“Mau apa kamu?” tanya Bram galak. “Maaf, Pak. Saya cuma ingin menyerahkan berkas ini pada Bu Dewi,” jawab Aldebaran dengan sikap terlatih. “Biarkan dia masuk, Bram.” Dengan enggan Bram menyingkir, mengawasi Aldebaran yang masuk ke ruanganku. “Kamu sudah boleh pergi sekarang,” seruku mengusirnya dengan sopan. Pria itu terlihat ingin membantah, tapi kemudian menuruti permintaanku, melangkah keluar dan menutup pintu. “Jadi, apa yang kamu bawa untukku?” tanyaku menatap Aldebaran tajam. Aku melihat kegelisahan di mata sekretarisku, tapi dia berhasil menutupinya dengan sangat baik. Dia menyodorkan tumpukan tipis kertas yang dibawanya dan meletakkan di atas meja. “Ini dokumen yang perlu ditandatangani Bu Dewi hari ini,” katanya tenang. Aku meraih berkas itu tanpa mengalihkan perhatianku

