Sekali lagi k****a pesan itu, memutuskan untuk mengabaikannya. Aku tidak mau ambil risiko, jika itu memang dari Bram, dia bisa menemuiku kapan saja di kantor. Mendekati waktu makan siang, pintu ruanganku terbuka secara tiba-tiba, disusul Bram yang sudah berdiri di sana dan Aldebaran yang menyusul di belakangnya—dengan wajah meminta maaf. “Sepertinya menerobos masuk ruangan orang lain sudah jadi kebiasaan kamu ya?” ketusku merasa bosan melihat tingkahnya. “Kita bukan orang lain, aku masih suamimu,” sahutnya gusar, berjalan ke arahku. Kemudian pandangannya beralih pada Aldebaran, dengan tatapan menusuk yang menunjukkan ketidaksukaan. Kulambaikan tangan pada sekretarisku, menyuruh dia pergi. “Dan kamu mengabaikan pesanku,” lanjut Bram dengan nada sebal yang kekanak-kanakan. “Kamu send

