09
Sambil menggendong dan mengayun Alfian, Arya memerhatikan gerakan Dahayu yang lincah melayani para pembeli. Dengan sabar perempuan bergamis hijau tua, mendengarkan konsep pakaian pesta, yang akan dipesan oleh rombongan ibu-ibu dari sebuah bank terkemuka di Indonesia.
"Masyallah, lucunya," puji seorang perempuan berjilbab putih sambil menyentuh tangan Alfian yang balas memandanginya penuh minat. "Usianya berapa, Pak?" tanyanya sembari menatap Arya.
"Dua bulan, Bu," jawab Arya.
"Dan ibunya masih sibuk bisnis, luar biasa. Hebat!" Perempuan tersebut mengacungkan jempol pada Dahayu yang sempat terkejut sesaat, sebelum memaksakan senyuman agar para tamunya tidak curiga.
"Lebih mirip ke bapaknya, ya, daripada ke Ibu," timpal seorang perempuan berjilbab kuning yang ikut memegangi pipi Alfian. "Pipinya gemesin buat diemut," selorohnya yang disambut tawa rekan-rekannya.
"Saya juga sering ngemut pipinya kalau lagi tidur. Empuk," tutur Dahayu seraya tersenyum lebar.
"Iya, apalagi nanti kalau udah gedean, bakal tambah montok," sahut perempuan bergaun hitam panjang. "Masih ASI, kan, ya?" tanyanya.
"Ehm, iya." Dahayu terpaksa membenarkan agar tidak ada pertanyaan ataupun pidato dari para perempuan tersebut.
"Semoga sehat terus, ya, Nak. Dan nanti punya Adik," ungkap perempuan bergaun hitam yang membuat Dahayu terdiam.
"Enggak bakal nambah lagi, Bu. Anak saya udah tiga. Kakaknya Alfian kembar, cowok pula," terang Arya. Dia sengaja mengatakan hal yang sebenarnya, agar pembicaraan mengenai anak tambahan bisa dialihkan.
"Oh, sudah ada tiga, toh? Kirain baru satu." Perempuan berjilbab kuning mengulaskan senyuman. "Berarti ibunya paling cantik di rumah, empatnya cowok," sambungnya yang menerbitkan senyuman di wajah Dahayu.
"Enggak apa-apa, nanti juga anak cowok bawa menantu perempuan. Sayangi baik-baik sebagai anak, pasti dia pun bakal sayang ke orang tua suaminya," celetuk seorang perempuan berjilbab krem yang merupakan anggota senior dari kelompok tersebut. "Anak saya ada empat, laki-laki semua. Yang dua sudah nikah, dan menantu-menantu saya baik-baik," lanjutnya.
"Alhamdulillah, ikut senang, Bu," cetus Arya.
Pembicaraan mereka terhenti ketika perempuan-perempuan tersebut usai berbelanja pakaian muslim dalam jumlah yang banyak. Selain itu, mereka juga memesan gaun pesta berharga mahal yang membuat Dahayu senang, karena pastinya pundi-pundi uangnya akan terisi banyak.
"Yu, kalau mereka ngelunasin, aku dapat bonus, ya," seloroh Arya.
"Males ngasih Mas bonus. Ujung-ujungnya jadi tambahan modal usaha," kelakar Dahayu.
"Ehm, yang ini nggak, Yu. Mau aku pakai buat hal lain."
"Oh, ya?"
"Hu um."
"Buat apa?"
"Ngelamar calon Ibu buat anak-anak."
"Siapa? Apa aku kenal orangnya?"
"Lumayan."
"Sebutin, dong. Jadi penasaran aku."
Arya tidak menjawab pertanyaan Dahayu, melainkan menciptakan senyuman di wajahnya, yang membuat Dahayu mengerutkan dahi. Saat Arya berbalik dan menjauh, Dahayu masih bergeming sambil menatap punggung sahabatnya. Dia menerka-nerka sosok perempuan yang tadi disebutkan lelaki berkumis tipis.
***
Arya baru tiba di butik seusai magrib. Pria berhidung bangir turun dari mobil dan menengadah. Butiran air menetes dari langit, pertanda hujan telah turun. Arya berpindah ke belakang mobil dan membuka pintunya untuk mengambil payung. Setelah menutup pintu, dia bergegas menuju teras butik.
Seperti halnya tadi pagi, suasana butik masih ramai. Beberapa pegawai tampak sibuk meladeni pembeli. Arya celingukan mencari sosok Dahayu. Sudut bibir pria berambut tebal, terangkat membingkai senyuman, ketika melihat perempuan berjilbab hijau tersebut berada di dekat tangga, dan tengah berbincang dengan dua perempuan lainnya.
"Assalamualaikum," sapa Arya, sesaat setelah berada di dekat Dahayu.
"Waalaikumsalam," jawab Dahayu dan kedua tamunya nyaris bersamaan.
"Halo, Sayang." Arya mengambil alih Alfian dari gendongan Dahayu. Lelaki kecil itu memandanginya saksama, kemudian Alfian melonjak sedikit sambil menggapai leher sang papa. "Nggak rewel, kan?" tanyanya sembari mengayun sang bayi.
"Nggak. Anteng malah. Kecuali pas dimandiin tadi," jelas Dahayu.
"Kenapa?"
"Aku lupa nggak bawa bak mandi, jadinya Dedek mandi di wastafel. Mungkin kaget, padahal tetap pakai air hangat."
Arya dan kedua perempuan lainnya kompak tertawa hingga mengejutkan Alfian, yang langsung mengubah ekspresi wajah seolah-olah akan menangis.
"Ssttt, kaget, ya?" Arya langsung menghentikan gelakak dan menimang putranya sambil jalan menuju ruang kerja Dahayu, yang berada di bagian belakang bangunan.
"Ayahnya sigap banget," ujar perempuan berjilbab biru seusai tertawa.
"Iya, Mas memang dekat sama anak-anak," sahut Dahayu.
"Alhamdulillah, senang kalau punya suami gesit begitu," timpal perempuan berjilbab ungu. "Mbak sangat beruntung," sambungnya sambil memegangi lengan Dahayu yang hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan tersebut.
Setelah kedua tamu berpamitan, Dahayu memberi kode pada manajer toko yang memahami isyarat tadi. Dahayu membalikkan badan, lalu mengayunkan tungkai menuju ruang kerjanya.
Perempuan bermata besar, mengulaskan senyuman ketika menyaksikan Arya telah berbaring di kasur lipat sambil mendekap Alfian yang tertidur. Intan yang tengah duduk di sofa, berdiri dan hendak mengambil Alfian, tetapi dicegah Dahayu.
"Jangan diambil, nanti kebangun," bisik Dahayu.
"Takut jatuh," sahut Intan sambil berbisik pula.
"Enggak. Refleksnya Mas bagus, sudah biasa dia ngasuh dari dulu."
Intan kembali duduk di kursi dan memerhatikan Alfian dengan sedikit was-was. Sementara Dahayu berpindah ke kursi dekat meja kerja dan duduk. Kemudian dia fokus menghadap laptop yang masih menyala.
Tiba-tiba Intan menutup mulut dengan tangan untuk menahan teriakan, karena Alfian bergeser dan nyaris jatuh. Namun, Arya sigap memegangi putranya dan memiringkan badan ke kiri sambil menepuk-nepuk paha Alfian yang kembali pulas.
Dahayu yang sempat melirik, menyunggingkan senyuman sebelum beradu pandang dengan Intan. Dahayu mengalihkan pandangan pada laptop, sementara Intan menyandarkan badan ke belakang.
Sang pengasuh akhirnya harus mengakui intuisi Dahayu sangat tepat. Intan juga menyadari bila perempuan berjilbab hijau muda tersebut, ternyata sangat mengenal karakter majikannya.
Tanpa sadar Intan mengamati Dahayu dan Arya secara bergantian. Meskipun dia baru beberapa bulan bekerja sebagai pengasuh bayi, tetapi Intan sangat menyukai Dahayu dan berharap sahabat bosnya itu yang akan menjadi Ibu sambung. Seperti halnya yang diinginkan keluarga Arya dan Aminah, serta Wahyuni, sang asisten rumah tangga.
Beberapa belas menit berikutnya Arya terbangun. Dia bangkit duduk sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Sang duda memindai sekitar dan tatapannya bersirobok dengan sepasang mata besar Dahayu yang memandanginya saksama.
"Jam berapa, Yu?" tanya Arya dengan suara serak.
"Hampir jam 8," jawab Dahayu.
"Waduh! Sudah malam. Kita pulang, yuk!"
"Iya, tapi aku ke toilet dulu sebentar."
Dahayu mematikan laptop sebelum berdiri. Perempuan tersebut beranjak keluar, sementara Intan bergegas mengemasi barang-barang milik Alfian, lalu dia mengangkat bayi tersebut dan menggendongnya erat.
Arya berdiri dan spontan merapikan pakaian sembari jalan menuju cermin besar di dekat meja kerja. Dia mengambil tisu untuk mengusap wajahnya.
Deringan ponsel Dahayu membuat Arya melirik dan mengamati nama pemanggil. Kala melihat nama Imran tertera pada layar, Arya spontan mengambil benda itu dan menekan tanda hijau, sebelum menempelkannya ke telinga kanan.