"Apa maksud kalian?" Semua atensi seketika mengarah pada Yogi. Bocah itu tampak masih merem melek merasakan sensasi pusing yang masih menghantam kepalanya. Abizar langsung merunduk, mengusak surai Yogi. "Tak usah dipikirkan ya, istirahatlah," ujar dokter itu lembut yang di jawab gelengan dari Yogi. "Tidak, jangan coba menutup-nutupi apapun lagi dariku," ujarnya dingin. Abizar menghentikan usapannya, beralih menatap Dimas yang masih diam di tempat. Tak ada niatan menanyakan keadaan sang anak. "Beri tahu saja, toh dia sudah tau sebagian ceritanya." Dimas menyaut acuh, Tian sudah mendudukkan diri di ranjang adiknya sambil menggenggam tangan ringkih sang adik, seolah menjadi obat dari kesakitan yang sebentar lagi ia dengar. "Huh! Baiklah. Tapi berjanji padaku kau akan tetap begini, jan

