Setelah diminta mencari perusahaan lain yang mau menerimanya bekerja karena sikap tidak profesionalnya, Maudy kini duduk di kursi sambil merapihkan barang-barang di atas mejanya. Beberapa staff di sana sudah saling berbisik melihat Maudy yang keluar dengan wajah sembab dan sisa air mata yang masih sedikit membasahi wajahnya. Mereka enggan menanyakan pada Maudy mengapa dia menangis sekarang, takut nanti Uwais keluar dari ruangan dan memergoki mereka. Jadi mereka memilih memperhatikan Maudy sambil bergosip dari jarak aman. Tatapan semua staff yang sedang asyik menggosip berubah ke arah pintu masuk ruangan saat seorang wanita cantik dengan tinggi dan tubuh ideal berjalan menghampiri meja Maudy. “Permisi, apa Uwais ada di dalam?” tanya Kimmi, wanita yang dimaksud, pada Maudy yang sedang mem

