Mission 4

1288 Kata
Saat subuh tiba, Uwais dengan sigap melompat dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Dia mandi secepat kilat lalu segera keluar kamar mandi dan berpakaian. Dia menggelar sajadah, ingin melaksanakan solat subuh. Namun Uwais merasa sepertinya ada hal yang terlupakan. “Ya Allah sampai lupa ambil wudhu!” Uwais menepuk dahinya karena melupakan untuk mengambil wudhu. Dia terlalu tergesa-gesa karena ingin secepatnya berangkat ke kantor. Uwais berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kemudian dia kembali ke kamarnya untuk melaksanakan solat subuh. Selesai solat dia menyempatkan diri untuk menengadahkan kedua tangannya, berdoa pada Yang Maha Kuasa. Meminta dimudahkan segala urusannya untuk mendapatkan Elvina. Sebegitu istimewanya Elvina sampai Uwais menyebutkan namanya di dalam doanya. Setelah itu Uwais kembali merapihkan dirinya. Dia berdiri di depan cermin besar seukuran badan yang ada di dalam kamarnya. Aisyah yang menempatkan cermin tersebut di kamar Uwais. Alasannya agar Uwais bisa lebih memperhatikan kerapihan dirinya. “Hmm udah rapih kayaknya! Masih ada yang kurang gak ya?” Uwais menatap dirinya di cermin. Melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dirinya tampak sempurna sepagi ini. “Oh iya! Parfum!” seru Uwais. Dia pun langsung mengambil botol parfum miliknya yang dia letakan di atas meja yang ada di kamarnya. Disemprotnya beberapa kali hingga dia merasa yakin jika dirinya sudah sangat harum. Uwais kemudian melangkahkan kaki keluar kamar. Dia mencari keberadaan bundanya untuk mengucapkan selamat pagi. “Buunn.. Bundaa..” Uwais memanggil Aisyah dengan nada manja. Diarahkan kakinya menuju dapur, tempat yang sudah pasti Aisyah berada. Di sana tampak Aisyah masih memasak sarapan dengan mengenakan piyama. “Pagi Bunda, masak apa?” tanya Uwais sambil meletakan dagunya di pundak sang bunda. “Loh, kamu udah rapih? Masih pagi banget loh ini!” Aisyah kemudian berbalik menghadap sang putra. Aroma maskulin langsung menusuk hidungnya. “Kamu wangi banget! Kamu mandi pakai sabun apa pakai parfum sih Uwais?” tanya Aisyah seraya mengenduskan hidungnya ke kemeja yang dikenakan Uwais. “Ya pakai sabun lah Bun! Tapi emang aku nyemprot parfum lumayan banyak ke bajuku! Hehehe..” ditampilkannya senyum yang lebar di wajah Uwais. Aisyah menyipitkan kedua matanya, “Kamu mau kemana? Mau kerja apa cari pacar?” tanya Aisyah mencurigai sikap putranya. “Ih, Bunda apaan sih! Ya kerjalah! Tapi sekalian nyari pacar juga gak apa-apa kan Bun?” goda Uwais yang kemudian mendaratkan kecupan di pipi sang bunda. Aisyah yang tadinya masih ingin menginterogasi Uwais kini membatalkan niatnya dan membiarkan Uwais berlari menuju meja makan. Dia tidak bisa memprotes putranya yang sudah bukan anak kecil lagi. Dia kini hanya menyunggingkan senyum menatap Uwais yang langsung sibuk dengan ponselnya. Sesaat kemudian terdengan seseorang mengetuk pintu unit apartemen Aisyah. Aisyah yang sedang menata makanan di atas meja meminta Uwais untuk membukakan pintu. “Bundaa..” Kimmi langsung melangkah masuk saat pintu terbuka. “Kim! Bukannya ucapin salam dulu malah main masuk aja!” tegur Uwais. Namun Kimmi menolehkan kepalanya pada Uwais lalu membalas perkataan Uwais, “Lah kamu sendiri hampir tiap hari datang ke unitku gak pernah ucapin salam!” “Eehh udah udah! Masih pagi gini kok udah pada berantem sih! Mending kita sarapan yuk! Kimmi juga belum sarapan kan? Ikut sarapan sama Bunda dan Uwais juga yuk!” Aisyah mengajak Kimmi untuk ikut menyantap sarapan bersama. Kimmi pun memasang wajah meledek Uwais lalu menarik kursi dan mendudukinya. Dia melipat tangannya di atas meja menunggu Aisyah selesai menyiapkan sajian untuk sarapan mereka. “Kamu ngapain sih Kim pagi-pagi udah datang kemari?” tanya Uwais yang ikut duduk berhadapan dengan Kimmi. “Mau numpang sarapan! Hehehe..” Kimmi tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit. “Memang mama kamu gak nyiapin sarapan? Kok kamu malah datang kemari sih!” “Nyiapin sih, tapi gak tahu kenapa tiba-tiba kangen aja sama masakan Bunda Aisyah.” Jawabnya. Kimmi kemudian menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Memastikan situasi apakah aman atau tidak karena dia ingin menayakan sesutau pada Uwais. “Sstt- Uwais!” Kimmi memanggil Uwais dengan berbisik. “Uwais mengerutkan dahinya keheranan mengapa Kimmi memanggilnya seperti itu. Kemudian Kimmi memberi kode agar Uwais mendekatkan kepalanya. Kini Uwais dan Kimmi sama-sama memajukan wajah mereka, berusaha lebih dekat. “Rencana kamu jadinya gimana?” tanya Kimmi berbisik. “Rencana apa?” balik Uwais berbisik. “Itu loh, Elvina!” “Oohh Elvina! Aku baru mau cari tahu tentang dia hari ini, Kim.” Jawab Uwais bersemangat namun tetap berbisik. “Aku baru inget sesuatu, Sherly gimana? Kalian bukannya sempet deket?” Kimmi mengingatkan Uwais tentang Sherly, gadis yang sempat dekat dengannya. “Hah? Sherly? Enggak kok, kita cuma temenan aja!” Uwais membantah. “Kalian berdua lagi ngapain sih? Kok bisik-bisik sampai maju-maju gitu badan kalian?” Aisyah datang dengan membawa sepiring Korean sandwich kesukaan sang suami. Kimmi dan Uwais sontak langsung menegakan posisi duduk mereka dan mengakhiri kegiatan berbisik mereka. “Enggak kok Bun, si Kimmi bisik-bisik minta dianterin ke tempat kliennya!” Uwais berdalih. “Hah? Eh, iya Bun aku minta antar Uwais boleh ya!” Kimmi ikut berdalih. “Minta antar kok pakai bisik-bisik segala sih, Kim! Gak usah malu sama Bunda ya!” Uwais dan Kimmi saling melempar pandang dan memasang senyum aneh di wajah mereka karena ternyata Aisyah sama sekali tidak menaruh curiga pada mereka berdua. Rendi adalah orang terakhir yang datang ke ruang makan. Namun Rendi yang memimpin sarapan pagi ini. Dia menyantap Korean sandwich kesukaannya dengan lahap. Jika saja masih ada bahan yang tersedia mungkin Rendi akan meminta Aisyah untuk membuatkannya lagi. Setelah menghabiskan sarapan, mereka semua langsung meninggalkan unit apartemen, kecuali Aisyah yang harus merapihkan piring bekas makan mereka semua sebelum pergi ke kantor agensi. Uwais dan Rendi menggunakan dua mobil yang berbeda untuk berangkat ke kantor. Tidak seperti hari sebelumnya yang hanya menggunakan satu mobil. Uwais beralasan jika ingin mengantarkan Kimmi terlebih dahulu. Di dalam mobil, Kimmi langsung menembak Uwais dengan berbagai pertanyaan yang sempat terpotong karena Aisyah memergoki mereka. “Jadi sebenarnya hubungan kamu sama Sherly tuh gimana sih? Bukannya kalian tuh sempet deket banget? Bunda Aisyah juga udah kenal sama Sherly kan?” Kimmi memberondong Uwais dengan rasa penasarannya tentang hubungan Uwais dan Sherly. “Aku sama dia gak ada apa-apa, Kimmi! Deket ya karena emang kita teman kuliah aja! Sama teman lain juga dia deket kok!” Uwais kembali membantah pernyataan jika dia dan Sherly sempat dekat. “Tapi bukannya si Sherly itu pernah nembak kamu?” “Gak nembak deh kayaknya itu, dia cuma bilang kalau suka dan kagum sama aku aja! Tapi selebihnya kita emang cuma teman, gak lebih!” Kimmi menghela nafas, “Kenapa ya cowok seganteng kamu tuh kurang peka?” “Kurang peka? Maksudnya gimana?” Uwais bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kimmi. “Udahlah gak usah kita bahas! Pokoknya sekarang kamu harus cari tahu dulu si Elvina udah punya pacar atau belum! Sekalian cari tahu si Sherly juga udah punya pacar atau belum!” titah Kimmi. Uwais yang tadinya masih fokus menatap ke arah depan kini menolehkan kepalanya pada Kimmi karena semakin bingung dengan perkataannya. “Kok cari tahu tentang Sherly sih? Hubungannya apa?” tanya Uwais penuh kebingungan. “Yaa siapa tahu si Sherly masih nungguin kamu!” jawab Kimmi. “Apaan sih kamu, Kim! Ngapain juga Sherly nungguin aku?” Kimmi mulai kesal karena Uwais masih saja tidak peka terhadap perasaan gadis lain. Kimmi pun memalingkan wajahnya dan lebih memilih melihat ke luar jendela. Baginya kini percuma saja memberitahu Uwais karena ketidakpekaannya itu. Lagipula Uwais sedang fokus terhadap Elvina dan tidak mungkin sempat memikirkan Sherly. Uwais menurunkan Kimmi di sebuah rumah yang merangkap sebagai kantor wedding organizer. Setelah itu Uwais langsung menginjak gas untuk segera mengantarkannya ke kantor. Dia tidak boleh telat, karena dia ingin punya waktu lebih lama untuk berbincang tentang hal diluar pekerjaan dengan Elvina. Dia ingin segera menjalankan misinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN