Wajahku memanas melihat Leon sedang memerhatikanku dengan sorot mata geli. Dia pasti menertawakan ketololanku tadi siang. Siapa yang bisa menduga kalau ternyata Leon-lah anak Bu Mayang dan bukannya Aldebaran? Aku melemparkan tubuhku ke atas ranjang tepat di samping pria itu, meliriknya tajam. “Puas menertawakanku?” ucapku sebal. “Siapa yang menertawakanmu?” Nada suaranya terdengar geli. Aku tidak menjawab, pandanganku menerawang ke plafon kamar dengan kedua tangan yang menyilang di depan d**a. “Seharusnya aku bisa melihat kesamaan kalian,” gumamku terdengar jauh. “Kalian sama sekali nggak mirip, itulah sebabnya aku terlambat menyadari jika kalian berdua kakak beradik, tapi ada sesuatu yang sama pada diri kalian, apa ya …, sesuatu yang nggak bisa kujelaskan….” “Ya, ya … pantas saja aku

