Bab 6

666 Kata
Aku baru membuka pintu apartemen ketika melihat Bram duduk di sofa ruang depan. Kehadirannya agak mengejutkanku, tapi kemudian aku tak mengacuhkannya. Berjalan melewatinya seolah-olah dia tidak ada. “Dewi!” panggilnya datar, menyusul dan meraih lenganku. “Ada yang ingin kubicarakan,” katanya serius. “Soal apa?” tanyaku dingin. Bram berdeham. “Aku tahu kita sudah nggak cocok satu sama lain,” ucapnya tanpa ekspresi. “Aku mau kita membicarakan soal perceraian,” dia melanjutkan sambil menatapku tajam. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin. Walau dadaku terasa nyeri mengetahui apa yang dia inginkan. Merasa aku tidak diinginkan. “Oh, tentu saja,” sahutku datar, menahan mataku yang tiba-tiba terasa panas. “Mengenai gana-gini, aku akan berlaku adil. Kita bagi sama rata harta yang kita miliki sekarang. Tanpa anak semuanya akan lebih mudah, bukan begitu?” Kenapa terdengar seolah-olah pria itu bersyukur tidak memiliki anak denganku? Bram meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Jantungku berdesir. “Dewi, aku tahu aku sudah banyak menyakitimu. Aku minta maaf....” Sekuat tenaga kutahan air mata yang sudah siap tumpah. Sebagai balasannya aku hanya mengangkat dagu dan menatap Bram angkuh. “Tapi kumohon kita bisa berpisah secara baik-baik. Semua akan bisa dibicarakan,” lirihnya terlihat menyesal. “Kamu wanita baik, Dewi. Sangat baik. Aku yang nggak layak mendapatkanmu.” Entah benar atau tidak aku mendengar getaran halus pada suara Bram. Pertahananku hampir runtuh, ingin sekali memeluk pria itu dan mengatakan aku memaafkannya. “Aku sudah membawakan surat cerai kita, kuharap kamu bisa menandatanganinya sekarang.” Bram melepaskan tanganku dan buru-buru ke ruang depan. Kembali dengan membawa sebuah map warna hitam. Aku yang semula terbawa emosi mulai merasakan sesuatu yang janggal. Menetralisir perasaanku dan mulai memandang semuanya dengan logika. Bram meletakkan map ke atas meja ruang tengah, menoleh padaku dan dengan matanya dia memintaku mendekat. Aku menghampirinya, tapi menolak permintaan Bram untuk duduk. “Kamu cuma perlu tanda tangan di sini,” katanya menunjuk bagian bawah dokumen yang agak tertutup kertas lain di atasnya. Aku bergeming. Memperhatikan Bram dengan sorot mata menyelidik. “Aku perlu mempelajari dokumen itu,” gumamku. “Ini hanya dokumen perceraian biasa. Kamu pasti juga menginginkan perceraian ini, kan? Cukup tanda tangan saja!” Sikap Bram yang terlihat ngotot justru membuatku curiga. Tanpa aba-aba aku mengambil map hitam itu dan menutupnya dengan cepat. Lalu sebelum Bram mencegah, aku sudah membawanya ke kamarku. Mengunci pintunya dari dalam. Di luar, Bram berteriak kesal. Kemudian dia menggedor gedor pintu kamar. “Buka, Dewi!” serunya marah. Aku sama sekali tak mengacuhkannya. Membuka-buka map dan mengernyit begitu membaca salah satu dokumen. Langsung kubawa map tersebut ke lemari besi di kamarku dan menyimpannya di sana. Bram masih memanggil-manggilku dari luar. Aku menghampiri pintu dan berdiri di depannya, mendengarkan saja umpatan-umpatan suamiku tanpa membukakan pintu untuknya. Deringan telepon dari luar menghentikan aksi Bram. Selanjutnya dia terdengar seperti sedang berbicara dengan seseorang. “Nggak!” teriaknya dengan nada kesal. “Dia di kamar dan membawa dokumennya,” lanjut Bram lagi. Dari situ aku bisa menduga kalau yang menelopon adalah Viona. “Sudah pasti nggak!” teriaknya lagi. “Sayang, jangan menyalahkanku. Aku nggak mungkin bisa bercinta dengannya walau cuma pura-pura.” “....” “Ayolah, Honey ... Dewi terlalu gembrot untuk diajak bercinta. Aku nggak mau lagi.” “....” “Jangan bilang aku bodoh!” Tanganku yang menempel pada pintu gemetar. Rasa nyeri menyeruak masuk ke dalam d**a. Aku bukan hanya tidak diinginkan, tapi juga sebuah hal yang menjijikkan bagi suamiku sendiri. Perlahan kuputar kunci dan membuka pintu. Bram menoleh cepat ke arahku. “Kamu tahu?” kataku sambil bersandar pada pinggiran pintu. “Dulu kupikir ukuranmu normal,” aku melirik selangkangannya, menunjukkan maksud ucapanku yang sebenarnya, “beberapa hari ini aku baru sadar kalau ukuranmu di bawah rata-rata.” Aku tersenyum mengejek, mengalihkan pandanganku pada wajah Bram yang sudah merah padam. “Sebaiknya kamu memastikan jika Viona benar-benar bisa o*****e bersamamu atau dia hanya pura-pura,” lanjutku lagi menatapnya penuh kemenangan. Lalu membanting pintu di depan wajah calon mantan suamiku. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN