Kini keadaan ruang rawat Yogi sudah penuh, ada ke enam kakak nya di sana. Ferry sudah pergi, mungkin membiarkan keluarga itu menyelesaikan masalahnya. Hati Yogi benar-benar menghangat kala mendengar pengutaraan manis kakaknya beberapa menit yang lalu. Yogi memaafkan? Tentu saja, bocah dingin itu tak mungkin bisa menolak kebahagiaan yang datang padanya. Ia sudah lelah di sakiti, tak mungkin dendam pada keluarga yang sangat di sayanginya selama ini. "Dek, kenapa melamun?" Yogi tersentak, menoleh, mendapati kakak terkecilnya, Arya tengah mengusak surainya dengan sayang. "T-tak apa kak," jawabnya agak gugup. Rasanya seperti banyak kupu-kupu berterbangan di perut nya di perlakukam semanis ini pada Arya. "Kau lapar, heum? Ingin kakak belikan sesuatu? Nasi goreng? Mau?" tanya Adit dengan p

