ke Surabaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN