Part 4

1135 Kata
Tanpa banyak perlawanan lagi, Yogi pun segera bangkit dari tempat duduk menuju ke lapangan sekolah. Tak menatap bahkan melirik sang kakak yang sedang menatapnya tajam. Sebelum tangan mungilnya memegang knop pintu, kembali suara William terdengar menghentikan langkahnya. "Jangan berulah, saya mengawasi kamu dari sini!" "Cih!, nggak ada gunanya juga gue lari." Setelah menjawab tak kalah tajam, Yogi pun segera berlalu. Meninggalkan Ferry yang tengah mengumpat dalam hati di tempat. 'Dasar guru bajingan." "Okay boys/girls, come on to open ...." Setelahnya mereka pun mulai melaksanakan belajar/mengajar seperti biasa, menghiraukan remaja yang tengah bergelut dengan matahari di luar sana. ▪▪▪ "Oh, s**t!" Yogi mengumpat kala merasakan kepalanya semakin berdenyut, matanya sudah berkunang-kunang melihat pasokan cahaya terik yang menusuk mata sipitnya. Ini sudah satu jam lebih, tapi William tak kunjung keluar dari kelasnya. Yogi berusaha berdiri tegak walau betisnya sudah sangat lemas, pusing yang menghantam nya dari tadi malam belum juga hilang, ditambah ia belum makan apapun sedari pagi, mengingat Tian kesiangan membangunkan- ralat membebaskannya dari gudang. Sempat oleng, namun ia berusaha tegak kembali sembari memijit pelipis. Tidak, panas pagi hari ini tak begitu terik, namun cukup membuat dahi putih remaja itu berkeringat. Biasanya Yogi sangat kebal jika William menghukumnya di pagi hari seperti ini. Namun, karena keadaannya sedang kurang sehat, jadi tubuhnya terserang lemas. "Will sialan! Buru keluar elah, nggak lucu kalo gue tepar kek ikan asin di sini!" Yogi bergumam sambil meringis, memijit pelipisnya yang terasa semakin berdenyut. "Will sialan, Will b*****t, Will nggak ada akhlak, Will baj—" "Gi!" Yogi lantas menoleh kala sensasi dingin tiba-tiba menjalari pipi kanannya, mendapati seonggok sahabat laknatnya tengah tersenyum aneh tepat di samping ia berdiri. Tanpa menunggu tawaran, ia langsung merampas botol mineral yang terlihat menggoda itu, menenggak hingga tandas. Setelahnya, Yogi pun membuang bekas botol bening itu ke tong sampah di samping ia berdiri, kembali memandang lurus ke depan. "Eh kambing, nggak ada niatan buat bilang makasih?" tanya Ferry berdecak sebal. "Makasih." Ctak! "Apaan sih, Fer!" Yogi memandang datar sang sahabat sambil mengelus kepala nya yang batu saja terkena jitakan maut. "Gitu aja? Nggak ada niatan buat nanya kenapa gue bisa keluar kelas?" "Nggak penting. Sana, sana, pusing gue liat lo lama-lama," gumam Yogi. Ferry lantas memutar bola mata malas. "Aish, ya udah lah, ikut gue ayo. Gue ke sini karena disuruh guru olahraga buat nganter lu ke UKS. Katanya diliatin dari jauh, lo sempoyongan mulu." "Terus si Will—" "Lu kan tau sendiri pak Wandi gimana? Mana sanggup guru kempot itu ngelawannya!" Yogi hanya mengangguk, lalu mulai ingin beranjak. Namun baru ingin melangkah, tubuh mungilnya malah terhuyung. Untung Ferry dengan sigap menangkap. "Wess! Abis minum tuak berapa galon, Mang?" Ferry bergurau seraya mengecek dahi putih remaja itu, lalu terkejut kala menrasakan sensasi panas menjalar di punggung tangannya. Yogi menepisnya pelan lalu berjalan mendahului laki-laki itu. "Woy, kambing! Mau ke mana, Lu? UKS di sebelah situ!" Ferry dengan cepat menyekal tangan Yogi. Sang empu hanya menggeleng. "Males, kelas aja," kekeh Yogi. Ferry pun kembali berdecak melihat tingkah sahabat nya ini. "Gila lu, hah? Guru kempot itu masih di kelas. Mau cari masalah lagi sama dia apa gimana?" Yogi tampak berpikir. "Udahlah ayo ke UKS. Serem gue liat muka lu, pucet banget kayak manusia sekarat!" Ferry dengan cepat menarik tangan Yogi tanpa belas kasian. Sang empu hanya diam. Setelah sampai di UKS, Yogi langsung berbaring di brankar. Dibantu Ferry, ia menaikkan selimut sebatas d**a. "Udah makan lu?" tanya Ferry dan Yogi pun menggeleng. "Yeu, si kambing. Pantes sampe oleng-oleng kayak abis minum baygon. Ya udah bentar, gue beliin bubur si kantin. Abis itu baru baru minum obat," ujar Ferry lembut dan kali ini Yogi mengangguk, membiarkan tubuh jangkung laki-laki itu tertelan pintu. Lalu kembali Yogi memijit pelipisnya yang berdenyut. Hingga gebrakan pintu yang terbuka mengalihkan atensinya. "Huhu, pelan g****k! Sakit." Yogi melihat dua orang laki-laki yang tak asing di matanya masuk dengan satu laki-laki terlihat memapah laki-laki yang satunya. "Kan udah gue bilang, jangan main bola seenak jidat!" "Diem, Dit. Tau lagi sakit juga." Adit pun bungkam, membiarkan Arya —sang kembaran merintih ria sembari membantunya berbaring di brankar. "Aish, sakit bet astaga. Kayak mau mati tau Dit rasanya." "Lebay. Udah diem ah, brisik. Sini gue bersihin dulu lukanya." Arya refleks memekik kala Adit mengelap luka di lututnya cukup keras. Yogi langsung memalingkan wajahnya, berusaha tak melihat adegan menyakitkan itu. Seakan hantu, ia sama sekali tak dilihat, bahkan dilirik sekalipun. "Sumpah Dit, sakit," a*u Arya, Adit langsung mengembus dengan hati-hati guna meringankan perihnya. , "Ya udah sabar, bang Will lagi jalan arah ke sini bawa alkohol. Kata si Wara alkohol UKS habis." Adit menegakkan diri, mengusak surai kembaran lebaynya guna menghentikan ocehan yang keluar, lalu menaikkan pelan pelan kedua kaki Arya yang masih menggantung di samping ranjang agar benar-benar menjadi berbaring. Sekilas, Arya terkejut, rupanya ada Yogi, sedang berbarinh di brankar sebelahnya. Berniat jahil, ia lantas menatap Adit yang masih sibuk menggulung celana seragamnya. "Bang Dit, embusin lukanya dong. Perih." Adit hanya menurut, meniupi luka Arya dengan telaten, membuat rasa panas langsung menjalari mata Yogi. Yogi membuang muka, menahan sensasi cemburu yang membuncah. Yang benar saja, melihat adegan seperti itu, tiba-tiba ada api cemburu yang membara di hatinya. Brak! "Dek!" Semua penghuni UKS itu menoleh, terutama Yogi. Ia berharap panggilan lembut penuh kekhawatiran itu ditujukan untuknya. Tapi apalah daya, harapannya pupus kala sang kakak yang memiliki dimple itu ternyata mengutarakan kekhawatirannya pada Arya. "Maaf lama, tadi ada kepentingan sama pak Wandi. Arya, nggak terlalu sakit 'kan, Dek?" Perih, Yogi menyaksikan adegan di mana William berujar penuh kelembutan sembari meniupi luka di kaki Arya. "Nggak terlalu sih, tapi makin ndeyut karena diteken sama si Adit laknat." Mendengar itu, William lantas menatap Adit tajam. Adit malah berpaling menatap Arya tak terima hendak protes, namun pintu yang terbuka menghentikannya. "Yogi ... cogan dataaaang— eh?" Ferry meringis seketika. "Ahh, maaf." Laki-laki yang selalu membawa aura positif itu terlihat menahan malu dengan mangkuk kecil juga kresek di tangannya. "Tahan ya, Dek. Agak pedih soalnya." Ketiga anggota keluarga itu hanya acuh, tak sedikitpun mengindahkan ucapan maaf Ferry dan kembali fokus pada Arya. Ferry sendiri hanya mengangkat bahu acuh, lalu berjalan membawa barang di tangannya ke arah Yogi yang tampak menatapnya dengan tatapan; Terluka. Ya, Ferry dapat melihat itu. Ferry melihat tatapan Yogi tak sedingin biasanya. "Gi, lo oke?" tanya Ferry sambil meletakkan nampan di atas nakas kecil di samping brankar. "Hm." Ferry mengela napas, mendudukkan diri di brankar sang sahabat. "Duduk gih, makan. Biar minum obat." Yogi mengangguk, lalu mencoba duduk dengan dibantu Ferry. Keluarga Gamalia? Jelas mereka tak peduli. Setelah selesai makan dan minun obat penurun panas, Yogi pun kembali berbaring. "Fer, ambiling minyak kayu putig dong, mual gue." Ferry mengangguk, matanya mencoba menyisir sekeliling mencari keberadaan si minyak angin. Setelah menemukannya, ia pun beranjak mengambil. "Heh! Enak aja ambil barang orang. Letakin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN