part 6

1596 Kata
"Tak bisa membeli sudah sok-sok merusak, eoh?! Tak taukah kau harga piring ini per-buahnya ha! Sialan kau!" Yogi menunduk, membiarkan pipi nya memanas karna kembali mendapat tamparan dari sang ibu yang tengah mengamuk di hadapannya saat ini. "Maaf, Yogi nggak sengaja," jawab Yogi pelan. Ia tak tau mau menjawab apa, pasti semua akan salah di mata ibunya. "Kau pikir aku percaya? Kenapa? Kau sudah muak? Capek selalu ku perintah, eoh? KATAKAN!" pekik Meli hingga mengundang Andreas yang baru pulang memasuki ruang utama segera menuju dapur. "Tidak," jawab Yogi lalu mendongak menatap manik meli yang yang sudah berapi-api. Hanya karena piring. "Lalu apa? Kau sengaja ingin memancingku marah, hah! Dasar kau anak haram!" Semua mematung mendengar kalimat terakhir mela. Bukan hanya Yogi, bahkan kedua kakaknya pun sama, Andreas dan Tian. Ya, Tian lah yang menepuk bahu Yogi tadi hingga sang empu terkejut. "A-apa? Haram? Maksud mama ap---" "Tian, kau panggillan bibi agar membersihkan ulah bocah tak tahu diri ini. ndre, pergilah bebersih diri!" perintah mela. Seolah mengelak, ia memotong perkataan yogisanaana berlalu menuju kamarnya. "Yoon, maafk--" Perkataan Jimin terpotong kala melihat tubuh mungil Yoongi sudah beranjak. Ia tahu, anak itu pasti terkejut dengan ucapan sang ibu, sama seperti dirinya. "Huh, mengapa jadi serumit ini?" gumam Jimin pelan. Ia kemudian pergi mencari bibi Yerin agar membersihkan pecahan piring dan beberapa piring yang belum selesai di cuci oleh Yoongi. ▪▪▪ 22:07 kst. Jimin uring-uringan di kamarnya, sesekali membuka pintu, menjulurkan kepala nya ke arah pintu bercat hitam di pojok sana. Lalu kembali masuk sambil menggigiti bibir tebalnya. "Ya ampun, aku khawatir, bodoh!" gumam nya pelan. Ia semakin gencar menggigiti bibir bawahnya, memikirkan keadaan si bungsu mereka. Sedari terjadinya pecah piring tadi siang, ia tak melihat Yoongi sekalipun keluar kamar. Makan malam? Bahkan makan siang saja tidak. Jimin khawatir, Yoongi biasanya tak pernah begitu. Sekacau apapun kegaduhan yang ada di rumah ini, ia tak sampai mengurung diri di kamar. Ia pasti masih keluar sekedar mengerjakan pekerjaan rumah yang di suruh sang ibu. Ibu, Jimin heran dengan wanita itu. Biasanya jika Yoongi telat mengerjakan pekerjaan rumah saja ia sudah memperpanjang dengan makian nya. Tapi tadi tidak, Jimin melihat Hyekyo makan dengan santai walaupun Jungkook sudah mengadu tentang adik mereka waktu makan malam tadi. "Anak haram? Apa maksud mama?" Jimin mempoutkan bibir nya sambil menyipitkan mata kecilnya. Berusaha mencari jawaban di dalam keheningan kamarnya. "Haiishh, aku tak bisa seperti ini. Aku tak tahan, sungguh! Aku kasihan pada Yoongi, dia sudah terlalu tersakiti disini." Jimin menunduk, mengingat betapa kejam perlakuan keluarnya pada Yoongi selama ini. Memang, Jimin hanya menunjukkan kasih sayang nya pada Yoongi di belakang, tapi itu bukanlah tanpa sebab. Dulu, sewaktu mereka sedang berlibur masih kecil (kecuali Yoongi) di pantai, sang ibu menyuruh mereka semua berkumpul, mengatakan bahwa mereka harus membenci Yoongi. Jimin kecil tentu ingin protes, namun sang ibu mengancam akan memperlakukan hal yang sama seperti Yoongi pada mereka yang membantah. Dan akhirnya, mereka membenci Yoongi tanpa tau sebab nya. "Hah, aku bingung Tuhan. Aku kasihan pada Yoongi, tapi aku tak mungkin membantah mama." Jimin mengusak rambut nya kasar. Dilihat nya jam yang berada di nakas. 22:31 kst Tak sadar, lamunan nya sudah memakan waktu banyak. Masih menimang, akhirnya ia membuat keputusan. "Terserah, persetan dengan perlakuan mama nantinya padaku. Aku harus minta maaf pada Yoongi. Bagaimana pun Yoongi masih kecil, dia butuh penyemangat. Bukan seperti ini, bisa-bisa ia tertekan tanpa ada satu orang pun berada di sampingnya, mendukungnya," putus Jimin. Setelah berucap mantab, Jimin keluar kamar. Ia menuju dapur guna mengambil nasi beserta lauk pauk untuk Yoongi. Setelah sampai dapur, Jimin bingung saat melihat bibi Yerin sedang memasak bubur. "Untuk siapa bi? Bibi sakit?" tanya Jimjn sembari mendekat. Pembantu paruh baya itu menggeleng. Ia menyeruput pelan bubur guna merasai nya. "Tidak tuan, tuan muda Yoongi sedang demam tinggi. Tadi saya ingin memberinya obat, tapi dia bilang belum makan. Jadi, saya membuatkan bubur agar mudah di telan, tuan," ucap wanita itu sopan. Jimin terkejut, jadi ini alasan bocah itu tak keluar kamar. Memang sih, Jimin melihat rona pucat sang adik pada saat pertengkaran tadi siang. "Bi, pergilah istirahat. Biar aku yang melanjutkan." Jimin mengambil alih sendok ciduk pada tangan bibi itu. "Tapi tuan, ini sudah mala__" "Tak apa, aku tau bibu pasti lelah karna pekerjaan hari ini. Pergilah," jawab Jimin yang sudah mengaduk-aduk bubur putih yang sudah mengepulkan asap itu. "Baiklah, terimakasih tuan." Jimin mengangguk, setelahnya wanita paruh baya itu berlalu ke kamarnya. "Ya ampun, kurasa ini sudah matang. Kenapa bibi masaknya sedikit sekali. Kelihatan nya enak, aku juga mau." Jimin menjilat telunjuknya yang terkena bubur saat meletakkan ke mangkuk. Mengambil air hangat, setelahnya Jimin menaiki tangga membawa nampan berisi bubur, gelas dan obat penurun demam. Tapi naas, ketika melewati pintu kakak pertamanya, ia berpapasan dengan Seokjin yang tengah keluar membawa gelas kosong. Seokjin mengernyit, "Bubur? Untuk siapa?" tanya Seokjin sambil memperhatikan isi nampan yang di bawa Jimin. "Eumm, u-untukku lah kak. Memang nya untuk siapa lagi?!" gagap Jimin sembari berusaha santai, walau masih kelihatan gugup. "Ya ampun, kau tadi sudah makan banyak Jimin. Kau mau pipi bulat mu itu mengembang sampai menyentuh lantai, eoh?" kekeh Seokjin. Jimin merengut, kalau saja tidak demi Yoongi, ia pasti sudah melempar semangkuk bubur itu ke muka lebar Seokjin. "Aishh, apa salah nya. Lagian aku sedang ingin makan bubur kak!" rengek Jimin. Seokjin makin terkekeh, tapi mata nya kembali terfokus pada beberapa butir pil obat di sampingnya. Lalu refleks tangan Seokjin meraba dahi lebar Jimin. "Tak panas, lalu itu obat apa?" tanya Seokjin. Jimin mematung, tak mungkin kan ia bilang ini obat untuk Yoongi. Bisa ketahuan lah kalau ia sudah perhatian pada Yoongi. Padahal memang ini tadi tujuannya kan? Ah Jimin aneh. "Kakak banyak tanya, ini pil diet. Sudah, aku mau ke kamar!" Jimin segera melenggang memasuki kamar nya terlebih dahulu. "Jangan banyak makan pil diet, bantet. Nanti kau makin pendek!" pekik Seokjin. "Diamlah kak, ini sudah malam!" balas Jimin tak kalah kuat. Seokjin terkekeh, lalu beranjak menuruni tangga untuk mengambil minum. Setelah memastikan Seokjin sudah pergi, Jimin segera beranjak ke kamar Yoongi yang berada di pojok. Menatap pintu hitam itu sebentar, menghela napas lalu memegang gagang pingu pelan. Hitam. Jimin dapat melihat ruangan ini begitu kelam, bahkan ia sedikit bergidik kala melihat barang nya pun kebanyakan hitam. 'Kau sudah terlalu jauh dari kami, Yoon!' batin Jimin. Jimin melangkah memasuki ruangan minimalis itu, meletakkan nampan di atas nakas kecil milik Yoongi. Lalu ia mendaratkan bokongnya di kasur mini Yoongi. Mengelus surai yang sudah lepek oleh keringat. Bibir Yoongi pun nampak terbuka, meraup oksigen melalui mulut. Hidung nya merah, bibir nya pucat, kedua tangannya memegang erat selimut yang menutupi hingga sebatas dadanya. "Dek, bangunlah. Kamu harus minum obat," ujar Jimin lembut sambil mengusap peluh di dahi mulus Yoongi. "Eungh..." Yoongi tampak melenguh pelan, lalu berusaha membasahi bibir keringnya menggunakan lidah. Perlahan, kelopak sayu itu terbuka. "Maaf mengganggu istirahatmu, tapi kau harus makan," ujar Jimin lembut. Yoongi melirik sebentar, lalu memejamkan kembali matanya. "Pergilah, letakkan saja disitu," jawab anak itu parau tanpa membuka mata. Ia masih merasakan sensasi panas dan dingin yang berbaur di tubuhnya. "Tidak, sini kakak bantu duduk. Biar kakak yang suapi." Jimin berusaha memegang lengan kecil Yoongi. Namun di hempas pelan oleh sang empu. Sesaat Jimin dapat merasakan sensai panas menjalar di punggung tangan nya yang di sentuh Yoongi. 'Panasnya benar-benar tinggi,' batin Jimin. "Pergilah!" usir Yoongi pelan, suara nya sudah serak. "Tidak, kau harus makan. Dari siang perutmu kosong, panas mu juga sudah setinggi ini!" ujar Jimin sambil meraba dahi panas Yoongi. "Aku tak akan mati hanya karna tak makan," ujar Yoongi datar. Jimin mendengus, 'Keras kepala!' batinnya. "Ayolah Yoon, biarkan aku menyuapi mu. Kau marah padaku? Terserah, kau bisa melanjutkan marah mu nanti setelah makan dan aku akan pergi. Tapi tolong makanlah dulu, walau hanya beberapa suap. Kau harus minum obat agar panas nya turun!" ujar Jimin menggebu. Yoongi membuka mata kecilnya, menatap wajah khawatir Jimin dengan tatapan sayu. "Tak usah sok peduli padaku, kak. Aku sudah biasa melakukannya sendiri. Jadi jangan memberikanku harapan dengan sikap mu yang berubah-ubah itu." Deg! Jimin tertohok kala ucapan Yoongi mengalun perlahan di telinganya. Jarang sekali Yoongi memanggilnya kak, nadanya pun tak pernah selembut --ralat! Seterluka ini. Tak sadar air mata Jimin jatuh, ia memalingkan wajah agar adiknya tak melihat ia menangis. 'Seterluka itukah kamu dek?' batin Jimin. "Pergilah, aku bisa sendiri." Jimin menoleh kala kasur Yoongi berderit, rupanya sang empu mencoba untuk duduk. Tak tinggal diam, Jimin membantu tanpa penolakan dari sang empu. "Biar kakak suapi," ujar Jimin lembut sambil mengusap pipi. Yoongi hanya diam. "Buka mulutmu, Yoon!" ucap Jimin kala suapan nya masih bergantung di udara. "Sudah kukatakan, jangan sok peduli. Aku bisa_____mpfthhh ...." Jimin menyumpalkan bubur itu kala mulut kecil Yoongi sedikit terbuka. "Cerewet, kita bicarakan setelah kau selesai makan!" Yoongi memberengut lucu mendengar paksaan Jimin. Tak sadar Jimin tersenyum gemas. Ia baru sadar ternyata adiknya ini menggemaskan. "Ya ampun, lucu nya!! Kenapa aku baru sadar, eoh?!" pekik jimin sambil mencubiti pipi Yoongi. "Aish, sakit bodoh! Bagaimana kau bisa tau kalau kalian tak pernah peduli padaku!" Jleb! Jimin diam, membenarkan ucapan Yoongi. Lalu ia menunduk merasa bersalah. "Tak usah memasang tampang menyedihkan, cepat suapi lagi. Aku lapar!" Jimin mendongak, lalu tersenyum kala melihat Yoongi sudah mangap minta di suap. "Dasar, tadi di suruh makan saja susah!" ujar Jimin pelan lalu memasukkan bubur satu sendok penuh ke mulut kecil Yoongi, membuat pipi anak itu nya menggelembung lucu. "Yoon, mengapa semuanya berwarna hitam? Kau kan takut gelap?" ucap Jimin sambil mengedarkan pandangan nya ke sekeliling kamar Yoongi. "Karna hitam menggambarkan hatiku yang mati dan ke kelaman hidupku, Sebagai anak haram." Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN