Bab 20

1364 Kata

Beberapa hari yang lalu, saat Om Adhi bercerita tentang Leonard, aku tidak memiliki gambaran apa-apa perihal pria tersebut. Namun hari ini, Om Adhi mengajakku makan siang bersama sahabatnya itu. Begitu melihatnya, aku langsung mengenali dia sebagai laki-laki pada foto yang dikirimkan Tante Monic. Tanganku agak gemetar saat menyalaminya, setengah takjub dengan kebetulan ini. “Astaga … ini betul si kecil Dewi itu kan, Dhi?” celetuknya saat menyalamiku, menunjukkan wajah yang tidak kalah takjubnya denganku. Om Adhi hanya terkekeh. “Kamu lihat sekarang? Bumi benar-benar berputar, dia semakin dewasa dan kita bertambah tua.” “Sini, sini, Anakku. Duduk dekat Om. Apa kamu ingat dulu kamu paling senang kalau Om gendong?” Seperti sedang bernostalgia, pria tua yang masih kelihatan bugar itu menye

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN