Wanita yang duduk di depanku tepekur, pandangan matanya gelisah, dan tangannya yang berada di atas meja gemetar, saling meremas satu sama lain. Dia berumuran antara empat puluh sampai empat puluh lima tahun. Rambutnya yang sebagian sudah memutih, meski diikat jadi satu ke belakang, tapi terlihat berantakan. Dia tampak lebih tua daripada saat terakhir aku bertemu dengannya. “Saya tidak bisa lama-lama,” katanya. Suaranya lirih seolah-olah diucapkan hanya untuk dirinya sendiri. “Anak saya menunggu di rumah.” Saat itu kami sedang berada di restoran kecil di pinggir jalan. Ketika mendengar apa yang diucapkan wanita itu di dalam mobil tadi, seketika aku merasa ada petunjuk yang bisa kudapatkan darinya. Aku tidak terlalu yakin, tapi aku menduga, kecelakaan yang menimpa Pak Deni berhubungan den

