Langit yang semula cerah kini mulai meredup, awan-awan putih tergantikan oleh awan kelabu, perlahan-lahan merayap menyelimuti birunya angkasa. Angin sore berembus menampar wajahku, membawa udara dingin yang menyenangkan. Dari balkon kamar, aku termangu menatap gedung-gedung pencakar langit di hadapanku. Pikiranku menerawang, mengingat percakapan dengan Bram tadi siang. Rasanya aneh sekali berbicara lagi dengan pria itu, pria yang dulu pernah sangat aku cintai, kemudian kubenci karena apa yang sudah dia lakukan padaku. Sekarang, tidak ada perasaan apa-apa yang bisa kutemukan saat mencoba memikirkannya. Cinta? Aku yakin perasaan itu sudah lenyap entah sejak kapan. Pun dengan rasa benci yang menggebu-gebu. Tidak, aku sudah tidak membencinya. Bahkan cenderung tidak peduli dengannya. Ya, ketika

