Saat masuk kantor keesokan harinya, aku baru mengerti kenapa Bram sangat ingin aku menandatangani kertas-kertas yang ia bawa. Bukan hanya surat-surat perceraian yang dia mau aku tanda tangani, tapi selembar kertas yang awalnya tidak kumengerti kenapa harus ada dalam dokumen perceraian. Sebuah surat pernyataan yang menuliskan bahwa aku bersedia mengalihkan namaku sebagai pemilik saham PT. Adhiyaksa yang dulu diberikan papa mertuaku untuk hadiah pernikahan, menjadi nama Bram. Tidak akan membuatku terdepak dari perusahaan ini sebenarnya, karena saham milik orangtuaku yang diwariskan padaku pun cukup besar.
“Benar begitu, Dewi?”
Pertanyaan Om Adhi membuatku mengalihkan pandangan dari selembar kertas yang sedang kupegang.
“Papa dengar kamu menuntut cerai dari Bram, benar begitu?”
Dasar kadal! Aku memaki dalam hati. Pandai sekali pria itu memutarbalikkan fakta.
Aku berdeham, berpikir dengan cepat mencari jawaban yang pas. Untuk berbicara jujur, saat ini tidak mungkin. Aku harus mengikuti permainan Bram jika tidak ingin terhempas kalah.
“Saat itu Dewi lagi marah, Pa,” gumamku, memposisikan diri sebagai menantu kesayangan pria tua yang sedang menatapku itu, seperti ketika berada dalam pertemuan keluarga. Sejujurnya aku tidak pernah seperti ini, walaupun Om Adhi mertuaku, aku tetap bersikap sebagai bawahan setiap kali berada di kantor.
Om Adhi menghela napas. Aku terharu saat melihat sorot matanya yang melembut padaku. Beliau benar-benar mengingatkanku pada Papa. Ingatan itu membuat mataku berkabut, tertutup cairan bening tipis yang hampir saja tumpah jika aku tidak segera mengerjap dan memalingkan wajah.
“Papa bisa mengerti perasaanmu, tapi Papa mohon bertahanlah, Dewi. Bukan hanya demi perusahaan tapi juga demi masa depanmu dan Bram. Okay, Papa nggak berhak meminta kamu memikirkan masa depan Bram, tapi lakukanlah itu demi Papa. Papa nggak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan suamimu itu….” Desahan putus asa mengakhiri kalimat panjang yang diucapkan Om Adhi. Dia melangkah gontai dan duduk di kursinya dengan lelah. Tiba-tiba saja sosoknya terlihat rapuh di depanku.
Aku kembali melihat lembaran kertas di tanganku. Di situ tertulis surat keputusan yang dibuat papa mertuaku beberapa hari lalu. Bram tidak pernah memberikan salinan surat ini padaku, dan aku paham kenapa. Dia tidak mau aku yang menggantikan Om Adhi menjadi CEO.
Ya. Om Adhi baru saja memutuskan untuk memberikan jabatan CEO pada salah satu pemilik saham PT Adhiyaksa Group. Aku dan Bram adalah kandidat utama yang dia pilih. Dengan latar belakang kami sebagai putra putri sekaligus pemilik saham perusahaan, dan persentase saham yang kami miliki. Mungkin Bram melihat akulah yang lebih berpotensial terpilih karena dengan adanya saham “hadiah pernikahan” dari papanya, sahamku jadi lebih besar daripada saham miliknya.
“Kamu sudah baca pasal terakhir?” tanya Om Adhi mengangkat dagunya ke arah kertas yang masih kupegang.
Aku mengangguk, tidak tahu harus berkata apa. Di situ tertulis jika (sampai) terjadi perpisahan antara aku dan Bram sebelum pemilihan itu terlaksana, maka pemilik saham terbesar di antara kami berdualah yang akan menjadi CEO.
Jadi karena itu Bram membutuhkan tanda tanganku pada surat pernyataan yang dia selipkan di dokumen perceraian.
Sejak aku mengetahui perselingkuhan Bram dengan Viona, aku memahami jika pria itu sangat ingin bercerai dariku. Mungkin karena sudah terlanjur terciprat air, dia ingin sepenuhnya bisa mengambil keuntungan dengan berenang sekalian agar bisa menyeberang menuju tempat yang dia inginkan. Atau mungkin wanita jalang itu yang memintanya karena aku tahu Bram bukan type pria yang bisa bertindak sendiri. Terbukti dia tahan hidup denganku selama tiga belas tahun meski pernikahan kami terjadi karena perjodohan.
“Kalau kalian bercerai, sudah dipastikan kamu yang akan menerima jabatan CEO,” kata Om Adhi, nada suaranya tenang seperti biasa meski sorot matanya memancarkan rasa lelah. “Setelah apa yang sudah dilakukan Bram, Papa bisa memahami jika kamu mengamil keputusan itu, tapi tolong pikirkan lagi, Dewi. Kamulah satu-satunya harapan Papa agar Bram tidak bertambah rusak. Kamu satu-satunya orang yang bisa mengendalikan putra Papa.”
Aku mengeluh dalam hati. Andai papa mertuaku tahu apa yang sudah Bram lakukan padaku, beliau pasti tidak akan mengatakan kalimat tersebut. Betapa putrnya itu sudah berusaha berbuat curang untuk mendapatkan saham yang aku miliki. Meski sebuah akuisisi saham tidaklah sesimpel menandatangani surat pernyataan, tapi paling tidak Bram sudah memiliki dasar yang kuat untuk mengajukan pengambilalihan sebagian sahamku menjadi miliknya.
“Dewi, maukah kamu bertahan demi Papa?” pinta Om Adhi lagi.
Aku tak kuasa menolak ketika melihat sorot permohonan di mata tuanya, seketika mengangguk menyatakan kesediaanku.
******
Setelah Lilian menceritakan tentang Aldebaran kemarin, aku meminta file fisik pria itu pada HRD. Dan begitu aku selesai meneliti satu per satu dokumen milik Aldebaran, aku memutuskan dia berhak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada sebagai office boy. Jabatan sekretaris mungkin cocok untuknya....
Senyumku mengembang.
Mungkin juga dia bisa kujadikan aset untuk memukul balik serangan pada Bram dan wanita murahannya.
Bersiaplah untuk menderita, Bram!
Bersambung....