Mission 5

1588 Kata
“Selamat pagi Pak Uwais!” “Selamat Pagi, Pak!” “Pagi Pak Uwais!” Semua staff menyambut kedatangan Uwais dengan memberikan salam padanya. Beberapa pasang mata milik staff perempuan tak berkedip saat melihat Uwais melewati mereka. Arah pandangannya bahkan mengikuti kemana arah Uwais melangkah. “Kamu baru sampai, Uwais?” tanya Rendi yang sudah menunggunya di ruang kerjanya. “Iya, maaf ya Yah! Tadi kan antar Kimmi dulu! Tapi belum telat kan?” “Enggak kok, belum telat! Hmm ini ada beberapa dokumen yang harus kamu pelajari. Kamu lihat jenis permintaan vendor dan juga harga yang mereka minta beserta potongannya. Nanti kalau ada yang ingin ditanyakan bisa langsung tanya ke Ayah atau ke Elvina ya!” Rendi memberikan beberapa map cokelat berisi dokumen-dokumen yang harus dipelajari oleh Uwais. “Ngomong-ngomong soal Elvina, tumben jam segini dia belum ada di ruangan Ayah?” tanya Uwais penasaran. Sedari tadi dia memasuki kantor, dia sama sekali belum menemukan sosok Elvina. Banyak staff perempuan yang menyapanya namun tidak terlihat sama sekali Elvina diantara mereka. “Elvina sudah datang, tapi sedang Ayah minta rapihkan ruangan yang akan jadi ruang kerja kamu! Ruanganny persis di sebelah ruangan ini!” Rendi menjawab pertanyaan Uwais. Uwais berusaha menahan senyumnya. Padahal tadi itu adalah berita yang sangat bagus untuk Uwais. Karena itu artinya Uwais akan lebih leluasa untuk bertanya-tanya pada Elvina, mengorek informasi pribadinya. “Kamu kalau mau lihat ruangan kamu boleh silahkan langsung kesana aja!” ujar Rendi. Sepertinya hari ini keberuntungan sedang memihak pada Uwais. Dia tidak perlu mencari alasan untuk bisa pergi ke ruangan yang dimaksud. “Baik Yah kalau begitu, aku mau lihat ruanganku dulu ya!” Dengan bersemangat Uwais langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sang ayah. Dia langsung menuju ke ruangan yang berada di sebelah ruang kerja Rendi, ruangan yang nantinya akan menjadi ruang kerjanya. “Permisi!” seru Uwais saat membuka pintu ruangan yang disebutkan tadi. Di dalam ruang kerja tersebut tampak sosok perempuan idaman Uwais. Perempuan tersebut sedang menyusun beberapa buku dan dokumen ke sebuah lemari besi dengan pintu kaca yang digeser. Hari ini Elvina menggunakan kemeja lengan panjang berwarna merah muda dengan motif garis-garis putih, dengan rok rempel selutut berwarna abu-abu muda. Rambutnya dikuncir satu ke belakang, sangat simpel namun sudah sangat sempurna di mata Uwais. Uwais berjalan lebih mendekat pada Elvina. Kemudian dia menepuk pelan bahu Elvina agar perempuan tersebut menyadari kehadirannya. “Hai, Vina!” sapa Uwais. Elvina sedikit terkejut dengan kehadiran Uwais. Dia langsung mundur dua langkah menjauh dari pemuda tampan tersebut. “Anu— Maaf Pak saya gak tahu kalau Pak Uwais sudah datang.” Katanya dengan wajah tertunduk. “Aku baru aja datang kok! Tadi udah bilang permisi pas masuk ke dalam, cuma kayaknya kamu lagi fokus banget jadi kamu gak dengar.” “Maaf, Pak.” “Gak perlu minta maaf, Vina. Oh iya, makasih ya sudah merapihkan ruangan ini.” kata Uwais. Dia ingin sekali menatap mata Elvina namun sayangnya Elvina terus menundukan pandangannya. “Kalau begitu saya permisi keluar ya, Pak! Semua sudah saya rapihkan. Kalau Pak Uwais butuh sesuatu, bisa langsung panggil saya aja.” Kemudian Elvina sedikit menundukan tubuhnya untuk berpamitan pada Uwais. “Tunggu sebentar Vina!” Uwais mencegah Vina dengan menarik tangannya. Dengan cepat Elvina menarik kembali tangannya dan menundukan kepalanya. “Ya ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Elvina dengan sangat sopan. “Kamu jangan terlalu formal seperti itu Vina. Usia kita kayaknya gak berbeda jauh, jadi kamu bisa bicara sedikit lebih santai dengan saya.” Pinta Uwais. “Tapi kan Pak Uwais atasan saya, saya gak boleh—“ “Gak apa-apa! Saya lebih ngobrol santai saja, kan lebih enak dan gak akan canggung lagi!” Uwais menyela kalimat Elvina. Elvina menganggukan kepalanya, “Baik kalau begitu, Pak!” “Tuh kan masih formal gitu! Coba kamu angkat kepala kamu dan tatap mata saya, lalu kamu panggil saya Uwais saja!” Uwais memerintahkan Elvina melakukan hal tadi. Elvina mengikuti apa yang diperintahkan Uwais. Dia mengangkat kepalanya dan mencoba menatap lurus ke mata Uwais. “Uwais..” kata Elvina dengan suara yang sangat ramah terdengar di telinga. Seketika itu juga Uwais langsung tersipu. Pipinya merona kemerahan hanya karena Elvin memanggil namanya dan menatap matanya. “Anu—Pak, saya gak bisa lancang panggil Pak Uwais kayak tadi. Saya tetap pakai ‘Pak’ saja ya kalau sedang bekerja. Kalau di luar nanti saya coba panggil langsung dengan nama saja.” “Iya, gak apa-a2pa Vin. Makasih ya..” Uwais menyunggingkan senyum di wajah tampannya. Kemudian Elvina keluar dari ruangan Uwais untuk mengambil beberapa dokumen yang harus Uwais pelajari. Dia akan membantu Uwais sebisanya seharian ini. Dan ini juga akan menjadi kesempatan emas bagi Uwais. Sekembalinya Elvina ke ruangan Uwais. Dia langsung menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Uwais. Elvina menunjukan dokumen yang harus Uwais pelajari. Di sela-sela kegiatan mereka, Uwais mulai melancarkan aksinya mengorek informasi tentang kehidupan pribadi Elvina. “Hmm Vina, boleh saya tanya sesuatu?” “Boleh, Pak Uwais mau tanya apa? Bagian mana yang masih sulit dimengerti?” Vina mengintip ke lembaran dokumen yang sedang Uwais pelajari. “Bukan, bukan tentang dokumen ini!” “Lalu tentang apa, Pak?” Elvina penasaran. “Kamu sudah punya pacar?” Uwais langsung menanyakan hal tersebut pada Elvina. “Memangnya kenapa Pak? Kok tiba-tiba nanyain hal itu?” “Maaf, Vina. Jangan berprasangka buruk dulu sama saya, saya hanya pensaran saja kamu sudah punya pacar atau belum. Kamu kan masih muda, biasanya anak muda seperti kamu pasti sudah punya pacar.” Uwais mencari-cari alasan yang membuat Elvina mengernyitkan dahinya. “Pak Uwais kan juga masih muda!” seru Elvina. “Yaa.. saya juga masih muda sih!” Uwais menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sepertinya dia sudah salah mencari alasan. Elvina tersenyum tipis lalu kembali fokus pada dokumen yang ada di hadapannya. “Saya sudah punya pacar Pak.” katanya menjawab pertanyaan Uwais yang tadi. Uwais menghela nafas lesu mendengar jawaban Elvina. Ternyata wanita yang disukainya itu sudah memiliki kekasih. Uwais langsung tidak bersemangat. Menyandarkan punggungnya di kursi dan tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Elvina. Uwais hanya mau memperhatikan wajah Elvina dengan intens. Melukisnya di dalam memori, dan menyimpan rasa sukanya dalam hati.   ***   Hujan turun sangat deras Mengguyur bumi sore itu. Uwais mengandarai mobilnya melewati lobi kantornya. Dari jendela depan mobil, Uwais melihat Elvina yang berdiri di depan pintu kantor sambil menatap ke arah langit. Elvina tampak mengusap kedua lengannya. Sepertinya dia kedinginan. Uwais sedikit menepikan mobilnya di depan lobi. Melepas sabuk pengaman lalu mengambil payung yang ada di kursi belakang dan bersiap keluar dari mobil untuk menghampiri Elvina. Uwais ingin menawarkan tumpangan pada gadis tersebut. Baru juga Uwais membuka payung dan keluar dari mobil, seorang lelaki  yang mengenakan jas hujan berwarna hitam menepikan motornya di depan Elvina. Lelaki itu kemudian turun dari motornya dan menghampiri Elvina. Lelaki tersebut memberikan jas hujan yang serupa pada Elvina. Uwais hanya memperhatikan mereka berdua dari jarak yang cukup aman. Elvina sudah memakai jas hujan yangtadi diberikan. Tidak berlama-lama, lelaki tadi menuntun Elvina mendekat ke motornya. Lelaki tadi membonceng Elvina di belakang. Lalu dengan sigap Elvina memeluk lelaki tadi dari belakang. Uwais melihat semua itu di depan matanya. Dari hal tadi Uwais bisa menebak jika lelaki bermotor tadi adalah kekasihnya Elvina. Uwais kembali masuk ke dalam mobilnya lalu menginjak gas meninggalkan tempat tersebut. Sesampainya di apartemen, Uwais singgah terlebih dahulu di unit Kimmi seperti biasanya. Kebetulan Kimmi juga baru saja tiba unitnya dan belum sempat mengganti pakaiannya. “Kimmi, bukain pintu dong!” teriak Uwais diiringi ketukan di pintu unit Kimmi. Kimmi membukakan pintu untuk Uwais. “Kamu tuh gak bisa ngucapin salam ya? Malah teriak-teriak begitu di depan pintu sih! Lama-lama aku panggil security biar kamu langsung diusir dari unitku!” Kimmi geram pada Uwais. “Kamu kenapa marah-marah sih, Kim? Mending kamu ambilin aku minum gih!” Uwais mencubit pipi Kimmi lalu meletakan bokongnya di sofa yang berada di ruang tamu Kimmi. Kimmi menghela nafas kesal, namun kakinya tetap dilangkahkan menuju dapur mengambil minum untuk saudara sepupunya itu. “Nih! Habis minum kamu langsung pulang ya! Aku juga baru aja pulang, mau istirahat!” Kimmi mengusir Uwais. “Kamu ngusir aku, Kim?” “Iya! Paling kamu kesini juga mau ceritain hasil investigasi kamu tentang si Elvina itu kan?” tebakan Kimmi tepat pada sasaran. “Kok kamu bisa tahu sih? Wah sekarang kamu juga jago ngeramal ya!” “Makanya mending kamu pulang aja sana! Aku lagi gak mau dengerin curhatan kamu dulu!” “Kok gitu sih, Kim! Aku kan gak mungkin curhat ke Bunda, bisa-bisa aku langsung diinterogasi sama Bunda.” Uwais merajuk. “Biarin aja, biar Bunda Aisyah tahu kalau anak bujangnya ini udah bisa jatuh cinta!” Kimmi mencubit pipi Uwais dengan kencang sampai Uwais mengaduh kesakitan. “Aduhh!! Tangan kamu nih iseng banget!!” Uwais mengelus pipinya yang terasa sakit. “Ya sudah sana pulang! Curhatnya nanti malam aja ya!” “Kim, si Elvina udah punya pacar!” tanpa memperdulikan Kimmi yang terus mengusirnya pulang, Uwais langsung memulai sesi curhatnya. Mendengar perkataan Uwais, Kimmi langsung tertarik dan duduk di samping Uwais. “Elvina udah punya pacar? Yahh kalau begitu sih artinya kamu sudah gak punya kesempatan!” “Terus aku harus gimana dong?” tanya Uwais. Kimmi menyandarkan punggungnya di sofa, memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan adik sepupunya itu. “Gimana kalau kamu coba dekati Sherly saja? Kan dia juga kayaknya masih mengharapkan kamu deh!” Kimmi melontarkan idenya. Uwais langsung mengerling tajam pada Kimmi. Namun kemudian Uwais memikirkan ide yang disampaikan Kimmi tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN