Bruk! "YOGI!!!" Tian memekik panik kala tubuh Yogi sudah melemas di pelukannya, Tian segera membopong Yogi dan mendudukkannya di kursi meja makan. "Gi, hey ... kau kenapa?" Tian menggenggam tangan Yogi sambil berjongkok. Mengusap sisa air mata di pipi pucat Yogi yang belum sempurna mengering. "Kak, pusing ...," adu Yogi dengan tatapan sayu. Hari ini adalah hari terberat baginya. "Ya? Apa perlu ke rumah sakit? Pusing sekali?" Tian segera mengecek dahi Yogi. 'Tak panas.' "Jangan ke rumah sakit kak," jawab nya parau. Air mata nya sudah benar-benar berhenti menyisakan hidung merah dan mata yang agak membengkak. "Lalu? Ap___" "Ambilkan aku pisau itu kak, aku mau mati saja hiks ... a-aku tak sanggup menjangkaunya, to-tolong ambilkan kak hiks ...." Air mata bocah itu kembali mengalir,

