part 5

1453 Kata
"Jangan sentuh, itu milikku!" ujar seseorang dengan lantang. Tangan Ferry pun mengambang di udara, mengalihkan atensi pada pria yang tadi berujar dingin tersebut. "Hey, ini milik UKS! Seenak nya saja kau!" ujar Ferru lalu mengambil botol minyak angin kecil yang berada di nakas samping ranjang Arya. "Kau yang seenaknya, bodoh!! Itu milik kakakku, kau tau! Kak Will yang membawanya tadi!" pekik Arya. Seakan tak peduli, Ferry memilih tak menghiraukan dan langsung mengambil tanpa persetujuan sang pemilik. Ia menyingkap seragam Yogi kemudian membalurkan minyak di perut putih pria itu. "Yak!!! Kau memakainya tanpa izinku, br*ngs*k! Tunggu ka__ shh ...." Arya meringis sambil menghembus luka dilutut nya yang berdenyut saat ia mencoba turun ranjang. "Ya ampun, apa sakit?" panik Adit sambil ikut menghembus luka Arya. "Kak ... minyak angin nya ...," rengek Arya pada Adit. Adit yang mengerti sudah siap menghajar Ferry dengan ucapan kasar nya, namun suara bass William menghentikannya. "Sudahlah, hanya minyak angin, Arya," ucap William santai. Arya langsung mengerucut sebal sambil merebahkan diri nya kasar. Senyum, tanpa ada yang menyadari, seulas senyum tipis terbit di bibir Yogi. Ia senang, sungguh! Perkataan singkat William tadi benar-benar membuat hatinya menghangat. Walau perkataan itu terkesan dingin tapi Yogi senang bisa di bela. Ayolah, perlu ku ingatkan lagi? Yogi itu masih bocah, dia akan senang karna hal sepele, dan sedih karna hal sepele juga. Namun, lagi-lagi tak ada yang mengetahui sifat nya karna ego masing-masing. "Keluarlah kak, aku ingin istirahat!" ujar Arya dingin. Adit dan William paham, pasti adik mereka ini tengah marah. Uh, kekanakan sekali. "Dek, kau marah heum?" tanya William, ia tau ini karna dirinya. Hati Yogi kembali jatuh kala mendengar penuturan William yang lembut itu, ia tak pernah sekalipun di perlakukan seperti itu oleh William. "Tidak, pergilah. Aku lelah!" Arya memutar tubuh nya agar membelakangi para kakak nya, tak sadar manik nya bertemu pada mata sang adik yang berbaring di brankar tepat di hadapannya. Melihat itu, ide jahil muncul di otaknya. "Kakak ingin ku maafkan?" tanya Arya dengan nada kesal. "Maulah dek," ucap kedua nya serempak. Ferry sudah membatin sedari tadi, 'Badan saja bongsor! Dasar bocah!' "Adek mau cium, adek mau peluk." Cup~ Cup~ Grep! "Cepat sembuh ya, kami menyayangimu." 'Menjijikkan, k*parat! Kenapa aku menyaksikan adegan tak bermutu ini' batin Ferry. 'Dia hanya lecet kaki, tak akan mati b*ngsat! Lebay!' rutuk Ferry lagi. 'Kau berusaha membuatku iri? Selamat kak, kau sangat berhasil," batin Yogi, ia sudah memalingkan wajahnya. Menahan gejolak aneh di hatinya. Tap ... tap ... tap .... "Hey! Kulkas! Hey, sakit, kita mau kemana? heyy ... pelan bodoh ini sakit!!" pekik Ferry saat Yogi sudah menyeret nya keluar dengan paksa. Tak menjawab, Yogi malah semakin mempercepat jalan nya untuk keluar dari UKS. 'Luar biasa, padahal sedang sakit. Tenaga mu memang kuat, Gi!' puji Ferry dalam hati. Membiarkan Yogi menarik tangan nya sesuka yang dia mau. Rupanya Yogi membawa Ferry ke kelas, lalu ia langsung duduk, menenggelamkan wajah nya di lipatan tangan yang membuat dahi Ferry mengernyit. "Gi, kau oke? Kalau masih sakit napain ke kelas?" tanya Ferry melembut. Ia duduk di bangkunya sambil menghadap belakang, ke arah meja Yogi. Yogi diam, ia berusaha meredam emosi nya yang terpancing karna melihat adegan keluarga sok harmonis nya itu. Di tambah kepalanya masih pusing. Mungkin demam nya makin parah, padahal sudah minum obat. "Gi," panggil Ferry lagi dan kali ini Yogi mendongak. "Aku oke," jawab Yogi pelan. Ferry mengangguk, padahal dia kurang yakin saat melihat wajah Yogi semakin pucat, pipi nya saja sudah agak merah. 'Demam mu makin parah, Gi!' gumamnya. "Kau kenapa? Jijik dengan kelakuan adik bungsu keluarga Gamalia itu, hm? Kalau iya, aku juga begitu sebenarnya. Padahal dia kakak kelas kita! Cih! Najiss!" sungut Ferry. Yogi pun tersenyum. 'Bungsu kelurga Gamalia.' . Menohok, Yogi ingin sekali mengatakan pada Ferry --ralat! Pada semua orang, bahwa dialah sebenarnya anak bungsu itu, si bungsu keluarga. Tapi apalah daya, diberi izin tetap memakai marga Gamalia saja dia sudah bersyukur. "Tidak, hanya saja aku mual mencium aroma obat," ujar Yogi yang membuat Ferry mengagguk percaya. "Cepatlah sehat, aku tak ingin kau mati terlebih dahuku dari aku. Siapa yang akan menghalangi ku menceburkan diri di sungai kalau kau mati, eoh?!" goda Ferry. Yogi tersenyum, ini yang dia suka dari Ferry. Sahabat nya ini mampu membuat bibir nya yang nyaris jarang tersenyum itu bergerak. Ferry selalu bisa mengubah mood seorang Yogi. "Kalau kau mau, mati saja. Jangan harap aku akan menghalangi mu lagi!" ujar Yogi dingin. Ferry melotot, tangannya terangkat menggeplak lengan Yogi. "Yak!! Kau menyuruhku mati?!" pekik Ferry. Yogi memutar bola matanya malas. "Ferry bodoh! Terserah, aku pusing, biarkan aku tidur hingga pelajaran dimulai." Yogi tak berbohong, memang kepalanya sudah berdenyut, di tambah sensasi panas menjalari tubuh nya. Rasa panas, rasa dingin di rasakan nya secara bersamaan. "Baiklah, kau cepatlah bangun jika kubangunkan. Jangan seperti tadi pagi!" "Hm." ▪▪▪ "Kami pulang." "Sakiit ... pelan-pelan alien!" "Astaga, Arya kenapa?!" ujar Meli panik kala mendapati Arya tengah di papah Adit dengan William membawa tas mereka semua di belakang. "Mama ak___" "Gak papa ma, hanya lecet karna tersandung batu ketika olahraga tadi. Dia terlalu bersemangat." Arya mengurucutkan bibir lucu ketika Adit memotong ucapannya. Padahal niat hati ingin bermanja pada Meli. "Ya ampun, ken___" "Aku pulang." Mereka semua menoleh kala Yogi masuk sambil sedikit membungkuk. Yogi diam kala mereka semua menatap tajam ke arahnya. "Dit, sini Arya biar sama mama. Kau gantilah baju, lalu makan siang. Willi, kau taruh tas-tas itu di situ dan pergilah bebersih diri, habis itu temani Adit makan!" perintah sang ibu sambil mengambil alih Arya yang tadinya di papah Adit. "Huh, baiklah, Ma. Kau sungguh hebat, Adit sudah pegal memegangi si bungsu bongsor ini!" ucap Adit lalu melenggang pergi. "Ma ...," rengek Arya. "Dut, jangan mengganggunya!" pekik Meli. "Ma, aku ke kamar dulu," ucap William.Melil mengangguk lalu mengalihkan atensi pada pria yang belum beranjak itu. "Kau! Sedang apa di situ? Tak lihat anakku sudah kesakitan, eoh? Cepat ambil tas-tas itu dan antar ke kamar mereka. Habis itu cuci semua piring kotor. Setelahnya baru kau makan!" Meli beranjak memapah Arya. "Mama ... pelan-pelan ya, ini sakit!" "Iya, pasti sayang." 'Tak lihat anakku sedang kesakitan?' Yogi tersenyum miris, di hati ia bergumam. 'Aku anakmu juga, ma.' Tapi ia tak mampu berucap demikian langsung. Ia cukup tau diri kala sang ibu menatap nya tajam, ia tau bahkan sangat tau bahwa sang ibu, Membencinya. Apa sebabnya? Yogi pun tak tau. Jikalau ia tau, Yogi pasti akan berbuat apapun agar kesalahannya dapat di maafkan. Tak ingin kembali di maki, Yogi segera melangkah gontai memunguti tas kedua kakak nya yang cukup berat itu. Lalu menaiki tangga sambil berpegangan pada pinggiran tangga. Kepala nya pusing, badan nya pun melemas, bahkan nafas yang keluar masuk terasa hangat olehnya. ‘Jangan tumbang sekarang, Gi. Pekerjaan menantimu!' batinnya menyemangati diri. Hingga sampailah ia di depan pintu bercat putih, terdapat papan tulisan disana. Alien dan Arya tampan. Yogi tersenyum, membayangkan betapa seru nya memiliki teman satu kamar. Bercanda, menjahili, mengusik mungkin sangat bahagia, tak seperti hidupnya sekarang. Ceklek~ Kriet~ Yogi meletakkan tas keduanya di meja belajar yang tampak bagus di samping pintu masuk. Lalu ia beranjak keluar, masuk ke kamar dan membersihkan diri. Setelah itu, Yogi segera turun ke dapur, memaksakan tubuhnya yang sudah meronta minta di istirahatkan untuk menyuci piring, seperti perintah sang ibu. Ia tak mau membuat ibu nya semakin membencinya. Saat masih mengusap-usapkan busa sabun di piring kotor, tiba-tiba sekitar nya terasa berbayang. Yogi berusaha menggelengkan kepala guna menghalau pusing yang semakin menjadi-jadi. Tak terasa, sebuah tangan mendarat di pundak ringkihnya. "Dek, kau tak apa?" Prang~ Karna terkejut, Yogi refleks menjatuhkan piring mahal milik keluarga Gamalia yang tadi di genggamnya. Mata sayu nya membola melihat piring itu sudah tak berbentuk. Hingga, "HAH?!" Duk ... duk ... duk .... Plak! "Tak bisa membeli sudah sok-sok merusak, eoh?! Tak taukah kau harga piring ini per buahnya ha!? S*alan kau!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN