Mission 6

1414 Kata
Elvina tersenyum tipis lalu kembali fokus pada dokumen yang ada di hadapannya. “Saya sudah punya pacar Pak.” katanya menjawab pertanyaan Uwais yang tadi. “Kim, si Elvina udah punya pacar!” “Terus aku harus gimana dong?” tanya Uwais. Kimmi menyandarkan punggungnya di sofa, memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan adik sepupunya itu. “Gimana kalau kamu coba dekati Sherly saja? Kan dia juga kayaknya masih mengharapkan kamu deh!” Kimmi melontarkan idenya. Uwais langsung mengerling tajam pada Kimmi. Namun kemudian Uwais memikirkan ide yang disampaikan Kimmi tadi.   ***   “Kok kamu bisa-bisanya nyuruh aku ngedeketin si Sherly sih, Kim?” tanya Uwais penasaran. Kimmi langsung mengubah posisi duduknya sedikit menyerong. Lalu dengan tangannya Kimmi memberikan kode pada Uwais agar lebih mendekat. “Kamu sama Sherly kan sudah kenal lama, kalian juga kan dulu cukup dekat, dan sepertinya dia juga sangat menaruh hati sama kamu, jadi kenapa kamur harus mengejar Elvina kalau ada Sherly yang jelas-jelas akan menerima kamu?” ujar Kimmi. Uwais menggelengkan kepalanya dan menggerakan jari telunjuknya ke kiri dan kanan, “Enggak, enggak, enggak! Aku sama Sherly itu cuma temenan aja! Kita berdua gak pernah menyimpan rasa kok!” bantah Uwais. “Aku itu kan perempuan, sama kayak Sherly, jadi aku bisa tahu kalau Sherly itu suka sama kamu hanya dari sikap dan tatapan matanya!” “Kamu jangan aneh-aneh deh, Kim! Kita sekarang lagi ngebahas Elvina, bukan Sherly!” “Ya sudah kalau kamu gak mau dengerin saran dariku! Sana kamu pulang ke unit kamu! Gak usah datang lagi kalau cuma mau curhat! Sana, sana!” Kimmi melemparkan bantal sofa kecil yang ada di dekatnya ke wajah Uwais. “Eh, eh! Kok kamu ngusir aku mulu sih!” seru Uwais kesal. Kimmi terus melempari dan memukuli Uwais dengan bantal sofa sampai Uwais menyerah dan akhirnya keluar dari unit apartemen Kimmi. Dengan cepat Kimmi langsung menutup pintu unit apartemennya dan juga menguncinya. “Huuff! Dasar Uwais bocah! Ada yang gampang dia nyari yang susah! Ganteng-ganteng kok hobinya curhat!” gumam Kimmi di balik pintu. Walau terlihat seperti sedang bertengkar, namun itu tak akan berlangsung lama. Mereka juga tak akan menyimpan rasa benci satu sama lain. Karena memang begitulah hubungan Uwais dan Kimmi. Uwais melangkahkan kakinya pulang ke unitnya. Dia melihat pintu unit apartemennya terbuka. Diintipnya dahulu sebelum Uwais memasuki unit. Ada seorang lelaki bertubuh tegap, kurus namun atletis, memakai kacamata dengan wajahnya yang ditumbuhi sedikit brewok. Lelaki itu duduk berdampingan dengan seorang wanita cantik berhidung mancung, mempunyai mata yang besar, dan wanita itu juga mengenakan hijab. Senyum Uwais langsung tersungging melihat kehadiran dua orang itu di unit apartemennya. Uwais pun dengan senang melangkah masuk ke unit apartemennya sambil menyerukan nama kedua orang tersebut. “Om Usman! Tante Zula!” Merasa terpanggil, mereka berdua langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. “Oh, ya Tuhan Uwais sudah semakin tampan!” seru Usman. “Iya, Uwais sudah makin tampan ya Aisyah!” sambung Zula. Usman langsung berdiri dan memeluk Uwais dengan erat. Setelah itu Uwais mencium punggung tangan Zulaikha. Mereka semua kini duduk dan saling bercengkerama. Sudah sangat lama Uwais tidak bertemu dengan pasangan suami istri tersebut. Aisyah menyajikan kue-kue dan juga teh sebagai pelengkap momen hangat ini. Pasangan suami istri tersebut adalah teman dari Aisyah, bundanya Uwais. Uwais pernah mendengar jika dulunya Usman cukup dekat dengan bundanya itu, namun pada akhirnya Aisyah menikah dengan Rendi dan Usman menikah dengan Zulaikha. Namun walau demikian hubungan mereka semua masih sangat baik sampai saat ini. Zulaikha kini sedang membantu Zulaikha menyiapkan makan malam di dapur. Tinggalah Usman dan Uwais yang berbincang di ruang tamu. “Gimana kerjaan kamu? Bunda kamu bilang kalau sekarang kamu ikut bekerja di perusahaan Ayah kamu?” tanya Usman. “Alhamdulillah kerjaan aku baik-baik saja Om! Hehehe.. Masih banyak yang harus dipelajari karena sebenarnya jauh banget dari jurusan yang aku ambil semasa kuliah.” “Ya, kamu harus banyak belajar dan Om yakin kamu pasti bakal sukses seperti Ayah Bunda kamu!” Usman menepuk bahu Uwais memberikan semangat. “Kamu tahu gak, dulu Bunda kamu itu benar-benar merintis semuanya dari nol. Dan sekarang, Bunda kamu sudah punya agency asuransi sendiri. Sifat kerja keras dan pantang menyerah Bunda kamu itu yang dulu sempat buat Om suka sama dia! Hehehe.” Usman terkekeh. “Waahh jadi benar dulu Om sempet suka sama Bunda?” “Tapi itu dulu ya! Sekarang kan Om sudah punya Tante Zulaikha. Tante Zulaikha yang berhasil meluluhkan hati Om!” jawab Usman dengan wajah tersipu. Uwais tertawa mendengar pernyataan jujur dari Usman. Namun kemudian dia iseng bertanya pada Usman bagaimana caranya menarik hati seorang perempuan. “Hmm, Om! Aku boleh tanya gak?” “Boleh dong! Mau tanya apa?” Uwais menggeser bokongnya agar posisi duduknya lebih dekat dengan Usman. “Om, ini rahasia ya! Aku mau minta saran gimana caranya bisa meluluhkan hati wanita?” katanya berbisik. “Hahahahaha!” Usman tak bisa menahan tawanya karena pertanyaan Uwais. Uwais langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Usman. “Sssttt…!! Nanti Bunda dengar Om! Jangan kencang-kencang ketawanya!” “Okay, Okay! Sorry Uwais!” Usman menghela nafas sejenak sebelum lanjut menjawab pertanyaan Uwais tadi. “Jadi sekarang kamu sedang suka sama seseorang?” Uwais mengangguk menjawab pertanyaan Usman. “Kalau begitu kamu tinggal nyatakan saja kalau kamu suka sama dia!” “Tapi dia sudah punya pacar, Om!” Raut wajah Usman berubah seketika setelah mendengar jika gadis yang disukai oleh Uwais sudah memiliki kekasih. “Kamu kenapa suka sama dia? Kan dia sudah punya pacar!” tukas Usman. Uwais menyandarkan punggungnya lalu diarahkan pandangan matanya lurus entah kemana. Wajah Elvina langsung terbayang dalam pikirannya. “Namanya Elvina, Om. Dia itu salah satu staff di perusahaan Ayah. Sekarang dia juga yang sedang bantu aku mempelajari hal-hal baru di perusahaan.” Uwais mulai bercerita tentang Elvina pada Usman. “Aku jatuh hati sama sikapnya, senyumnya juga, suaranya yang ramah di telinga juga sudah buat aku gak bisa kalau gak mikirin dia.” Lanjut Uwais. Usman pun mengangguk-anggukan kepalanya. “Om ngerti gimana perasaan kamu. Kamu benar-benar sudah jatuh cinta sama gadis itu. Tetapi dia sudah punya pacar ya?” “Iya, dia sudah punya pacar, Om!” awab Uwais lesu. “Kalau begitu, mungkin sebaiknya kamu gak terlalu mengejar dia. Jodoh sudah ada yang mengatur. Jika memang Elvina nanti jadi jodoh kamu, dia akan dengan sendirinya mendekat sama kamu kok.” Usman memberikan sarannya. “Mendekat sendiri? Hmm… Tapi gimana caranya dia bisa mendekat kalau aku gak usaha ya??” “Jadi menurut kamu sendiri baiknya gimana?” Uwais berpikir keras. Dia ingin menjadikan Elvina sebagai jodohnya. Sudah pasti dia akan menyebutkan nama Elvina setiap waktu di dalam doanya, meminta pada Yang Maha Kuasa agar secepatnya Elvina didekatkan dengannya. Namun selain berdoa Uwais juga ingin melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Elvina. Ctik! Uwais menjentikan jarinya. “Aku akan bikin misi-misi untuk menarik perhatian Elvina dan menjadikan dia jodohku!” seru Uwais bersemangat. “Hahahahaha!! Kamu semangat sekali Uwais!!” tawa Usman kembali pecah. Dia tidak tahan dengan semangat membara Uwais yang ingin mendapatkan Elvina walau sebenarnya Elvina sudah memiliki kekasih. Uwais menjabat tangan Usman dengan sangat erat. Kemudian Uwais berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu dia langsung melempar dirinya ke tempat tidurnya yang empuk lalu merogoh tas kerjanya mengambil pulpen dan buku catatan kosong yang ada di dalamnya. “100 MISI UNTUK MENDAPATKAN CINTA ELVINA” Itulah kalimat pertama yang Uwais tulis di halaman pertama buku catatan tersebut. Tekadnya semakin bulat ingin mendapat Elvina. Terserah orang mau bilang apa, mau bilang dia menikung pacar orang juga tak masalah. Yang dia inginkan sekarang hanyalah menjadikan Elvina sebagai pendamping hidupnya. “Misi pertama sampai ke seratus harus aku pikirin baik-baik. Kan gak mungkin misi pertama langsung nyatain cinta! Otomatis langsung ditolak kalau begitu!” gumamnya sambil berpikir. “Kalau begitu aku tulis dulu yang kira-kira bisa untuk pendekatan. Yang gak terlalu nunjukin perasaan aku tapi Elvina masih merasa diperhatikan olehku.” tambahnya. Satu per satu Uwais mulai menuliskan misi-misi yang akan dijalankannya. Di misi yang ke-100 dia menuliskan “Menikah dengan Elvina dan membangun rumah tangga yang bahagia”. “Yakk selesai!! Besok aku kasih unjuk Kimmi dulu deh!” seru Uwais. Sepertinya Uwais masih belum bisa lepas dari Kimmi. Uwais benar-benar menganggap Kimmi sebagai kakak kandung perempuannya. Semua rahasia yang tak bisa dia katakan pada orang tuanya akan dia katakan pada Kimmi. Apa sajakah misi Uwais untuk mendapatkan hati Elvina? Dan apakah Uwais akan semudah itu menjalankan semua misinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN